Bulutangkismania’s Weblog

June 15, 2008

Final Results Singapore SS ’08 : Gelar Super Series Ke-2 Indonesia

Filed under: Turnamen — bulutangkismania @ 10:14 pm

Tandem terbaik Indonesia, Nova Widianto/Liliyana Natsir berhasil mempertahan tradisi gelar juara ganda campuran Indonesia di turnamen Singapore SS untuk kali yang ke-4. Sejak tahun 2004 sampai dengan tahun ini, satu-satunya gelar ganda campuran yang lolos dari genggaman Indonesia adalah pada tahun 2005. Namun di tahun yang sama, gelar tersebut berhasil di ‘barter’ dengan gelar nomor tunggal putra. Selain itu, gelar ini dianggap cukup prestise untuk keduanya karena merupakan gelar perdana mereka di turnamen super series dan gelar kedua untuk tim Indonesia.

Gelar Perdana Ganda Putra Malaysia

Pertandingan babak final turnamen Singapore SS 2008 dibuka oleh dua pasang ganda putra Malaysia, Mohd Zakry/Mohd Fairuz dan Gan Teik Chai/Lin Woon Fui. Zakry/Fairuz yang mengenakan setelan berwarna hitam sudah tampil menekan sejak awal set pertama. Sedangkan Gan/Lin yang tampak kontras dengan seragam kuning hanya lebih banyak bermaian defensive dan menunggu saat yang tepat untuk menyerang. Tertinggal 2-4 dan 4-6, Zakry/Fairuz mampu menyamakan kedudukan di angka 6 dan berbalik unggul 9-6 dan 11-7 saat jeda interval. Permainan agresif Zakry/Fairuz mampu mendorong Gan/Lin untuk lebih banyak bermain di bagian belakang lapangan.

Meskipun Zakry memiliki pukulan smash dari bagian belakang lapangan yang cukup keras, namun ketidaksiapan Fairuz untuk menerima pengembalian bola membuat Gan/Lin mampu menyamakan kedudukan di angka 15 setelah tertinggal 8-12 dan 10-14. Gan/Lin sempat memimpin 16-15 sebelum disamakan kembali oleh Zakry/Fairuz di angka 16. Kesalahan yang cukup fatal dari pasangan Gan/Lin yaitu seringnya mengangkat bola dan membuat pengembalian menjadi tanggung memudahkan Zakry/Fairuz untuk melakukan serangan smash bertubi untuk kembali unggul 18-16 dan 20-18. Pengembalian Gan Teik Chai yang terlalu lemah dan menyangkut di net akhirnya menutup set ini 21-18 untuk kemenangan Zakry/Fairuz.

Di set kedua, Zakry/Fairuz masih terus melancarkan tekanan beruntun lewat agresi smash yang berkali-kali. Unggul jauh 8-3 dan 11-4 saat jeda interval, Zakry/Fairuz terus meluncur dan makin tak terkejar. Beberapa poin yang diperoleh oleh Gan/Lin banyak berasal dari kesalahan sendiri yang dilakukan oleh Zakry/Fairuz. Kedudukan 13-7, 15-9 dan 18-10 terus berlanjut hingga poin-poin kritis. Beberapa reli diselesaikan oleh Zakry/Fairuz dengan penempatan bola sempurna di bagian belakang lapangan Gan/Lin yang sulit terjangkau. Gan/Lin sempat mencoba bangkit dan mendekat di angka 17-20 dengan memanfaatkan kelengahan pertahanan Zakry/Fairuz, namun ganda ke-3 Malaysia tersebut segera menyudahi perlawanan keduanya 21-17 tanpa memberikan kesempatan untuk terjadinya rubber set sekaligus memastikan gelar perdana mereka dan ganda putra Malaysia di tahun ini.

Tunggal Putri, Mahkota Ke-3 Sang Ratu Eropa

Perseteruan yang tak kalah seru terjadi di partai kedua saat sang ratu bulutangkis Eropa, Tine Rasmussen berjuang memperebutkan mahkota ketiganya atas mantan tunggal Cina yang saat ini membela Hongkong, Zhou Mi. Kejar mengejar angka terjadi antara kedua pemain ini sejak awal set pertama sampai pada kedudukan 6 sama. Tine akhirnya berhasil memimpin perolehan poin 10-6 dan 11-7 saat jeda interval. Sergapan-sergapan smash Tine diantara permainan reli ke arah baseline Zhou Mi cukup menyusahkan tunggal Hongkong tersebut untuk mengenbalikan bola. Sebagian besar menyangkut di net dan beberapa diantaranya melebar keluar lapangan.

Tertinggal 10-14, 13-17 dan 14-18, Zhou Mi secara dramatis mampu menyamakan kedudukan dengan di angka 18 dan 19 memanfaatkan kelemahan Tine yang tidak menyukai bola-bola drop shot dan netting tipis di depan net. Postur tubuh Tine yang cukup tinggi juga memudahkan Zhou Mi untuk mengarahkan serangannya kea rah badan pebulutangkis terbaik Denmark tersebut. Namun dua kesalahan sendiri yang dilakukan oleh Zhou Mi menguntungkan Tine untuk menamatkan set ini terlebih dahulu, 21-19.

Memasuki set kedua, Tine kembali menekan Zhou Mi dengan permainan net menyilangnya. Bola-bola pengembalian Zhou yang keluar, memudahkan unggulan ke-2 tersebut untuk meluncur 6-2 dan 8-3. Namun kesalahan beruntun yang dilakukan oleh Tine membuat Zhou Mi kembali berhasil menyamakan kedudukan di angka 9. Permainan netting yang tidak disukai oleh Tine kembali membuat Zhou Mi unggul 11-10 saat jeda interval. Kejar mengejar angka dan penempatan bola yang sempurna dari masing-masing pemain terjadi sanpai kedudukan 12 sama. Sergapan pukulan menyilang Tine kearah baseline Zhou Mi membuatnya kembali unggul 14-12. Zhou sempat nyaris menyamakan kedudukan 14-15 dan 16-15 dari kesalahan sendiri yang dilakukan oleh Tine. Jumping smash Tine membuatnya unggul lebih dulu 17-15 namun penempatan bola yang sempurna dan sergapan bola kea rah bagian yang kosong kembali menyamakan Zhou Mi dan Tine di angka 17.

Pertahanan Tine yang sempurna akhirnya kembali membuat Zhou Mi melakukan kesalahan sendiri dan tertinggal 20-17. Smash keras Tine akhirnya menyudahi perlawanan Zhou Mi 21-17. Tine langsung melempar raketnya dan bersimpuh seraya menutup muka dengan kedua tangannya. Rasa haru dan bangga atas gelar super series ketiganya mengiringi langkah Tine saat memberikan tanda tangan di atas kamera yang menyoroti pertandingannya. Sesaat sebelum meninggalkan lapangan bersama kekasihnya, tunggal Malaysia, Wong Mew Choo yang juga menyaksikan langsung pertandingan tersebut sempat memberikan ucapan selamat seraya menjabat erat tangan Tine.

Ganda Putri, Cina Masih Terlalu Tangguh

Satu-satunya wakil Cina yang lolos ke babak final, Du Jing/Yu Yang berhasil mengobati kekecewaan para pendukungnya dengan meraih gelar super series keduanya di tahun ini. Menghadapi ganda Taipei, Chien Yu Chin/Cheng Wen Hsing yang diunggulkan di tempat kedua, Du/Yu langsung memimpin 6-2 di awal set pertama. Smash beruntun yang sering dipertunjukkan oleh Du/Yu terus membuat mereka memimpin 12-7, 14-8, dan 16-10. Chien/Cheng akhirnya berhasil meredam perlawanan Du/Yu dab memperkecil selisih angka menjadi 15-16 dan 16-17 dengan memperlambat tempo permainan dan lebih banyak bermain reli dengan penempatan bola tipis di depan net. 4 angka berturut-turut yang diperoleh oleh Du/Yu membuat mereka unggul lebih dulu 21-16.

Pretarungan antara ganda peringkat atas elit dunia ini makin seru saat memasuki set kedua. Kejar mengejar angka dan saling memimpin berlangsung dari awal hingga poin kritis 19 sama. Pertahanan Du/Yu yang diunggulkan di tempat teratas sedikit demi sedikit akhirnya berhasil dipatahkan oleh duet Chien/Cheng. Namun di saat kedudukan 19 sama, Chien/Cheng yang terlalu defsensif dan banyak mengangkat bola akhirnya dengan mudah diselesaikan oleh Du/Yu untuk memastikan kemenangan mereka 21-19.

Ganda Campuran, NoLyn Pertahankan Tradisi Gelar

Indonesia akhirnya berhasil meraih gelar super series keduanya di tahun ini setelah Januari lalu, Markis/Hendra berhasil menjuarai turnamen Malaysia SS. NoLyn yang diunggulkan di tempat teratas harus berjuang 3 set untuk menundukkan unggulan ke-6 asal Inggris, Anthony/Donna. Di dua pertemuan super series terakhir, China Masters 2007 dan Swiss SS 2008, Anthony/Donna selalu mampu mengatasi perlawanan ganda terbaik Indonesia tersebut.

Set pertama, pasangan Indonesia belum bermain dengan performa terbaiknya dan masih mencari strategi yang tepat untuk mengalahkan Anthony/Donna. Kejar mengejar angka terjadi antara kedua pasangan dari titik 0 sampai kedudukan 5 sama. Namun meskipun berhasil menyusul perolehan poin pasangan Inggris, NoLyn sama sekali tidak mampu melampaui perolehan angka Anthony/Donna. Keberhasilan Donna Kellogg menjadi ‘play maker’ di depan net berhasil diimbangi dengan permainan agresif Anthony di bagian belakang lapangan.

Kesalahan sendiri yang dilakukan oleh NoLyn membuat mereka tertinggal cukup jauh 7-11 saat jeda interval. Tertinggal 16-9, NoLyn mampu memperkecil jarak poin mereka 17-18 karena pertahanan keduanya yang cukup sempurna. Kesalahan sendiri yang dilakukan oleh Lily saat poin kritis akhirnya mengantarkan Anthony/Donna pada kedudukan 20-17. Dan akhirnya, pasangan Inggris menyelesaikan set ini terlebih dulu 21-17 karena pukulan Lily yang keluar bidang permainan.

Memasuki set kedua, pasangan Indonesia kembali bangkit setelah kejar mengajar angka dan sampai pada kedudukan 4-4. Lily yang di set pertama banyak melakukan kesalahan sendiri berhasil tampil lebih fokus dan bermain sempurna di depan net. Sebaliknya, Donna Kellogg banyak melakukan kesalahan sendiri yang membuat bola keluar dan menyangkut di net. Unggul 8-4 dan 12-5 tandem Indonesia tak terkejar dan terus berhasil memimpin pertandingan setelah menemukan kembali ritme permainan mereka. Inggris sempat memperkecil jarak selisih poin mereka 11-14 dan 14-17 dari ‘blocking’ yang dilakukan oleh Donna. Indonesia akhirnya berhasil memaku Anthony/Donna di angka 14 untuk meraih 4 poin berturut-turut. Smash keras Nova kearah badan Donna menutup perolehan poin dengan keunggulan 21-17.

Indonesia kembali unggul 5-3 di set terakhir dari kesalahan sendiri pasangan Inggris. Atraksi jump smash yang diperagakan oleh Donna sayangnya masih belum mampu menyebrangi net dan jatuh di lapangan sendiri. Keunggulan NoLyn 7-3, 9-4 dan 10-5, nyaris disamakan oleh Anthony/Donna dengan merebut 3 poin berturut-turut dari kesalahan yang dilakukan oleh Lily. Pertahanan pasangan Inggris yang terlalu monoton membuat mereka sulit untuk mengembalikan bola saat balik diserang oleh ganda Indonesia. Keunggulan 14-9 berhasil dipertahankan oleh NoLyn dengan mengumpulkan 7 poin berturut-turut tanpa memberikan kesempatan bagi duo Inggris untuk mengembangkan permainan.

Kesalahan sendiri yang dilakukan oleh Donna Kellogg akhirnya mengantarkan Indonesia pada kedudukan 17-9. Donna sempat mendapat ‘kartu merah’ dari wasit Taipei karena menconba untuk memperlambat jeda permainan. Mental pasangan Inggris yang semakin ‘down’ memudahkan NoLyn untuk merebut gelar perdana mereka di tahun ini setelah Nova menutup set ketiga dengan pukulan ‘backhand smash’, 21-9. Dengan hasil ini juga NoLyn berhasil meraih gelar di turnamen yang sama sebanyak 3 kali berturut-turut yaitu tahun 2004, 2006 dan 2008. Tahun 2007 gelar ini berhasil diamankan oleh Flandy/Vita untuk tim Indonesia.

Tunggal Putra, Simon Tak Mampu Berikan Perlawanan

Keberhasilan NoLyn merebut gelar perdana mereka sayangnya tidak diikuti oleh wakil Indonesia lainnya, Simon Santoso. Simon yang menantang unggulan pertama, Lee Choong Wei hanya mampu mengimbangi permainan tunggal terbaik Malaysia tersebut di awal set pet pertama. Pukulan drive-drive pendek di awal set sempat membuat repot Choong Wei yang belum menemukan irama permainannya. Kejar mengejar angka dan selisih 1 poin terjadi dari kedudukan 0-0 sampai pada poin 10 sama. Smash keras Choong Wei kearah tepi lapangan Simon berkali-kali sulit dikembalikan oleh tunggal ke-3 Indonesia tersebut. Kesalahan sendiri yang dilakukan oleh Simon 7 kali berturut-turut membuat Choong Wei dengan mudah menuutp set pertama, 19-12 21-13.

Dominasi Lee Choong Wei kian tak terbendung di set kedua. Krisis kepercayaan diri yang tiba-tiba menyergap unggulan ke-6 asal Indonesai tersebut membuatnya sama sekali tak mampu berkutik dan banyak melakukan kesalahan sendiri. Tertinggal ‘dramatis’ 0-11 saat jeda interval, Simon sama sekali tidak mampu merebut angka pertamanya sampai kedudukan 0-15. Simon akhirnya mendapatkan angka pertamanya dari sergapan bola di depan net. Unggul 16-1, Choong Wei hanya memberikan tambahan 4 poin kepada Simon untuk menutup set ini 21-5 sekaligus memastikan gelar super series keduanya di tahun ini.

Dengan hasil ini, dipastikan bahwa Lee Choong Wei tidak akan ikut berpartisipasi pada turnamen Indonesia SS seperti yang pernah disampaikan oleh sang pelatih, Misbun Sidhek, beberapa waktu yang lalu bahwa Choong Wei akan membatalkan keikutsertaannya di turnamen Indoenesia SS jika tunggal Malaysia tersebut berhasil menjuarai turnamen Singapore SS.

Ferry Irawan, Jurnalis Bulutangkis.com

Results Semifinal Singapore SS ’08 : NoLyn & Simon Melenggang, ViLy Tersingkir

Filed under: Turnamen — bulutangkismania @ 12:39 am

Indonesia berhasil menempatkan 2 dari 10 wakil yang berhak melenggang ke babak final turnamen Singapore SS. Di pertandingan semifinal tadi siang, NoLyn menghentikan laju pasangan ‘the rising star’ Thailand, Songphon/Kunchala sedangkan Simon tanpa banyak kesulitan memupuskan harapan pemain terbaik Inggris, Andrew Smith. Ratu bulutangkis Eropa, Tine Rasmussen kembali mampu menunjukkan tajinya dan bersiap untuk meraih gelar super series ketiganya di tahun ini. Sementara itu, Malaysia berhasil mengokohkan dominasinya di sektor ganda putra setelah meloloskan dua pasangannya ke partai final. Babak final rencananya juga akan dihadiri secara langsung oleh Sultan Brunei.

Ganda Campuran, NoLyn Selangkah Menuju Gelar Perdana

Unggulan teratas sektor ganda campuran, Nova/Lilyana akhirnya bertemu dengan pasangan Inggris, Anthony Clark/Donna Kellogg di babak final turnamen Singapore SS 2008. Di pertandingan babak semifinal tadi siang, meskipun NoLyn tidak tampil dalam performa terbaiknya namun banyaknya kesalahan sendiri yang dilakukan oleh pasangan Thailand, Songphon/Kunchala tetap mampu membuat NoLyn yang lebih berpengalaman untuk memenangkan pertarungan tersebut.

Kejar mengejar angka sudah terjadi sejak awal set pertama sampai kedudukan 4 sama. NoLyn sempat unggul 6-4 terlebih dahulu dari pertahanan Lily yang cukup baik. Permainan reli yang diperagakan oleh kedua pasangan sempat membuat NoLyn mati langkah. Setelah Songphon/Kunchala mampu menyamakan kedudukan di angka 8 dan sempat unggul 9-8, tiga kesalahan beruntun di depan net membuat pasangan Indonesia kembali unggul 11-9 saat jeda interval. Permainan memukau Kunchala di depan net dan serobotan-serobatan bolanya mampu membuat Thailand mengimbangi permainan agresif pasangan Indonesia. Selain itu, Songphon yang bertubuh jangkung juga memiliki kelebihan dari pukulan smash yang sangat cepat meskipun tidak cukup ampuh untuk langsung mematikan. Unggul jauh 15-10 dan 19-14, NoLyn akhirnya menutup set ini dengan kemenangan 21-18.

Setelah mendapat wejangan dari sang pelatih, duet Thailand mampu bermain lebih sabar dalam mengontrol bola di set kedua. Songphon/Kunchala langsung memimpin 4-1 dan 9-4 dari perubahan strategi permaianan yang mereka lalukan. Namun kembali kesalahan yang tidak perlu dilakukan beruntun oleh Songphon karena terubu-buru mengambalikan bola. Saat jeda interval 11-7 untuk Songphon/Kunchala, sang pelatih sempat memerintahkan keduanya untuk lebih memperlambat tempo permainan dan lebih banyak bermain reli.

Kejar mengejar angka dan saling memimpin kembali terjadi mulai kedudukan 13 sama hingga berakhir di angka 19. Permainan reli terakhir yang dimenangkan oleh NoLyn akhirnya mengantarkan duet merah putih ini pada keunggulan 21-19 dan memastikan raihan tiket ke partai puncak. Kesalahan sendiri yang sering dilakukan oleh Songphone/Kunchala menunjukkan bahwa permainan mereka belum matang sepenuhnya. Namun dengan kualitas yang mereka miliki saat ini, keduanya cukup berprospek untuk mengikuti jejak pendahulunya, Sudket/Saralee.

Pada partai semifinal lainnya, ganda senior Inggris, Anthony Clark/Donna Kellogg akhirnya menyudahi perlawanan pasangan muda Denmark, Rasmus Bonde/Helle Nielsen. Sempat memberikan perlawanan sengit di awal set pertama dan pada pertengahan set kedua, Rasmus/Helle akhirnya menyerah pada akhir set, 16-21, 18-21. Pertemuan Anthony/Donna dan NoLyn di babak final nanti merupakan ‘rendevouz’ mereka untuk kedua kalinya di tahun ini. Sebelumnya, NoLyn takluk 23-25, 14-21, 14-21 saat mereka berhadapan dengan Anthony/Donna di babak semifinal turnamen Swiss SS 2008.

Tunggal Putri, Sang Ratu Eropa dan Gelar SS Ketiganya

Ratu bulutangkis Eropa asal Denmark, Tine Rasmussen kembali berhasil menunjukkan kualitasnya sebagai satu-satunya tunggal terbaik dunia yang tidak ‘tersentuh’ oleh Asia. Menghadapi pebulutangkis terbaik Asia Tenggara, Wong Mew Choo, Tine bermain agresif sejak awal set pertama. Bebarapa kesalahan beruntun yang dilakukan oleh Mew Choo, langsung membuatnya memimpin 5-0 dan 7-2. Tine sempat gagal mengembalikan bola-bola di depan net yang sering diperagakan oleh Mew Choo dan mampu membuat selisih poin menipis, 7-6 dan 8-7. Beberapa pengamatan bola yang buruk dari linesman membuahkan poin untuk keunggulan Tine, 14-8.

Pukulan andalan Tine berupa serangan setengah smash di tengah lapangan setelah beberapa kali terlibat reli cukup membuat Mew Choo kewalahan dan sulit untuk melakukan pengembalian. Di saat kedudukan kritis, tunggal terbaik Malaysia tersebut seharusnya mampu menggunakan kelincahannya untuk mengontrol gerak Tine dengan penempatan bola-bola di bagian depan dan belakang lapangan. Unggul 16-10, Tine akhirnya berhasil memaku Mew Choo di angka 10 untuk merebut 5 poin berturut-turut dan membukukan kemenangan 21-10.

Memasuki set kedua, Mew Choo kembali tertinggal 6-2 dan 10-4. Beberapa kesalahan sendiri yang dilakukan oleh Tine membuat Mew Choo mampu menyamakan kedudukan di angka 10 dan berbalik unggul 11-10. Reli antara kedua pemain kembali lagi terjadi. Tine yang sempat unggul 13-11 dan 14-12 berhasil diimbangi oleh Mew Choo di angka 14 dari serangan backhound menyilang yang sering diandalkannya untuk meraih poin.

Kejar mengejar angka yang cukup ketat terjadi hingga kedudukan seimbang 19-all. Kegagalan Tine menyebrangkan bola di depan net membuahkan ‘match point’ 20-19 untuk Mew Choo. Namun kembali Tine berhasil menyamakan kedudukan di angka 20 dari kesalahan sendiri yang dilakukan oleh Mew Choo. Pukulan smash silang Tine ke aras baseline Mew Choo akhirnya menggalkan harapan kekasih dari Lee Choong Wei ini untuk mengejar ketertinggalannya dan bermain rubber set.

Pertarungan tunggal putri lainnya juga tak kalah seru. Unggulan ke-5, Zhou Mi harus tertinggal 17-21 di set pertama dan nyaris kalah di set kedua. Tunggal India, Saina Nehwal, yang tertinggal 16-19 mampu menyamakan kedudukan di angka 19 pada set kedua. Beruntung Zhou Mi bermain lebih agresif dan mampu melakukan ‘finishing’ yang sempurna untuk menutup set ini terlebih dahulu 21-19. Dominasi penuh Zhou Mi baru bisa terealisasi pada set ke-3. Smash yang berkali-kali dan permainan netting yang cukup baik akhirnya mengantarkannya pada babak final dengan keunggulan 21-11.

Jika di babak final besok unggulan ke-2, Tine Rasmussen, mampu mengalahkan Zhou Mi dan meraih gelar super series ketiganya maka Tine akan mencatat rekor tersendiri pada tahun ini dimana dari 3 Super Series yang sudah diikutinya, Tine selalu mampu mencapai babak final dan meraih gelar juara.

Tunggal Putra, Simon Ulangi Prestasi Swiss SS 2007

Menjadi runner up turnamen Swiss SS tahun 2007 yang lalu merupakan prestasi terbaik yang diukir oleh tunggal ke-3 Indonesia ini. Dan tahun ini, Simon kembali berhasil mengulang prestasinya dengan melaju ke babak final. Padahal target awal yang ditetapkan oleh pebulutangkis klub Tangkas ini adalah mencapai babak semifinal turnamen ini. Perbedaan kualitas permainan antara Simon dan tunggal terbaik Inggris, Andrew Smith sudah terlihat sejak awal set pertama dan makin jelas sampai dengan pertandingan antara keduanya diseleaikan. Bermain tanpa beban, Simon lebih banyak mengandalkan permainan nettingnya untuk menang 21-11, 21-14 dalam tempo 33 menit.

Lawan yang akan dihadapi Simon di babak final adalah unggulan teratas asal Malaysia, Lee Choong Wei. Di laga semifinalnya tadi sore, Choong Wei menyingkirkan tunggal Denmark, Peter Gade, 21-18, 21-13. Gade hanya mampu memberikan perlawanan kepada Choong Wei di set pertama sedangkan pada set kedua, tunggal Malaysia yang berusia 25 tahun tersebut mengontrol penuh jalannya pertandingan. Gade lebih banyak bermaian drive-drive cepat di depan net sedangkan Choong Wei lebih banyak melakukan serangan smash dan drop shot tajam di depan net. Permainan netting Choong Wei juga cukup baik di set kedua sebaliknya Gade beberapa kali bermain ceroboh dan melakukan kesalahan sendiri karena menurunnya stamina. Pertemuan terakhir Simon dan Choong Wei terjadi pada babak perempatfinal Malaysia SS 2008 bulan Januari silam. Kala itu, Simon menyerah dua set langsung, 13-21, 13-21.

Ganda Putri, ViLy Kalah Stamina

Langkah NoLyn dan Simon ke partai puncak sayangnya gagal diikuti oleh wakil Indonesia lainnya di sektor ganda putri. Lilyana yang juga bermain rangkap bersama Vita masih belum cukup mampu menjinakkan pasangan Taipei, Chien Yu Chin/Cheng Wen Hsing. ViLy sempat mendominasi set pertama dan senantiasa memimpin perolehan poin sebsear 2-3 angka sejak kedudukan 1 sama sampai akhirnya Taipei menyamakan kedudukan di titik 19 dan 20. Pertahanan ViLy yang sulit ditembus membuat Chien/Cheng akhirnya menyerah dan banyak melakukan kesalahan sendiri. Menjelang poin kritis, ViLy nyaris membuang kesempatannya untuk merebut set ini karena kembali pada pola permainan defensif. Namun beruntung ViLy mampu merebut dua poin terakhir terlebih dahulu dan menutup set ini 22-20.

Performa ViLy sempat menurun drastis di set kedua. Pertahanan mereka yang awalnya sulit ditembus ternyata tidak sesolid sebelumnya. Bahkan beberapa kali Vita dan Lily saling bergantian melakukan kesalahan sendiri. Akhirnya dengan dominasi sempurna, Chien/Cheng merebut set ini dengan relatif mudah, 21-12. Perseteruan antara kedua pasangan kembali berlangsung seru di set ke-3. Kejar mengejar angka terjadi sejak awal set sampai kedudukan 5 angka. Setelah itu, selisih poin antara kedua pasangan tidak lebih dari 1 angka sampai dengan posisi 12 sama.

Vita dan Lily lebih mengandalkan pukulan drop shot sedangkan Chien/Cheng lebih banyak melakukan serangan smash untuk meraih poin demi poin. Pada poin ini, penurunan stamina khususnya Lily yang sudah bermain rangkap sebelumnya mulai berdampak serius. Pukulan smash dan pengembalian bola yang terlalu melebar seringkali dilakukan oleh Lily yang akhirnya menjadi sasaran serang dari duo Taipei khususnya Chien Wen Hsing yang masih cukup sempurna menjalankan fungsinya sebagai ‘playmaker’. Vita yang mencoba menutup kelemahan Lily hanya mampu bermain drop shot dan bola-bola jarak pendek. Tertinggal jauh 12-17 dan 14-19, ViLy akhirnya menyerah 16-21.

Kekalahan ViLy ini makin memperpanjang rekor kegagalan ‘head to head’ ViLy atas Chien Yu Chin/Cheng Wen Hsing. Sampai saat ini, Chien/Cheng masih menjadi ‘misteri’ bagi ViLy sebagai satu-satunya pasangan non Cina yang belum pernah sekalipun mereka kalahkan. Untuk bisa merebut gelar super series perdana mereka tahun ini, tantangan berat sudah menunggu ganda Taipei di babak final. Favorit juara dan unggulan teratas, Du Jing/Yu Yang masih terlalu tangguh untuk duo Korea, Ha Jung Eun/Kim Min Jung. Du/Yu menang 21-19, 21-14 dalam durasi tanding 42 menit dan siap menantang Chien/Cheng untuk memperebutkan koleksi gelar Super Series kedua mereka di tahun ini.

Ganda Putra, Final Antara Sesama Malaysia

Seperti yang sudah diprediksi sebelumnya, tumbangnya para unggulan Indonesia, Cina, Denmark dan Jepang di babak-babak awal menyebabkan langkah anak asuhan Rexy Mainaky berjalan lebih mudah. Selain itu, kejutan besar yang dibuat oleh pasangan ‘bongkar pasang’ yang baru disandingkan untuk pertamakalinya juga merupakan suatu catatan prestasi tersendiri. Pada akhirnya, ganda no 3 dan 4 Malaysia, Mohd Zakry/Mohd Fairuz dan Gan Teik Chai/Lin Woon Fui akan saling beradu di partai puncak untuk memperebutkan gelar perdana mereka di tahun ini.

Zakry/Fairuz sukses menyingkirkan ganda ke-3 Korea, Cho Gun Woo/Yoo Yeon Seong, 21-17, 21-15 sedangkan Gan/Lin mengandaskan duet ‘baru’ Malaysia lainnya, Mohd Razif/Tan Wee Kiong, 21-16, 21-16. Bagi Gan/Lin, ini merupakan prestasi terbaik yang mereka ciptakan selama mereka disandingkan. Sedangkan bagi Zakry/Fairuz, mereka mempunyai peluang paling besar untuk meraih gelar super series perdananya sepanjang karir bulutangkis yang sudah mereka jalani. Tahun lalu, Zakry/Fairuz mencapai prestasi terbaik sebagai runner up turnamen Indonesia SS setelah di babak final keduanya takluk dari ganda terbaik Cina, Fu Haifeng/Cai Yun.

Ferry Irawan, Jurnalis Bulutangkis.com

Blog at WordPress.com.