Tandem terbaik Indonesia, Nova Widianto/Liliyana Natsir berhasil mempertahan tradisi gelar juara ganda campuran Indonesia di turnamen Singapore SS untuk kali yang ke-4. Sejak tahun 2004 sampai dengan tahun ini, satu-satunya gelar ganda campuran yang lolos dari genggaman Indonesia adalah pada tahun 2005. Namun di tahun yang sama, gelar tersebut berhasil di ‘barter’ dengan gelar nomor tunggal putra. Selain itu, gelar ini dianggap cukup prestise untuk keduanya karena merupakan gelar perdana mereka di turnamen super series dan gelar kedua untuk tim Indonesia.
Gelar Perdana Ganda Putra Malaysia
Pertandingan babak final turnamen Singapore SS 2008 dibuka oleh dua pasang ganda putra Malaysia, Mohd Zakry/Mohd Fairuz dan Gan Teik Chai/Lin Woon Fui. Zakry/Fairuz yang mengenakan setelan berwarna hitam sudah tampil menekan sejak awal set pertama. Sedangkan Gan/Lin yang tampak kontras dengan seragam kuning hanya lebih banyak bermaian defensive dan menunggu saat yang tepat untuk menyerang. Tertinggal 2-4 dan 4-6, Zakry/Fairuz mampu menyamakan kedudukan di angka 6 dan berbalik unggul 9-6 dan 11-7 saat jeda interval. Permainan agresif Zakry/Fairuz mampu mendorong Gan/Lin untuk lebih banyak bermain di bagian belakang lapangan.
Meskipun Zakry memiliki pukulan smash dari bagian belakang lapangan yang cukup keras, namun ketidaksiapan Fairuz untuk menerima pengembalian bola membuat Gan/Lin mampu menyamakan kedudukan di angka 15 setelah tertinggal 8-12 dan 10-14. Gan/Lin sempat memimpin 16-15 sebelum disamakan kembali oleh Zakry/Fairuz di angka 16. Kesalahan yang cukup fatal dari pasangan Gan/Lin yaitu seringnya mengangkat bola dan membuat pengembalian menjadi tanggung memudahkan Zakry/Fairuz untuk melakukan serangan smash bertubi untuk kembali unggul 18-16 dan 20-18. Pengembalian Gan Teik Chai yang terlalu lemah dan menyangkut di net akhirnya menutup set ini 21-18 untuk kemenangan Zakry/Fairuz.
Di set kedua, Zakry/Fairuz masih terus melancarkan tekanan beruntun lewat agresi smash yang berkali-kali. Unggul jauh 8-3 dan 11-4 saat jeda interval, Zakry/Fairuz terus meluncur dan makin tak terkejar. Beberapa poin yang diperoleh oleh Gan/Lin banyak berasal dari kesalahan sendiri yang dilakukan oleh Zakry/Fairuz. Kedudukan 13-7, 15-9 dan 18-10 terus berlanjut hingga poin-poin kritis. Beberapa reli diselesaikan oleh Zakry/Fairuz dengan penempatan bola sempurna di bagian belakang lapangan Gan/Lin yang sulit terjangkau. Gan/Lin sempat mencoba bangkit dan mendekat di angka 17-20 dengan memanfaatkan kelengahan pertahanan Zakry/Fairuz, namun ganda ke-3 Malaysia tersebut segera menyudahi perlawanan keduanya 21-17 tanpa memberikan kesempatan untuk terjadinya rubber set sekaligus memastikan gelar perdana mereka dan ganda putra Malaysia di tahun ini.
Tunggal Putri, Mahkota Ke-3 Sang Ratu Eropa
Perseteruan yang tak kalah seru terjadi di partai kedua saat sang ratu bulutangkis Eropa, Tine Rasmussen berjuang memperebutkan mahkota ketiganya atas mantan tunggal Cina yang saat ini membela Hongkong, Zhou Mi. Kejar mengejar angka terjadi antara kedua pemain ini sejak awal set pertama sampai pada kedudukan 6 sama. Tine akhirnya berhasil memimpin perolehan poin 10-6 dan 11-7 saat jeda interval. Sergapan-sergapan smash Tine diantara permainan reli ke arah baseline Zhou Mi cukup menyusahkan tunggal Hongkong tersebut untuk mengenbalikan bola. Sebagian besar menyangkut di net dan beberapa diantaranya melebar keluar lapangan.
Tertinggal 10-14, 13-17 dan 14-18, Zhou Mi secara dramatis mampu menyamakan kedudukan dengan di angka 18 dan 19 memanfaatkan kelemahan Tine yang tidak menyukai bola-bola drop shot dan netting tipis di depan net. Postur tubuh Tine yang cukup tinggi juga memudahkan Zhou Mi untuk mengarahkan serangannya kea rah badan pebulutangkis terbaik Denmark tersebut. Namun dua kesalahan sendiri yang dilakukan oleh Zhou Mi menguntungkan Tine untuk menamatkan set ini terlebih dahulu, 21-19.
Memasuki set kedua, Tine kembali menekan Zhou Mi dengan permainan net menyilangnya. Bola-bola pengembalian Zhou yang keluar, memudahkan unggulan ke-2 tersebut untuk meluncur 6-2 dan 8-3. Namun kesalahan beruntun yang dilakukan oleh Tine membuat Zhou Mi kembali berhasil menyamakan kedudukan di angka 9. Permainan netting yang tidak disukai oleh Tine kembali membuat Zhou Mi unggul 11-10 saat jeda interval. Kejar mengejar angka dan penempatan bola yang sempurna dari masing-masing pemain terjadi sanpai kedudukan 12 sama. Sergapan pukulan menyilang Tine kearah baseline Zhou Mi membuatnya kembali unggul 14-12. Zhou sempat nyaris menyamakan kedudukan 14-15 dan 16-15 dari kesalahan sendiri yang dilakukan oleh Tine. Jumping smash Tine membuatnya unggul lebih dulu 17-15 namun penempatan bola yang sempurna dan sergapan bola kea rah bagian yang kosong kembali menyamakan Zhou Mi dan Tine di angka 17.
Pertahanan Tine yang sempurna akhirnya kembali membuat Zhou Mi melakukan kesalahan sendiri dan tertinggal 20-17. Smash keras Tine akhirnya menyudahi perlawanan Zhou Mi 21-17. Tine langsung melempar raketnya dan bersimpuh seraya menutup muka dengan kedua tangannya. Rasa haru dan bangga atas gelar super series ketiganya mengiringi langkah Tine saat memberikan tanda tangan di atas kamera yang menyoroti pertandingannya. Sesaat sebelum meninggalkan lapangan bersama kekasihnya, tunggal Malaysia, Wong Mew Choo yang juga menyaksikan langsung pertandingan tersebut sempat memberikan ucapan selamat seraya menjabat erat tangan Tine.
Ganda Putri, Cina Masih Terlalu Tangguh
Satu-satunya wakil Cina yang lolos ke babak final, Du Jing/Yu Yang berhasil mengobati kekecewaan para pendukungnya dengan meraih gelar super series keduanya di tahun ini. Menghadapi ganda Taipei, Chien Yu Chin/Cheng Wen Hsing yang diunggulkan di tempat kedua, Du/Yu langsung memimpin 6-2 di awal set pertama. Smash beruntun yang sering dipertunjukkan oleh Du/Yu terus membuat mereka memimpin 12-7, 14-8, dan 16-10. Chien/Cheng akhirnya berhasil meredam perlawanan Du/Yu dab memperkecil selisih angka menjadi 15-16 dan 16-17 dengan memperlambat tempo permainan dan lebih banyak bermain reli dengan penempatan bola tipis di depan net. 4 angka berturut-turut yang diperoleh oleh Du/Yu membuat mereka unggul lebih dulu 21-16.
Pretarungan antara ganda peringkat atas elit dunia ini makin seru saat memasuki set kedua. Kejar mengejar angka dan saling memimpin berlangsung dari awal hingga poin kritis 19 sama. Pertahanan Du/Yu yang diunggulkan di tempat teratas sedikit demi sedikit akhirnya berhasil dipatahkan oleh duet Chien/Cheng. Namun di saat kedudukan 19 sama, Chien/Cheng yang terlalu defsensif dan banyak mengangkat bola akhirnya dengan mudah diselesaikan oleh Du/Yu untuk memastikan kemenangan mereka 21-19.
Ganda Campuran, NoLyn Pertahankan Tradisi Gelar
Indonesia akhirnya berhasil meraih gelar super series keduanya di tahun ini setelah Januari lalu, Markis/Hendra berhasil menjuarai turnamen Malaysia SS. NoLyn yang diunggulkan di tempat teratas harus berjuang 3 set untuk menundukkan unggulan ke-6 asal Inggris, Anthony/Donna. Di dua pertemuan super series terakhir, China Masters 2007 dan Swiss SS 2008, Anthony/Donna selalu mampu mengatasi perlawanan ganda terbaik Indonesia tersebut.
Set pertama, pasangan Indonesia belum bermain dengan performa terbaiknya dan masih mencari strategi yang tepat untuk mengalahkan Anthony/Donna. Kejar mengejar angka terjadi antara kedua pasangan dari titik 0 sampai kedudukan 5 sama. Namun meskipun berhasil menyusul perolehan poin pasangan Inggris, NoLyn sama sekali tidak mampu melampaui perolehan angka Anthony/Donna. Keberhasilan Donna Kellogg menjadi ‘play maker’ di depan net berhasil diimbangi dengan permainan agresif Anthony di bagian belakang lapangan.
Kesalahan sendiri yang dilakukan oleh NoLyn membuat mereka tertinggal cukup jauh 7-11 saat jeda interval. Tertinggal 16-9, NoLyn mampu memperkecil jarak poin mereka 17-18 karena pertahanan keduanya yang cukup sempurna. Kesalahan sendiri yang dilakukan oleh Lily saat poin kritis akhirnya mengantarkan Anthony/Donna pada kedudukan 20-17. Dan akhirnya, pasangan Inggris menyelesaikan set ini terlebih dulu 21-17 karena pukulan Lily yang keluar bidang permainan.
Memasuki set kedua, pasangan Indonesia kembali bangkit setelah kejar mengajar angka dan sampai pada kedudukan 4-4. Lily yang di set pertama banyak melakukan kesalahan sendiri berhasil tampil lebih fokus dan bermain sempurna di depan net. Sebaliknya, Donna Kellogg banyak melakukan kesalahan sendiri yang membuat bola keluar dan menyangkut di net. Unggul 8-4 dan 12-5 tandem Indonesia tak terkejar dan terus berhasil memimpin pertandingan setelah menemukan kembali ritme permainan mereka. Inggris sempat memperkecil jarak selisih poin mereka 11-14 dan 14-17 dari ‘blocking’ yang dilakukan oleh Donna. Indonesia akhirnya berhasil memaku Anthony/Donna di angka 14 untuk meraih 4 poin berturut-turut. Smash keras Nova kearah badan Donna menutup perolehan poin dengan keunggulan 21-17.
Indonesia kembali unggul 5-3 di set terakhir dari kesalahan sendiri pasangan Inggris. Atraksi jump smash yang diperagakan oleh Donna sayangnya masih belum mampu menyebrangi net dan jatuh di lapangan sendiri. Keunggulan NoLyn 7-3, 9-4 dan 10-5, nyaris disamakan oleh Anthony/Donna dengan merebut 3 poin berturut-turut dari kesalahan yang dilakukan oleh Lily. Pertahanan pasangan Inggris yang terlalu monoton membuat mereka sulit untuk mengembalikan bola saat balik diserang oleh ganda Indonesia. Keunggulan 14-9 berhasil dipertahankan oleh NoLyn dengan mengumpulkan 7 poin berturut-turut tanpa memberikan kesempatan bagi duo Inggris untuk mengembangkan permainan.
Kesalahan sendiri yang dilakukan oleh Donna Kellogg akhirnya mengantarkan Indonesia pada kedudukan 17-9. Donna sempat mendapat ‘kartu merah’ dari wasit Taipei karena menconba untuk memperlambat jeda permainan. Mental pasangan Inggris yang semakin ‘down’ memudahkan NoLyn untuk merebut gelar perdana mereka di tahun ini setelah Nova menutup set ketiga dengan pukulan ‘backhand smash’, 21-9. Dengan hasil ini juga NoLyn berhasil meraih gelar di turnamen yang sama sebanyak 3 kali berturut-turut yaitu tahun 2004, 2006 dan 2008. Tahun 2007 gelar ini berhasil diamankan oleh Flandy/Vita untuk tim Indonesia.
Tunggal Putra, Simon Tak Mampu Berikan Perlawanan
Keberhasilan NoLyn merebut gelar perdana mereka sayangnya tidak diikuti oleh wakil Indonesia lainnya, Simon Santoso. Simon yang menantang unggulan pertama, Lee Choong Wei hanya mampu mengimbangi permainan tunggal terbaik Malaysia tersebut di awal set pet pertama. Pukulan drive-drive pendek di awal set sempat membuat repot Choong Wei yang belum menemukan irama permainannya. Kejar mengejar angka dan selisih 1 poin terjadi dari kedudukan 0-0 sampai pada poin 10 sama. Smash keras Choong Wei kearah tepi lapangan Simon berkali-kali sulit dikembalikan oleh tunggal ke-3 Indonesia tersebut. Kesalahan sendiri yang dilakukan oleh Simon 7 kali berturut-turut membuat Choong Wei dengan mudah menuutp set pertama, 19-12 21-13.
Dominasi Lee Choong Wei kian tak terbendung di set kedua. Krisis kepercayaan diri yang tiba-tiba menyergap unggulan ke-6 asal Indonesai tersebut membuatnya sama sekali tak mampu berkutik dan banyak melakukan kesalahan sendiri. Tertinggal ‘dramatis’ 0-11 saat jeda interval, Simon sama sekali tidak mampu merebut angka pertamanya sampai kedudukan 0-15. Simon akhirnya mendapatkan angka pertamanya dari sergapan bola di depan net. Unggul 16-1, Choong Wei hanya memberikan tambahan 4 poin kepada Simon untuk menutup set ini 21-5 sekaligus memastikan gelar super series keduanya di tahun ini.
Dengan hasil ini, dipastikan bahwa Lee Choong Wei tidak akan ikut berpartisipasi pada turnamen Indonesia SS seperti yang pernah disampaikan oleh sang pelatih, Misbun Sidhek, beberapa waktu yang lalu bahwa Choong Wei akan membatalkan keikutsertaannya di turnamen Indoenesia SS jika tunggal Malaysia tersebut berhasil menjuarai turnamen Singapore SS.
Ferry Irawan, Jurnalis Bulutangkis.com