Seperti yang telah diprediksi sebelumnya, ketidakhadiran para pemain top dunia di turnamen Thailand Open GP Gold 2008 memudahkan laju para unggulan untuk menyapu bersih semua gelar. Meski di beberapa partai Cina harus berjuang rubber set, dominasi utusan negeri tirai bambu akhirnya tak terbendung di babak final dan menjadi bekal kepercayaan diri yang cukup baik untuk tampil maksimal di ajang Olimpiade mendatang.
Tunggal Putra, Dominasi ‘Super’ Dan
Partai pertama dibuka oleh nomor tunggal yang mempertemukan unggulan teratas asal Cina, Lin Dan dan jagoan tuan rumah, Boonsak Ponsana. Memasuki game pertama, kedua pemain langsung mempertunjukkan perseteruan ketat sejak awal set. Mengenakan seragam kuning, Boonsak langsung menggedor pertahanan Lin Dan dengan smash-smash kerasnya. Setelah terjadi kejar mengejar angka, Boonsak sempat memimpin 8-5 dengan permainan netting memukau dan beberapa kali kesalahan Lin Dan di depan net.
Namun beberapa kesalahan Boonsak berhasil membuat Lin Dan kembali menyamakan kedudukan di angka 9. Boonsak kembali unggul 11-9 saat jeda interval setelah bola pengembalian Lin Dan melebar ke belakang dan backhand smash Boonsak yang cukup tajam. Smash-smash keras dan drop shot Lin Dan berhasil membuatnya berbalik unggul 16-14 namun Boonsak kembali menyamakan angka di titik 16 setelah bola Lin Dan melebar ke luar lapangan.
Tiga kesalahan bertuturut-turut yang dilakukan oleh Lin Dan di depan net membuat Boonsak kembali memimpin 19-17 dan dua backhand smash keras dari tunggal terbaik Thailand ini membuatnya meraih ‘match point’ lebih dulu dan akhirnya menutup set ini 21-17 diiringi dengan riuhan sorak sorai para penonton. Pada set kedua, Lin Dan langsung menekan permainan Boonsak dan unggul 4-1. Permainan reli Lin Dan yang tidak stabil membuatnya banyak melakukan kesalahan sendiri setelah beberapa kali mampu mengembalikan bola-bola Boonsak dengan sempurna.
Smepat tersamakan di angka 5, Lin Dan kembali memimpin 11-6 saat jeda interval. Penempatan bola-bola sulit Lin Dan membuat Boonsak kerepotan karena harus berlari membloking lapangan. Pertahanan Boonsak yang sempurna kembali membuatnya memperkecil selisih angka 9-11 dan 10-12. Namun kesalahan sendiri dari Boonsak dalam menganalisis masuk-keluarnya bola membuat Lin Dan unggul jauh 15-10.
Smash Boonsak kembali menjadi andalan untuk meraih poin 13-15 namun kegagalan netting yang dilakukan Boonsak kembali membuat Lin Dan memimpin 17-13 dan 19-14. Boonsak sempat menambah angka dengan smash dari bola lob Lin Dan sebelum akhirnya Lin Dan membalas dengan dua smash yang membuatnya menamatkan set ini lebih dulu 21-15 dan memaksakan rubber set.
Pada set penentuan stamina akhirnya memegang peranan paling penting untuk kedua pemain. Boonsak sempat mengganti bajunya yang basah oleh keringat dengan kaos berwarna putih. Smash-smash keras yang terus menghujam pertahanan Boonsak kembali membuahkan angka untuk Lin Dan dan memimpin sejak awal set. Boonsak sempat menyamakan kedudukan di angka 4 dan 5 lewat permainan di depan net. Penempatan bola Lin Dan kembali menjadi senjatan ampuh untuk mematikan langkah Boonsak. Stamina Boonsak yang terus menurun terlihat dari beberapa kali hilangnya keakuratan smash yang ternyata justru melebar keluar.
Memaku Boonsak di angka 6, Lin Dan mampu unggul 12-6. Smash-smash silang keras dari Lin Dan membuatnya terus memimpin 15-9, 17-11 dan 19-12. Boonsak sempat menambah 1 poin dari smash silang di bagian lapangan Lin Dan yang kosong namun dua serangan menyilang Lin Dan akhirnya memastikan kemenangan tunggal terbaik dunia tersebut 21-13 dan berhak atas uang tunai sejumlah USD 9,000.
Ganda Campuran, Gelar Penebus Kecewa
Partai kedua yang diprediksi akan berjalan ‘mudah’ antara dua pasangan Cina ternyata justru berlangsung sebaliknya. Perseteruan 3 set berlangsung ketat di set kedua dan ketiga antara dua unggulan teratas, He Hanbin/Yu Yang dan Xie Zhongbo/Zhang Yawen. Tidak ada strategi WO atau ‘saling mengalah’ yang diinstruksikan oleh Li Yong Bo sehingga masing-masing pasangan bertanding dengan kekuatan terbaiknya.
Sejak awal set pertama, masing-masing tandem sudah mengeluarkan kemampuan terbaiknya. Smash-smash keras dan drive-drive cepat He/Yu serta bloking yang lebih baik membuat mereka selalu unggul lebih dulu meskipun akhirnya berhasil disamakan kembali oleh Xie/Zhang. He/Yu sempat unggul 14-10 namun kembali disetarakan oleh Xie/Zhang di angka 14. Permainan netting dan serangan yang lebih padu kembali membuat He/Yu memimpin dan nyaris menutup set ini 20-17.
Di luar dugaan beberapa kesalahan sendiri secara beruntun dari He/Yu saat poin-poin kritis mampu membuat Xie/Zhang menyamakan kedudukan di angka 20. Kejar mengejar angka kembali berlangsung ketat hingga 23-23 sebelum dominasi He/Yu kembali mengantarkan mereka pada kemenangan yang tertunda, 25-23.
Pada set kedua, persaingan tidak berjalan seru seperti set pertama. Dominasi Xie/Zhang berkali-kali mematahkan pertahan He/Yu yang cukup solid di set pertama. Perlawanan He/Yu pun tidak seagresif set pertama. Tertinggal jauh 6-11 dan 8-20, He/Yu harus menyerah 10-21. Ketatnya persaingan kembali terasa di set penentuan. Meskipun tidak seekstrim set pertama, kedua pasangan masih cukup mampu untuk memberikan perlawanan terbaik mereka. He/Yu berhasil mengontrol permainan di paruh awal set dengan keunggulan 5-1 dan 8-4. Namun Xie/Zhang kembali bangkit dan menyamakan angka di titik 11 setelah tertinggal 9-11 saat jeda interval.
Penenempatan bola yang akurat dari Xie/Zhang kembali menyulitkan He/Yu. Pertahanan mereka beberapa kali harus jebol karena ‘placing’ di Xie/Zhang di bagian yang tidak terjangkau. Kendornya serangan He/Yu juga membuat Xie/Zhang mampu mengembangkan permainan mereka. Tertinngal 11-15 dan 13-18, He/Yu secara dramatis mampu kembali menekan dan beberapa kesalahan beruntun dari Xie/Zhang yang ingin segera mengakhiri pertandingan menyamakan angka He/Yu di titik 18.
He Hanbin sempat mendapat kartu kuning dari wasit setelah dianggap memperlambat permainan karena hanya berputar di balakang lapangan. Dua kali kesempatan untuk memenangkan pertandingan ini gagal dimanfaatkan dengan baik oleh He/Yu saat keduanya unggul 20-18 terlebih dulu. Bahkan setelah sempat unggul 21-20 lebih dulu He/Yu akhirnya kalah dalam adu drive dan serangan antara kedua pasangan.
Entah karena skenario di akhir set untuk mendongkrak peringkat Xie/Zhang atau memang suatu ketidakberuntungan, He/Yu harus rela menyerahkan mahkota juara yang sudah berada didepan mata dengan skor akhir 21-23. Dengan gelar ini diharapkan mampu mengobati kekecewaan Xie/Zhang yang tidak akan tampil bersama di ajang Olimpiade 2008.
Tunggal Putri, Senior vs Junior
Gelar ketiga Cina diturnamen ini akhirnya disumbang oleh tunggal putri terbaiknya, Xie Xiengfang. Xie yang menghadapi juniornya, Lu Lan sempat direpotkan dengan permainan agresif peringkat dua dunia tersebut di set pertama. Meski Xie lebih mendominasi perolehan poin, namun ‘footwork’ Lu Lan yang lebih lincah dengan smash keras yang cukup tajam senatiasa menghasilkan poin demi poin bagi Lu Lan.
Xie yang unggul 12-8 dan 17-13, berhasil disamakan oleh Lu Lan diangka 18 dengaan drop shot tajam setelah adu reli meskipun Lu Lan beberapa kali membuat kesalahan sendiri. Kejar mengejar angka dan selisih satu poin berlangsung hingga kedudukan 24 sama. Pengembalian Lu Lan yang cukup akurat di depan net dan semangat juangnya yang tak mau menyerah beberapa kali membuatnya match point lebih dulu 23-22, dan 24-23. Xie akhirnya menuntaskan perlawanan Lu Lan di angka 26-24 dengan merebut tiga angka berturut-turut.
Sayangnya performa memukau Lu Lan tak berlanjut di set kedua. Meski sempat beberapa kali menyerang dan menghasilkan poin, banyaknya eror yang dilakukan terutama di depan net dan rapuhnya perahanan Lu Lan membuat Xie dengan leluasa mengatur jalannya pertandingan. Tertinggal 2-5, Lu Lan sempat menyamakan kedudukan di angka 5 namun keunggulan Xie 10-5, 18-6 akhirnya memastikan kemanangan telak sang ratu bulutangkis dunia ini 21-7 di set kedua.
Ganda Putri, Cina Tak Setangguh Sebelumnya
Harus diakui bahwa dominasi ganda putri Cina saat ini tidak sekokoh tahun-tahun sebelumnya meskipun kualitas mereka masih berada di level teratas. Bermula dari kemenangan ViLy setahun yang lalu, duo Lee Hyo Jung/Lee Kyung Won di ajang All England dan Uber Cup 2008 serta Wong/Chien dan Vita/Lily yang mampu menjungkalkan Zhang Yawen/Wei Yili. Bahkan saat ditantang oleh ganda Taiwan, pasangan Cina harus bermain ketat rubber set. Termasuk di turnamen kali ini, peringkat satu dunia, Yang Wei/Zhang Jiewen berhasil dipaksa main 3 set oleh unggulan ke-4 asal Malaysia, Wong Pei Tty/Chin Eei Hui.
Meski Yang/Zhang mampu mendominasi pertandingan, ganda Malaysia selalu mampu mengejar ketertinggalannya dan menyamakan kedudukan. Wong Pei Tty yang pada turnamen Indonesia SS pekan lalu banyak melakukan kesalahan sendiri, kali ini tampil brilian dengan drop shot yang mampu mengobrak-abrik pertahanan pasangan Cina. Setelah menyamakan kedudukan di angka 14 dan berbalik unggul 16-14, laju Wong/Chin tak terbendung dan menutup set ini lebih dulu 21-15.
Dominasi penuh Cina terlihat di set kedua. Setelah mendapat pengarahan langsung dari sang pelatih, Yang/Zhang berhasil menuntup set ini 21-13. Meskipun Cina sudah mendapatkan ritme permainan mereka di set kedua, duo Malaysia masih sempat mengajukan perlawanan di set penentuan. Banyaknya eror di set kedua juga berlanjut mengiringi pelawanan Wong/Chin di set ketiga. Sempat tertinggal 3-6, Malaysia mampu menyamakan kedudukan di angka 7 dan 8. Saat skor 12-11, Cina kembali mendapatkan momentum kemenangannya dengan mengumpulkan 8 poin berturut-turut yang langsung mengantarkan keduanya pada ‘match point’ 20-11. Cina akhirnya memastikan gelar ke-4 mereka diturnamen ini setelah Yang/Zhang menamatkan set ini 21-13.
Ganda Putra, Fu/Cai Menang Mudah
Setelah bertanding 75 menit di nomor campuran, Xie Zhongbo akhirnya memutuskan untuk mundur di set kedua dan menyerahkan kemenangan pada pasangan Cina lainnya, Fu Haifeng/Cai Yun. Ganda Xie/Guo sempat bertanding dan memberikan perlawanan di set pertama. Meskipun tidak mendominasi pertandingan, Xie/Guo yang tertinggal 6-11 saat jeda interval akhirnya menyamakan kedudukan di angka 16. Fu/Cai kembali memimpin 19-16 sebelum pertandingan akhirnya dihentikan saat kedudukan 20-17 untuk keunggulan ganda terbaik Cina tersebut.