Bulutangkismania’s Weblog

July 21, 2008

Final Results Badminton Asia Championships U-19 ’08 : Cina Masih Tak Terbendung

Filed under: Turnamen — bulutangkismania @ 10:45 am

Tim Cina akhirnya berhasil merajai babak final turnamen Kejuaraan Asia U-19 yang berlangsung hari minggu lalu dengan memboyong 4 dari 5 gelar nomor individu. Sukses ini melengkapi dominasi para atlet junior Cina di nomor beregu setelah mengandaskan perlawanan Korea 3-1 di partai puncak.

Berjaya Meski Tak Diunggulkan

Meskipun para junior Cina tidak satupun menempati ‘seeded’ di turnamen ini, kualitas mereka ternyata mampu menyamai atlet Asia lainnya yang lebih sering mengikuti kejuaraan internasional. Kemenangan pertama Cina diukir oleh pasangan campuran, Zhang Nan/Lu Lu. Setelah melewati persaingan sengit di set ketiga, keduanya berhasil memupuskan harapan Korea, Kim Ki Jung/Eom Hye Won, 14-21, 21-15, 24-22.

Dominas pemain putri Cina ternyata tidak hanya terjadi di nomor senior. Li Xuerui dan Wang Shixian berhasil meyingkirkan para unggulan untuk melaju ke babak final dan menyajikan partai “All China Final”. Li yang juga menjadi unjung tombak Cina di nomor beregu akhirnya berhak menjadi juara setelah menang 22-20, 21-13. Sebelumnya di babak semifinal, Li mampu membuat kejutan dengan melibas unggulan kedua asal Korea, Bae Youn Joo, 12-21, 21-5, 22-20.

Prestasi Wang di babak semifinal juga tak kalah mengagumkan. Setelah melalui pertarungan rubber set menghadapi unggulan teratas, Porntip Buranaprasertsuk, Wang menyudahi perlawanan tunggal kedua Thailand tersebut 21-14, 10-21, 21-11.

Wang Zhengming kembali menambah raihan gelar tim Cina setelah menundukkan wakil Korea, Park Sung Ming, 21-10, 21-14. Meskipun gagal di babak final, Park berhasil melakukan ‘revenge’ atas kekalahannya di nomor beregu atas tunggal Cina lainnya, Gao Huan, di babak semifinal.

Duet ganda putri Cina, Xie Jing/Zhong Qianxin yang juga merupakan kampiun Kejuaraan Dunia Junior tahun 2007, memastikan gelar ke-4 negeri tirai bambu tersebut setelah di babak final bersaing ketat atas rekan senengaranya, Lu Lu/Xia Huan, dengan memetik kemenangan 20-22, 21-14, 22-20.

Satu-satunya nomor yang lepas dari tangan Cina adalah ganda putra. Krisis ganda putra yang juga terjadi di sektor senior nampaknya kembali berimbas terhadap para atlet juniornya. Anak-asuhan Li Yong Bo tersebut hanya mampu mencatatkan prestasi terbaik dengan melangkah ke babak semifinal. Chai Biao/Zhang Nan harus mengakui ketangguhan unggulan teratas, Mak Hee Chun/Teo Kok Siang, 18-21, 17-21. Di partai final, Mak/Teo akhirnya memetik gelar untuk Malaysia dengan menjungkalkan utusan Korea Choi Young Woo/Kim Ki Jung, 21-13, 21-18.

Raihan empar gelar di nomor individu ini berhasil melengkapi kemenangan para atlet junior Cina di nomor beregu. Setelah menjadi juara grup C, langkah tim Cina ke babak final tak terbendung dengan menggasak Jepang 3-1 di babak perempatfinal dan Hongkong 3-0 di semifinal. Menghadapi tim tangguh Asia lainnya di partai puncak, Korea, Gao Han dan rekan-rekannya sempat tertinggal lebih dulu 0-1 saat duet Chai Biao/Xie Jing kalah tipis dari Kim Ki Jung/Eom Hye Won, 21-16, 19-21, 21-23.

Kekalahan ini berhasil di tebus oleh tiga wakil Cina di sektor tunggal putra, tunggal putri dan ganda putra. Gao Huang menyamakan kedudukan 1-1 untuk Cina dengan menekuk Park Sung Ming, 21-12, 21-17. Li Xuerui dan Zhang Nan/Chai Biao akhirnya memastikan gelar tim Cina setelah menang dua set langsung atas Bae Youn Joo dan Kim Ki Jung/Eom Hye Won.

Tersandung Di Perempatfinal

Saat Cina berhasil memetik 5 m juara dan dua gelar runner up, Malaysia mengantongi 1 gelar serta Korea dengan 4 title runner up-nya, para atlet junior Indonesia harus terpuruk di babak perempatfinal. Absennya sebagian besar para atlet junior demi membela daerah masing-masing pada ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) membuat kubur merah putih hanya mengirimkan sebagian para atlet pelatnas pratama dan junior terbaik daerah untuk berlaga di Kejuaraan ini.

Dimotori oleh pemain pelatnas pratama yang berasal dar klub Djarum, Engga Setiawan, srikandi junior terbaik Jawa Barat, Desi Hera, dua pasangan pelatnas pratama, Annisa/Fenya dan Kevin/Angga, serta pasangan campuran PB Djarum, Ulinuha/Annisa, para pemain Indonesia berhasil menjadi yang terbaik di klub D dengan melibas Vietnam 4-1, Korea Utara 5-0, dan tim tangguh Thailand 3-2.

Kejutan terbesar adalah saat Engga Setiawan mampu menekuk unggulan teratas turnamen ini yang sempat mengalahkan Taufik Hidayat, Tanongsak Saensomboonsuk. Namun sayangnya langkah mudah Indonesia ke babak 8 besar, terjegal oleh runner up grup B, tim Hongkong. Meski Annisa/Fenya dan Kevin Angga berhasil menebus kekalahan dua tunggal Indonesia, kekalahan Ulinuha/Annisa atas Wong Wing Ki/Tse Ying Suet, 23-25, 21-13, 17-21 memupuskan harapan Indonesia untuk menyamai prestasi tahun lalu dengan lolos ke empat besar.

Di nomor indovidu, para atlet junior Indonesia juga hanya mencatatkan prestasi terbaiknya di nomor perempatfinal. Duet pasangan Berry Angriawan/Muhammad Ulinuha akhirnya menyerah dari unggulan teratas asal Malaysia, Mak Hee Chun/Teo Kok Siang, 14-21, 16-21. Duo srikandi Indonesia, Feinya/Nadhir ‘Ajeng’ Maziyah juga terhenti langkahnya atas ganda Cina, Lu Lu/Xia Huan, 16-21, 5-21. Sebelumnya di sektor tungga, Ajeng yang bermain rangkap sudah terlebih dahulu takluk atas tunggal Jepang, Eriko Tamaki, setelah melewati permainan alot tiga set, 21-14, 19-21, 19-21.

Hasil yang kurang maksimal ini ikut melengkapi catatn buruk para junior Indonesia setelah di Kejuaraan Dunia Junior tahun lalu, kubu merah putih juga harus puas bertengger di peringkat 7 dunia. Kesempatan untuk para junior Indonesia memperbaiki prestasinya masih terbuka lebar pada ajang Kejuaraan Dunia Junior bulan November mendatang di India.

Ferry irawan, Jurnalis Bulutangkis.com

July 16, 2008

Final Results Badminton PON XVII : Individual Matches

Filed under: Turnamen — bulutangkismania @ 11:50 pm

Women’s Singles

Adrianti Firdasari (Jakarta) beat Pia Zebadiah (Jakarta) WO
Firda winning the title after Pia walk out from the match. Strategy Pia to save her stamina for another battle.


Mixed Doubles

Devin Lahardi/Lita Nurlita (West Java) beat Muhammad Rijal/Yulianti (Central Java) 21-10, 21-19.

Yulianti not on her peak performance, making so many error after winning from Hendra/Devi yesterday.

Men’s Double

Bambang Suprianto/Tony Gunawan (East Java) beat Fernando Kurniawan/M. Ahsan (North Maluku) 21-19, 15-21. 22-20.

What a match!! The most attractive match of the day. Edo/Ahsan lead 20-18 at the 3rd set and almost winning it but suddenly Ahsan making so many error in the end of set. I saw both of them cried after losing their match. Bambang feeling happy with his achievement and said that this is his last national tournament.


Men’s Singles

Simon Santoso (Jakarta) beat Andre Kurniawan Tedjono (Central Java) 21-13, 21-23, 21-13

Great revenge from Simon. He played more patient.


Women’s Doubles

Nathalia Poluakan/Greysia Polii (North Sulawesi) beat Jo Novita/Pia Zebadiah (Jakarta) 18-21, 21-14, 21-16

Another duel between two close friend, Grace and Jo. Pia is the weakest spot at the two last set. Strategy Jakarta to grab more gold medal not working this time.

July 15, 2008

Badminton Info : Profil Tim Uber Indonesia

Filed under: Sekilas Info — bulutangkismania @ 11:50 pm

Bagi rekan-rekan yang ingin ‘kenal lebih dekat’ dengan anggota tim Uber kita, silahkan baca majalah GADIS nomor 20, yang akan beredar hari jumat atau sabtu ini (18/19 Juli).

Profilnya satu per satu lho..

Dont miss it..

Results Semifinal Badminton PON XVII : Individual Matches

Filed under: Turnamen — bulutangkismania @ 11:26 pm

Men’s Singles :

Simon (DKI Jakarta) beat Ari Yuli Wahyu (East Kalimantan) 21-12, 21-7

Andre Kurniawan (Central Java) beat Indra Bagus (North Sumatra) 21-19, 13-21, 21-19

Women’s Singles :

Adrianti Firdasari (DKI Jakarta) beat Febi Angguni (West Java) 21-7, 21-14

Pia Zebadiah (DKI Jakarta) beat Maria Elfira (Central Java) 21-11, 21-13

Women’s Doubles :

Jo Novita/Pia Zebadiah (DKI Jakarta) beat Lelyana/Shendy (East Java) 16-21, 21-14, 23-21, really tight match!!

Greysia Polii/Nathalia Poloukan (North Sulawesi) beat Endang/Rani (DKI Jakarta/1st Seeded), 20-22, 21-13, 21-16, 1st upset

Mixed Doubles :

Devin Lahardi/Lita Nurlita (West Java) beat Fran Kurniawan/Meiliana Jauhari (East Java) 18-21, 24-22, 21-11

Mohd Rijal/Yulianti (Central Java) beat Hendra Aprida Gunawan/Devi Tika (West Java) 21-7, 21-15

Men’s Doubles :

Bambang Suprianto/Tony Gunawan (East Java) d Joko Riyadi/Rendra Wijaya (Jakarta) 21-14, 21-11
Fernando Kurniawan/M. Ahsan (North Maluku) d Frans Kurniawan/Lingga Lie (Central Java) 21-11, 24-22

Badminton PON XVII : Individual Match Results

Filed under: Turnamen — bulutangkismania @ 8:23 am
Quarter Final

Women’s Singles

Adrianti Firdasari (Jakarta) d Maria Febe (Central Java) 21-17, 15-21, 21-19 good fight by Febe
Febby Angguni (West Java) d Fitria Firdaus (East Kalimantan) 12-21, 21-11, 21-9, lucky draw for Febby as 4th seed gift
Maria Elfira Christina (Central Java) d Aprilia Yuswandari (East Java) 21-12, 21-14 Fira keep her good perform.
Pia Zebadiah (Jakarta) d Silvi Antarini (West Sumatra) 21-17, 21-12

Men’s Singles

Simon Santoso (Jakarta) d Achmad Rivai (Banten) 21-12, 21-7 Rivai tired after passed tough draw in previous round
Ari Yuli Wahyu Hartanto (East Kalimantan) d Alamsyah (Jakarta) 21-17, 21-14 upset by Djarum’s product
Indra Bagus (North Sumatra) d Tommy Sugiarto (Jakarta) 21-14, 17-21, 21-17 2nd Upset in MS
Andre Kurniawan Tedjono (Central Java) d Adnan Fauzi (East Java) 21-11, 21-18 revenge by Andre

Women’s Doubles

Rani Mundiatsi/Endang Nur Sugianti (Jakarta) d Meiliana Jauhari/Yulianti (Central Java) 21-12, 21-12
Nathalia Poluakan/Greysia Polii (North Sulawesi) d Della Destiara/I Made Claudia Wijaya (Bali) 21-13, 21-10 Poluakan on defend her title (2004 paired with Liliyana Natsir)
Jo Novita/Pia Zebadiah (Jakarta) d Dian P/Weni Anggraeni (Riau Islands) 21-17, 21-13
Lelyana Daisy Chandra/Shendy Puspa (East Java) d Indarti Isolina/Lidyawati Limanto (East Kalimantan) 10-21, 21-17, 21-14

Men’s Double

Joko Riyadi/Rendra Wijaya (Jakarta) d Rian Sukmawan/Yonathan Suryatama (Central Java) 22-20, 21-17 upset by Joko/Rendra, slow but sure they were found as suitable pair.
Bambang Suprianto/Tony Gunawan (East Java) d Dwi Kristian/Andi Mawardi (Papua) 21-13, 21-11
Fernando Kurniawan/M. Ahsan (North Maluku) d Viki Indra Ovana/Bagus Suprobo (East Java) 21-11, 21-15
Frans Kurniawan/Lingga Lie (Central Java) d Anggun Nugroho/Bona Septano (Jakarta) 21-14, 21-9
SF Match between Kurniawan’s brother, Frans vs Fernando. Both pair are Djarum’s players

Mixed Doubles

Devin Lahardi/Lita Nurlita (West Java) d Tri Kusharyanto/Shendy Puspa (East Java) 14-21, 21-8, 21-16
Frans Kurniawan/Meiliana Jauhari (Central Java) d Anggun Nugroho/Jo Novita (Jakarta) 15-21, 21-8 26-24
Hendra Aprida Gunawan/Devi Tika (West Java) d Rendra Wijaya/Endang Nursugianti (Jakarta) 16-21, 21-19, 21-19
Muhammad Rijal/Yulianti (Central Java) d Viky Indra Okvana/Yunita Tetty (East Java) 21-18, 21-16

XD Semi Final, West Java vs Central Java

Round-16

Women’s Singles

Adrianti Firdasari (Jakarta) d Tike Arieda Ningrum (East Java) 21-6, 21-7
Maria Febe (Central Java) d Yuli Marfuah (West Java) 21-12, 21-15
Febby Angguni (West Java) d Suci Yansri (South East Sulawesi) 21-9, 21-8
Yuan Kartika (North Sumatra) v Fitria Firdaus (East Kalimantan) ??

Aprilia Yuswandari (East Java) d Alfa Vivianita (South East Sulawesi) 18-21, 21-13, 21-14
Maria Elfira Christina (Central Java) d Riszki Amalia (North Sumatra) 21-14, 21-11
Silvi Antarini (West Sumatra) d Sylvinna Kurniawan (Central Java) 21-12 ??
Pia Zebadiah (Jakarta) d Ganis Nur Ramadhani (Banten) 21-12, 21-12

Men’s Singles

Simon Santoso (Jakarta) d Ardiansyah Putra (West Java) 21-12, 21-11
Achmad Rivai (Banten) d Andreas Adityawarman (Central Java) 16-21, 21-17, 21-17
Alamsyah (Jakarta) d Farhad (North Sumatra) 21-12, 21-12
Ari Yuli Wahyu Hartanto (East Kalimantan) d Jeffer Rosobin (East Java) 21-12, 21-19

Indra Bagus (North Sumatra) d Andi Hartono (West Java) 17-21,21-13, 21-10
Tommy Sugiarto (Jakarta) d Nugroho Andi Saputro (Central Java) 21-15, 19-21, 21-10
Adnan Fauzi (East Java) d Budi Santoso (West Java) 8-21, 21-14, 21-12
Andre Kurniawan Tedjono (Central Java) d Dody Chandra (Jambi) 21-9, 21-3

Women’s Doubles

Rani Mundiatsi/Endang Nur Sugianti (Jakarta) d Berry Pratiwi/Suci Yansri (South East Sulawesi) 21-4, 21-8
Meiliana Jauhari/Yulianti (Central Java) d Febra Jeksianola/Silvi Rahayu (West Sumatra) 21-5, 21-12
Della Destiara/I Made Claudia Wijaya (Bali) d Andi Nurhudawati/Dini Rizki Nanda (East Kalimantan) 21-13, 21-11
Nathalia Poluakan/Greysia Polii (North Sulawesi) d Athiatun/Nadya Melati (Banten) 21-11, 21-13

Jo Novita/Pia Zebadiah (Jakarta) d Lita Nurlita/Devi Tika (West Java) 21-19, 21-11
Dian P/Weni Anggraeni (Riau Islands) d Rizki Amalia/Wenny Setiawati 18-21, 21-11, 21-10
Lelyana Daisy Chandra/Shendy Puspa (East Java) d Fitri Hidayati/Shenly B (Jambi) 21-10, 21-13
Indarti Isolina/Lidyawati Limanto (East Kalimantan) d Purwaningsih/Putu Rusmiati (Bali) 21-15, 21-8

Men’s Double

Rian Sukmawan/Yonathan Suryatama (Central Java) d Woni Romano/Amin Rahmad (Papua) 21-11, 21-13
Joko Riyadi/Rendra Wijaya (Jakarta) d Denden Kurniawan/Ade Hidayat (Jambi) 21-11, 21-16
Dwi Kristian/Andi Mawardi (Papua) d Tri Kusuma/Hendra Suryo Nugroho (North Sumatra) 21-19, 21-16
Bambang Suprianto/Tony Gunawan (East Java) d Devin Lahardi/Hendra Aprida Gunawan (West Java) 26-24, 20-22, 21-10

Fernando Kurniawan/M. Ahsan (North Maluku) d Beben Gunadi/Dody Candra (Jambi) 21-9, 21-16
Viki Indra Ovana/Bagus Suprobo (East Java) d Syarifudin / Unang Rahmat (East Kalimantan) 13-21, 23-21, 23-21
Frans Kurniawan/Lingga Lie (Central Java) d Imam Sodikin/Agung Ruhanda (West Java) 21-10, 21-16
Anggun Nugroho/Bona Septano (Jakarta) d Rio Wilianto/Davin P. (Banten) 17-21, 21-10, 21-16

Mixed Doubles

Devin Lahardi/Lita Nurlita (West Java) d Unang Rahmat/Lidyawati Limanto (East Kalimantan) 21-16, 21-14
Tri Kusharyanto/Shendy Puspa (East Java) d Rendi Sugiharto/Athiatun (Banten) 21-7, 21-11
Frans Kurniawan/Meiliana Jauhari d M.Nur Rofii/Wenny Setiawati (North Sumatra) 21-9, 21-13
Anggun Nugroho/Jo Novita (Jakarta) d Muhammad/Wati (South Sulawesi) 21-10, 21-13

Hendra Aprida Gunawan/Devi Tika (West Java) d Rionny Mainaky/Nadya Melati (Banten) 21-10, 21-19
Rendra Wijaya/Endang Nursugianti (Jakarta) d Syarifudin/Indarti Isolina (East Kalimantan) 21-10, 21-9
Viky Indra Okvana/Yunita Tetty (East Java) d Beben Gunadi/Shenly B (Jambi) 21-13, 21-13
Muhammad Rijal/Yulianti (Central Java) d Ilham Pratama/Dian Mayasari (South Sulawesi) 21-9, 21-8

Round-32

Women’s Singles

Tike Arieda Ningrum (East Java) d Debora Mariana (South East Sulawesi) 21-5, 21-8
Maria Febe (Central Java) d Ni Made Claudia Wijaya (Bali) 21-17, 21-13
Yuli Marfuah (West Java) d Athiatun (Banten) 21-13, 21-12)

Febby Angguni (West Java) d Kadek Sanmi Asih (Bali) 21-6, 21-8
Suci Yansri (South East Sulawesi) d Ririn Anggraeni (Riau Islands) 21-11, 14-21, 21-18
Yuan Kartika (North Sumatra) d Silvi Rahayu (West Sumatra) 21-11, 21-13
Fitria Firdaus (East Kalimantan) d Ulvie Tiarafani (Jambi) 21-11, 21-6

Alfa Vivianita (South East Sulawesi) d Fitri Hidayati (Jambi) 21-11, 21-6
Aprilia Yuswandari (East Java) d Citra Putri Sari Dewi (Riau Islands) 21-8, 21-5
Riszki Amalia (North Sumatra) d Della Destiara (Bali) 21-7, 21-19
Maria Elfira Christina (Central Java) d Dini Rizki Nanda (East Kalimantan) 21-11, 21-15

Silvi Antarini (West Sumatra) d Fifit Amila Rizal (South Sulawesi) 21-8, 21-8
Sylvinna Kurniawan (Central Java) d Linda Weni Fanetri (West Java) 19-21, 21-11, 21-16
Ganis Nur Ramadhani (Banten) d Millicenti W (North Sumatra) 21-15, 18-21, 21-14
Pia Zebadiah (Jakarta) d Nova R. Amelia (North Sulawesi) 21-7, 21-17

Men’s Singles

Simon Santoso (Jakarta) d Farid Hidayat (Jambi) 21-7, 21-12
Ardiansyah Putra (West Java) d Lucas Alexander (North Sumatra) 21-12, 15-21, 21-15
Andreas Adityawarman (Central Java) d Andi Mawardi (Papua) 21-9, 21-3
Achmad Rivai (Banten) d Nandang Arief Saputra (North Maluku) 15-21, 21-15, 23-21

Alamsyah (Jakarta) d Wimpie Mahardi (West Kalimantan) 21-11, 21-13
Farhad (North Sumatra) d Rionny Mainaky (Banten) 21-8, 21-12
Ari Yuli Wahyu Hartanto (East Kalimantan) d Prakasa Setiya (Papua) 21-7, 21-15
Jeffer Rosobin (East Java) d Ilham Pratama (South Sulawesi) 21-14, 21-8)

Andi Hartono (West Java) d Chandra Wijaya (East Kalimantan) WO
Indra Bagus (North Sumatra) d Hapitwan Daya (Banten) 21-15, 17-21, 21-7
Nugroho Andi Saputro (Central Java) d Sakti Kusuma (Jambi) 21-18, 21-18
Tommy Sugiarto (Jakarta) d Rahmat Rachman (South Sulawesi) 21-14, 21-4

Adnan Fauzi (East Java) d Hery Setiawan (East Kalimantan) 22-20, 21-13
Budi Santoso (West Java) d Yoga Pratama (Jakarta) 21-14, 17-21, 21-17
Dody Chandra (Jambi) d Roy Firmansyah (West Kalimantan) 21-12, 21-12
Andre Kurniawan Tedjono (Central Java) d Yong Yudianto (Papua) 21-18, 21-15

Women’s Doubles

Athiatun/Nadya Melati (Banten) d Linda Weni/Yuli Marfuah WO
Pia Zebadiah/JO Novita (Jakarta) d Dian Mayasari/Wati 21-8, 21-12
Shenly B./Fitri Hidayati (Jambi) d Debora Mariana/Reni Kusumawati (South East Sulawesi) 20-22, 21-19, 21-19

Men’s Double

Woni Romano/Amin Rahmad (Papua) d Rachmat Rachman/Muhammad (South Sulawesi) 21-19, 22-20
Denden Kurniawan/Ade Hidayat (Jambi) d Budi Hartono/Andrei Adasta (Banten) 21-17, 21-19
Dwi Kristian/Andi Mawardi (Papua) d Rihart Nove Ratte/Hery Setiawan (East Kalimantan) 21-9,20-22, 21-19
Tony Gunawan/Bambang Suprianto (East Java) d Sakti Kusuma/Farid Hidayat (Jambi) 21-10, 21-6
Devin Lahardi/Hendra Aprida Gunawan (West Java) d Wimpie Mahardi/Syahmie S (West Kalimantan) 21-9, 21-16
Beben Gunadi/Dody Candra (Jambi) d Farhad/Lucas Alexander (North Sumatra) 19-21, 21-17, 21-17
Fernando Kurniawan/M. Ahsan (North Maluku) d Rendy Sugiarto/Rionny Mainaky (Banten) 21-18, 18-21, 21-14
Viki Indra Ovana/Bagus Suprobo (East Java) d Prakasa Setiya/Dani Arayana Abdullah (Papua) 21-9, 21-13
Imam Sodikin/Agung Ruhanda (West Java) d Chandra Wijaya/Teguh Siswanto (East Kalimantan) 21-14, 21-18
Anggun Nugroho/Bona Septano (Jakarta) d M. NUr Rofii/M. Rizky D.N. (North Sumatra) 21-10, 21-16

Mixed Doubles

Rionny Mainaky/Nadya Melati (Banten) d Rufikha Olivtha/M. Rizky D.N. (North Sumatra) 22-20, 21-13

Round-64

Men’s Singles

Achmad Rivai (Banten) d Teguh Siswanto (East Kalimantan) 21-16, 21-11
Jeffer Rosobin (East Java) d Denden Kurniawan (Jambi) 21-11, 22-20
Andi Hartono (West Java) d Roni Agustinus) (East Java) 21-4, 21-10
Sakti Kusuma (Jambi) d Kristoforus Sakeup Wamtop (Papua) 21-11, 21-11
Hery Setiawan (East Kalimantan) d Herdiyanto (North Sumatra) 21-18, 21-9

Contributed Sandy from Badminton Central

July 13, 2008

Final Results US Grand Prix ’08 : Kado Halim Untuk Amerika

Filed under: Turnamen — bulutangkismania @ 3:24 pm

Berlokasi di California, Amerika Serikat, turnamen yang berhadiah total 50,000 USD ini akhirnya berhasil didominasi oleh para pebulutangkis tuan rumah. Raihan 3 gelar juara dan 1 gelar runner up pada babak final diharapkan mampu menjadi salah satu persembahan terindah dari para mantan pebulutangkis Asia untuk perkembangan badminton di Amrika sekaligus kado ulang tahun kemerdekaan Amerika Serikat yang ke-232.

Mantan pebulutangkis Indonesia yang saat ini membela Amereka, Halim Haryanto berhasil memetik gelar perdana di nomor ganda campuran. Berpasangan dengan salah seorang mantan pebulutangkis Cina, Peng Yun (Grace), keduanya berhasil menundukkan unggulan ke-2 asal Kanada, Mike Beres/Valerie Loker dua set langsung. Set pertama berhasil dikuasai sepenuhnya oleh pasangan Amerika yang tahun lalu hanya mampu mencapai babak perempatfinal ini. Unggul jauh 7-1 dan 16-5, karena banyaknya kesalahan sendiri dari Mike/Valerie, keduanya tak terkejar dan menutup set ini dengan kemenangan sempurna 21-13.

Pada set kedua, perseteruan antara kedua pasangan ini berlangsung lebih hidup saat ganda Kanada berhasil menemukan irama permainan mereka. Halim/Grace sempat tertinggal 3-6 di awal set pertama. Namun berkat serangan smash-smah yang cukup tajam dan keras, Halim/Grace mampu menyamakan kedudukan di angka 8 dan berbalik unggul 10-8. Frekuensi serangan yang sempat melonggar kembali membuat permainan ganda Kanada berkembang dan berbalik unggul 14-13. Memasuki di poin-poin kritis, duet Amerika kembali meningkatkan tempo permainan dan terus menekan sehingga kembali ‘leading’ 17-14 dan 20-15 sebelum menutup set ini 21-16.

Kemenangan Halim Haryanto di nomor campuran sayangnya tidak mampu disandingkan dengan gelar juara di sektor ganda putra. Berpasangan dengan Raju Rai, pemain ganda peraih mahkota Juara Dunia 2001 bersama Tony Gunawan ini harus puas menjadi runner up setelah dikalahkan ganda no. 1 Pan Amerika, Howard Bach/Khan Bob Malaythong. Duel antara sesama pasangan Amerika ini sempat berlangsung tak seimbang di awal set pertama. Solidnya pertahanan dan permainan Howard/Khan terlihat kontras dengan duo Halim/Raju yang baru dipasangkan untuk pertamakalinya.

Tertinggal 2-7 dan 7-11 saat jeda interval, Halim/Raju mampu memperkecil selisih angka keduanya menjadi 11-12. Howard/Khan yang jauh lebih unggul dari segi pengalaman dan kekompakan kembali mendominasi di poin-poin kritis setelah berhasil memecah belah pertahanan lawan mereka. Tertinggal 12-20, Halim/Raju akhirnya menyerah 14-21 di set pertama.

Permainan berlangsung lebih ketat di set kedua. Meski unggulan teratas, Howard/Khan selalu memimpin dengan selisih 2-3 poin sejak awal set, Halim/Raju sempat berbalik mempin 10-9 dan 11-10 saat jeda interval dengan berbalik menekan dan melakukan serangan. Beberapa kesalahan sendiri dari Halim/Raju kembali membuat ganda terbaik Amerika tersebut memimpin 14-11.

Selisih 1-3 poin kembali terjadi hingga skor kritis 18-15, 19-17, dan 20-18 untuk keunggulan Howard/Khan. Halim/Raju sempat menambah satu poin dan nyaris memaksakan ‘deuce’ saat kedudukan 19-20. Namun kecerdikan Howard/Khan dalam penempatan bola menggagalkan usaha Halim/Raju untuk memaksa rubber set saat keduanya memperoleh poin terakhir sekaligus menamatkan set ini lebih dulu 21-19.

Pemain Asia lainnya yang ikut menambah perolehan gelar Amerika Serikat adalah Zhou Lili. Menghadapi unggulan ke-5 turnamen ini, Chloe Magee, kedua pemain tunggal ini sempat berseteru ketat di set pertama. Kejar mengejar angka dan selisih poin yang tipis berlangsung dari awal set hingga kedudukan 20-18 untuk Irlandia. Tiga kesempatan ‘match point’ yang gagal dimanfaatkan oleh Chloe membuat Zhou mampu menyamakan kedudukan di angka 20 dan 21 serta berbalik menutup set ini 23-21.

Mental bertanding Chloe yang kurang begitu sempurna berimbas pada permainannya saat memasuki set kedua. Sempat member perlawanan di awal set, Chloe akhirnya tertinggal 8-11 dan 9-14 karena tidak mampu keluar dari tekanan. Chloe mampu kembali bangkit dengan bermain lebih agresif sehingga memperkecil selisih poin 16-17. Kurangnya konsistensi dalam bermain khususnya saat berada di poin-poin kritis membuat Chloe kembali terpuruk di angka 16 sedangkan Zhou mampu merebut 4 angka berturut-turu sekaligus memastikan gelar grand prix perdananya di tahun ini, 21-16.

Di dua nomor lainnya, Amerika Serikat tidak menempatkan satupun wakilnya ke babak final. Mahkota juara tunggal putra akhirnya direbut oleh tunggal terbaik Pan Amerika asal Kanda, Andrew Dabeka. Unggula teratas asal Kanada tersebut memupuskan harapan pemain muda Denmark, Marthin Bille Larsen (unggulan ke-8) di babak final. Kejar mengejar angka dan saling memimpin hanya terjadi pada awal set pertama dan kedua. Selanjutnya, Andrew mengontrol penuh jalannya pertandingan hingga akhirnya memetik kemenangan cukup telak 21-14, 21-9.

Perdedaan level kualitas antara wakil Asia dan Amerika kembali terujia di sentor ganda putri. Meskipun tidak diunggulkan di tempat teratas, dua wakil Taiwan berhasil melibas lawan-lawan masing-masing dan menyajikan pertarungan antara sesama Taiwan di babak puncak. Chang Li Ying/Hung Shih Chieh akhirnya berhak untuk mengantongi gelar perdana mereka di tahun ini setelah melumpuhkan rekan senegaranya, Tsai Pei Ling/Yang Chia Chen, 21-19, 21-14.

Ferry Irawan, Jurnalis Bulutangkis.com

(www.bulutangkis.com, www.bulutangkismania.wordpress.com)

July 11, 2008

Bulutangkis PON XVII : DKI Gagal Sandingkan Gelar

Filed under: Turnamen — bulutangkismania @ 11:11 pm

Kejutan terjadi di cabang olahraga bulutangkis nomor beregu putra, setelah tim putra DKI Jakarta dikalahkan tim Jawa Tengah. Bahkan tim ibukota yang dihuni beberapa atlet Cipayung ini, kalah telak 3-0.

Pada tunggal pertama, Simon Santoso yang di atas kertas diunggulkan, diluar dugaan ternyata takluk dua set langsung dari Andre Kurniawan, 15-21, 18-21, hanya dalam waktu 39 menit.

Kejutan kembali terjadi ketika pasangan ganda Joko Riyadi/ Rendra Wijaya takluk dari ganda Rian Sukmawan/ Yonatan, 15-21, 24-22, 19-21. Memasuki akhir set kedua dan ketiga, pasangan terbaik klub Djarum, Rian/Yoke berkali-kali melakukan beberapa kesalahan sendiri terutama saat berada di poin-poin kritis. Beberapa bola yang tanggung dan tidak sulit gagal dimanfaatkan oleh keduanya dan banyak yang menyangkut di depan net.

Pada laga terakhir, Andreas Adityawarman memupuskan harapan DKI Jakarta, untuk merebut emas setelah mengalahkan tunggal DKI Tommy Sugiarto, 21-13, 21-11.

Ditemui seusai penyerahan medali, rasa kekecewaan terlihat jelas dari raut muka Joko Riyadi. Saat ditanya penyebab kekalahan, Joko mengaku faktor kekompakan antara dirinya dan Rendra menjadi penyebab utama.

”Mereka pasangan dari awal, sedangkan kami baru berlatih ketika bertemu di sini,” jelas Joko.

Dalam kesempatan ini Joko juga mengutarakan kekesalannya. Menurut Joko, seharusnya tim DKI bisa mencuri di sektor tunggal. ”Simon sebenarnya wajib menang dari Andre. Karena di atas kertas Simon jauh lebih unggul,” beber Joko.

Sementara itu Simon yang ditemui di tempat terpisah, tidak menerima jika dirinya menjadi kambing hitam dari kekalahan. ”Ini permainan tim. Jadi semua tanggung jawab itu harus dipikul sama oleh anggota tim,” bela Simon.

”Sebenarnya saya akui secara sportif, lawan saya lebih bagus. Saya tidak ingin mencari kesalahan orang lain. Anda juga bsia lihat, pada laga ketiga Tommy juga mengalami kekalahan. Jadi tidak usah mencari siapa yang salah,” Di akhir wawancara, Simon juga mengutarakan bahwa hal yang perlu dilakukan sekarang adalah evaluasi mengenai kinerja kontingen DKI ini.

Meskipun harus puas menjadi runner up beregu putra, dominasi para srikandi DKI masih belum terbendung di sektor putri. Firda dan rekan-rakannya berhasil menaklukkan finalis lainnya, Jawa Barat di babak final dengan skor 2-0. Tunggal DKI, Adriyanti Firdasari berhasil memetik kemenangan pertama atas Linda Weni, 21-15, 21-18. Atlet ganda Pelatnas, Endang/Rani menambah kemenangan untuk DKI setelah melibas Lita Nurlita/Devi Tika, 21-13, 21-15.

Sumber : Okezeone.com dengan beberapa adaptasi.

July 7, 2008

Final Results Vietnam International Challenge ’08 : Malaysia Borong 3 Gelar

Filed under: Turnamen — bulutangkismania @ 12:47 am

Setahun yang lalu Indonesia berhasil merajai nomor ganda turnamen ini dengan mempersembahkan 3 gelar. Bahkan pada nomor ganda campuran tersaji partai antara sesama wakil Indonesia yang akhirnya dimenangkan oleh Tantowi/Yulianti. Namun pada penyelenggaraan tahun ini, Indonesia harus pulang dengan tangan hampa tanpa merebut 1 gelarpun. Hal ini cukup dimaklumi karena absennya sebagian besar para pemain lapis dua merah putih yang lebih memilih untuk berkonsentrasi pada Pekan Olahraga Nasional XVII.

Ganda Putri, Kokom/Debby Ukir Prestasi Tertinggi

Prestasi tertinggi yang diraih oleh wakil Indonesia kali ini adalah menjadi semifinalis ganda putri yang dipersembahkan oleh junior pelatnas, Komala Dewi/Debby Susanto. Namun meskipun gagal melangkah ke babak final setelah dijegal oleh unggulan ke-3 asal Singapura, Yao Lei/Shinta Mulia Sari, 16-21, 17-21, keduanya berhasil mencatat prestasi spektakuler pada babak kedua dengan menundukkan unggulan ke-2 asal Taiwan, Yang Chia Chen/Tsai Peng Ling, 21-23, 21-18, 21-16. Prestasi ini jauh lebih baik dibandingkan dengan prestasi Debby setahun yang lalu saat masih bernaung di klub Djarum berpasangan dengan Luluk Maria Ulfa. Kala itu, Luluk/Debby ditundukkan oleh pasangan Malaysia, Woon Khe Wei/Liu Ying Goh, 18-21, 21-18, 18-21 di laga perdananya.

Perebut mahkota turnamen Singapore International Series 2008, Yao Lei/Shinta Mulia Sari akhirnya berhasil menjuarai turnamen ini setelah di babak final menundukkan rekan senegaranya, Frances Liu/Yu Yan Vanessa, 21-8, 21-15. Di babak sebelumnya, Yao/Shinta juga berhasil menundukkan duet Indonesia lainnya, Richi/Keke, 18-21, 17-21. Setahun yang lalu, Richi bersama Yulianti berhasil merebut gelar juara turnamen ini dengan melibas ganda senior Korea, Ha Jung Eun/Kim Min Jung, 21-17, 9-21, 21-16. Ini adalah kali perdana Richi ditandemkan kembali dengan Keke di bawah bendera Pelatnas setelah duo mojang Pusdiklat Tasik ini sempat terpisah karena Keke gagal masuk Pelatnas di tahun 2006.

Wakil pelatnas lainnya asal klub Djarum, Nimas/Annisa juga terhenti langkahnya di babak pertama setelah menyerah atas ganda Thailand, Savitree/Vacharaporn, 10-21, 19-21. Wakil Thailand ini akhirnya merebut tempat ke-3 setelah di babak play off mengalahkan Debby/Kokom, 21-15, 21-18.

Ganda Putra, Wifqi/Afiat Gagal Penuhi Target

Menenempati unggulan tertinggi untuk Indonesia yang juga merupakan kampiun turnamen Thailand International Series 2008, Wafqi/Afiat gagal memenuhi ambisinya sebagai unggulan ke-2 untuk melaju ke babak final. Wakil pelatnas yang mampu menyajikan permainan sempurna saat berhadapan dengan tandem senior Trikus/Bambang di babak semifinal Sirkuit Nasional SGS Open 2008 yang lalu ini takluk di babak 16 besar oleh anak suhan Rexy, Hong Chieng Hun/Ng Kean Kok, 19-21, 14-21. Duet Malaysia ini akhirnya merebut gelar juara setelah di partai puncak menjungkalkan rekan senegaranya yang lebih berpengalaman, Mohd Razif/Chan Peng Soon dalam pertarungan ketat rubber set, 19-21, 28-26, 21-13.

Sementara itu wakil Indonesia lainnya, Chrisna/Syahmie justru berprestasi lebih baik di turnamen ini. Sebelum langkah keduanya terhenti di babak perempatfinal, pasangan masa depan Indonesia ini mampu menundukkan unggulan ke-3 duet gado-gado Swedia-Cina, Mat Fagerstrom/Zhang Yi, 21-12, 21-18 di babak 32 besar. Wakil Jepang, Hiroyuki Endo/Kenichi Hayakawa yang mengalahkan Chrisna/Syahmie di babak 8 besar akhirnya dalam pertarungan rubber set akhirnya bertekuk kepada juara turnamen ini, Mohd Razif/Chan Peng Soon, 19-21, 21-12, 17-21.

Ganda Campuran, 3 Ganda Malaysia Berjaya

Selain mendominasi nomor ganda putra, para atlet negeri jiran juga berhasil mengusasi nomor campuran dengan menempatkan tiga wakilnya ke babak semifinal dan akhirnya menempati 3 tempat teratas di nomor ini. Pasangan terbaik Malaysia, Tan Wee Kiong/Woon Khe Wei yang diunggulkan di tempat teratas di luar dugaan takluk kepada rekan senegaranya Lim Khim Wah/Ng Hui Lin, 18-21, 11-21 yang hanya menempati unggulan ke-3. Tan/Woon yang lebih kaya pengalaman tidak mempu meladeni permainan taktis Lim/Ng yang akhirnya menjadi juara harus puas berada di peringkat ke-3 setelah di babak play off menyingkirkan wakil Taiwan, Wang Chia Min/Wang Pei Rong, 21-19, 21-17

Posisi runner up akhirnya di isi oleh wakil Malaysia lainnya, Mohd Razif/Chong Sook Chin setelah di partai puncak dikalahkan oleh Lim/Ng, 21-15, 19-21, 21-15. Sebelumnya di babak semifinal, Razif/Chong harus bermain cukup ketat saat menjegal duo Taiwan, 22-20, 21-18.

Tahun ini, tidak ada satupun pemain Indonesia yang ikut ambil bagian di nomor ini. Namun jika dilihat performa setahun yang lalu, Tantowi/Yulianti memulai debut spektakuler mereka pada turnamen ini dengan menjadi juara setelah mengandaskan pasangan senior Trikus/Tetty, 21-15, 21-17 di babak final. Bahkan sebelumnya di semifinal, duet Tantowi/Yulianti melibas ganda Korea, Yoo Yeon Seong/Ha Jung Eun, 21-14, 21-12.

Tunggal Putri, Lydia Menang Pengalaman

Selain merebut dua gelar di nomor ganda, Malaysia juga berhasil menambah perbendaharaan gelarnya lewat unggulan teratas turnamen ini, Lydia Cheah. Lydia yang menantang jagoan Taiwan, Hung Shih Han akhirnya memastikan gelar international challenge pertamanya setelah menang dua set langsung 22-20, 21-15. Pengalaman tunggal ke-3 tim uber Malaysia ini yang jauh lebih baik membuatnya mampu lebih cepat beradaptasi di set kedua.

Sebenarnya pertarungan antara sesama wakil Malaysia bisa saja terwujud di babak final. Sayangnya unggulan ke-4, Anita Raj Kaur yang harus bermain rubber set sejak babak pertama gagal mempertahankan konsistensi permainannya pada babak 4 besar saat menghadapi Hung Shih Han. Sempat tertinggal 20-22 di set pertama, Anita membalas dengan kemenangan 21-19 pada set kedua. Sayangnya perjuangan Anita berakhir di set ketiga dengan banyaknya melakukan kesalahan sendiri sehingga harus menyerah 14-21.

Satu-satunya srikandi Indonesia yang dikirim ke turnamen ini, Nadhir Maziyyah sudah tumbang lebih dulu di babak 16 besar setelah berhasil merangkak dari babak kualifikasi. Setelah menang atas junior Singapura, Li Bo di babak pertama, Nadhir akhirnya menyerah kepada Hung Shih Han yang runner up turnamen ini, 18-21, 15-21.

Setahun yang lalu, 3 wakil klub Djarum, Maria Elfira, Maria Febe dan Rosaria Yusfin berhasil mencatatkan diri ke babak perempatfinal dengan di damping oleh Pia Zebadiah sebagai utusan pelatnas. Perseteruan antara Fira dan Febe di babak perempatfinal akhirnya dimenangkan oleh Fira yang melenggang ke babak semifinal. Di babak semifinal, Fira berhasil mendapatkan ‘tiket gratis’ ke babak final setelah lawannya Zhou Mi mengundurkan diri karena cedera. Sayangnya Fira hanya mempu menjadi runner up setelah dilumpuhkan oleh Tracey Hallam, 15-21, 15-21.

Tunggal Putra, Chong Wei Feng Nyaris Buat Kejutan

Quarterfinalis turnamen ini setahun yang lalu, Chong Wei Feng nyaris membuat kejuatan di turnamen ini dengan mengalahkan unggulan teratas dan favorit tuan rumah, Nguyen Tien Minh. Tertinggal 10-21 di set kedua setelah menang 21-17 di set pertama, Chong mampu unggul lebih dulu 11-4 saat jeda interval set ketiga. Namun karena kalah pengalaman dan beberapa kesalahan sendiri, Chong akhirnya terkejar dan berbalik tertinggal 17-20 saat poin-poin kritis.

Namun semangat dan motivasi tunggal Malaysia ini tidak berhenti sampai disana. Perlahan Chong berhasil menyamakan kedudukan di angka 20 dan memeksakan ‘deuce’. Kejar mengejar angka berlangsung hingga kedudukan 24 sama sebelum akhirnya Nguyen menamatkan set ini lebih dulu 26-24 dan memastikan gelar intenational challenge perdananya di tahun ini.

Di babak sebelumnya, Nguyen berhasil melaju ke partai puncak setelah menundukkan ‘the rising star’ asal Thailand, Tanongsak Saengsomboonsuk, 14-21, 21-13, 21-15 sedangkan Chong membuat kejuatan dengan melibas unggulan kedua, Chetan Anand, 19-21, 21-10, 21-16.

Tahun lalu, Ari Yuli Wahyu menjadi runner up turnamen ini setelah di babak final kalah dari jagoan Malaysia, Tan Chun Seang, 16-21, 21-18, 14-21. Sedangkan pada tahun ini, empat atlet pelatnas pratama yang berasal dari klub berbeda hanya mampu bertahan di babak 32 besar. Bahkan dua diantaranya, Senatria dan Nandang Arif sudah tumbang lebih dulu di babak pertama oleh unggulan pertama dan kedua.

(www.bulutangkismania.wordpress.com, www.bulutangkis.com)

July 4, 2008

Tan Joe Hok, The Movie

Filed under: Sekilas Info — bulutangkismania @ 6:28 pm

Selasa, 17 Juni 2008 bertempat di Hotel Bumikarsa, Bidakara, Jakarta, Tremores Production dan Frontier Consulting Group menyelenggarakan konferensi pers mengenai pembuatan film Tan Joe Hok. Film yang akan diliris September 2009 ini akan disutradari oleh Wiendy Widasari. Sebelumnya Wienda pernah bekerja sebagai asisten sutradara bagi Rudy Soejarwo, Monty Tiwa dan Guntur Soeharjanto. . Terakhir Wienda menjadi co-sutradara bagi Monty Tiwa dalam film Kalau Cinta Jangan Cengeng produksi sinemart. Ide munculnya pembuatan film bertemakan olahraga ini berawal dari keprihatinan terhadap bangsa ini yang makin terkikis rasa nasionalismenya. Padahal semangat nasionalisme merupakan faktor penting yang harus dimiliki setiap warga negara manapun di bumi ini, kata Handy Irawan dari Frontier Consulting Group, lembaga konslutan bisnis yang akan membantu pembuatan film ini.

Mengapa bulu tangkis? Sebab olahraga inilah yang membuat negara ini menjadi harum di depan negara lain. Inilah olahraga dimana semangat nasinonalisme dapat dibangkitkan. Pembuatan film ini masih dalam tahap pengumpulan materi. Penulis naskahnya, Salman Aristo mengatakan tak ingin terburu-buru menyelesaikannya, termasuk pembuatan filmnya. Film ini terlalu berbahaya jika dikerjakan dengan terburu-buru, apalagi jika terlalu nafsu, katanya. Hadir juga Olivia Zalianty selaku produser yang akan memimpin produksi bersama Raden Kholid Ahmad. Bagi olivia, film ini diharapkan tidak hanya memberikan hiburan semata, melainkan juga dapat membawa pengaruh semangat Tan Joe Hok bagi setiap warga Indonesia.

Saya berharap setiap orang yang keluar dari bioskop menonton film ini bisa berteriak Indonesia bisa! dalam segala hal, katanya.

———— ——— ——— ——— ———

Masyarakat dapat menyelami lebih dalam perjalanan hidup Tan Joe Hok karena kisah legenda bulutangkis Indonesia itu akan segera difilmkan tahun depan.

“Tan Joe Hok adalah perintis perbulutangkisan Indonesia dan kami merasa banyak kisah dalam perjalanan hidupnya yang bisa menjadi inspirasi dan menambah semangat juang bangsa ini,” kata Olivia Zalianty yang bersama Raden Kholid Ahmad menjadi produser film tersebut dalam jumpa pers di Jakarta, Selasa.

“Ini juga upaya kami untuk ikut menghormati pahlawan olahraga di negara ini,” lanjut Olivia yang lebih dikenal sebagai artis layar lebar dan sinetron itu.

Tan adalah pebulutangkis Indonesia pertama yang berhasil merebut gelar juara All England pada 1959 dan ikut memboyong Piala Thomas ke Tanah Air pada 1958, 1961, dan 1964.

Prestasinya yang begitu hebat dan mendunia itu, menurut Olivia, sangat menarik untuk difilmkan dan bisa menjadi bahan pelajaran, tidak hanya untuk atlet, tapi juga untuk seluruh masyarakat.

Film tersebut menurut rencana akan mulai diproduksi oleh Tremores Production, bekerjasama dengan Frontier Consulting Group, pada Januari 2009 dan mulai dipasarkan melalui bioskop-bioskop pada September 2009, bertepatan dengan Hari Olahraga Nasional.

“Kalau produksinya bisa berjalan lebih cepat mungkin film ini akan ditayangkan pada Mei untuk memperingati Hari Kebangkitan Bangsa atau Agustus bertepatan dengan Proklamasi Kemerdekaan, ” papar Olivia.

Skenario film ditulis oleh Salman Aristo, yang tenar dengan karya skenarionya seperti Ayat-Ayat Cinta dan Jomblo, dan disutradarai oleh Wiendy Widasari.

Saat ini, menurut Olivia, mereka masih dalam proses pengumpulan informasi untuk penulisan skenario dan kemudian baru melakukan casting untuk mencari para pemeran film layar lebar itu.

“Proses casting akan dilakukan secara terbuka dan kami mencari aktor yang bisa bermain bulutangkis atau mungkin pemain bulutangkis yang bisa akting. Pokoknya kami akan mencari yang terbaik untuk berperan sebagai Tan Joe Hok,” jelasnya.

Sementara Salman mengaku sangat tertarik menulis skenario film tersebut karena bulutangkis adalah bagian penting dalam sejarah bangsa Indonesia..

“Saya ingin ikut dalam gerakan melawan lupa, yaitu lupa dengan sejarah bangsa sendiri,” ujarnya.

“Tapi saya belum mulai menulis skenarionya karena masih butuh riset yang panjang. Saya tidak mau terburu-buru, ” tambahnya.

Tan sendiri mengaku pada awalnya sungkan kisah hidupnya dijadikan sebuah film.

“Namun kemudian, saya berpikir kenapa tidak, jika ini bermanfaat bagi banyak orang,” ujar kakek berusia 71 tahun itu.

“Tapi saya minta agar film itu tidak menggambarkan saya sebagai seorang pahlawan atau mengkultuskan diri saya,” imbuhnya.. (*)

SUMBER : infogue.com

Blog at WordPress.com.