Memasuki hari kedua turnamen Singapore Open Super Series, stadium indoor masih menjadi saksi bisu dari berjatuhannya satu demi satu para unggulan yang difavoritkan meraih gelar dalam turnamen ini. Setelah tunggal putri dihentakkan di babak pertama, kali ini giliran sektor tunggal putra yang mengalami banjir kejutan dengan bertumbangannya dominasi para pebulutangkis papan atas dari pemain kuda hitam yang tidak diunggulkan sebelumnya.
Di sesi pertandingan pagi hari yang dibuka oleh perseteruan di nomor campuran, 7 dari 8 tempat yang disediakan untuk para unggulan berhasil diisi dengan sempurna oleh masing-masing pasangan. Tandem Polandia, Robert/Nadiezda yang berhasil memukau penonton dengan aksi mereka di laga sebelumnya saat membekap unggulan ke-7 asal China, Xu Chen/Zhao Yunlei hari ini kembali memetik kemenangan atas duet Malaysia, Koo Kien Keat/Ng Hui Lin 21-17, 21-18 (foto 1). Untuk bisa melaju ke semifinal, keduanya butuh keajaiban kedua guna menghentikan laju unggulan pertama, Nova/Lily di laga perempatfinal jumat sore (12/6).
NoLyn yang sedang berada dalam ‘peak performance’ terbaiknya kali ini tampil lebih siap untuk mempertahankan gelar keduanya setahun yang lalu setelah menghentikan duo Inggris yang acapkali menjadi batu sandungan mereka, Anthony Clark/Donna Kellogg, 21-18, 21-11. Langkah NoLyn ke quarterfinal sayangnya tidak diikuti oleh tandem Indonesia lainnya, Devin/Lita (foto 2) yang gagal mengulang kesuksesan permainan keduanya di semifinal Taipei Open GP Gold 2008. Menghadapi lawan yang sama, Joachim Fischer/Cristinna Pedersen (4), DevTa sempat mengajukan perlawanan sengit di set kedua 21-17 setelah tertinggal 9-21 di set pertama. Namun di set ketiga yang seharusnya dapat menjadi kunci kemenangan, keduanya justru mengendorkan serangan dan menyerah 10-21. Pertandingan ini mengingatkan kita pada kejuaraan beregu Sudirman Cup bulan Mei yang lalu saat DevTa juga nyaris memetik kemenangan atas Zheng Bo/Ma Jin. Namun di akhir set pertama dan ketiga, keduanya justru bermain kurang sempurna untuk menutup set dengan lebih baik.
Para pemain tunggal putri China masih mendominasi dan belum terpatahkan oleh lawan-lawannya. Wang Lin yang tanpa kesulitan melibas tunggal terbaik Korea, Hwang Hye Youn 21-10, 21-10 akan ditantang oleh dara India, Saina Nehwal (6) yang memupuskan harapan satu-satunya wakil merah putih di sektor ini, Adrianti Firdasari, 21-18, 17-21, 21-17. Permainan memukau Firda di depan net dan dalam melakukan bola-bola serang seharusnya mampu menjadi kunci kemenangannya di set kedua dan ketiga. Namun setelah jeda interval set ketiga, pertahanan Firda mulai goyah dan beberapa kali melakukan kesalahan sendiri sehingga membuahkan poin demi poin bagi Saina.
Langkah Wang Lin akhirnya diikuti oleh sang senior Xie Xingfang (8) yang menekuk tunggal negeri sakura, Ai Goto 21-19, 21-14. Penjamu Xingfang di perempatfinal adalah pemain putrid terbaik Thailand, Salakjit Ponsana yang sudah lebih dulu menenteng tiket 8 besar saat menundukkan Rachel Van Cutsen 21-6, 20-22, 21-13. Perseteruan antara dua pemain China beda generasi, Jiang Yanjiao dan Wang Yihan (2) akan memastikan satu tempat di semifinal bagi negeri panda tersebut. Jiang menjinakkan wakil Bulgaria, Petya Nedelcheva 23-21, 21-17 sedangkan Yihan memupuskan harapan wakil tuan rumah, Xing Aiying, 21-16, 8-21, 21-7.
Satu-satunya perseteruan yan tidak melibatkan para pemain China adalah pool teratas antara Zhou Mi (1) dan Judith Meulendijks. Zhou mengalahkan tunggal nomor 2 Jerman, Juliane Schenk 21-14, 21-17 sedangkan Judith diluar dugaan tanpa banyak kesulitan menutup keberuntungan ‘si dara ajaib’, Fu Mingtian 21-18, 21-13. Kedua pemain memiliki tipe permainan yang hampir sama dengan lebih mengandalkan bola-bola akurat di depan net dan minim dalam melakukan kesalahan sendiri. Kelebihan Judith yang akhirnya mampu memetik kemenangan atas Fu karena lebih piawai dengan mengkolaborasi alternative pukulan dengan smash-smash yang sulit terjangkau.
Setelah di babak pertama sector tunggal putri mengalami banyak kejutan, kali ini giliran para pebulutangkis unggulan tunggal putra yang mengalami nasib naas saat ditantang para pemain ‘kuda hitam’ yang tidak diunggulkan. Simon Santoso (6) akhirnya menjadi korban pertama dari permainan apik tunggal negeri gajah, Boonsak Ponsana. Bermain ragu-ragu dengan banyak melakukan kesalahan sendiri sejak paruh akhir set pertama dan sepanjang set kedua, Simon harus terjembab dengan kekalahan telak 11-21, 7-21 hanya dalam tempo kurang dari 30 menit.
Beruntung tunggal Indonesia lainnya, Sony Dwi Kuncoro (3) mampu mempertahankan ritme permainan terbaiknya dengan menjegal pemain terbaik Taiwan, Hsieh Yu Hsing, 21-15, 21-15. Duel klasik antara Sony dan musuh bebuyutannya, Park Sung Hwan akan kembali terulang di babak perempatfinal setelah Park juga sama-sama mencatat kemenangan atas tunggal Jepang, Kenichi Tago 21-16, 21-12. Perempatfinal lainnya akan mempertemukan wakil China, Chen Jin (4) dan tunggal ketiga Denmark, Jan O Jorgensen. Chen Jin menyudahi perlawanan tunggal Inggris Rajiv Ouseph 21-19, 21-16 sedangkan Jorgensen harus menyeka keringat lebih banyak untuk menundukkan Eric Pang 18-21, 21-18, 21-15.
Kejutan terbesar di hari ketiga ini yang juga menjadi ‘match of the day’ sepanjang perhelatan turnamen ini adalah perseteruan antara unggulan teratas, Lee Choong Wei menghadapi kuda hitam Vietnam, Nguyen Tien Minh.Pertarungan melelehkan antara keduanya memakan waktu lebih dari 1 jam dalam rubber set yang sangat mendebarkan. Lee Choong Wei awalnya dapat menguasai jalannya pertandingan di set pertama. Unggul jauh 9-3, permainan alot Nguyen akhirnya mampu menyamakan kedudukan di angka 14. Bahkan Nguyen sempat berbalik memimpin 18-14 dan 20-18. Berkat pengalamannya, Choong Wei mampu memaksa ‘deuce’ di angka 20 dan 21 serta menyamakan kedudukan di angka 22 setelah tertinggal 21-22. Meskipun serangan smash-smash tajam lebih banyak dikalukan oleh Choong Wei, permainan Nguyen di depan net yang sempurna akhirnya menutup set ini 24-22.
Pertarungan ketat dengan selisih 1-2 poin dan saling bergantian untuk mendahului kembali tersaji di set kedua. Kedua pemain kali ini bermain lebih agresif dan saling melancarkan serangan. Nguyen kembali unggul 19-17 dan 20-18 di titik kritis namun gagal menyelesaikan set ini dengan baik sebelum akhirnya Lee berinisiatif menutup set ini lebih dulu 22-20. Setelah jeda interval set ketiga, tunggal peringkat satu dunia asal Malaysia tersebut sempat berada di atas angin dan unggul jauh 14-9 dan 16-12. Namun kepiawannya dalam memberikan bola-bola tak terduga di depan net membuat Nguyen kembali menyamakan kedudukan di angka 18 dan berbalik memimpin 20-18. Lee sempat menambah 1 angka kembali namun tak mau mengulang kesalahan seperti di set kedua, Nguyen akhirnya menutup set ini dan memastikan tiket ke-8 besar, 21-19.
Kejutan kedua juga berhasil di ukir oleh bintang India, Anup Sridhar yang sempat berpijar di tahun 2007. Seperti tertular semangat baru dari pertandingan Nguyen dan Choong Wei, Anup yang sempat absen dan meredup di era tahun 2008 berhasil membungkam unggulan ke-2 asal Denmark, Peter Gade 21-19, 16-21, 21-13. Sejak awal set pertama, kedua pemain sangat jarang melakukan serangan smash-smash keras dan hanya mengandalkan permainan di depan net dan penempatan bola-bola sulit. Anup yang menguasai jalannya pertandingan set pertama sempat demam panggung kala Gade berhasil menyamakan kedudukan 15-15 setelah tertinggal jauh 6-12. Namun Anup berhasil mendapatkan momentum keduanya dan berbalik memimpin 20-17 sebelum akhirnya menutup set ini.
Perubahan strategi yang dilancarkan Gade sempat membuat Anup kagok dan berkali-kali gagal dalam mengantisipasi bola. Kolaborasi serangan dan penempatan bola Gade akhirnya membuatnya unggul di set kedua. Memasuki set ke-3, kedua pemain sama-sama tampil ngotot dan saling berebut poin. Gade yang mampu memimpin sejak awal set tiba-tiba mengendorkan serangannya setelah jeda interval 10-11. Gade sempat tertinggal 11-13 sebelum akhirnya kembali menyamakan kedudukan di angka 13. Namun entah apa yang terjadi pada kondisi fisik tunggal terbaik Eropa ini, sehingga Anup dengan mudah mengeruk 8 poin beruntun dan menyelesaikan set ketiga lebih dulu 21-13.
Permainan yang juga memeras cukup banyak energi namun sangat jarang terjadi akhirnya membuka perseteruan di nomor ganda putra. Wakil Indonesia, Rian/Yonathan yang menantang unggulan ke-4, Lars/Jonas berjibaku mati-matian di set pertama hingga kedudukan 30-28. Namun sayangnya ketatnya persaingan kedua pasangan ini tidak lagi terlihat di dua set berikutnya. Mengontrol penuh dengan serangan-serangan mereka, Lars/Jonas akhirnya menang mudah di set kedua 21-12. Di set penentuan, RiYo kembali berhasil menyajikan permainan atraktif dan memukau dengan smash dan ‘placing’ yang tak terduga. Kedunya unggul jauh 16-12 namun kelengahan dan beberapa ‘unforced error’ membuat duo Denmark mampu mengoleksi 7 poin beruntun dan berbalik memimpin 19-16. Di titik inilah antiklimaks dari pasangan Indonesia yang akhirnya dipaksa bertekuk 17-21.
Satu-satunya yang menjadi penyelamat Indonesia di nomor ini adalah tandem peringkat satu dunia, Markis/Hendra. Meskipun kondisi cedera Kido sempat membuat kondisi permainan keduanya tidak stabil namun berkat kegigihan semangat dan motivasi, KiNdra mampu meungguli duet Jerman, Kristof Hopp/Johannes Johannes Schoettler. Sempat teringgal 21-19 di set kedua setelah menang 21-16 di set pertama, KiNdra akhirnya unggul telak 21-9 sekaligus memastikan tiket mereka ke perempatfinal. Di babak perempatfinal, keduanya akan mendapat tantangan berat dari satu-satunya wakil tuan rumah yang masih bertahan di quarterfinal. Hendri Kurniawan/Hendra Wijaya. Duet kakak beradik asal Indonesia ini kembali menjungkalkan tandem veteran Malaysia, Chan Chong Ming/Chew Choon Eng 21-19, 21-16 setelah di laga perdana juga berhasil mengandaskan veteran Malaysia lainnya, Choong Tan Fook/Lee Wan Wah (8).
Malaysia akhirnya hanya menyisakan Gan Teik Chai/Tan Bin Shen yang memetik kemenangan atas ganda terkuat Taiwan, Fang Chieh Min/Lee Sheng Mu 21-16, 21-15 setelah peringkat tiga dunia, Koo Kien Keat/Tan Boon Heong (3) di luar dugaan gagal menjinakkan tandem fenomenal Inggris, Nathan Robertson/Anthony Clark. Unggul 21-13 di set pertama, Koo/Tan justru akhirnya terjembab di paruh akhir set kedua dan ketiga. Meskipun dari sisi kualitas serangan tandem terbaik Malaysia tersebut lebih diunggulkan namun dari segi variasi pukulan dan penempatan bola di depan net, Nathan/Anthony tampak lebih menguasai dan jalannya pertandingan di dua set terakhir dan mencetak kemenangan 21-19, 21-14.
Kubu merah putih juga masih menggantungkan harapan terakhir di nomor ganda putri lewat sandingan Greysia Polii/Nitya Kreshinda. Meskipun di laga perempatfinal, keduanya akan mendapat tantang terberat dari unggulan teratas, Wong Pei Tty/Chin Eei Hui namun di pertandingan 16 besar, GraNi mampu tampil lepas dan tanpa beban saat menantang jagoan tuan rumah, Yao Lei/Shinta Mulia Sari. Kematangan dari permianan dan kesolidan tandem no. 2 Indonesia ini membuat mereka mampu menguasai jalannya pertandingan dan meraih kejayaaan 21-12, 21-17.
Kejutan terbesar di nomor ganda putri justru dating dari peraih perak Olimpiade Beijing 2008, Lee Kyung Won/Lee Hyo Jung (4). Menghadapi tantangan dari ganda ‘paling bawah’ China, Pan Pan Tian Qing, keduanya harus menyerah 18-21, 14-21. Kubu China juga masih menguasai nomor ini dengan meloloskan 2 pasangan lainnya, Cheng Shu/Zhao Yunlei (2) dan Zhang Yawen/Zhao Tingting (5) ke babak 8 besar (FEY).
www.bulutangkismania.wordpress.com