Setelah hanya memetik gelar di turnamen pembuka tahun, Malaysia SS pada Januari silam, harus diakui bahwa nama-nama pebulutangkis marah putih pun mulai tenggelam seiring dengan meroketnya prestasi negara-negara pesaingnya seperti China, Korea, Malaysia, dan Denmark. Meskipun 1-2 wakil mampu melaju hingga ke babak final dan tak jarang mambuat kejutan, inkonsistensi masih menjadi masalah paling krusial untuk meraih mahkota di laga pamungkas.
Setahun yang lalu tanpa kehadiran beberapa wakil terbaik Asia seperti Lin Dan, Xie Xingfang, ataupun Jung Jae Sung/Lee Yong Dae dan duo Lee, kubu tuan rumah berpesta dengan raihan 2 gelar dan juara dan 1 runner up. Tahun ini hasil bertolak belakang justru harus dituai oleh para duta tuan rumah yang gagal meloloskan wakilnya ke babak final.
Sejak pertama kali turnamen ini digelar pada tahun 1982, rapor terburuk yang pernah diukir oleh para duta bangsa adalah tanpa gelar di semua nomor dan hanya meloloskan 1 wakil di partai puncak pada tahun 2007. Pil pahit kedua harus dialami oleh tuan rumah ketika satu-satunya harapan di nomor ganda, Markis/Hendra kembali bertekuk kepada Korea, Jung Jae Sung/Lee Yong Dae.
Di laga sebelumnya, juara 6 kali Indonesia Open SS, Taufik Hidayat akhirnya menjadi satu-satunya wakil Indonesia yang akan berjibaku di partai puncak setelh menyingkirkan juara bertahan, Sony Dwi Kuncoro yang merupakan wakil terakhir Pelatnas di turnamen ini. Akankah Taufik mampu menyelamatkan muka Indonesia sekaligus mengulang prestasinya di tahun 2003 ketika menjadi satu-satunya wakil yang berjaya serta memecahkan rekor 7 kali juara di turnamen ini atau justru tragedi serupa di tahun 2007 yang akan menghiasi wajah Istora? Jawabannya hanya akan terurai pada partai final nanti.
Ganda Campuran, Eropa Gigit Jari
Dua wakil Eropa yang tersisa di laga semifinal turnamen Indonesia Open SS 2009 akhirnya harus terdegradasi dari babak final setelah masing-masing gagal memetik kemenangan atas para pesaingnya. Duet Joachim Fischer/Christina Pedersen akhirnya harus mengakui ketangguhan ungulan ke-2, Lee Yong Dae/Lee Hyo Jung dalam laga dua set langsung 21-13, 21-13. Beberapa ‘unforced error’ yang dilakukan oleh Joachim mempermudah langkah ganda Korea untuk memetik kemenangan. Dukungan dari publik Istora pun tetap setia memberi semangat pada wakil Korea yang akhirnya memenangkan pertandingan ini.
Pada partai semifinal lainnya, harapan Denmark juga tak berbuah manis ketika Thomas Laybourn/Kamilla Rytter Juhl (4) gagal meredam solidnya permainan Zheng Bo/Ma Jin (5) setelah melewati tiga game yang melelahkan. Di set pertama, kedua pasangan langsung terlibat kejar mengejar poin dengan selisih 1-3 angka. Zheng/Ma mampu menguasai jalannya paruh awal set pertama dan memimpin perolehan poin hingga kedudukan 10-6 dan 13-11. Penempatan bola yang akurat dari Thomas/Kamilla serta banyaknya kesalahan sendiri yang dilakukan oleh Ma Jin membuat Denmark mampu menyetarakan kedudukan dan berbalik memimpin 15-13.
Thomas Laybourn yang beberapa kali mengembalikan bola tidak sempurna menjadi kunci perolehan poin pasangan China meskipun beberapa kali duo tirai bambu masih sempat melakukan kesalahan sendiri. Setelah bersitegang hingga kedudukan 18-18, dua kesalahan beruntun dari Ma Jin dari pengembalian yang terlalu melebar akhirnya menutup set ini 21-18 untuk keunggulan Denmark.
Duet Denmark yang cukup solid kembali menguasai jalnnya pertandingan di paruh awal set kedua. Thomas/Kamilla dengan memanfaatkan ‘placing’ Ma Jin yang tidak akurat dan serangan-serangan Zheng Bo yang banyak menyangkut di net. Penematan bola-bola sulit Thomas serta smash-smash Juhl yang cukup tajam sempat membuat pasangan China kedodoran. Pengalaman Zheng Bo sebagai salah satu pemain ganda senior China akhirnya mampu membuat Zheng/Ma memutarbalikkan keadaan dan berbalik menyerang dengan mengubah kedudukan 12-9. Adu drive antara kedua pasangan ini akhirnya lebih banyak dimenangkan oleh duet China karena ‘balcoking’ yang sempurna dari Ma Jin di depan net. Bola potong dari Ma Jin di depan net serta smash keras Zheng Bo yang cukup tajam terus membuat pasangan China meluncur 15-12, 17-15 dan 19-16 sebelum akhirnya memaksakan rubber set 21-17.
Melorotnya mental dan fokus permaianan duo Denmark di set ketiga terlihat jelas khususnya Thomas Laynourn yang seringkali melakukan ‘unforced error’. Thomas yang seharusnya mampu menekan dengan smash-smash dan penempatan bolanya beberapa kali justru gagal mengantisipasi bola. Kondisi ini membuat pasangan Denmark tertinggal jauh 2-7 dan 3-11 saat jeda interval. Dominasi yang tak terbendung dari Zheng/Ma akhirnya membuat keduanya terus melaju 16-8 dan 19-9 serta menyudahi set ini dengan kemenangan 21-11.
Tunggal Putra, Selangkah Menuju Rekor Juara
Riuh rendah penonton semakin membahana ketika dua wakil Indonesia Taufik Hidayat (5) dan Sony Dwi Kuncoro memasuki arena pertandingan untuk memperebutkan tiket ke laga pamungkas. Dukungan bagi pebulutangkis flamboyan, Taufik Hidayat rupanya tak hanya datang dari mayoritas publik Istora yang sudah lama menantikan ‘peak performance’ dari pahlawan Indonesia di ajang Olimpiade Athena 2004 ini namun juga kalangan selebritis seperi Agnes Monica dan VJ Daniel berikut aksosoris ‘merah putih’ yang mereka kenakan bersama teman-temannya. Duduk bergerombol dengan penampilan unik di area VIP membuat Agnes langsung diburu oleh publik Istora untuk sekedar bertanda tangan atau mengambil foto bersama.
Duel gengsi antara pemain pelatnas dan professional ini ternyata berjalan tidak semenarik yang dibayangkan. Memburuknya performa Sony sejak partai-partai awal membuat Taufik dengan relative mudah mampu mengatasi tekanan yang diberikan oleh tunggal terbaik Indonesia tersebut. Penonton yang di babak sebelumnya mendukung penuh Sony kali ini justru lebih banyak diarahkan untuk Taufik. Smash silang dari Taufik masih menjaadi senjata andalannya untuk meraih poin demi poin selain karena faktor ‘unforced error’ yang dilakukan oleh Sony.
Setelah sempat tertinggal 4-7 dan 7-9, Taufik akhirnya mampu membalikkan keadaan dan berbalik unggul 14-10, 18-14 ketika smash-smash dan penempatan bola di area belakang lapangan gagal dikembalikan oleh Sony. Penempatan cemerlang Sony di depan net serta dua pengembalian Taufik yang melebar memperkecil selisih angka menjadi 17-18, namun serobotan Taufik dari bola tanggung Sony di depan net serta dua smash Taufik kea rah badan Sony menutup set ini untuk si ‘bad boy’ 21-17.
Meskipun Sony lebih unggul dari sisi intensitas serangan, banyaknya kesalahan tunggal terbaik Pelatnas ini terutama saat mengembalikan bola di depan net menjadi momentum bagi Taufik untuk mengoleksi poin demi poin di set kedua. Memanfaatkan keunggulan 9-5, Taufik akhirnya tak terbendung dan terus melaju hingga 17-10 dan 20-12 sebelum mengakhiri set ini 21-14.
Dengan hasil ini Taufik berhak untuk menantang unggulan teratas, Lee Choong Wei yang mencatat kemanangan atas jagoan China, Chen Jin (6) setelah melewati pertarungan ketat di set kedua, 21-15, 22-20 dalam laga 46 menit. Saat ditemui dalam konferensi pers usai kemenangannya, Choong Wei mengaku sering bertemu Taufik di tempatnya sendiri (Malaysia, red) tapi kali ini di Indonesia merupakan tempat yang paling tepat untuk menguji mentalnya.”Peluang saya masih 50:50, besok saya akan fokus ke pertandingan”, ungkap Lee.
Saat ditanya mengenai perkembangan permainan Taufik pada turnamen kali ini Lee mengaku saat ini Taufik sedang berada pada performa terbaiknya. Saat bertemu terakhir di turnamen All England SS dan Swiss SS bulan Maret silam, Choong Wei mengaku ada perbedaan yang signifikan dari seorang Taufik Hidayat. “Serangan Taufik saat ini lebih hebat. Kelemahan Taufik saat ini adalah dalam hal kecepatan. Namun di turnamen ini Taufik bermain bagus, mungkin karena persiapan yang lebih matang setelah Swiss”, lanjut Lee.
Perihal kekalahan Lin Dan atas Chen Jin di laga sebelumnya Choong Wei tidak menganggapnya sebagai suatu keberuntungan. “Mungkin ini salah satu strategi China juga dalam hal poin dan ranking, saya tidak tahu juga” papar Lee.
Ganda Putra, Pil Pahit Kedua
Setelah harus menelan pil pahit dengan kekalahan favorit juara. Nova/Liliy di laga semifinal, Indonesia kembali harus mengalami kekecewaan ketika favorit juara lainnya, Markis/Hendra juga ikut mengalami nasib serupa saat ditantang oleh wakil Korea, Jung Jae Sung/Lee Yong Dae (6). Pada awal set pertama, KiNdra mampu unggul 5-1 dan 8-4 karena tekanan beruntun yang dilancarkan oleh pasangan Indonesia. Beberapa kesalahan beruntun dari KiNdra yang gagal menyebrangkan bola di depan net membuat tandem peraih emas Olimpiade Beijing 2008 ini terkejar di titik 8 dan berbalik tertinggal 10-17 dan 11-19 karena smash Yong Dae dan penempatan cemerlang dari Jung Jae Sung.
KiNdra sempat nyaris menyamakan kedudukan setelah mendapatkan ‘keajaiban’ dari dukungan publik Istoran dengan mengubah skor menjadi 16-19 dan 19-20 dari kesalahan beruntun pengembalian Jung/Lee dan tekanan yang dilancarkan melalui smash-smash keras Kido dan penempatan bola Hendra di depan net. Dewi fortuna sayangnya belum berpihak kepada kubu Indonesia ketika satu pengembalian Hendra gagal melewati net dan membuahkan poin terakhir bagi pasangan negeri ginseng, 21-19.
Di set kedua KiNdra rupanya masih belum mampu keluar dari tekanan dengan tertinggal 4-8 dan 8-13. Smash-smash beruntun dengan memanfaatkan kondisi tertekannya KiNdra serta kesalahan yang semakin sering dilakukan oleh Hendra ketika mengembalikan bola di depan net dan Kido saat menghujamkan smash-smash kerasnya semakin memudahkan Jung/Lee untuk mengoleksi kemenangan hingga kedudukan 18-13. KiNdra sempat memperkecil selisih poin menjadi 17-19 ketika adu drive yang ditutup oleh Kido tidak mampu dikembalikan oleh Jung/Lee.
Akurasi penempatan bola yang sempurna dari Hendra serta pengembalian melebar Yong Dae sempat membangkitkan kembali semangat publik Istora. Teriakan IN-DO-NE-SIA kembali membahana namun untuk kedua kalinya keberuntungan rupanya masih enggan menaungi merah putih ketika smash Hendra yang dianggap keluar oleh hakim garis dan pengembalian Kido yang membentur dinding net memastikan tiket final untuk Jung/Lee, 21-17.
Dengan hasil ini, Lee Yong Dae mempunyai kesempatan emas untuk menyandingkan dua gelar di nomor campuran dan ganda putra bersama pasangan yang berbeda. “Saya akan fokus di campuran dulu, setelah itu baru mempersiapkan partai gandanya” jelas Yong Dae saat diwawancarai usai pertandingan didampingi oleh penerjemahnya. Menanggapi hasil pertandingan tadi, Jung menilai bahwa sebenarnya pasangan Indonesia tidak memiliki kelemahan kecuali dari ‘mind set’ mereka sendiri dan persiapan yang mungkin kurang. Jung sendiri saat ini masih menjalani wajib militer dan cukup bangga bisa kembali ke bulutangkis meskipun pada pekan sebelumnya mereka tampil buruk di Singapura dan kalah di babak awal.
“Kita sudah perenah beberapa kali bertemu dengan mereka sebelumnya dan paling tidak mengetahui pola permainan mereka jadi kami mencoba untuk bermain lepas dan percaya diri saja untuk yang terbaik meskipun ditengah pendukung pasangan Indonesia”, ungkap Jae Sung. Menurut Lee, apresiasi berlebihan dari para penonton masih dianggapnya wajar dan akan disikapi positif sebagai acuan untuk bisa menjadi lebih baik. Hasil ini memnepatkan Jung/Lee dan wakil China, Fu Haifeng/Cai Yun di laga pamungkas untuk memperebutkan mahkota juara. Fu/Cai yang mendapat dukungan penuh dari penonton, berhasil unggul 21-11, 21-15 setelah di set pertama menyerah 18-21.
Tunggal Putri, Unjuk Gigi Para Pemain Muda
Partai final akan menjadi ajang unjuk kebolehan para pemain muda Wang Lin (3) dan Saina Nehwal (6) yang berhasil menyingkirkan dua pemain yang lebih pengalaman. Wang Lin mampu mengeksekusi seniornya Xie Xingfang (8) yang tampil dibawah performa terbaiknya. Kesalahan sendiri yang seringkali dilakukan oleh Xie memupuskan peraih juara Indonesia Open tahun 2003 dan 2004 itu 19-21, 13-21.
Pada partai semifinal lainnya, Saina Nehwal (6) berhasil menggagalkan final sesama pemain China setelah tampil memukau menghadapi unggulan ke-7, Lu Lan melalui pertarungan ketat dua set langsung. Di awal set pertama, Lu Lan yang banyak melakukan kesalahan sendiri selalu tertinggal dari Saina meskipun selalu mampu akhirnya menyamakan kedudukan. Sempat tertinggal 3-7, Lu Lan akhirnya mampu menyamakan kedudukan 11-11 setelah jeda interval set pertama. Di titik ini, kedua pemain saling menysusul perolehan angka dengan selisih poin 1-2 hingga kedudukan akhir 23-23. Dua pengembalian Saina yang di smash keluar oleh Lu Lan menutup set ini 25-23 untuk keunggulan tunggal India tersebut.
Lu Lan sebenarnya sudah menguasai jalannya pertandingan set kedua dengan memimpin 6-0, 8-3 dan 13-9. Di titik inilah Saina kembali mendapatkan ‘second winning’nya dan membalikkan keadaan menjadi 15-13. Tertinggal 15-18 dan 17-19, Lu Lan kembali menyamakan angka di titik 19 namun untuk kesekian kalinya ‘unforced error’ dari tunggal peringkat 9 dunia ini yang mengembalikan bola terlalu melebar menyudahi set ini untuk kemenangan Saina 21-19. Final super series pertamanya ini disambut haru oleh Saina yang memenangi Kejuaraan Dunia Junior atas Sayaka Sato pada tahun 2008 yang lalu. Pelatih Indonesia yang saat ini membawa nama India, Atik Dajauhari mengaku puas atas prestasi anak didiknya tersebut. “Saya baru 6 bulan di India dan perekmbangan Saina memang luar biasa” tutunya saat mengomentari kemenangan Saina.
Ganda Putri, Partai Klimaks Dua Unggulan Teratas
Dua unggulan teratas, Wong Pei TTy/Chin Eei Hui (1) dan Cheng Shu/Zhao Yunlei (2) sama-msa berhasil mendapatkan tiket ke partai final dan akan saling berhadapan untuk memperebutkan podium juara. Meskipun mendapat tantangan mental dari warga Istora saat menghadapi unggulan ke-3, Chien Yu Chin/Cheng When Hsing, utusan Malaysia tersebut mampu tampil taktis dan unggul dua set langsung 21-17, 21-17. Sementara itu, Cheng/Zhao yang menjamu wakil Korea, Ha Jung Eun/Kim Min Jung (4) di laga pamungkas babak semifinal tanpa banyak kesulitan meraih kemenangan 21-13, 21-13 hanya dalam waktu 33 menit (FEY).
www.bulutangkismania.wordpress.com