Pebulutangkis tunggal putra Indonesia berhasil mengamankan satu tempat di partai puncak setelah Simon Santoso dan Taufik Hidayat berhasil melenggang bersama ke semifinal. Langkah keduanya sayangnya gagal diikuti oleh srikandi terakhir, Lindaweni Fanetri yang harus mengakui ketangguhan Wang Yihan (3). Namun meskipun kalah, Linda mampu menunjukkan kemampuan terbaiknya mengimbangi Yihan dengan tampil ulet di set kedua.
Simon Santoso membuka harapan Indonesia di empat besar setelah berhasil mengatasi kompatriotnya, Alamsyah Yunus, 21-19, 21-9. Sedangkan Taufik yang menempati unggulan kedua ditantang oleh tunggal terbaik Jepang, Kenichi Tago. Bermain lebih taktis, Taufik berhasil mendominasi set pertama meskipun di paruh awal set Tago mampu mengimbangi permainan agresif Taufik. Namun saat memasuki poin-poin kritis, Taufik yang unggul lebih dulu 15-13 mampu tampil lebih menekan dan memetik 5 poin beruntun sebelum akhirnya menamatkan set ini 21-15.
Ritme permainan Tago justru menurun saat memasuki set kedua. Serangan-serangan Taufik yang lebih intens beberapa kali gagal dikembalikan dengan baik oleh runner up turnamen All England SS 2010 ini. Memimpin dengan 8-1 dan 10-4, Taufik berhasil mendikte permainan Tago hingga paruh akhir set kedua, 16-11 dan 18-13 untuk kemudian menyudahi perlawanan Tago 21-15.
Semifinalis lainnya akan mempertemukan antara sang juara bertahan sekaligus favorit juara tuan rumah, Lee Choong Wei (1) menghadapi andalan China, Chen Long (3). Choong Wei memetik kemenangan atas tunggal Vietnam, Nguyen Tien Minh (8), 21-15, 21-16 sedangkan Chen Long menang WO atas kompatriotnya Lin Dan (5) setelah teman setimnya tersebut mengalami cedera otot perut saat sesi pemanasan latihan.
Di bagian putri, Lindaweni Fanetri masih belum mampu mempertahankan asa merah putih sebagai srikandi terakhir di turnamen ini. Saat ditantang oleh peraih mahkota All England Super Series 2009 ini, Linda sempat kehilangan ritme permainannya di set pertama. Yihan yang mampu menguasai jalannya pertandingan, mampu bermain lebih agresif dan membuat permainan Linda serba salah hingga kalah telak 21-9 di set pertama.
Namun pengalaman Linda yang semakin matang setelah dipercayai sebagai salah satu pemain utama tunggal putri Indonesia di beberapa event membuatnya mampu bangkit di set kedua. Tertinggal jauh 4-10 dan 7-15 di set kedua, tidak lantas membuatnya patah semangat dan terus mencari celah kelemahan dari permainan Yihan. Meskipun unggul dari sisi serangan Yihan seringkali gagal bermain rapi terlebih ketika bola-bola sulitnya mampu dikembalikan dengan baik oleh lawan. Perlahan namun pasti, Linda berhasil memperkecil selisih poin menjadi 16-18 dan 17-19 dengan permainan uletnya. Bahkan saat tertinggal 17-20, Linda mampu tampil tenang dan nyaris memaksakan ‘deuce’ 19-20. Namun sayangnya keberuntungan belum berpihak kepada Linda, saat Yihan berhasil menutup set ini lebih dulu 21-19.
Kemenangan ini mengantarkan Yihan untuk bertemu kompatriotnya sekaligus sang juara bertahan Wang Xin (1) di semfinal. Wang Xin melaju ke empat besar setelah membungkam wakil terakhir Eropa, Juliane Schenk (5), 21-17, 22-20. Usai bertanding, pemain Jerman berusia 28 tahun tersebut berujar, “Pemain China memiliki kelebihan dalam hal partner bertanding karena sebagian besar pemain mereka berada pada peringkat top dunia. Saya berharap saya pun bias mendapatkan hal yang sama di Jerman”.
“Tapi sebagai orang Eropa, kami mampu belajar lebih cepat. Kita tidak memiliki banyak pemain wanita yang berkualitas di Eropa dan sebagai gantinya saya mengajak pemain pria sebagai sparring partner saya. Mungkin hal tersebut merupakan salah satu solusi yang terbaik untuk saat ini”, urai Schenk panjang lebar. Saat ditanya tentang target terdekatnya, Schenk menjawab dengan optimis “Kejuaraan Dunia di Inggris adalah target saya yang selanjutnya. Saya berharap akan mampu menyajikan yang terbaik disana dan membuat sejarah atas nama saya”.
Semifinal lainnya akan mempertemukan Wang Shixian (2) dan Jiang Yanjiao dan sekaligus memastikan satu gelar (tunggal putri, red) untuk negeri tirai bambu tersebut. Saat diatanya peluangnya menghadapi sesama pemain China, Wag Xin mengakui bahwa dirinya tidak memiliki catatan pertandingan yang baik atas Yihan, Jiang ataupun Shixian yang akan dihadapinya namun Xin mengaku akan bertanding semaksimal mungkin untuk membuktikan dirinya sebagai yang terbaik. “Saya tahu saya harus menghadapi mereka untuk bias memenangkan turnamen ini. Meskipun rekor saya tidak begitu baik namun saya harap kemenangan yang saya raih atas para pemain non-China di turnamen ini bias membantu saya mencapai tujuan saya” (FEY).

