Bulutangkismania's Weblog

Agustus 9, 2013

BWF World Championships 2013 : Lima Ganda Ke Delapan Besar

Filed under: Turnamen — bulutangkismania @ 11:38 am

2013_World_Championship_posterIndonesia berhasil meloloskan lima wakil sektor ganda ke babak perempat final turnamen BWF World Championships 2013. Duet Tontowi/Liliyana (3) dan Rijal/Debby (6) berhasil mengantongi kemenangan atas lawan-lawannya di sektor campuran. Sementara itu Ahsan/Hendra dan Angga/Ryan mempertahankan eksistensinya di nomor putra sedangkan Pia/Rizki menjadi wakil terakhir di bagian putri.

 

Tiket perempat final pertama sektor campuran berhasil digenggam oleh duet Muhammad Rijal/Debby Susanto (6). Menghadapi pasangan senior Taiwan, Chen Hung Ling/Cheng Wen Hsing, RiDeb yang tampil agresif dan menekan sejak gim pertama tak memberikan banyak kesempatan bagi Chen/Cheng untuk mengembangkan permainan. Kurang dari 30 menit, duo Taiwan yang di babak sebelumnya menghempas unggulan asal Inggirs, Chris Adcock/Gabrielle White (16), memetik kemenangan 21-13, 21-13.

 

Andalan Indonesia lainnya, Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir (ToLyn) yang menempati unggulan ke-3 di turnamen ini harus berjibaku tiga gim atas pasangan Hong Kong, Lee Chun Hei/Chau Hoi Wah setelah takluk di gim pertama. Meskipun mampu menyamakan kedudukan setelah tertinggal jauh 12-19, ToLyn yang kurang sabar justru memberikan kesempatan bagi Lee/Chau untuk mengembangkan permainan dan menutup set pertama, 23-21.

 

Belajar dari kesalahan di set pertama, ToLyn mengambil inisiatif untuk menekan dan menyerang lebih dulu pada dua gim berikutnya. Permainan cepat di depan net yang coba diperagakan Liliyana beberapa kali mampu diimbangi oleh Chau. Namun dengan pengalamannya, ToLyn yang lebih banyak menurunkan bola agresif menyerang akhirnya merengkuh kemenangan 21-15, 21-14.

 

“Di hari yang fitri ini, alhamdulillah sudah dikasih menang. Pada game pertama kami kaget dengan permainan mereka yang cepat dan kuat. Ini adalah pertemuan pertama kami, jadi kami belum pernah merasakan permainan mereka seperti apa,” ungkap Tontowi seperti yang ditulis situs PBSI.

 

Kemenangan ToLyn atas duo Hong Kong ini sekaligus membalas kekalahan yang dialami oleh wakil Indonesia lainnya, Fran Kurniawan/Shendy Puspa Irawati (FraNdy, 9). Turnamen ini yang menjadi ajang duet terakhir FraNdy ternyata tidak mampu dimanfaatkan oleh keduanya dengan baik. Keduanya menyerah dua gim langsung, 18-21, 17-21. Kekalahan ini memperpanjang kekalahan mereka duet Hong Kong tersebut setelah pada laga sebelumnya FraNdy juga menelan kekalahan 16-21, 10-21.

 

“Penampilan Fran/Shendy sangat mengecewakan, mereka bermain tidak fokus. Padahal sebelumnya pernah bertemu, seharusnya sudah tahu permainan lawannya seperti apa. Saya juga melihat Fran/Shendy fighting spirit nya kurang,” kata Rexy Mainaky.

 

“Lawan bermain lebih safe. Sebenarnya penampilan mereka sama seperti di pertemuan sebelumnya, tetapi kami saja yang mainnya tidak maksimal,” Shendy mencoba membeberkan kekalahannya.

 

“Mau bagaimana lagi? Inilah hasilnya, kedepannya kami harus berpikir lebih dewasa dan lebih matang lagi,” Fran tak mampu menyembunyikan kekecewaannya.

 

Langkah RiDeb dan ToLyn sayangnya tidak diikuti oleh wakil lainnya, Riky Widianto/Richi Dili Puspita (RiRi, 10). Duo R yang menantang unggulan ke-2 tuan rumah, Zhang Nan/Zhao Yunlei, kembali takluk dua gim 14-21, 17-21. Kalah dari sisi serangan, RiRi juga beberapa kali tak mampu mengantisipasi serangan yang dilancarkan Zhang/Zhao. Strategi yang diterapkan oleh pasangan China juga efektif menekan pertahanan wakil Indonesia.

 

“Kami kebanyakan mengangkat bola dan banyak mati sendiri. Awalnya ketat, kalau kami melakukan kesalahan sekali, mereka dapat memanfaatkannya. Service mereka tipis, ini sangat menyulitkan kami. Kedepannya harus lebih fokus lagi, jangan terlalu gampang buang poin,” tutur Richi.

 

Setelah pada babak 32 besar sebelumnya nomor campuran dikejutkan dengan tumbangnya duet Malaysia, Chan Peng Soon/Goh Liu Ying (5) atas pasangan Korea Selatan, Kim Ki Jung/Jung Kyung Eun, 18-21, 19-21 maka di babak ketiga giliran peraih perunggu Olimpiade London 2012, Joachim Fischer/Christinna Pedersen (4) yang di tenggelamkan ganda Korea Selatan, Shin Baek Choel/Eom Hye Won. Tidak seperti laga campuran pada umumnya, Shin/Eom justru mampu menyulitkan pasangan Denmark dengan tidak mengandalkan permainan cepat di depan net tetapi justru penempatan area baseline yang tak terduga. Pola ini ternyata ampuh menekan serangan Joachim/Christinna yang agresif dengan bola-bola cepat di depan net. Shin/Eom memastikan kemenangan mereka, 17-21, 23-21, 21-18.

 

Unggulan lainnya yang ikut terjungkal adalah Sudket Prapakamol/Saralee Thoungthongkam (7). Hanya dalam tempo 37 menit, Sudket/Saralee menyerah atas tandem Korea Selatan lainnya, Yoo Yeon Seong/Jang Ye Na (11), 14-21, 13-21.

 

Angga/Ryan Buat Kejutan

 

Dua wakil ganda putra Indonesia berhasil memastikan diri ke babak delapan besar turnamen BWF World Championships 2013. Duet Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan (6) membuka peluang Indonesia usai menundukkan kompatriotnya, Alvent Yulianto/Markis Kido (15). Sementara itu Angga Pratama/Ryan Agung (10) membuat kejutan dengan menghempas kampiun All England 2013, Liu Xialong/Qiu Zihan (7).

 

Tak membutuhkan waktu lama bagi Ahsan/Hendra (SanDra) untuk menumbangkan rekan senegara mereka, Alvent/Markis (AlMa) di babak ketiga turnamen BWF World Championships 2013. Usai memimpin 14-8 di gim pertama, SanDra tak tersentuh dan terus memimpin hingga 20-17. Meskipun AlMa sempat memperkecil selisih poin, SanDra yang lebih agresif menekan menamatkan gim pertama lebih dulu, 21-19.

 

Gim kedua kembali didominasi oleh SanDra dengan serangan-serangan mereka. Meskipun AlMa sempat keluar dari tekanan dan mampu mengimbangi kecepatan SanDra, keduanya yang senantiasa tertinggal akhirnya harus menutup harapan ke babak selanjutnya, 17-21. Pertandingan ini akan menjadi ajang perpisahan bagi duet Alvent/Markis. Alvent berencana untuk mengakhiri karir bulu tangkisnya sedangkan Markis akan menggandeng pasangan baru, Markus Gideon.

 

Hasil gemilang juga diraih oleh pasangan muda Indonesia lainnya, Angga Pratama/Ryan Agung (RyNgga). Duet yang sempat tenggelam di turnamen sebelumnya ini kembali menunjukkan bahwa mereka masih memiliki kesolidan dan kecepatan untuk bersaing di papan atas dunia. Menghadapi tandem teratas China peraih mahkota All England SS Premier 2013, Liu Xiaolong/Qiu Zihan (7), AngRy mampu bermain lepas dan tampil menekan sejak gim pertama. Keduanya tak memberikan banyak kesempatan bagi Liu/Qiu untuk mengembangkan permainan sehingga meraih kemenangan dua gim langsung, 21-19, 21-15.

 

“Kami bisa bermain lepas dan terus menekan mereka dari awal. Liu/Qiu tidak dapat menemukan irama permainannya,” komentar Angga perihal kemenangannya.

 

“Kali ini komunikasi kami berjalan lancar, kami juga harus bisa menikmati permainan,” Ryan menambahkan.

 

Sang pelatih, Herry Iman Pierngadi, juga mengakui bahwa AngRy mengalami kemajuan yang cukup baik. Keduanya mampu belajar dari kekalahan sebelumnya di India Open Superseries 2013. Kala itu mereka menyerah di semifinal 20-22, 19-21.

 

“Mereka belajar dari kekalahan lewat video-video pertandingan yang disediakan tim pak Basri (Basri Yusuf, Kabid Pengembangan PBSI). Angga/Rian juga bisa menerapkan pola main yang tepat. Ini adalah kemajuan untuk mereka. Mereka juga bermain lebih safe, karena persiapan ke turnamen ini cukup bagus. Selain itu, mungkin ada faktor lawan yang terbebani karena lebih diunggulkan dan bermain di depan publik sendiri,” ujar Herry.

 

Harapan Indonesia lainnya, Yonathan Suryatama/Hendra Aprida (YoNdra) sudah lebih dulu tumbang di babak pertama. Menghadapi wakil Denmark, Rasmus Bonde/Mads Conrad, YoNdra sebenarnya berpeluang untuk menamatkan gim kedua setelah unggul 20-18 dan sebelumnya 21-14 pada set pertama. Namun kesalahan beruntun yang dilakukan oleh keduanya memupuskan asa untuk melangkah lebih jauh dan menyerah 23-25, 18-21.

 

“Ini adalah kebiasaan jelek kami, kalau poin kritis kami sering panik. Selain itu, lawan kami bermain lebih stabil,” Yoke menyimpulkan penyebab kekalahan mereka.

 

“Kami terlalu terburu-buru mau mematikan bola, terutama saat poin-poin kritis, ini sering terjadi pada kami. Kedepannya, kami harus bisa lebih tenang. Selain itu, soal stamina juga menjadi salah satu hal yang harus ditingkatkan. Stamina sangat berpengaruh pada konsentrasi di lapangan, pukulan-pukulan juga jadi lebih akurat,” Hendra menambahkan.

 

Sementara itu duet bersinar Taiwan, Lee Sheng Mu/Tsai Chia Hsin (13) sukses membuat kejutan terbesar di turnamen ini dengan mengantongi kemenangan atas unggulan teratas Korea Selatan, KO Sung Hyun/Lee Yong Dae. Permainan cepat Lee/Tsai dan kejelian mereka melihat peluang di area tak terjangkau menjadi kunci kemenangan pasangan Taiwan di gim ketiga. Usai merebut set kedua 21-14 setelah sebelumnya tertinggal 14-21, Lee/Tsai langsung tancap gas dengan mendominasi serangan dan penempatan bola. Ko/Lee sempat bangkit di titik-titik kritis dengan 3 poin beruntun namun Lee/Tsai tak menyiakan posisi unggul yang telah mereka raih untuk memastikan kemenangan 21-19.

 

“Kami bekerja keras untuk turnamen ini dan ekspektasi kami terlalu tinggi. Kami tahu bahwa kami akan menghadapi pasangan kuat dan berusaha keras mengalahkan mereka tapi pada akhirnya kami tak mampu tampil sabar dan tidak berhasil menang. Ini benar-benar sebuah kekecewaan,” ujar Yong Dae usai pertandingan.

 

“Saat tetringgal di set ketiga kami mulai merasa bahwa pukulan kami harus benar-benar akurat dan saat itulah kami mulai merasa tertekan sehingga banyak melakukan kesalahan sendiri,” Sung Hyun menambahkan.

 

Sementara itu Lee/Tsai mengaku bermain lepas dan kesalahan sendiri yang kerap dilakukan oleh Ko/Lee menjadi kunci kemenangan mereka.

 

“Kami hanya terus berpikir lepas bahwa pertandingan ini sama seperti sebelumnya karena kami sudah sering kalah atas mereka. Kami tampil nothing to lose. Tentu saja kami sadar gap kami dan mereka cukup jauh, kami tidak pernah menyangka akan mengalahkan mereka, hanya berusaha untuk tampil dengan performa yang terbaik. Bertarung sampai titik penghabisan. Sepertinya mereka terbebani dan nervous saat bertanding,” Lee bercerita panjang lebar.

 

“Khususnya saat gim kedua saat kami berhasil memperjauh skor mereka justru membuat kesalahan-kesalahan yang tidak perlu. Bukan performa yang biasa bagi Ko/Lee,” lanjut Lee.

 

“Kami tidak mempersiapkan taktik khusus menghadapi mereka. Kami hanya mencoba menghindar untuk mengangkat bola untuk memperkecil serangan mereka dan banyak bermain drive. Strategi itu ternyata berhasil. Mereka membuat banyak kesalahan,” Tsai ikut menimpali.

 

“Saat meraih match point di gim ketiga kami memang sempat membuat kesalahan sendiri dan merasa tertekan tapi kami berusaha untuk tetap tenang dan menunggu mereka untuk melakukan kesalahan, akhirnya kami menang,” lanjut Tsai kemudian.

 

“Saat mengalahkan mereka di set kedua kami merasa Ko sedikit nervous dan dia sedikit berhati-hati saat memukul bola sehingga kami terus berusaha menekan Ko,” pungkasnya kemudian.

 

Pia/Rizki Wakil Pamungkas

 

Meskipun hanya mampu meloloskan dua wakilnya ke turnamen ini, sektor ganda putri Indonesia ternyata masih menyisakan harapan hingga babak delapan besar. Setelah kekalahan tak terduga yang ditelan Gebby Ristiyani/Tiara Rosalia (15) pada babak kedua, tumpuan satu-satunya akhirnya berada pada duet Pia Zebadiah/Rizki Amelia (9).

 

Setelah kejutan yang dialami oleh Gebby/Tiara (GeTir) pada babak kedua atas duo Jepang, Rie Eto/Yu Wakita praktis tumpuan berada di pundak Pia/Rizki (PiRiz). Saat menghadapi Rie/Yu, GeTir sebenarnya unggul 21-17 di gim pertama dan kembali memimpin set kedua hingga 8-4. Sayangnya  sejak berhasil menyamakan kedudukan 9-9, ganda putri Jepang ini justru mengambil alih irama permainan.

 

“Permainan tadi tidak jelas polanya seperti apa, padahal lawannya tidak terlalu berbahaya, mereka cuma smash dan angkat bola terus. Malah kami yang banyak mati-mati sendiri, kami sangat tidak puas dengan hasil ini,” kata Tiara.

 

“Menurut saya, permainan kami kalau dibilang jelek juga tidak, apapun hasilnya hari ini kami terima. Ini akan kami jadikan sebagai bahan pembelajaran. Mungkin lawannya lebih siap. Pada game ketiga, mereka lebih percaya diri,” Gebby menimpali.

 

Sementara itu Rie/Yu yang berperingkat 58 dunia mengaku puas bisa memetik kemenangan atas GeTir. Menurunnya kecepatan pasangan Indonesia di gim ketiga disinyalir menjaid penyebab kemenangan mereka pada turnamen ini.

 

“Pasangan Indonesia sangat kuat di game pertama, kami sempat kewalahan dan pertahanan kami kurang rapat.Pada game ketiga, kami merasakan kecepatan Gebby/Tiara berkurang, jadi kami terus menekan,” ujar Wakita.

 

Namun langkah mulus tidak dialami oleh dua wakil negeri sakura lainnya pada babak kedua turnamen ini. Unggulan ke-3, Misaki Matsutomo/Ayaka Takahashi menyerah atas pasangan Thailand, Narissapat Lam/Saralee Thongthongkam, 20-22, 17-21 sedangkan Miyuki Maeda/Satoko Suetsuna (6) di taklukkan duet Korea Selatan, Jung Kyung Eun/Kim Ha Na (11), 9-21, 18-21.

 

Pada pertempuran babak ketiga, Pia/Rizki (PiRiz) yang menjadi andalan ganda srikandi Indonesia sukses melenggang ke delapan besar dengan menghentikan perlawanan kuda hitam asal Thailand, Narissapat Lam/Saralee Thoungthongkam melalui laga tiga gim. Sempat kehilangan gim pertama 17-21 karena terlambat panas dan selalu tertinggal dalam perolehan poin, PiRiz berhasil menemukan ritme terbaik perminan mereka dan membuka kemenangan 21-16, 21-11

 

“Saralee lebih berpegalaman, harus tahu betul cara bermain yang sesuai seperti apa. Sementara Lam jauh lebih muda, tapi permainannya lumayan juga,” ujar Rizki.

 

“Kami harus lebih sabar dan harus pintar-pintar cari formasi yang tepat. Saya juga coba kuasai bola depan sehingga mengenakkan Rizki untuk menyerang,” Pia menambahkan (FI).

About these ads

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

Umpan RSS untuk komentar-komentar pada tulisan ini. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

The Rubric Theme. Blog pada WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 356 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: