Bulutangkismania's Weblog

Juni 22, 2008

Results Semifinal Indonesia SS ’08 : Tiga Partai Kebanggaan Merah Putih

Filed under: Turnamen — bulutangkismania @ 10:20 am

Tiga partai yang biasanya menjadi anak bawang dalam turnamen super series ternyata justru mampu berprestasi maksimal di kandang sendiri. Tunggal putra dan putri serta ganda putri membuat rekor baru dengan kembali membuat sejarah menekuk para pemain dari negeri tirai bambu. Dua nomor lainnya yang senantiasa menjadi favorit dan andalan Indonesia di turnamen internasional kali ini harus rela tidak menempatkan satu wakilpun ke babak final kecuali pasangan Indonesia-Amerika, Candra/Tony.

Tunggal Putri, Maria dan Sejarah Barunya

“Makan apa sih Maria?”, celoteh seorang penonton saat melihat pertandingan antara Maria Kristin dan tunggal Cina yang diunggulkan di tempat ke-2, Zhang Ning kemarin malam. Beberapa penonton lainnya hanya menggeleng tak percaya dan takjub melihat performa Maria yang meningkat tajam paska sukses mengantarkan tim Uber Indonesia ke babak final bulan Mei lalu. Meskipun harus absen di turnamen Singapore SS pekan lalu, Maria berhasil membuktikan ucapannya untuk bermaian maksimal di turnamen Indonesia SS. Luar biasa dan spektakuler, mungkin itulah kata-kata yang tepat untuk menggambarkan sosok Maria sepanjang turnamen ini khususnya pada pertandingan babak semifinal.

Bertanding di lapangan 2, Maria membutuhkan waktu 65 menit untuk bisa merontokkan kokohnya pertahanan sang tembok Cina, Zhang Ning, dalam pertarungan rubber set. Meski masih bermain dengan gaya khasnya yang lambat, pukulan dan penempatan bola Maria sudah merepotkan pemain senior Cina tersebut sejak set pertama. Drop shot Maria yang cukup tajam dan menukik dan netting yang tipis langsung membuatnya ‘leading’ 6-1 di awal set. Net eror dan pengembalian bola yang terlalu melebar akhirnya membuat Zhang mampu menyamakan kedudukan di angka 8 dan berbalik unggul 9-8.

Namun keunggulan Zhang tidak lama, Maria kembali mengejar dan memimpin 12-9, 16-10 lewat pukulan drop shot silang andalannya dan netting yang ‘super’ tipis. Berkali-kali Zhang Ning gagal menyebrangkan bola-bola sulit Maria di depan net. Tertinggal 12-19, Zhang sempat menambah dua poin dari kesalahan Maria di depan net dan drop shot tajam yang langsung menghujam bagian depan pertahanan Maria sebelum akhirnya Maria menutup set ini 21-14.

Pada set kedua, perolehan poin berlangsung lebih ketat. Sempat memimpin 4-0 dan 6-2 di awal set, Maria berhasil disusul oleh Zhang di angka 7 dan berbalik tertinggal 7-9 dari beberapa pengembalian Maria yang tidak sempurna. Adu drive dan saling menekan kembali terjadi antara kedua pemain. Unggul 15-11 dan 17-13 dengan beberapa drop shot tajam yang gagal dikembalikan oleh Maria, Zhang gagal mempertahankan kepemimpinannya dan kembali tersamakan di angka 17 karena pengembalian bola Zhang yang terlalu melebar.

Kejar mengejar angka dan permainan reli yang cukup melelahkan berlangsung hingga kedudukan 19-19. Kesalahan Zhang membuat Maria unggul 20-19 terlebih dahulu namun bola tanggung yang dikembalikan oleh Maria di selesaikan dengan sempurna oleh Zhang dan membuat skor kembali imbang 20-20. Kegagalan Maria menyebrangkan bola di depan net setelah terjadi adu drive dan drop shot menukik dari Zhang memaksa Maria harus bermain rubber set, 20-22.

Maria berhasil kembali membuktikan stabilitas permainannya di set ketiga. Unggul 3-0, Maria berhasil menjaga jarak 1-3 poin sebelum akhirnya disamakan oleh Zhang di angka 16 karena beberapa kesalahan yang dibuat oleh Maria. Kejar mengejar angka kembali terjadi di titik ini. Zhang sempat memimpin 20-18 terlebih dahulu dari smash keras dan net eror namun kegigihan dan semangat juang Maria kembali membuatnya mampu menyamakan kedudukan angka 20 dan memaksa ‘deuce’ setelah terlibat reli dan diselesaikan dengan smash keras dari Maria.

Sorak sorai publik Istora pun membahana saat drop shot Maria masuk dan pengembalian bola Zhang yang keluar setelah terlibat reli panjang membuat Maria unggul 22-20 sekaligus mengantarkannya ke partai puncak untuk menantang tunggal Cina lainnya yang difavoritkan menjadi juara. Bangga akan kemenangan Maria, ketua umum PBSI, Sutiyoso langsung turun dari ‘tahta’nya untuk merangkul dan memberikan ucapan selamat kepada dara kelahiran tahun 1985 tersebut. Jika ditinjau lebih lanjut, progres Maria di turnamen ini memang luar biasa. Setelah mengalahkan Pia dua set langsung di babak pertama, Maria mulai menunjukkan eksistensinya saat mengandaskan mantan pemain Cina yang sudah cukup lama membela Belanda, Yao Jie.

Di babak perempatfinal, kembali Maria melibas mantan pemain negeri tirai bambu yang baru beberapa tahun hengkang dari Cina, Zhou Mi. Dan tadi malam, kembali Maria diuji oleh pemain Cina yang sebenarnya dan masih membela Cina namun sudah cukup senior dibandingkan dengan pemain Cina lainnya. Hari ini, performa Maria benar-benar akan diuji oleh pemain Cina yang masih membela Cina dan satu angkatan dengannya, Zhu Lin. Tunggal ke-3 Cina tersebut berhasil menaklukkan mantan pemain Cina lainnya yang hijrah ke Perancis, Pi Hongyan, 17-21, 21-16, 21-16.

Tunggal Putra, Duel Sesama Indonesia di Babak Final

Selain Maria yang membuat gemuruh publik Istora, Sony Dwi Kuncoro juga tak mau kalah dan berhasil mengukir sejarah tadi malam. Setelah cukup lama tidak terjadi final antara sesama pemain Indonesia di kandang sendiri, dua tunggal merah putih akhirnya berhasil mengukir sejarah tersebut dengan mengalahkan lawan masing-masing dan akan beradu di babak final. Menghadapi unggulan ke-2, Bao Chunlai yang juga merupakan satu-satunya utusan Cina di nomor ini Sony sudah mampu menguasai pertandingan sejak awal set pertama. Unggul 5-2 dan 8-5, Sony sempat terganggu konsentrasinya dan banyak melakukan kesalahan sendiri. Bao yang menyamakan kedudukan di angka 8 akhirnya berbalik memimpin dan tak terkejar oleh Sony.

Banyaknya pukulan Sony yang keluar dan smash yang gagal melamapui net berhasil membuat Bao unggul 14-9, 17-10 dan 19-12. Sempat menahan laju Bao dengan bermain lebih agresif, Sony akhirnya harus menyerah dengan skor 14-21. Keadaan berbalik di set kedua. Permainan dan kejelian Sony mengamati bola-bola pengembalian dari Bao berhasil membuatnya unggul 12-5 dan 19-6. Permainan reli dan netting yang diperagakan oleh keduanya membuat Bao beberapa kali melakukan kesalahan sendiri di akhir reli. Banyaknya pengembalian Bao yang keluar dan permainan netting tipis Sony akahirnya menutup set ini dengan skor 21-13.

Performa Sony yang diperkirakan akan menurun di set ketiga ternyata justru sebaliknya. Sony mampu bermain konsisten dan terus menggedor pintu pertahanan tunggal ke-2 Cina tersebut. Unggul tipis 6-5, Sony berhasil meluncur jauh 15-5 karena pengamatannya yang sempurna dan banyaknya kesalahan yang dilakukan oleh Bao. Konsentrasi Sony sempat melemah dan membuat permainan Bao berkembang dengan merebut beberapa poin, 12-16. Tidak mau menyia-nyiakan kesempatan yang ada, Sony akhirnya kembali meningkatkan tempo permainan dan menyelesaikan set ini lebih dulu 21-16.

Unggulan 8, Simon Santoso harus bermain rubber set untuk menekuk tunggal ketiga Jepang, Kenichi Tago dan melaju ka babak final. Unggul 21-16 di set pertama, Simon gagal mempertahankan konsistensi permainannya dan banyak melakukan kesalahan sendiri dengan bola-bola liar di depan net. Kenichi mampu berbalik unggul 21-13 di set kedua dengan bermain lebih agresif dan terus menekan pertahanan Simon. Beruntung Simon mendapatkan kesempatan kedua di set ketiga. Dengan bermain lebih cermat, Simon berhasil menutup set ini 21-18 dan melenggang ke babak final.

Ganda Putri, ViLy Patahkan Dominasi Cina

Selain Maria dan Sony yang berhasil menjebol tegarnya tembok para pemain Cina, ganda putri kebanggaan Indonesia, Vita/Lily juga membuat sejarah kedua mereka dengan mengandaskan satu-satunya wakil Cina dan favorit juara untuk turnamen ini, Zhang Jiewen/Wei Yili. Tahun lalu, ViLy menciptakan sejarah itu dengan menjuarai turnamen China Masters 2007 saat pertama di duetkan. Meski tidak seekstrim tahun sebelumnya dengan melibas tiga ganda Cina dalam satu turnamen, ViLy kali ini berhasil mendapatkan momentumnya kembali setelah pada babak final Piala Uber bulan lalu nyaris menjungkalkan duo Cina lainnya, Yang Wei/Zhang Jiewen.

Dominasi ViLy sebenarnya sudah terjadi sejak set pertama berlangsung. Sempat tertinggal 0-2, ViLy mampu menyamakan kedudukan dan berbalik unggul 7-3 setelah Wei Yili beberapa kali gagal menyebrangkan bola di depan net. Indonesia terus memimpin 10-5 dan 12-8 dari beberapa kesalahan beruntun Wei Yili dan penempatan bola-bola Vita di depan net. Sempat menyamakan kedudukan di angka 12 dan berbalik unggul 13-12 karena bola-bola Vita yang out dan net eror yang dilakukan oleh Lily, Zhang/Wei tertinggal jauh 13-19 karena kembali Wei membuat kesalahan di depan net dan gagal mengembalikan bola dengan sempurna. Dua kesalahan dari Wei dan Zhang membuat ViLy unggul dan menutup set ini 21-15 terlebih dulu.

Pada set kedua, pasangan Cina mampu bermain lebih rapi dan perolehan poin sempat berjalan ketat di awal set. Tertinggal 5-9, karena berkali-kali Vita gagal mengembalikan bola di depan net, Indonesia berhasil bangkit dan menyamakan kedudukan di angka 10. Zhang/Wei berhasil memaku ViLy di angka 11 setelah berkali-kali pengembalian Vita menyangkut di net untuk unggul 15-11. Sempat memperkecil selisih poin 13-15 dan 14-16, bola tanggung dari Vita dan smash-smash kerang dari Zhang berhasil melumpuhkan ganda Indonesia 14-21.

Pola permainan set pertama kembali coba diterapkan oleh ViLy di set penentuan. Setelah terlibat kejar-mengajar poin, ViLy mampu unggul 9-4 terlebih dahulu dengan memenangi adu drive dan smash antara kedua pasangan. Pertahanan ganda Indonesia yang cukup sempurna mampu menyulitkan ganda Cina sehingga banyak melakukan kesalahan sendiri. Tertinggal 10-15 dan 12-16, koordinasi antara pasangan Cina membaik setelah Vita kembali melakukan banyak kesalahan sendiri seperti pada set kedua. Zhang/Wei mampu menyamakan kedudukan di angka 16 dengan berturut-turut memanfaatkan kelemahan

Vita dan kejar mengejar angka antara kedua pasangan berlenjut hingga kedudukan 18 sama. Vita sempat menebus kesalahannya dan mencoba untuk membuat ganda Cina tertekan dengan serangan beruntun. Kesalahan Zhang dan Wei di depan net dan smash bertubi dari Vita membuahkan 3 angka berturut-turut untuk tandem Indonesia sekaligus memastikan langkah mereka ke babak final. 21-18. Di babak final, ViLy akan ditantang oleh ganda Jepang yang diunggulkan di tempat ke-3, Satoko/Miyuki. Dengan demikian partai ini mereupakan ulangan babak penyisihan grup Piala Uber antara Indonesia dan Jepang. Saat itu ViLy mampu menang 9-21, 21-19, 21-14 atas ganda no. 2 Jepang tersebut.

Satoko/Miyuki berhasil melakukan ‘revenge’ atas kekalahan Reiko/Kumiko di babak 16 besar kemarin. Satoko/Miyuki yang secara ‘defense’ jauh lebih baik, akhirnya mampu mematahkan perlawanan ganda terbaik PB Djarum, Meiliana/Shendy, 21-19, 21-15. Banyaknya kesalahan sendiri yang dilakukan oleh MeiShe dan tekanan demi tekanan yang terus dilancarkan oleh Satoko/Miyuki akhirnya mampu menggagalkan terjadinya ‘All Indonesia Final’ di nomor ini.

Ganda Campuran, Hilangnya Prestise Sektor Favorit

Partai yang selalu menjadi andalan Indonesia di turnamen super series dan diharapkan dapat menyumbang medali emas pada Olimpiade 2008 nanti ternyata justru berjalan jauh diluar dugaan. Penmapilan buruk unggulan teratas, Nova/Lily juga diikuti oleh kompatriotnya, Flandy/Vita yang bermain jauh dibawah performa terbaik mereka. NoLyn yang menantang unggulan ke-4 asal Denmark, Thomas Laybourn/Kamilla Rytter Juhl harus mengenyam kekalahan menyakitkan di saat poin-poin kritis di akhir set.

Sejak awal set pertama, Thomas/Kamilla sudah mampu menyajikan perlawanan berimbang dengan memanfaatkan ketidaksolidan pertanahan NoLyn. Sempat memimpin 3-1, NoLyn kembali terkejar dan di samakan oleh ganda Denmark. Saling menyusul poin kembali terjadi sampai kedudukan 10 sama, kembali NoLyn unggul jauh 15-11 dari smash-smash keras Nova dan net eror yang dilakukan Kamilla. Namun hal tersebut tidak berlangsung lama karena kembali Denmark menyamakan kedudukan di angka 17 karena beberapa net eror Nova dan Lily.

NoLyn sempat unggul lebih dulu 20-18 namun kegagalan dalam melakukan ‘finishing’ berhasil dimanfaatkan oleh Kamilla yang berhasil menjadi ‘playmaker’ di depan net dengan terus menekan dan memanfaatkan bola tanggung dari Nova. Menyamakan kedudukan 20-20, keadaan berbalik menjadi keunggulan Denmark 22-20 setelah kembali Kamilla melakukan smash tajam dan adu drive anatara kedua pasangan yang diakhiri dengan net eror dari Nova.

Hampir sama seperti set pertama, NoLyn berhasil menguasai pertandingan di awal set kedua. Memimpin 9-6, Thomas/Kamilla kembali berhasil menyamakan kedudukan di angka 10 dan kejar mengejar angka berlangsung hingga titik 13 sama. Kesalahan Nova dan penempatan bola yang sempurna dari Kamilla sempat membuat Denmark unggul 16-13 namun kembali NoLyn bangkit dan melakukan sergapan bola di depan net untuk membuat skor setara 16-16.

Kembali memimpin 18-16 da 20-19, NoLyn lagi-lagi gagal mempertahankan momentum mereka dan kembali tertekan dengan irama permainan Thomas/Kamilla. Pengembalian Lily yang melebar, smash keras dari Kamilla dan net eror yang dilakukan oleh Nova saat mencoba melakuakan drive membuahkan 3 angka berturut-turut untuk Denmark yang mengantarkan keduanya ke babak final 22-20.

Pertandingan yang jauh tidak ‘hidup’ justru terjadi antara unggulan ke-3, Flandy/Vita dan unggulan ke-2, Zheng Bo/Gao Ling. Smash-smash keras Zheng/Gao dan kesalahan sendiri yang dilakukan FlaVi langsung membuat keduanya tertinggal 2-11 di paruh awal set pertama. Sempat mengejar dan memperkecil selisih poin 11-13, 14-15, Zheng/Gao kembali meluncur 19-16 dan 20-17 sebelum akhirnya servis Gao Ling yang dikira keluar oleh Flandy menutup set ini 21-17.

FlaVi kembali tertinggal 0-5 dan 2-9 di set kedua. Zheng/Gao kembali mengontrol dan mendominasi permainan dengan smash-smash keras setelah performa FlaVi menurun drastis dibandingkan set sebelumnya. Leading jauh 17-4, Zheng/Gao akhirnya berhasil memastikan kemenangan mereka 21-9 setelah berkali-kali FlaVi melakukan kesalahan sendiri. Dengan demikian, Zheng/Gao akan menantang Thomas/Kamilla di babak final dan berkesempatan besar untuk mengoleksi gelar super series kedua mereka di tahun ini.

Ganda Putra, Partai Paling Emosional

Tumbangnya NoLyn dan FlaVi serta tak bersisanya wakil Indonesia di sektor ganda putra menyebabkan partai ini menjadi paling emosional jika dibandingkan dengan partai sebelumnya. Dukungan penuh publik Istora akhirnya diberikan kepada unggulan ke-5, Candra/Tony saat menghadapi ganda muda Malaysia, Hoon Thien How/Ong Soon Hock. Kejar mengejar angka yang sangat ketat menemani perseteruan antara ganda beda generasi ini sepanjang set pertama. Selisih 1-2 poin dari kedudukan awal 0-0 sampai skor imbang 23 sama cukup menguras mental dan stamina para pemain dan penonton. CaTon yang bermain lebih sabar akhirnya kalah 23-25 kepada Hoon/Ong yang senantiasa mencoba menekan dengan serangan bertubi mereka.

Pada set kedua, tekanan Hoon/Ong melemah dan ganda senior berhasil menunjukkan kualitas mereka dengan berbalik unggul. Sempat terkejar di angka 7, CaTon yang bermain lebih agresif sanggup menahan laju Hoon/Ong di angka 7 untuk unggul 11-7. Perolehan poin CaTon tak terkejar dan akhirnya menamatkan set ini lebih dulu 21-15. CaTon sempat tertinggal 1-6 pada set penentuan karena kendornya pertanahan mereka dan melemahnya tekanan yang diberikan kepada duet Malaysia ini. Kembali menyamakan angka di titik 7, kesalahan sendiri yang acapkali dilakukan oleh Hoon/Ong membuat CaTon kembali memimpin 16-12.

Ganda Malaysia sempat mengejar 15-17 karena beberapa bola tanggung dari Candra namun kesalahan Hoon Thien How di depan net setelah kedua pasangan terlibat adu smash akhirnya memaku Hoon/Ong di angka 15 untuk unggul 20-15. Drive-drive pendek antara kedua pasangan diakhiri dengan net eror yang dilakukan kembali Ong Soon Hock menutup set ini 21-15 untuk kajayaan Candra/Tony.

Di babak final, ulangan semifinal Indonesia SS 2007 akan kembali lagi terjadi. Unggulan ke-8, Mohd Zakry/Mohd Fairuz akan menjadi lawan CaTon untuk memperebutkan mahkota mahkota super series kedua mereka tahun ini setelah pekan lalu juga menjadi raja di turnamen Singapore SS. Pada laga 4 besar kemarin, Zakry/Fairuz melibas duo Korea yang menjungkalkan LuVent, Ko Sung Hyun/Kwon Yi Goo, 21-13, 21-18. Sebagai catatan, tahun lalu CaTon berhasil disingkirkan oleh ganda no.3 Malaysia ini dengan skor 21-23, 21-15, 21-17.

Ferry Irawan, Jurnalis Bulutangkis.com

(www.bulutangkis.com, http://www.bulutangkismania.wordpress.com)

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: