Bulutangkismania's Weblog

Agustus 11, 2008

Results Day 3 Badminton Olympic ’08 : Sony & Maria, Dua Tunggal Tersisa

Filed under: Turnamen — bulutangkismania @ 10:41 pm

Dua dari tiga pemain tunggal Indonesia akhirnya menjadi asa terakhir Indonesia di sektor tunggal putra dan putri. Setelah unggulan ke-7, Taufik Hidayat kalah dari pemain Malaysia, Wong Choong Hann pada laga perdananya, Sony menjadi satu-satunya tumpuan harapan merah putih di bagian putra sedangkan Maria mencatat prestasi konsisten dengan mendepak sang ratu Eropa, Tine Rasmussen.

Tunggal Putri, Maria Penuhi Target

Srikandi terbaik Indonesia saat ini yang bercokol di peringkat 21 dunia, Maria Kristin kembali berhasil membuktikan konsistensi performanya dan menambah deretan prestasi yang sempat diukirnya di dua turnamen sebelumnya sekaligus mensejajarkan dirinya dengan tunggal putri elit dunia saat ini. Setelah sukses mengantarkan tim Indonesia melaju ke babak final Uber Cup bulan Mei lalu, Maria semakin menjadi pusat perhatian para pengamat bulutangkis dunia saat dara kelahiran 25 Juli tersebut melaju ke babak final Indonesia SS 2008 dengan melewati hadangan dari 3 pemain besar dunia.

Setelah Yip Pui Yin, Yao Jie, Zhou Mi dan Zhang Ning, kali ini giliran sang ratu bulutangkis Eropa asal Denmark, Tine Rasmussen (6) yang dibuatnya tak berkutik saat meladeni pukulan-pukulan cantik dara asal Tuban tersebut. Tine yang diramalkan banyak pihak akan melaju ke babak final Olimpiade dan bertemu dengan Xie Xingfang, akhirnya harus mengakui kegigihan Maria dan terhenti langkahnya di laga perdelapanfinal tadi pagi.

Sejak awal set pertama, Maria sudah menunjukkan permainan memukaunya meskipun tidak tampil agresif. Kesabarannya dalam meladeni serangan drop shot andalan peringkat 4 dunia tersebut ternyata berbuah poin saat Tine akhirnya melakukan banyak kesalahan sendiri. Unggul jauh 8-2 dan 10-5, Maria terus mempertahankan irama permainannya hingga kedudukan 11-9 saat jeda interval set pertama. Tine sempat mencoba meningkatkan tempo serangan dengan serobotan-serobotan bola di depan net yang membuat Maria cukup kesulitan untuk menguasai lapangan dan mengontrol pengembalian bolanya.

Setelah berhasil menyamakan kedudukan di angka 14 dan 15, peraih 3 mahkota SS di tahun 2008 tersebut akhirnya berbalik memimpin 19-17 sebelum menutup set ini lebih dulu 21-18. Memasuki set kedua, Maria kembali menunjukkan permainan akuratnya yang cukup efektif meskipun tidak banyak melakukan bola-bola serang. Sempat berjaya dengan angka 8-3, perolehan angka Maria kembali berhasil di kejar oleh Tine saat kedudukan 9-9. Dengan paduan serangan drop shot dan smash keras yang sulit untuk dikembalikan, Tine yang tertinggal 10-11 mampu berbalik unggul 12-11.

Saat kedudukan imbang 13-13, Maria kembali memetik 3 angka beriring dari kegagalan Tine mengembalikan bola-bola Maria di depan net. Pukulan Tine yang lebih banyak mengandalkan ‘power’ berbeda kontras dengan pengembalian Maria yang lebih memperhatikan akurasi dan penempatan bola. Saat memimpin 19-15 dan 20-16, Maria nyaris mengubur impiannya untuk melaju ke babak perempatfinal setelah tiga poin berturut-turut diperoleh Tine dari hilangnya konsentrasi permainan Maria saat menghadapi poin-poin kritis. Satu bola pengembalian Tine yang melebar ke arah baseline akhirnya membuat mantan pemain klub Djarum ini bernafas lega dan setelah berhasil memaksakan rubber set.

Performa Tine terlihat menurun pada saat set penentuan setelah nyaris merebut set kedua namun ternyata harus menelan kekalahan. Maria yang semakin semangat dan sabar meladeni Tine kembali unggul 6-3, 10-5 dan 11-7 saat jeda interval. Pemain Denmark berusia 28 tahun tersebut sempat memperkecil selisih jarak menjadi 9-11 namun keakuratan pengembalian Maria di atas garis baseline kembali menjadi kunci keunggulannya 14-9 dan 19-10 sebelum akhirnya memastikan tempatnya di 8 besar dengan kemenangan 21-14.

Usai menundukkan Tine, Maria langsung dimintai kesediannya oleh para wartawan untuk melakukan konferensi pers. Runner up turnamen Indonesia SS 2008 tersebut menyebutkan bahwa kunci kemenangannya kali ini adalah bermain lebih sabar meladeni pengembalian Tine. Selain itu Maria juga menyebutkan bahwa faktor angin sebagai salah satu penyebab kekalahannya di set pertama. Beberapa pengamat bulutangkis yang menyaksikan pertandingan Maria secara langsung mengamini bahwa tipe permainan defensif Maria kali ini mengingatkan mereka kembali pada ratu bulutangkis Indonesia, Susi Susanti.

Selain Maria yang sukses menciptakan kejutan dan mencapai target pribadinya, pebulutangkis India, Saina Nehwal juga membukukan prestasi cemerlang dengan menghentikan laju tunggal terbaik Hongkong, Wang Chen. Semifinalis turnamen Singapore SS 2008 yang juga mulai menanjak paska mengalahkan Yu Hirayama di India Open GP Gold dan Yao Jie di babak pertama Singapore SS akhirnya berhasil mendapatkan tiket dari Wang Chen setelah meladeni mantan tunggal Cina tersebut dalam pertarungan 3 set selama 52 menit.

Setelah sempat tertinggal 4-8, 12-15 dan 16-19 di set pertama, Saina secara dramatis mampu membalikkan keadaan dan menutup set ini 21-19. Tak terpengaruh hasil di set pertama, Wang Chen berhasil membalas kekalahannya di set kedua dengan skor telak 21-11. Adu reli antar kedua pemain yang sudah berlangsung sejak awal set pertama masih tersaji hingga set ketiga. Penampilan Saina di set ke-3 yang lebih agresif berhasil mematahkan perlawanan Wang yang tidak tampil dengan performa terbaiknya. Memimpin jauh 12-4, 15-7, dan 18-8, Saina akhirnya menuntaskan perlawanan Wang di set ini dengan skor telak, 21-11.

Di laga perdelapan final rabu mendatang (13/8), Saina dan Maria yang sama-sama tidak diunggulkan akan saling berhadapan untuk menentukan siapa yang layak melaju ke semifinal. Selain Maria dan Saina, 6 wakil quarterfinal lainnya masih diisi oleh unggulan para unggulan 1-8.

Tunggal Putra, Sony Melaju, Taufik Tersingkir

Kemenangan Maria atas Tine akhirnya berhasil diikuti oleh tungga putra terbaik Indonesia, Sony Dwi Kuncoro. Menghadapi pemain peringkat 15 dunia yang mengalahkannya pada Thomas Cup bulan Mei lalu, Boonsak Ponsana, Sony kali ini mampu bermain taktis dan meminimalisir kesalahan sendiri. Kedua pemain sudah beradu reli dan drop shot tajam sejak awal set pertama. Unggul 5-0, 9-2, 14-7, dan 19-14, perolehan poin Sony tak terkejar oleh Boonsak hingga akhir set pertama. Dengan ketenangannya Sony mampu menamatkan set ini lebih dulu, 21-16

Permainan memukau Boonsak di Thomas Cup dan turnamen Thailand GP Gold lalu tak mampu diulanginya kali ini. Banyaknya kesalahan sendiri yang terjadi berulang hingga set kedua membuat Sony makin mudah untuk mengontrol jalannya pertandingan. Dengan terus menekan dan menyerang di saat yang tepat, Sony kembali unggul 11-8 dan 16-9. Bahkan beberapa kali serobotan Sony di depan net berhasil menembus pertahanan Boonsak dengan mudah.

Perolehan angka Sony makin tak terkejar saat drop shot dan smash silang Sony bertubi-tubi mendarat tajam di lapangannya. Boonsak sempat memperkecil selisih angkanya menjadi 14-16 ketika Sony sedikit kehilangan konsentrasi dan beberapa kali melakukan kesalahan sendiri. Namun bola-bola tanggung pengembalian dari Boonsak berhasil dimanfaatkan Sony untuk mendapat 5 angka berturut-turut sekaligus memenangkan set kedua 21-14. Lawan Sony di perempatfinal adalah tunggal Finlandia, Ville Lang yang berhasil menaklukkan tunggal terbaik Amerika Serikat, Raju Rai, 21-9, 21-16.

Sektor tunggal putrapun nampaknya tak luput dari kejutan tumbangnya sang pemain unggulan. Di laga sesi pertama tadi pagi, pebulutangkis terbaik Eropa, Kenneth Jonassen (5) menjadi ‘korban’ pertama yang harus angkat koper lebih awal. Ditantang oleh peraih mahkota Korea SS 2008 dan runner up Malaysia SS 2008, Lee Hyun Il, Kenneth akhirnya menyerah dalam pertarungan rubber set, 21-15, 14-21, 19-21. Penampilan prima tungal Denmark tersebut di set pertama dan kedua mulai rapuh saat Hyun Il bangkit dengan irama permainan yang sebenarnya di set ke-3.

Meski sempat mengejar dan nyaris menyamakan kedudukan di poin-poin kritis, keberuntungan sepertinya masih belum berpihak untuk Kenneth. Dengan kekalahan ini, Peter Gade menjadi satu-satunya wakil Denmark yang tersisa di nomor tunggal. Tiga wakil lainnya di nomor ganda putra dan campuran baru akan bermain esok hari (12/8).

Menyusul jejak Kenneth Jonassen adalah peraih emas Olimpiade Athena 2004, Taufik Hidayat (7). Di tantang oleh tunggal Malaysia, Wong Choong Hann, Taufik menyerah dua set langsung, 19-21, 16-21. Kekalahan ini semakin mengindikasikan berakhirnya masa-masa keemasan juara dunia tahun 2005 tersebut. Sejak Kejuaraan Asia 2007 yang lalu, peringkat 9 dunia ini belum mampu kembali bangkit dari keterpurukannya dan cenderung mengalami penurunan performa.

Hasil ini kian menambah catatan buruk pertandingan Taufik setelah di turnamen terakhir yang diikutinya, kejuaraan beregu Thomas Cup 2008, Taufik juga mengalami kekalahan dari tunggal Thailand yang belum genap berumur 19 tahun, Tanongsak Saengsomboonsuk serta tunggal Korea, Lee Hyun Il.

Selain Kenneth dan Taufik, sang bintang bersinar Vietnam, Nguyen Tien Minh juga belum menemukan ‘peak performance’ nya pada Olimpiade kali ini. Menghadapi tunggal terbaik Taiwan yang acapkali tersandung di abbak kualifikasi turnamen-turnamen WBF, Hsieh Yu Hsin, Nguyen dipaksa menyerah 16-21, 21-15, 15-21 setelah bermain hampir selama satu jam. Dengan kemenangan ini Hsieh berhak untuk menantang Wong Choong Hann di babak 16 besar dan peluang tunggal ke-2 Malaysia tersebut untuk melaju ke perempatfinal kian terbuka lebar.

Ganda Putri, Yang/Zhang Tumbang

Kejutan terakbar hari ketiga ternyata justru menimpa utusan tuan rumah. Unggulan teratas sekaligus juara bertahan empat tahun lalu di Athena, Yang Wei/Zhang Jiewen (1) di luar dugaan takluk atas tandem Jepang yang sempat di hentikan Vita/Lily di babak final turnamen Indonesia SS 2008 dan penyisihan grup Uber Cup 2008, Satoko/Miyuki. Di set pertama, Yang/Zhang tampil penuh percaya diri dan tak tersaingi dengan mencatat kemenangan telak 21-8.

Dominasi Yang/Zhang atas pasangan Jepang kembali berlanjut di set kedua. Meski duet Satoko/Miyuki sempat mengembangkan permainan mereka, namun secara keseluruhan duo peringkat teratas dunia tersebut selalu berhasil mematahkan keunggulan ‘defense’ dari ganda Jepang. Memasuki poin kritis saat kedudukan 19-16 untuk keunggulan Yang/Zhang, kemenangan yang berada di depan mata tiba-tiba berubah menjadi mimpi buruk. Empat angka berturut-turut yang diperoleh oleh Satoko berhasil membalikkan keadaaan dan membuat mereka unggul 20-19. Meski sempat menyamakan kedudukan di angka 20 dan 21, Yang/Zhang harus rela menyerahkan set kedua untuk pasangan Jepang, 21-23.

Kekalahan yang tak terduga di set kedua ternyata berimbas cukup besar bagi peraih gelar Kejuaraan Dunia 2007 tersebut. Sebaliknya bagi pasangan Jepang, kemenangan ini memberikan mereka semangat lebih untuk membangun kesolidan yang cukup terlihat dari ‘defense’ keduanya yang sulit ditembus oleh Yang/Zhang. Kejar mengejar angka terjadi hingga kedudukan 13-13. Zhang Jiewen yang seharusnya menjadi pengerak kesuksesan duo Cina ternyata bermain jauh di bawah performa terbaiknya dan banyak melakukan kesalahan sendiri.

Mengetahui kelemahan dari Zhang Jiewen, Satoko/Miyuki segera bermain cerdik dengan mempercepat tempo permainan dan penempatan bola yang cukup akurat. Meskipun kedua pasangan sama-sama mengandalkan pertahanan yang sempurna, kekompakan pasangan Jepang yang bermain lebih rapi dengan memperkecil kesalahan sendiri membuat keduanya akhirnya unggul lebih dulu 18-13. Yang Wei sempat menambah satu poin sebelum akhirnya Miyuki kembali menjadi ‘pahlawan’ kubu Jepang dengan meraih 3 poin berturut-turut sehingga mengantarkan keduanya pada semifinal, 21-14.

Dengan hasil ini, Yang./Zhang sebagai juara bertahan harus memupuskan harapan keduanya untuk mengakhiri karir mereka di Olimpiade kali ini dengan merebut emas. Selain itu keduanya dipastikan akan kehilangan poin sebesar 5400 sehingga cukup riskan untuk terjatuh dari peringkat satu dunia. Dengan hasil ini juga, nomor ganda putri yang biasanya tak lepas dari dominasi Cina akan menjadi sektor yang paling ‘genting’ karena ancaman serius dari duo Korea di babak final hampir dipastikan setelah terhentinya Yang/Zhang di perempatfinal. Li Yong Bo dituntut harus memasang skenario yang tepat agar salah satu dari dua ganda Cina yang melaju ke babak final (Du/Yu atau Zhang/Wei) benar-benar bisa memastikan emas untuk sang tuan rumah.

Ferry Irawan, Jurnalis Bulutangkis.com

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: