Bulutangkismania's Weblog

Agustus 13, 2008

Results Day 5 Badminton Olympic ’08 : Maria Dan KiNdra Ke Semifinal

Filed under: Turnamen — bulutangkismania @ 11:39 pm

Dua wakil Indonesia yang berlaga hari ini kembali menuai kesuksesan. Maria yang bertanding di sesi pertama pada pagi hari sukses melaju ke empat besar setelah melibas bintang bersinar asal India, Saina Nehwal. Sedangkan KiNdra memetik sejarah untuk pertama kalinya dalam karir badminton mereka dengan menjegal wakil terakhir Malaysia di sektor ganda putra, Koo Kien Keat/Tan Boon Heong.

Tunggal Putri, Melaju Bersama 3 Tunggal Cina

Perseteruan antara dua pebulutangkis yang sedang menjadi ‘bintang’ saat ini, Maria Kristin dan Saina Nehwal (India) membuka laga di hari kelima Badminton Olympic 2008. Pada awal set pertama, kedua pemain saling menunjukkan kekuatan terbaik mereka untuk mengumpulkan poin demi poin. Sempat tertinggal 2-5, Maria mampu menyamakan kedudukan di angka 5 dan berbalik unggul 8-6 setelah beberapa drive tajam tunggal peringkat satu merah putih tersebut gagal dikembalikan dengan sempurna oleh Saina.

Dikedudukan 9-8, permainan agresif Saina lewat smash dan drop shot membuahkan 7 poin berturut-turut untuk dara berusia 18 tahun tersebut. Posisi lapangan Maria yang searah dengan laju angin juga memberi permasalahan sendiri saat beberapa kali pukulan lob dan penempatan bola ke arah baseline Saina ternyata melenceng ke luar. Tertinggal 12-17 dan 14-18 saat menjelang poin-poin kritis ternyata tidak membuat sulut semangat Maria untuk terus mengejar poin. Bahkan drive silang dan serobotan Maria di depan net, mampu menghasilkan poin demi poin untuk Maria.

Saina mendapatkan ‘match point’ terlebih dahulu 20-16 saat pengembalian bola dari Maria gagal melewati bibir net. Reli-reli panjang yang diperagakan antara kedua pemain membuat para penonton berdecak kagum sembari bertepuk tangan saat bola-bola sulit yang diberikan oleh masing-masing pemain masih mampu dikembalikan dengan cukup sempurna. Serobotan Maria di depan net dari pukulan ‘forehand’ Sania yang tanggung dan smash silang yang gagal dikembalikan oleh peraih gelar Philippine Open 2006 tersebut menghasilkan angka kembali untuk Maria sebelum akhirnya dua kesalahan sendiri Saina di depan net membuat kedudukan imbang 20-20.

Dari titik imbang 20-20, pertarungan antara kedua pemain berlangsung semakin seru dan menegangkan. Saina yang sempat unggul satu poin lebih dulu di kedudukan 21-20, 23-22, 24-23, 26-25 berkali-kali gagal menyelesaikan set ini setelah berhasil di samakan kembali oleh Maria. Semangat yang tak mau menyerah dari mantan pemain klub Djarum ini terbukti dengan tetap terus menggempur Saina melalui pukulan drop shot dan smash ke arah baseline. Pengembalian yang terlalu melebar atau gagal melampaui net dari kedua pemain juga ikut memperpanjang catatan ‘deuce’ hingga terhenti di skor 26 sama.

Penempatan bola drive Saina di depan net yang gagal dikembalikan oleh Saina membuat Saina meraih ‘match point’ nya ke 10 terlebih dulu 27-26. Pengembalian bola Maria ke arah baseline Saina sempat dianggap ‘masuk’ oleh hakim garis melalui isyarat kedua tangannya. Namun setelah beberapa saat kemudian, hakim garis meralat isyarat dengan membuka kedua lengannya yang menandakan bahwa bola tersebut keluar. Kedudukan 26-28 memaksa Maria untuk menyerahkan set ini pada Saina meskipun telah berjuang maksimal hingga akhir set.

Tak mau terpengaruh dengan hasil di set pertama, Maria kembali tampil lepas di set kedua. Menempati lapangan yang berlawanan, permainan Maria jauh lebih lepas dan berkembang di set ini. Selain drop shot, smash dan backhand silang yang masih menjadi andalannya, pengembalian Saina ke arah baseline yang selalu ke luar membuahkan keunggulan jauh untuk Maria, 9-3, 10-5 dan 11-7 saat jeda interval. Berada di tenpat yang berlawanan dengan arah angin, membantu Maria saat pengembalian bola yang nyaris keluar ternyata justru mendarat tepat di atas garis baseline.

Memimpin jauh 13-9, 15-10, 16-11 dan 19-12, Saina juga sempat dirugikan dari pengamatan bola yang kurang sempurna di bagian belakang lapaangan. Bola yang dianggapnya ‘keluar’ ternyata justru masuk dan membuahkan angka untuk lawan. Saina sempat menambah dua angka dari permainan netting yang cukup baik, namun dua kesalahan Saina di daerah baseline mengantarkan Maria pada akhir set ini, 21-14.

Kembali bermain di lapangan yang sama dengan set pertama, Maria langsung tertinggal jauh 11-3 saat jeda interval set penentuan. Drop shot dan bola bola lob Maria yang melenceng keluar dari baseline membuahkan poin demi poin untuk Saina. Namun setelah terjadi perpindahan lapangan dan mendapat wejangan dari Hendrawan untuk tampil sebaik mungkin dan tanpa beban, Maria langsung melaju dengan raihan 6 poin berturut-turut yang membuatnya mampu memperkecil selisih poin menjadi 9-11. Pengembalian bola Maria yang terlalu melebar ke belakang sempat membuahkan 1 poin untuk Saina, namun 10 poin berturut-turut yang dikoleksi oleh Maria dari serangan smash dan drop shot tajam mengantarkan kedua pemain pada angka kritis 19-12

Maria yang terlihat tampil lebih prima berbeda kontras dengan performa Saina yang cenderung menurun seiring dengan staminanya. Hal ini terlihat saat anak asuhan Gophicand tersebut kehilangan konsentrasi bermain saat berkali-kali pengembalian bola ‘ruturn’ dan drop shot nya gagal melampaui bibir net. Permainan netting dan smash ke arah baseline Maria sempat membuahkan dua angka untuk Saina sebelum akhirnya Maria mendapatkan ‘game point’ 20-14. Pengembalian Maria yang terlalu melebar mengubah kedudukan menjadi 20-15 namun pengembalian Saina yang gagal melewati net menamatkan set ini untuk kemenangan Maria, 21-15.

Usai pertandingan, Maria sempat ditanya oleh para wartawan tentang perasaannya saat tertinggal 3-11 di set ke-3. Maria hanya menjawab pendek seraya tersenyum, “Ini kan Olimpiade, bisa berada di babak perempatfinal dan bertemu dengan Saina merupakan pengalaman sekali seumur hidup”. Hasil ini membawa Maria ke babak semifinal dan berpeluang besar untuk meraih medali. Menantang Maria di empat besar adalah sang juara bertahan asal Cina, Zhang Ning (2) yang sempat dikalahkannya di babak semifinal Indonesia SS 2008. Zhang sukses merampas tike semifinal dari tunggal Perancis, Pi Hongyan setelah melewati petarungan cukup ketat rubber set.

Di set pertama, Zhang Ning mampu menguasai penuh jalannya pertandingan. Kemahiran tunggal ke-4 Cina ini dalam hal drop shot dan netting teruji ampuh membuat Pi kalang kabut untuk mengembalikan bola. Tertinggal jauh 2-9 dan 5-11, Pi semakin sulit mengimbangi laju perolehan poin Zhang. Selain memanfaatkan banyaknya kesalahan sendiri yang dilakukan oleh Pi, Zhang yang cukup cerdik berhasil memanfaatkan bagian belakang backhand Pi yang seringkali gagal dikembalikan dengan sempurna. Memimpin 13-5, 16-6 dan 19-7, Zhang menutup set ini dengan kemenangan telak 21-8.

Memasuki set kedua, Zhang mencoba mengubah pola permainan menjadi lebih agresif menyerang lewat drive-drive cepat. Mengetahui bahwa Pi membunyai kelemahan di sisi forehand, Zhang mencoba menarik Pi untuk lebih banyak main di depan lalu menyerang sisi lemah tunggal Perancis tersebut. Strategi ini cukup efektif, namun sayangnya Zhang seringkali membuang kesempatan dengan banyak melakukan kesalahan sendiri. Pi memimpin cukup jauh 10-6, 13-7, 15-9 dan 18-14. Pada kedudukan 15-20, Zhang berhasil memenangkan bebrapa reli dan nyaris menyamakan skor 19-20 namun lob yang terlalu melebar dari baseline membuat Pi menutup set ini lebih dulu 21-15.

Kejar mengejar angka dan saling memimpin kembali terjadi di awal set ke-3 hingga kedudukan 11-10 untuk keunggulan Zhang Ning. Tertinggal 11-14, Pi mampu memperekecil selisih poin menjadi 15-16, 16-18 dan 17-19 dengan memanfaatkan beberapa kesalahan sendiri dari Zhang. Pi berhasil menggagalkan 3 game point Zhang Ning saat pengembalian tunggal Cina tersebut terlalu melebar dan nyaris memaksa ‘deuce’ saat kedudukan 19-20. Namun Zhang segera mematahkan perlawanan Pi dan menutup set ini lebih dulu 21-19 sekaligus memastikan langkahnya ke semifinal. Air mata sempat membasahi wajah Zhang saat meraih kemenangan ini. Terharu dengan keberhasilan yang diraihnya saat mampu melaju ke-4 besar ketika sebagian besar publik Cina meragukan kompetensinya ketika Li Yong Bo lebih memilih Zhang daripada Zhu Lin.

Tunggal Cina lainnya yang berhasil menyusul jejak Zhang ke semifinal adalah Lu Lan (3) dan Xie Xingfang (1). Lu Lan berhasil mendapatkan tiket semifinal dari ratu bulutangkis Asia Tenggara, Wong Mew Choo. Menang mudah 21-7 di set pertama, Lu Lan harus berjuang keras di set kedua saat Mew Choo mengeluarkan kemampuan yang sebenarnya. Kejar mengejar angka sempat terjadi di paruh awal set kedua, namun Mew Choo berhasil unggul lebih dulu dalam perolehan poin, 14-9, 18-12 dan 20-15. Enam kali kesempatan ‘match point’ gagal dimanfaatkan dengan baik oleh tunggal peringkat 9 dunia tersebut.

Kejar mengejar angka pun kembali berlangsung ketat di 7 kali ‘duece’ yang empat diantaranya diungguli oleh Mew Choo. Namun keberuntungan agaknya tidak berpihak untuknya dan kegigihan Lu Lan akhirnya menutup set ini 29-27 sekaligus tercatat sebagai rekor skor terpanjang dalam satu game. Unggulan teratas, Xie Xiengfang juga sukses menggulung mantan pemain Cina yang hijrah ke Jerman, Xu Huaiwen. Melalui pertarungan ketat straight set, 21-19, 22-20, Xie akhirnya berhasil memastikan dominasinya sebagai tunggal terbaik dunia dan melaju ke empat besar.

Ganda Putri, Duo Lee Pastikan Medali Perak

Final All England 2008 akhirnya kembali terulang di sektor ganda putri. Sempat memberi perlawanan di set pertama, tandem Jepang akhirnya harus menyerah pada kesolidan permainan Hyo Jung/Kyung Won. Menantang duo Lee di partai puncak adalah duet Du Jing/Yu Yang yang menang mudah atas kompatriotnya, Zhang Yawen/Wei Yili, 21-19, 21-12.

Ganda terbaik Korea, Lee Hyo Jung/Lee Kyung Won akhirnya berhasil memastikan medali perak untuk negaranya setelah di pertandingan tadi siang menghentikan pasangan Jepang, Satoko/Miyuki dalam pertarungan dua set langsung. Pertandingan yang pada awalnya diramalkan akan berlangsung seru setelah duet Jepang mampu menekuk unggulan teratas, Yang Wei/Zhang Jiewen ternyata mampu didominasi oleh pasangan Korea. Meskipun sempat diwarnai kontroversi saat berkali-kali servis Lee Kyung Won dianggap ‘fault’, tidak mematahkan semangat Hyo Jung dan Kyung Won untuk tetap bermain maksimal.

Beberapa kesalahan Miyuki membuat Korea unggul 8-4 di awal set pertama. Bebarapa pukulan drop shot Korea yang tampak percaya diri membuat mereka tetap unggul 11-8 saat jeda interval. Saat kedudukan 13-11, ganda Korea mendapat 3 kali servis fault berturut-turut dari Zhang Peihua, servis judge yang berasal dari Cina. Kejadian ini sempat membuat duo Lee kehilangan konsentrasi bertanding terutama saat harus membobol pertahanan yang cukup kokoh dari pasangan Jepang. Berkali-kali melakukan sendiri, tandem Korea tertinggal angka 13-17.

Jepang yang bermain lebih defensif dimanfaatkan dengan baik oleh Hyo Jung/Kyung Won untuk terus menyerang dan menekan sehingga akhirnya menyamakan kedudukan di angka 18. Satoko/Miyuki berhasil mendapatkan match point 20-18 terlebih dulu namun semangat juang pasangan Korea yang tetap ulet berhasil memaksakan ‘deuce’ di angka 20. Duo Lee akhirnya berhasil menutup set ini lebih dulu dan berbalik unggul 22-20 saat dua permainan reli terakhir gagal dikembalikan dengan sempurna oleh Jepang.

Memasuki awal set kedua hingga kedudukan 7-7, kedua pasangan kembali terlibat kejar mengejar angka. Kesolidan pasangan Jepang membuat Korea harus berkali-kali melakukan smash agar bisa menembus pertahanan meraka. Sempat unggul 11-8 saat jeda interval, Lee Kyung Won kembali menjadi sasaran ‘bad call’ dari hakim garis dan beberapa servisnya dianggap fault oleh servis judge. Namun untungnya kesolidan mereka mampu membuktikan bahwa kualitas permainan keduanya masih tetap berada di atas pasangan Jepang. Unggul 15-10, 17-12 dan 19-14, keduanya akhirnya berhasil mendapatkan tiket ke partai final dengan catatn kemenangan 21-15 dan memastikan medali perak jika kalah dari pasangan Cina.

Meskipun Du/Yu mempunyai catatan buruk saat bertemu dengan Kyung Won/Hyo Jung di turnamen All England SS bulan Maret lalu, skenario Li Yong Bo tetap memberikan kesempatan kepada keduanya untuk meladeni pasangan Korea di babak final. Sejak awal se pertama, Du/Yu sudah mendominasi dan unggul lebih dulu atas Zhang/Wei. Setelah tertinggal 5-11 dan 9-14, Zhang/Yang sempat memberikan perlawanan dan menyamakan kedudukan di angka 16 sebelum berbalik ungul 18-17. Namun mendekati akhir set, tekanan performa keduanya menurun drastis sehingga Du/Yu mampu unggul 21-19.

Pada set kedua Zhang/wei sudah tidak memiliki semangat bertanding. Pertahanan yang kuat sebagai salah satu ciri pasangan Cina dengan mudah ditembus oleh duet Du/Yu. Tertinggal 9-14 dan 10-18, Zhang/Wei akhirnya harus rela memupuskan impian final di Olimpiade terakhir mereka dengan kekalahan 12-21. Faktor kedekatan Du/Yu yang berasal dari propinsi yang sama dengan Li Yong Bo disinyalir sebagai satu dari sekian banyak alasan kenapa Du/Yu yang berhak menantang tandem Korea di babak fnal.

Ganda Putra, KiNdra Ciptakan Sejarah

Sukses Maria ke empat besar ternyata berhasil diikuti oleh ganda peringkat satu dunia asal indonesia, Markis/Hendra. Di tantang oleh jagoan Malaysia, Koo Kien Keat/Tan Boon Heong, KiNdra berhasil tampil lepas dan mendominasi jalannya pertandingan. Kesuksesan Kido sebagai ‘playmaker’ sejak awal set mengantarkan keduanya unggul 11-7 saat jeda interval set pertama. Tan Boon Heong sempat memperkecil selisih angka mereka 12-13 namun drive-drive cepat yang diperagakan oleh KiNdra dan smash-smash menghujam Kido kembali membuat ganda Indonesia unggul 18-12 dan 19-13.

Koo/Tan kembali merebut 3 poin berturut-turut sebelum akhirnya KiNdra menamatkan set ini lebih dulu 21-16. Memasuki set kedua, Kindra kembali ‘leading’ 6-2 dan 10-6. Setelah mendpat masukuan dari Rexy saat jeda interval kedudukan 9-11, Koo/Tan berhasil mendapatkan momentum keunggulan meeka dengan meraih 5 poin berturut-turut, 14-11. Kepemimpinan mereka terus berlanjut hingga kedudukan 15-13 dan 17-15. Lagi-lagi Kido berhasil menjadi ‘playmaker’ di angka kritis dengan menyabet 4 angka beriringan, 19-17. Tan Boon Heong sempat menambah satu angka sebelum akhirnya Hendra memetik dua angka terakhir dan memastikan kemenangan merah putih, 21-18.

Tak percaya dengan apa yang telah dicapainya, Kido segera berlari ke luar lapangan menuju area pelatih untuk memeluk orang yang paling berjasa atas meingkatnya performa mereka kali ini. Suasana suka cita yang menyelimuti kubu Indonesia setelah KiNdra sukses menciptakan sejarah dalam karir bulutangkis mereka dengan menghempas Koo/Tan untuk pertama kalinya juga dapat dirasakan langsung oleh publik yang menonton pertandingan ini secara langsung maupun melalui livestreaming.

Namun tugas KiNdra tidak berhenti sampai disana. Lawan berat sudah menanti keduanya di semifinal. Ganda Denmar, Lars Paaske/Jonas Rasmussen yang sukses melibas unggulan ke-3, Jung Jae Sung/Lee Yong Dae akan menjadi penantang KiNdra selanjutnya di empat besar. Lars/Jonas melaju ke semifinal setelah menaklukkan harapan Polandia, Michal Logosz/Robert Mateusiak, 17-21, 21-11, 21-15. Meskipun veteran dan tidak mengandalkan ‘speed’ dan ‘power’ dari pukulan-pukulan mereka, penempatan bola yang cukup akurat dari kedua pemain veteran ini bisa jadi akan menyulitkan pasangan Indoenesia.

Pada semifinal lainnya akan mempertemukan unggulan tuan rumah, Fu Haifeng/Cai Yun (2) dan pasnagan Korea, Lee Jae Jin/Hwang Ji Man. Fu/Cai tanpa banyak kesulitan berhasil mengatasi ganda Amerika, Howard Bah/Khan Bob Malaythong, 21-9, 21-10 kurang dari 30 menit. Sedangkan Lee/Hwang masih terlalu tangguh untuk pasangan Jepang, Tadashi/Keita yang mampu menjungkalkan LuVent di babak sebelumnya. Kecepatan dan pertahanan yang sempurna akhirnya menjadi kunci kemenangan pasangan Korea, 21-12, 18-21, 21-9.

Ferry Irawan, Jurnalis Bulutangkis.com

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: