Bulutangkismania's Weblog

Agustus 17, 2008

Results Day 8 Badminton Olympic ’08 : Jegal Cina, KiNdra dan Kristin Persembahkan Dua Medali

Filed under: Turnamen — bulutangkismania @ 6:54 am


Satu emas dan satu perunggu akhirnya melengkapi kesuksesan para pebulutangkis tanah air di laga finalnya hari ini. Maria Kristin membuka kegembiraan pertama para pendukung Indonesia lewat medali perunggu setelah berhasil melibas peringkat dua dunia, Lu Lan. Langkah Maria menjegal harapan tuan rumah juga diikuti oleh KiNdra yang menaklukkan Fu/Cai dan memasikan emas serta NoLyn yang melaju ke final dengan menundukkan He Hanbin/Yu Yang.

Tunggal Putri, Zhang Ning Catat Rekor, Maria Taklukkan Lu Lan

Pebulutangkis andalan merah putih Maria Kristin berhasil meraih medali pertama untuk Indonesia setelah di babak playoff tadi siang, Maria sukses menaklukkan harapan tuan rumah Lu Lan (3) dalam perebutan tempat ke-3. Sementara itu emas berhasil dipertahankan oleh Zhang Ning dengan menundukkan kompatriotnya Zhang Ning. Hasil ini membuat Zhang mengukir sejarah pemain tunggal putri terbaik sepanjang Olimpiade dengan raihan 2 emas.

Performa Maria sempat tampil meragukan di set pertama. Banyaknya kesalahan sendiri yang dilakukan oleh tunggal 23 tahun ini dan agresivitas serangan yang dilakukan oleh Lu Lan membuatnya tertinggal cukup jauh, 2-10, 5-14 dan 7-18. Beberapa kali pukulan drop shot andalan Lu Lan berhasil mendarat dengan mulus di depan net. Penempatan bola yang akurat di bagian baseline juga membuahkan poin untuk peringkat dua dunia tersebut. Tampil penuh percaya diri, Lu Lan akhirnya menutup set ini dengan kemenangan telak 21-11 dalam durasi tanding 16 menit.

Memasuki awal set kedua, perebutan angka antara kedua pemain berlangsung cukup ketat. Maria akhirnya kembali pada performa terbaiknya dan tidak banyak melakukan kesalahan sendiri. Setelah kejar mengejar angka di titik 7-6, Permainan netting yang sempurna serta penempatan bola di bagian baseline berhasil membuahkan 7 poin beruntun untuk Maria. Dari titik inilah, laju angka Maria sulit disamakan oleh Lu Lan. Tunggal kedua Cina tersebut sempat menambah 1 angka dari drop shot tajam di bagian forehand Maria. Namun kembali penempatan bola Maria di aderah baseline membuahkan 3 angka berturut-turut dan memimpin kian jauh 17-7.

Ketrampilan Lu Lan untuk mengolah bola di depan net dalam hal netting maupun drive silang serta beberapa kesalahan Maria di depan net akhirnya menghasilkan 4 tambahan angka bagi Lu Lan, 11-18. Serobotan Maria di depan net dan drop shot Lu Lan yang membentur net akhirnya mengantarkan Maria pada ‘match point’ 20-11. Lu Lan sempat mengoleksi dua angka berikutnya dari pengembalian Maria yang terlalu melebar di daerah baseline dan penempatan bola Lu Lan yang akurat di lapangan yang kosong. Namun pengembalian bola yang terlalu melebar akhirnya menutup set ini untuk Maria, 21-13.

Konsistensi permainan Maria kembali terlihat di set ketiga. Tertinggal 0-3, drop shot tajam Maria dan 5 kali ‘unforced error’ yang dilakukan oleh Lulan mengantarkan mantan pemain klub Djarum ini pada kedudukan 8-3. Reli-reli panjang yang menyajikan bola-bola sulit antar kedua pemain berlangsung cukup seru di titik ini. Defense Lu Lan yang cukup baik membuat Maria beberapa kali gagal mengembalikan bola dengan sempurna sehingga memperekecil selisih poinnya menjadi 8-9.

Sembilan poin beruntun kembali dikoleksi oleh Maria dari penempatan bola yang sulit di jangkau di bagian depan net dan daerah baseline serta tiga kesalahan beruntun yang dilakukan oleh Lu Lan sehingga menyebabkan bola out dan gagal melewati net. Memimpin 18-8, Maria sempat mengendorkan serangan yang membuat Lu Lan kembali bangkit dengan penempatan bola akurat di depan net. Pengembalian Maria yang gagal melampaui net juga menambah pengumpulan angka Lu Lan, 15-19. Placing bola Maria di depan net dan pengembalian bola Lu Lan yang melebar akhirnya mengantarkan medali perunggu untuk Maria, 21-15.

Pada perubutan medali emas, tunggal Cina yang berusia 33 tahun, Zhang Ning akhirnya berhasil mempertahankan emas yang diukirnya pada Olimpiade Athena empat tahun yang lalu. Menghadapi unggulan teratas, Xie Xingfang, Zhang tampil memukau di awal set pertama. Memiimpin dengan 15-11 dan 19-12, Zhang akhirnya menutup set ini 21-12 setelah terlibat baku hantam selama 18 menit. Permainan Xie sempat bangkit di set kedua. Drop shot tajam yang selalu menjadi senjata andalan peringkat terbaik dunia ini selain karena kesalahan sendiri Zhang di awal set. Menutup interval set kedua 11-7, Xie meluncur cepat dengan angka 14-7 dan 16-8

Zhang sempat menambah dua angka dari bola tanggung Xie dan penempatan bola lob di bagian baseline. Lima poin berturut yang dikumpulkan Xie dari drop shot dan penempatan bola di bagian belakang lapangan akhirnya menutup set ini 21-10. Superior Zhang kembali berkibar di set ketiga. Meski masih belum mampu bermain rapi, serangan bola-bola tajam Zhang akhirnya membuatnya unggul 8-3 dan 11-5 saat jeda interval. Saat kedudukan 6-13, Xie mampu merebut 6 angka beruntun dari kesalahan sendiri yang dilakukan oleh Zhang dan membuatnya memperkecil selisih poin 12-13.

Dari titik ini kedua pemain bersaing ketat dan mengumpulkan angka dengan selisih 1-2 poin. Netting Zhang yang sempurna dan bola-bola tanggung Xie membuat Zhang kembali memimpin 18-17. Drop shot Zhang yang gagal dikembalikan oleh Xie setelah kedua pemain terlibat reli panjang dan netting Xie yang gagal melampaui net mengantarkan Zhang pada ‘gold medal point’ 20-17. Drop shot tajam Xie membuat Zhang harus menunda kemenangannya dan netting Xie yang tidak sempurna akhirnya menutup set ini, 21-18. Medali ini dipersembahkan Maria untuk dua pelatinya, Marleve Mainaky dan Hendrawan, ujuaranya saat diminta tanggapan oleh pers.

Di saat pembagian medali oleh ketuan KONI, Rita Subowo, dan diaraknya merah putih bersama dua bendera Cina lainnya, Maria dan Zhang Ning sempat meneteskan air mata karena terharu bahagia. Sebaliknya, Xie menampakkan ekspresi kecewa sekaligus menahan luapaan kesedihannya. Dengan hasil ini, Maria berhasil menyamai prestasi Susi Susanti di Olimpiade 1996 dan berpeluang untuk sejajar dengan Susi jika meraih emas 4 tahun yang akan datang.


Ganda Campuran, FlaVi Gagal Pastikan All Indonesia Final

Tandem peringkat satu dunia, Nova/Lily harus bersaing ketat untuk menjungkalkan jagoan Cina, He Hanbin/Yu Yang (4) sebelum akhirnya melaju ke partai puncak. Harapan untuk menyajikan All Indonesia Final dan memastikan medali emas dan perak akhirnya kandas setelah wakil Indonesia lainnya, Flandy/Vita harus menyerah dari ganda non unggulan Korea, Lee Yong Dae/Lee Hyo Jung setelah berseteru 3 set.

Di set pertama, NoLyn tak mampu berbuat banyak untuk meladeni agesivitas permainan ganda Cina. Mendapat serangan bertubi dari He/Yu, NoLyn tak mampu mengembangkan permainan mereka Sempat berada di angka 6-6, NoLyn akhirnya tertinggal 9-6, 8-12 dan 10-14 saat Nova beberapa kali melakukan net eror dan smash-smash keras He Hanbin gagal dikembalikan oleh NoLyn. Sempat menambah dua angka saat kedudukan 13-19 dari penempatan bola Nova di daerah kosong dan pengembalian Hanbin yang terlalu melebar, NoLyn akhirnya menyerah 21-15.

Permainan NoLyn yang sebenarnya mulai terlihat di set kedua. Penempatan bola-bola yang akurat dan serobotan Lily di depan net berpadu dengan smash-smash keras Nova dari daerah baseline. Agresitivitas He/Yu tidak sedahsyat set pertama namun smash-smash keras He Hanbin masih menjadi senjata ampuh untuk menghasilkan poin. Sayangnya pemain muda ini beberapa kali terburu-buru dalam menyerobot bola di depan net sehingga melakukan kesalahan sendiri. Unggul jauh 17-6 dan 19-11, dua smash beruntun NoLyn tertuju pada Yu Yang gagal dikembalikan oleh pemain Cina tesrebut, 21-11.

Perseteruan ketat antara kedua pasangan terlihat jelas di set penentuan. Selisih 1-2 poin berlangsung dari kedudukan 0-0 hingga dua pertiga set, 15 sama. Penempatan bola yang akurat di tempat tak terjangkau masih menjadi andalan NoLyn untuk meraih poin selain beberapa kesalahan sendiri yang dilakukan oleh He Hanbin. Lily yang seharusnya mampu menjadi ‘playmaker’ berani memotong bola di depan net, kali ini hanya mengendalkan defense dan variasi pukulan untuk meraih poin demi poin.

NoLyn sempat memimpin 19-15 ketika berani bermain di depan net dan melakukan serbotan sehingga He/Yu gagal mengembalikan bola dengan sempurna. Namun penempatan bola Yu Yang di tempat kosong dan empat ‘unforced error’ dari NoLyn akhirnya menyamakan kedudukan kedua pasangan di angka 20. Penempatan bola Lily yang tak terjangkau membuat Indonesia meraih ‘match point’ ke-4 mereka lebih dulu, 21-20. Kesalahan sendiri yang dilakukan Nova di depan net kembali menyeimbangkan skor di titik 21. Pertarungan mental ini akhirnya berhasil diselesaikan oleh NoLyn 23-21 saat servis Hanbin dianggap out oleh wasit dan drop shot Nova ke daerah kosong setelah berkali-kali smash NoLyn berhasil dikembalikan He/Yu.

Permainan agresif pasangan muda He/Yu juga diikuti oleh wakil Korea, Lee Yong Dae/Lee Hyo Jung. Serangan dari keduanya tak memberi kesempatan bagi FlaVi untuk mengembangkan permainan mereka. Sejak awal set pertama, FlaVi sudah langsung tertinggal 3-6 dan 4-12 saat harus mengembalikan bola-bola sulit dari ganda Korea. Vita yang pada pertandingan sebelumnya juga tidak tampil maksimal hari ini banyak melakukan net eror meskipun bola-bola tersebut terlihat tanggung di atas bibir net. Tertinggal 5-14, 6-16 dan 7-19, drop shot duo Lee akhirnya menjadi kunci kemenangan mereka, 21-9.

Permainan asli FlaVi mulai terlihat di set kedua. Sempat tertinggal 0-4, FlaVi mampu merebut 9 angka beruntun dari kesalahan sendiri yang dilakukan oleh duo Lee dan keberanian Vita menyerobot bola di depan net. Memaku Korea di angka 8 setelah jeda interval 11-7, FlaVi kembali merebut 7 angka beriring dari penempatan bola-bola Vita dan kesalahan Lee Yong Dae di depan net. Unggul jauh 18-11 dan 20-12, kubu merah putih akhirnya berhasil memaksakan rubber set, 21-12.

Perjuangan kedua pasangan lebih memeras keringat di set ketiga. Sempat memimpin 5-0, FlaVi tersamakan di angka 6 dan 7 saat Flandy melakukan kesalagan sendiri dan keberianian duo Lee untuk menyerang dan menyerobot bola di depan net. Setelah kedudukan 8-8, FlaVi akhirnya mencapai jeda interval lebih dulu 11-8 saat smash dan ‘placing’ FlaVi menghasilkan poin demi poin untuk Indonesia. Memimpin 14-10, paduan serangan Korea dari smash, netting dasn placing di daerah kosong juga divariasikan dengan keberanian Lee Hyo Jung mengolah bola di depan net mampu membalikkan keadaan duo Lee menjadi 17-14 dengan mengoleksi 7 angka berjejer.

Banyaknya bola-bola angkat FlaVi di angka kritis memudahkan Yong Dae dan Hyo Jung untuk menekan dan menyerang, 15-19. Drop shot Hyo Jung di depan net dan pengembalian Vita yang gagal melewati net akhirnya menamatkan set ini 17-21. Vita sempat mementalkan raketnya di akhir poin sebagai ekspresi kekecawaan mereka karena gagal mempersembahkan final sesame Indonesia. Kesempatan untuk menarik perhatian sponsor dan menjadi pemain professional juga harus dikaji ulang oleh duo yang sudah tidak muda lagi ini. Meskipun gagal melaju ke final di Olimpiade terakhir mereka ini, FlaVi masih berpeluang raih perunggu dan mengulang sukses Flandy/Eng Hian empat tahun yang lalu di laga playoff besok.

Ganda Putra, KiNdra Pertahankan Tradisi Emas

Indonesia akhirnya berhasil mempertahankan tradisi emas cabang bulutangkis untuk ke-5 kalinya berturut-turut setelah Markis/Kido yang diunggulkan di tempat teratas mampu tampil sempurna saat menghadapi favorit juara dari tuan rumah, Fu Haifeng/Cai Yun. Sempat tertinggal di set pertama, KiNdra berhasil merebut dua set berikutnya.

Setelah kedudukan kedua pasangan imbang 3-3 di set pertama, Fu/Cai yang bermain lebih agresif akhirnya berhasil unggul 6-3 dari tiga kali pengembalian bola KiNdra yang gagal melewati net dan keluar. Harapan untuk meraih emas di nomor ini sempat pudar saat KiNdra masih tak berhasil mengembangkan permainannya dan selalu berkutat dengan kesalahan sendiri khususnya di depan net saat melakukan serangan maupun mengembalikan bola-bola tanggung dari Fu/Cai.

Tertinggal 6-12, 8-14 dan 9-19, kondisi KiNdra semakin diperparah dengan banyaknya pukulan tanggung duo Indonesia yang mengambang di atas set sehingga makin mempermudah Fu/Cai untuk mengoleksi poin demi poin.Perolehan poin yang berjalan cukup seret di set pertama karena hanya mengandalkan kesalahan sendiri dari pasangan Cina dan menunggu kesempatan menyerang di saat yang tepat membuat Indonesia makin terpuruk di skor 11-19 sebelum akhirnya Fu/Cai mendapatkan match point pertama mereka dari pengembalian Kido yang terlalu melebar. Smash Hendra yang membentur net menutup set ini untuk dominasi Cina, 21-12.

Penmapilan KiNdra di set kedua berubah total sebaliknya agresivitas Fu/Cai juga tidak lagi sedahsyat set pertama. Hal ini mulai terlihat saat Kido berhasil mengeluarkan variasi pukulannya seperti servis yang cepat dan tipis di depan net serta penempatan bola yang cukup akurat di tempat yang kosong. Selain mahir dalam mengolah servis, permainan Indonesia juga lebih berkembang dan mulai melakukan tekanan saat smash dan bola-bola drive KiNdra bertubi-tubi menjejal lapangan ganda Cina. Unggul 5-1 dan 9-4, KiNdra akhirnya mencapai jeda interval lebih dulu 11-5.

Beberapa servis eror yang dilakukan oleh Fu Haifeng dan pengembalian Cai Yun yang tidak sempurna terus membuat duo Indonesia melaju 14-6 dan 17-10. Netting tipis dan akurat yang diandalkan kedua pasangan seringkali dimenengkan oleh KiNdra dan membuat laga di set kedua tidak seagaresif penmapilan di set pertama. Kesalahan yang dilakukan Hendra saat melakukan servis menambah poin terakhir untuk Cina sebelum tandem merah putih meraih 4 angka berturut-turut dari netting silang Hendra yang memukau dan penempatan bola Markis di bagian baseline yang tidak terjangkau, 21-11.

Dominasi kubu Indonesia semakin terlihat dengan penempilan berani Kido untuk memotong bola di depan net dan tekanan beruntun yang diberikan oleh Hendra melalui smash yang langsung membuat keduanya ‘leading’ 6-2 di set penentuan. Adu drive yang diakhiri dengan kesalahan para pemain Cina juga mempermudah KiNdra untuk semakin jauh meninggalkan Fu/Cai 9-3 dan 11-4 saat jeda interval. Pengembalian KiNdra beberapa kali sempat membentur net dan membuahkan poin bagi lawan namun tekanan yang selalu diberikan oleh ganda Indonesia membuat duet peringkat 3 dunia tersebut juga tidak mampu megembangkan permainan mereka.

Fu Haifeng yang biasanya menjadi ‘playmaker’ di setiap pertandingan kali ini juga lebih banyak melakukan kesalahan sendiri meskipun hal tersebut bisa tertutupi oleh performa menawan Cai Yun. Smash Kido dan Hendra serta beberapa net eror yang dilakukan Fu/Cai saat mengembalikan bola membuat jarak poin semakin jauh dan memasuki angka kritis 17-11. Netting tipis Fu sempat menambah perolehan poin Cina sebelum akhirnya smash di daerah baseline dan net silang yang dilakukan oleh Markis tidak mampu dikembalikan dengan sempurna oleh pasangan tuan rumah yang membuat harapan Indonesia meraih 3 poin beriring sekaligus mengantarkan keduanya pada ‘game point’ 20-12.

Sindrom angka kritis yang sebelumnya sempat melanda NoLyn kali ini juga menghinggapi KiNdra ketika 4 kali kesempatan untuk menutup set ini dibuang dengan kesalahan sendiri di depan net dan pengembalian yang terlalu melebar. Setelah kedua pasangan terlibat adu reli yang cukup panjang, penempatan bola silang Hendra di daerah yang kosong akhirnya menamatkan set ini 21-16 sekaligus memastikan emas pertama untuk kubu merah putih. Sang pelatih segera menjemput keduanya di tengah lapangan dan meluapkan ekspresi kegembiraan meraka dengan berpelukan erat.

Ketua KONI, Rita Subowo kembali diminta untuk menyerahkan medali yang kedua kalinya sebelum mengudaranya sang merah putih dan lagu Indonesia raya di arena Beijing University of Technology Gymnasium. Keduanya juga tampak sedikit grogi saat diminta berpose di depan kamera oleh para wartawan. “Kami senang bisa mempersembahkan medali emas pertama untuk Indonesia di Olimpiade Beijing. Ini hadiah untuk kemerdekaan Indonesia besok, juga hadiah yang manis untuk kami berdua, karena sama-sama lahir di bulan Agustus,” ujar Kido dalam konferensi pers setelah upacara pengalungan medali.

“China adalah tempat keberuntungan kami. Di sini kami dua kali juara China Open, 2006 dan 2007, dan di sini juga kami meraih emas Olimpiade. Kemenangan di China Open menambah rasa percaya diri kami saat bermain di sini,” tambah Kido. Saat ditanya mengenai target Olimpiade London 2012, Hendra menjawab lugas, “Itu masih jauh. Yang dekat dulu, kami belum pernah juara di All England, sekarang itu target utama kami.”

Di laga sebelumnya, duet Korea, Lee Jae Jin/Hwang Ji Man kembali menambah pebendaharaan medali perunggu untuk negaranya setelah kemarin Lee Hyo Jung/Lee Kyung Won berhasil menyumbang perak di nomor ganda putri. Satu-satunya harapan Denmark untuk meraih medali, Lars Paaske/Jonas Rasmussen sempat unggul 21-13 dengan memperlihatkan penguasaan dan pemenpatan bola yang akurat di set pertama. Setelah kejar mengejar angka di paruh awal set kedua dan unggul 15-11, Lee/Hwang berhasil memaksakan rubber set saat merebut set ini 21-18.

Meskipun penmapilan Lee Jae Jin tidak sebaik sehari sebelumnya, usia ganda Korea yang lebih muda dan permainan mereka yang lebih agresif terus berlanjut di set penentuan. Keberanian mereka dalam mengolah bola di depan net juga menjadi senjata ampuh untuk mengumpulkan poin demi poin. Meski sempat terlibat pertarungan ketat paska jeda interval 11-4, keunggulan negeri ginseng tak tergoyahkan hingga akhir set. Skor 16-10, 19-14 dan 20-16 akhirnya ditutup dengan meyakinkan oleh Lee/Hwang, 21-12.

Ferry Irawan, Jurnalis Bulutangkis.com

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: