Bulutangkismania's Weblog

September 1, 2008

Indonesia Challenge ’08 : Kompilasi Artikel Bagian 3

Filed under: Turnamen — bulutangkismania @ 11:05 am

[ Senin, 01 September 2008 ]
Target Menuju Titel Gold
SURABAYA – Turnamen Gudang Garam Jawa Pos Indonesia
Challenge (GGJPIC) 2008 dinilai sangat sukses oleh banyak
pihak. Baik dari segi prestasi maupun penyelenggaraan.
Apalagi, Indonesia memborong empat di antara lima gelar
juara yang tersedia. Tuan rumah hanya kecolongan di sektor
tunggal wanita.

Sementara dari segi penyelenggaraan, gebyar even itu
semakin terdengar, meski beberapa masalah sempat mengancam
kelangsungan turnamen. Jumlah peserta meningkat pesat
hingga mencapai level 1.840 orang. Awalnya, 15 negara
memastikan hadir, tapi kemudian Malaysia dan Kanada
mengundurkan diri.

Namun, mundurnya dua negara itu tidak mengurangi mutu
turnamen. ”Jika dilihat dari ranking dunia para
pesertanya, tahun ini sudah meningkat. Ada yang peringkat
50-an dunia. Bahkan, banyak juga yang ada di kisaran
30-an, seperti Maria Elfira Christina dari Djarum,” urai
Ketua Bidang Organisasi dan Pengembangan Daerah PB PBSI
Jacob Rusdianto kemarin (31/8).

Hal itu, lanjut Jacob, tentu menjadi keuntungan bagi tuan
rumah. Baik Indonesia maupun Jawa Timur yang menjadi venue
even tahunan tersebut.

”Indonesia bisa belajar banyak dari pemain Asia lain.
Karena buktinya, meski peringkat pemain Korea Selatan yang
dikirim ke Indonesia lebih rendah, mereka berhasil mencuri
satu gelar juga,” ucapnya.

Karena itu, dia percaya bahwa kualitas even tersebut tahun
depan lebih meningkat. Jacob berencana menaikkan titel
turnamen menjadi gold, yaitu satu kelas di atas challenge.
Untuk mencapai level itu, penyelenggara harus menyediakan
hadiah total minimal USD 50 ribu.

”Kedengarannya memang berat. Tapi, jika terlaksana, bakal
bagus sekali efeknya bagi bulu tangkis Indonesia,” ucap
Jacob.

Dia menambahkan, naik kelas berarti nilai poin yang
disediakan juga meningkat. ”Dengan begitu, akan lebih
banyak pemain top yang tertarik bermain di sini, termasuk
yang peringkat 10 besar dunia,” imbuh pria yang juga ketua
umum Pengprov PBSI Jatim itu.

Soal hadiah, dia yakin even tersebut tidak akan kekurangan
sponsor. Buktinya, penyelenggaraan terakhir lalu sangat
memuaskan mereka. (na/diq)

[ Minggu, 31 Agustus 2008 ]
Gagal Sapu Bersih Gelar
Tunggal Wanita Lepas ke Korsel

SURABAYA – Indonesia masih menjadi kiblat bulu tangkis
dunia. Itu dibuktikan tadi malam (30/8).

Perhelatan Gudang Garam Jawa Pos Indonesia Challenge
(GGJPIC) tahun ini benar-benar menjadi pesta pemain tuan
rumah. Dalam partai final yang dihelat di GOR Sudirman
itu, pasukan Merah Putih merebut 4 gelar juara. Satu gelar
dari tunggal wanita direbut Korea Selatan.

Sektor ganda campuran yang diwakili Fran Kurniawan/Shendy
Puspa Irawati menjadi penyumbang gelar pertama tuan rumah.
Pasangan yang diunggulkan di tempat pertama tersebut
menang mudah atas pasangan Singapura Triyachart Chayut/Yao
Lei dengan straight game 21-16, 21-13.

Andre Kurniawan Tedjono melanjutkan pesta kontingen Merah
Putih. Melawan kompatriotnya, Ari Yuli Wahyu Hartanto,
unggulan pertama itu tanpa kesulitan menang 21-13, 21-16
dalam waktu relatif pendek.

”Kuncinya main rileks, itu saja,” ungkap Andre yang
ditemui setelah pertandingan.

Memang, sepanjang laga, pemuda kelahiran Magelang, Jateng,
itu terlihat lebih tenang daripada Ari. Smesnya yang tajam
selalu tepat sasaran. Rupanya, dia belajar dari kesalahan
di perempat final. Saat itu, melawan pemain nonunggulan
Shin Baek Cheol (Korsel), dia harus memeras keringat
selama tiga game.

Sebaliknya, sang lawan terlihat emosional. Karena begitu
bernafsu mengalahkan rekannya di PB Djarum Kudus tersebut,
unggulan keempat itu malah sering membuat kesalahan
sendiri.

”Dia tadi tergesa-gesa, sering mati sendiri. Saya tinggal
memanfaatkan kelemahan itu,” lanjut pemain yang sudah dua
kali bergabung di pelatnas tersebut.

Sayang sekali, Indonesia kecolongan di nomor tunggal
wanita. Rosaria Yusfin Pungkasari terpaksa bertekuk lutut
di tangan andalan Korea Selatan Bae Youn Joo dua game
langsung, 18-21, 21-23. Dukungan penonton yang memadati
GOR Sudirman tidak mampu menyelamatkan gadis 21 tahun itu
dari kekalahan.

Sebenarnya, kekuatan keduanya cukup seimbang. Bahkan, di
awal game pertama, dia memimpin jauh 13-7. Namun, karena
sering salah perhitungan, Bae menyusul dan akhirnya
melampaui poin Rosaria.

”Saya kurang tenang tadi,” ujar Rosaria.

Seharusnya, lanjut pemain binaan PB Djarum tersebut,
dirinya merebut game kedua jika bisa mengubah strategi.
”Mestinya dari servis sudah saya perbaiki. Tapi, mental
saya justru drop di poin-poin kritis. Akibatnya, waktu
terjadi dua kali deuce, saya malah kalah,” urainya.

Sementara itu, Bae menyatakan sangat gembira karena bisa
merebut juara di Indonesia. Apalagi, lawan yang
dikalahkannya adalah wakil tuan rumah. ”Mungkin ini
hadiah atas kerja keras saya. Saya memang mempersiapkan
diri secara khusus untuk turnamen ini,” jelasnya dalam
bahasa Korea.

Beruntung, tuan rumah bisa menambah koleksi gelar melalui
ganda pria. Pada pertandingan yang mempertemukan sesama
pasangan Indonesia itu, Rendra Wijaya/Frank Kurniawan
mengalahkan Wifqi Indarto/Afiat Yuris Wirawan melalui
straight game 21-18, 21-13.

Pasangan yang bernaung di PB Djarum itu benar-benar
menunjukkan kelas mereka sebagai unggulan pertama.
Permainan yang matang dan penuh perhitungan membuat mereka
tanpa kesulitan mencundangi pasangan pelatnas.

”Kami hanya main lepas. Tapi, justru itu bisa
mengendalikan laju bola,” jelas Afiat.

Shendy Puspita Irawati/Meiliana Jauhari menutup pesta tuan
rumah dengan kemenangan straight game atas pasangan
Singapura Yao Lei/ Shinta Mulia Sari. Unggulan pertama itu
mengalahkan pasangan yang diunggulkan di tempat kedua
dengan 21-14, 21-18. (na/diq)

[ Minggu, 31 Agustus 2008 ]
Taruna Milik Para Unggulan
PARA pebulu tangkis unggulan akhirnya menjadi penguasa
Sirnas Gudang Garam Jawa Pos (GGJP) 2008. Pada hari
terakhir even yang dihelat di GOR Sudirman, Surabaya,
kemarin (30/8), mereka mendominasi titel juara kategori
taruna, pemula, dan remaja yang dipertandingkan.

Di nomor tunggal pria taruna, Ary Trisnanto yang menjadi
unggulan utama mengandaskan perlawanan unggulan kesembilan
Alrie Guna Dharma asal Mutiara Bandung.

Ary yang ditempa di klub Tangkas Alfamart Jakarta menang
dengan skor 21-18, 21-17.

“Lawan sebenarnya sangat bagus. Dia sangat agresif dan
punya smes keras,” ungkap pebulu tangkis kelahiran Jakarta
23 Januari 1991 itu.

Kemenangan tersebut sekaligus membuat Ary sudah unggul dua
kali dari tiga kali bentrok lawan Alrie. “Saya terakhir
kalah dari Alrie Juni lalu di Bandung,” papar pebulu
tangkis yang bertekad masuk pelatnas tahun depan itu.

Sedangkan di sektor wanita, unggulan ketiga Renna Suwarno
membungkam unggulan ketiga Ana Rovita dari Djarum. Pemain
asal Jaya Raya Jakarta tersebut menundukkan Ana dengan
rubber game 21-10, 17-21, 21-19.

Ketatnya poin itu menunjukkan bahwa partai tersebut
berjalan alot. Renna harus bermandi keringat sebelum
memastikan kemenangan dalam genggaman. Bahkan, pada game
ketiga, pebulu tangkis berumur 16 tahun itu sudah terlihat
sangat lelah karena staminanya terkuras.

“Memang, tenaga saya sudah habis. Tapi, saya terus paksa
dengan keyakinan untuk menang,” papar siswi kelas X SMA
Ragunan tersebut.

Di sektor ganda, PB Djarum menyapu bersih. Sigit Budiarto,
pelatih ganda Djarum, menyatakan sangat bangga dengan
prestasi yang ditorehkan para pebulu tangkis yang
dipolesnya.

“Dari awal saya yakin Djarum bisa mendominasi, terutama di
nomor ganda yang saya latih,” kata mantan pebulu tangkis
nasional tersebut.(nar/ man/diq)

[ Minggu, 31 Agustus 2008 ]
Diantar Istri, Pulang Bawa Motor
BUKAN hanya pemenang turnamen yang merasakan kebahagiaan
luar biasa. Penonton pun ikut bergembira.

Itu terjadi berkat guyuran door prize dari Jawa Pos,
Indocock, Reinforce Speed, dan AIM Biscuit sebagai
sponsor. Puncaknya, satu unit Honda Revo “dilempar” kepada
seorang penggemar bulu tangkis yang menonton final di GOR
Sudirman, Surabaya, tadi malam (30/8).

Anton Cahyono adalah penonton beruntung yang merebut
sepeda motor gres itu. Dia ketiban sampur karena beberapa
pemilik nomor undian yang disebut sebelumnya tidak muncul.

Warga Wisma Permai Barat tersebut mengaku tidak menyangka
bisa pulang membawa motor baru. Sebab, dia datang ke GOR
dengan diantar sang istri. Itu pun hanya didrop. Dia hanya
minta dijemput sekitar pukul 21.00 WIB.

“Eh, malah dapat motor,” ucapnya riang.

Dia menyatakan tidak punya firasat apa-apa. Sebab, sejak
awal dia hanya berniat menonton olahraga favoritnya. Pria
50 tahun itu memang suka bulu tangkis.

Hampir tiap hari dia bermain tepok bulu bersama
rekan-rekannya. “Saya pikir, mumpung malam Minggu, saya
sempatkan menonton ke GOR,” tuturnya.

Padahal, kemarin-kemarin juga dia tidak menonton. “Sekali
menonton, dapat door prize. Mungkin lagi rezeki,” ucapnya
sambil tersenyum tak henti-henti. (na/diq)

[ Minggu, 31 Agustus 2008 ]
Singapura, Tim Asing dengan Anggota Terbanyak GGJPIC 2008
Sempatkan Wisata Kuliner Keliling Surabaya

Singapura tercatat sebagai tim asing dengan anggota
terbanyak pada Gudang Garam Jawa Pos Indonesia Challenge
(GGJPIC) 2008. Mereka berkekuatan 18 pemain dengan tiga
pelatih.

M. DINARSA KURNIAWAN, Surabaya

PRASETYO Restu Basuki santai mengamati deretan kerajinan
Bali yang dipajang di lobi Hotel Garden, Surabaya. Pria
berusia 26 tahun tersebut sesekali menyentuh atau
mengamati lebih dekat patung-patung khas Pulau Dewata yang
keelokannya sudah tersohor itu.

Pria yang akrab disapa Pras tersebut adalah salah seorang
pelatih tim Singapura yang diterjunkan pada GGJPIC 2008.
Dia menyempatkan diri melihat pameran kerajinan dan
kesenian Bali itu di sela waktu luangnya melatih.

“Saya melihat-lihat pameran tersebut karena memang lagi
lowong. Lagi pula, kami menginap di sini (Hotel Garden,
Red.),” paparnya saat ditemui kemarin (30/8).

Pras memang bisa agak bersantai kemarin siang. Sebab,
Singapura meloloskan dua pasang ganda pada even bintang
tiga itu. Di antaranya, Yao Lei yang berduet dengan Sari
Shinta Mulia. Juga, Triyachart Chayut berpasangan dengan
Yao Lei di ganda campuran yang baru berlaga tadi malam.

Dia menyatakan, meskipun tim asal Negeri Singa itu datang
menyandang status sebagai tim asing dengan skuad terbesar,
pencapaian dua final tersebut sudah cukup memuaskan.
Alasannya, sebagian besar pebulu tangkis yang mereka
boyong adalah pelapis, sedangkan sebagian lainnya masih
berstatus junior. Mereka semua adalah anggota pelatnas di
negara kota tersebut.

Menurut pria asli Karawang, Jabar, tersebut, Singapore
Badminton Association (SBA), asosiasi bulu tangkis
Singapura, memberangkatkan banyak pebulu tangkis dengan
tujuan memberikan pengalaman kepada atlet pelapis dan
junior.

“Selain itu, hasil di GGJPIC bisa dijadikan evaluasi bagi
pemain yang diterjunkan, ” terang penghuni Pelatnas
Cipayung 2002-2004 tersebut.

“Nah, setelah dievaluasi, pemain yang bagus bisa diikutkan
pada even yang lebih tinggi levelnya,” lanjut pelatih
kelahiran 14 Mei 1982 tersebut.

Namun, bukan hasil GGJPIC saja yang dijadikan ukuran.
Mereka juga diterjunkan pada even-even lain. Setelah itu,
juga ada evaluasi.

Pras mencotohkan, Juni lalu Singapura juga mengirimkan
banyak pebulu tangkis pada Thailand Terbuka. Dia mengakui,
secara internasional prestasi bulu tangkis Singapura
memang tak segemerlap negara-negara tetangganya, seperti
Indonesia dan Malaysia.

Karena itu, SBA menggenjot atletnya agar terus menangguk
kemajuan. Selain membangun pelatnas beserta fasilitas
pendukung dan mengirim mereka ke berbagai even, Pras
menuturkan bahwa SBA merekrut banyak pelatih asing, di
antaranya dari Indonesia. Selain dia, masih ada dua
pelatih Indonesia lain yang menularkan ilmu di Singapura.
Yaitu, mantan pemain pelatnas Jeffer Rosobin dan mantan
pebulu tangkis ganda nasional Eng Hian.

Pras menuturkan sudah dua tahun terakhir menetap sebagai
pelatih di Singapura. “Bulan depan, saya genap dua tahun
jadi pelatih pelatnas Singapura,” ungkapnya.

Sementara itu, mengenai GGJPIC 2008, Pras menyatakan bahwa
para pebulu tangkis sangat menikmati aroma kompetisi yang
tersaji pada even akbar tersebut. Selain itu, mereka
senang dengan atmosfer Kota Pahlawan.

Apalagi, mereka memiliki Jeffer yang sebelumnya menetap di
Surabaya sebagai pemandu. Jadi, atlet-atlet asing itu tak
bakal tersesat dan selalu mendapatkan yang terbaik.

Dia menambahkan, para anak asuhnya sangat tergila-gila
dengan masakan lokal, seperti bebek goreng dan rawon. Itu
terjadi setelah Jeffer mengajak para pemain didikannya
melakukan wisata kuliner keliling kota.

“Anak-anak diajak makan bebek goreng. Karena belum puas,
mereka beli lagi untuk dimakan di hotel. Ada sebagian di
antara mereka yang berniat membawa pulang bebek goreng ke
Singapura,” ucapnya.

“Sesudah semifinal, mereka juga kami ajak ke Rawon Setan
di Jalan Embong Malang. Sama seperti bebek, mereka juga
sangat menyukainya, ” terangnya. (diq)

[ Minggu, 31 Agustus 2008 ]
Menyesal Tak Bisa Juara
SEJAK babak pertama, penampilan unggulan kedua ganda
wanita Sintha Mulia Sari/Yao Lei cukup meyakinkan.
Pasangan yang membela Singapura itu melaju mulus ke final
setelah melewati rintangan dari pasangan Indonesia, Korea,
hingga Taipei. Sayang, akhirnya mereka kandas di tangan
pasangan tuan rumah yang diunggulkan di tempat pertama,
Shendy Puspa Irawati/Meiliana Jauhari.

Bagaimanapun, keduanya sudah berusaha keras. Terutama,
Sari yang memiliki beban ganda. Sebagai pemain kelahiran
Indonesia, dia merasa tentu ada rikuhnya dengan melawan
teman senegara. “Melawan pemain tanah air selalu sulit.
Saya cukup menyesal (bisa kalah, Red),” ucapnya.

Sari pantas menyesal. Sebab, dia merasa sudah
mempersiapkan diri secara khusus demi menghadapi turnamen
bertitel challenge tersebut. Sehari, dia melahap porsi
latihan selama 5,5 jam. Tiga jam di pagi hari, sisanya
saat sore hari.

“Latihan itu dilakukan setiap hari, kecuali Minggu. Tidak
ada istirahat,” jelas gadis asal Klaten tersebut.

Selain itu, dia pernah berharap bermain di negeri tetangga
bisa mendongkrak peringkat dunianya.

“Ternyata, ujung-ujungnya masih kalah saja sama anak
Indonesia,” terangnya.

Sari menuturkan ditawari seleksi di Singapura pada 2003.
Karena kedua kakaknya sudah bermain di sana, dia mau saja.
“Ternyata, hasilnya bagus dan saya diterima,” kata adik
pemain ganda pria yang juga saudara kembar Hendry
Saputra/Wandri Saputra itu.

Namun, sebagai pemain yang masih belia, jalan karirnya
masih panjang. Dia berencana mengikuti sebanyak-banyaknya
turnamen internasional untuk menaikkan peringkat sekaligus
meningkatkan prestasi. “Latihan lebih keras dan memperkuat
mental adalah kunci semuanya. Kalau teknik lebih baik tapi
mental jeblok, sama saja bohong,” ucapnya. (na/ko)

Data Diri

Nama: Sintha Mulia Sari

Lahir: Klaten, 14 Juni 1988

Pegangan: Kanan

Postur: 163 cm/57 kg

Pemain favorit: Vita Marissa/Liliana Natsir

SUmber : Jawapos.co.id

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: