Bulutangkismania's Weblog

Januari 18, 2009

Results Semifinal Korea SS ’09 : Merah Putih Tak Bersisa, Dominasi Pemain Ganda Korea

Filed under: Turnamen — bulutangkismania @ 8:23 am

Kubu merah putih akhirnya harus puas pulang tanpa membawa gelar setelah semua wakil Indonesia gagal menempatkan diri ke babak final. Satu-satunya wakil Indonesia yang lolos ke semifinal, Simon Santoso akhirnya memberikan kemenangan untuk lawan bertandingnya, Peter Gade karena demam tinggi yang disertai dengan sakit kepala setelah menyelesaikan babak perempatfinal pada pertandingan Jumat malam (16/1). Sedangkan Lee Yong Dae dan Lee Hyo Jung berhasil menjadi bintang lapangan dan membuka peluang 3 gelar untuk tuan rumah.

Ganda Putra, Selangkah Menuju Gelar Kedua

The Golden Boy, Lee Yong Dae kembali berhasil menunjukkan performa spektekulernya dihadapan publik sendiri pada babak empat besar turnamen Korea SS saat ditantang oleh unggulan ke-3 asal Denmark, Lars Paaske/Jonas Rasmussen. Berpasangan bersama Jung Jae Sung, keduanya langsung mendapatkan sambutan hangat dari para pecinta bulutangkis tuan rumah yang memenuhi The 2nd Olympic Stadium tadi sore (17/1).

Bermain di bawah suhu 15 derajarat celcius ternyata bukan hambatan besar bagi Jung/Lee (2) untuk tampil maksimal meskipun keduanya baru saja mengikuti turnamen Malaysia SS pekan sebelumnya. Permainan defensive dan atraktif antara keduanya kembali menjadi kunci kemenangan untuk mendapatkan tiket ke babak final. Permainan bola-bola cepat di depan net sudah disajikan antara kedua pasangan sejak awal set pertama. Setelah terlibat kejar mengejar angka hingga kedudukan 3-3, Jung/Lee mampu merebut 8 poin beruntun dari beberapa kesalahan pengembalian Jonas Rasmussen yang gagal melewati net dan tekanan bola-bola drive cepat di depan net.

Lars/Jonas sempat memperkecil ketertinggalan mereka menjadi 6-12, 7-13 dan 8-14 setelah jeda interval ketika Jonas mampu memperkecil kesalahan sendiri yang dilakukannya dan berbalik menekan Jung/Lee dengan penempatan bola-bola sulit dan akhirnya menciptakan kesempatan untuk melakukan serangan . Di titik ini, Jung/Lee kembali meningkat kan tempo serangan lewat bola-bola pendek di depan net dan smash keras di bagian baseline yang gagal dikembalikan dengan sempurna. Lima poin beruntun yang dikumpulkan pasangan Korea mengantarkan keduanya pada titik kritis 19-8.

Dua smash yang masing-masing dilakukan oleh Jung Jae Sung dan Lee Yong Dae yang terlalu melebar ke belakang dan serobotan Jonas di depan net sempat menambah 3 angka bagi Denmark menjadi 11-19. Dua kesalahan dari smash Lars yang terlalu melebar di belakang dan penempatan bola Jonas yang keluar dari beseline membuat Jung/Lee menutup set ini dengan kemenangan 21-11.

Memasuki set kedua, keadaan tidak terlalu banyak berubah. Bahkan Jung/Lee yang mulai ‘in’ dengan permainannya mampu mengontrol sepenuhnya jalannya pertandingan. Reli-reli panjang antara kedua pasangan sempat terjadi di awal set sebelum akhirnya diakhiri dengan eror yang dilakukan oleh pasangan Denmark. Permainan cepat ganda Korea yang diikuti oleh aksi serobot Yong Dae di depan net membuat keduanya langsung memimpin 6-2 dan 8-4. Dua kesalahan Jonas yang menyebabkan bola gagal melewati net dan pengembalian melebar dari Lars serta penempatan drop shot Yong Dae di depan net membuat Jung/Lee unggul jauh 13-4.

Duo Denmark sempat menambah dua angka dan mengubah kedudukan menjadi 6-14 dari kegagalan pengembalian Yong Dae dan serobotan Lars di depan net. Namun dua kesalahan beruntun dari bola out Jonas dan Lars, pengembalian tanggung Lars yang diakhiri dengan smash keras Lee Yong Dae serta serobotan cepat Jae Sung di depan net memudahkan Korea untuk melewati angka kritis 19-6. Kegigihan Yong Dae kembali teruji di titik ini saat dalam kondisi terjatuh, dirinya masih mampu menempatkan bola dengan akurat di sudut kiri belakang lapangan pasangan Denmark sehingga mencapai ‘match point’ 20-6. Tiket final keduanya sempat tertunda saat pengembalian tanggung pasangan Korea berhasil di selesaikan dengan baik oleh Jonas namun pengembalian bola Lars yang melebar di belakang garis akhirnya menutup set ini dengan kemenangan telak pasangan negeri ginseng, 21-7.

“Ini bukan hari yang baik untuk kita” tutut Jonas Rasmussen saat diwawancarai oleh saya usai pertandingan. “Kita selalu menang di tiga pertemuan sebelumnya, namun kali ini kita sedang tidak dalam kondisi yang bagus”, lanjutnya. “Lars sejak tadi malam mengalami demam bahkan kita sempat memutuskan untuk mundur dari pertandingan”. Suhu Korea yang tidak bersahabat sejak hari pertama turnamen ini digelar ternyata tidak hanya menjadi masalah untuk para atlet tropis seperti Indonesia, Malaysia dan Thailand namun juga cukup berpengaruh terhadap para wakil Eropa meskipun mereka sudah terbiasa melewati musim dingin.

Saat ditanya mengenai info yang menyatakan bahwa keduanya akan gantung raket dalam waktu dekat, peraih perunggu Olimpiade Athena 2004 bersama Rike Olsen ini kembali tersenyum lebar seraya berujar “Usia saya masih cukup muda. Lars mungkin akan mundur tapi saya tetap akan melanjutkan bermain bulutangkis bersama para atlet Denmark yang berada di bawah saya”.

Meskipun gagal menempatkan wakil terbaiknya di partai puncak, Denmark masih menggantungkan harapannya kepada unggulan ke-4, Mathias Boe/Carsten Mogensen. Pada laga pamungkas babak semifinal tadi sore, keduanya mengandaskan impian tandem Taiwan, Fang Chieh Min/Lee Sheng Mu, dua set langsung dalam tempo 32 menit. Unggul dengan permainan taktis dan penempatan bola-bola akurat di depan net, Mathias/Carsten yang sempat memperlambat tempo di babak kedua mampu diiringi oleh pasangan yang sempat menghempas dua jagoan Asia Tenggara, Markis/Kido dan Tan Fook/Wan Wah ini. Kejar mengejar angka berlangsung dari awal set kedua hingga keduduakn 8 sama. Beruntung koordinasi antara keduanya kembali solid di titik ini dan unggul jauh 14-9, 18-12 sebelum menutup set ini 21-14 setelah di set sebelumnya juga mencatat kejayaan 21-16.

Ganda Putri, Duo Lee Langkahi Yang/Zhang

Prestasi gemilang sektor putra ternyata berhasil diikuti oleh tandem putri terbaik tuan rumah, Lee Hyo Jung/Lee Kyung Won (2). Dalam pertemuan untuk kedua kalinya di tahun ini menghadapi duo China, Yang Wei/Zhang Jiewen (3), duo Lee kembali mencatat sukses dengan menaklukkan peraih emas Olimpiade Athena 2004 tersebut dalam pertarungan 3 set.

Solidnya pertahanan Hyo Jung dan Kyung Won kembali menjadi kunci kesuksesan keduanya. Smash-smash keras Lee Kyung Won menjadi senjata ampuh untuk meraih poin demi poin. Namun meskipun reli-reli panjang sering terjadi dan pasangan Korea selalu mampu mengembalikan bola-bola dengan sempurna, kesalahan sendiri dari Lee Hyo Jung dan beberapa servis ‘out’ yang dilakukan Lee Kyung Won membuat Yang/Zhang dengan cepat mengimbangi perolehan angka pasangan Korea. Setelah terlibat kejar mengejar dari awal set hingga kedudukan 7-7, duo Lee akhirnya melaju sempurna dengan 7 poin beruntun dari kesalahan bruntun dari pengmbalian Yang Wei dan penempatan bola-bola akurat Lee Hyo Jung di depan net.

Defense yang sempurna dari pasangan Korea membuat Yang/Zhang tak mampu berbuat banyak akhirnya berujung pada kesalahan sendiri. Keunggulan duo Lee, 16-10 dan 17-12 berlanjut saat Lee Kyung Won tampil berani di depan net. Beberapa poin yang dikumpulkan oleh Lee Hyo Jung dan Zhang Jiewen sebagian besar diperoleh dari kemampuan mereka mengolah bola-bola pendek setelah kedua pasangan terlibat reli-reli panjang, Ganda China sempat memperkecil ketertinggalan mereka menjadi 15-18 saat Lee Hyo Jung melakukan kesalahan beruntun dari servis dan pengembalian serta smash Yang/Zhang di bagian lapangan yang kosong.

Penempatan bola Lee Hyo Jung di depan net akhirnya mengantarkan Korea pada angka kritis 19-15. Yang Wei sempat meningkatkan intensitas serangan lewat bola-bola drop shot tajamnya namun kesalahan pengembalian yang melebar mengubah kedudukan ‘match point’ 20-15. Adu reli yang cukup lama dan diakhiri oleh bola ‘out’ Hyo Jung menambah 1 angka untuk China. Kesalahan ini segera berhasil ditebus olehnya dengan smash keras yang gagal dikembalikan Yang Wei menyudahi set ini 21-16.

Perubahan tempo permainan yang membuat pasangan Korea mengendorkan serangannya ternyata berakibat fatal di set kedua. Yang/Zhang langsung unggul 5-1, 7-3 dan 9-4 dari kesalahan Lee Hyo Jung di depan net. Penempatan dan serobotan bola Hyo Jung di depan net serta pukulan ‘upperhand’ Yang Wei yang gagal melewati net memperkecil selisih poin pasangan Korea 7-9, 9-11 dan 11-12. Di titik inilah China mendapatkan momentum kebangkitan mereka dengan meraih 7 poin beruntun 18-12 dari serangan demi serangan yang mampu memecah kekuatan ganda Korea khususnya bola-bola di bagian belakang lapangan.

Meski sempat memaku Yang/Zhang di angka 19 dan meraih 4 poin berturut-turut dari penempatan bola yang akurat dari serangan duo Lee dan kesalahan sendiri Zhang Jiewen, harmonisasi ini ternyata gagal mencegah China meraih ‘match point’ 20-16 ketika Hyo Jung ragu-ragu mengembalikan bola dan akhirnya diselesaikan dengan baik oleh Zhang Jiewen. Serobotan Hyo Jung di depan net sempat menambah dua angka kembali untuk Korea sebelum servis Hyo Jung yang gagal melewati net dan menutup set ini 18-21.

Set ketiga menjadi sepenuhnya milik Korea ketika duo Lee mampu bermain lebih rapi dan meningkatkan agresivitas serangan mereka. Unggul 4-2 dan 8-4 dari serobotan Hyo Jung dan penempatan bola di bagian belakang lapangan, China kembali dibuat tak berkutik saat bola-bola Yang/Zhang banyak yang mati sendiri. Bahkan emosi semuanya sempat tak terkontrol ketika bola-bola tanggung yang seharusnya mampu diselesaikan dengan sabar ternyata berbalik menjadi boomerang bagi keduanya. Unggul 10-6, duo Lee meluncur jauh 15-6 dari bola-bola drop shot Hyo Jung di bagian belakang dan serobotannya atas bola-bola tanggun Yang Wei dan Zhang Jiewen.

Dua pengembalian eror yang dilakukan oleh Hyo Jung dibalas oleh tiga bola pengembalian dari Yang/Zhang yang tidak sempurna sebelum akhirnya smash Zhang Jiewen di bagian baseline mengubah kedudukan 17-9. Kesalahan pengembalian Zhang Jiewen dan penempatan bola di depan net Lee Hyo Jung makin membuat duo Lee meluncur 19-9 sebelum menyentuh ‘match point’ 20-10 saat ‘upperhand smash’ Zhang Jiewen gagal melewati net untuk yang kesekian kalinya. Pasangan China yang sudah kehilangan rasa percaya diri sejak awal set akhirnya kembali melakukan kesalahan sendiri dan gagal mengembalikan bola di depan net yang kali ini dilakukan oleh Yang Wei sekaligus memastikan kemenangan tandem tuan rumah, 21-10.

Di babak final besok (18/1), pasangan peraih perak Olimpiade Beijing 2008 ini akan ditantang oleh duet ‘lawas’ asal Taiwan, Chien Yu Chin/Cheng Wen Hsing (1). Meski sempat mendapat perlawanan ketat dari duo tirai bamboo, Gao Ling/Wei Yili (5) di paruh awal set pertama dan sepanjang set kedua, Chien/Cheng mampu meredam keduanya di akhir set, 21-15, 21-17. Selain unggul dari segi serangan, pasangan Taiwan juga mempunyai pertahanan yang cukup sulit untuk dipatahkan.

Ganda Campuran, Songphon/Kunchala Bukukan Sejarah

Meskipun sejarah untuk pertamakalinya melangkah ke babak final super series sudah diukir sebelumnya oleh senior mereka, Sudket/Saralee, Namun penampilan Songphon/Kunchala (4) kali ini cukup spektakuler karena selain mampu menjungkalkan peraih gelar Denmark SS 2008, Joachim/Christinna di babak sebelumnya keduanya juga menunjukkan konsistensi yang lebih baik dari Diju/Jwala (India) yang di babak sebelumnya menekuk peraih perak Olimpiade Beijing 2008, Nova/Lily.

Meskipun Songphon/Kunchala sempat menguasai jalannya pertandingan di paruh awal set kedua, pertandingan antara kedua pasangan ini bisa dikatakan berimbang karena mereka mampu memanfaatkan kelemahan dari masing-masing lawan. Tandem Thailand yang unggul dari sisi tehnis ternyata gagal bermain rapi khususnya Songphon saat mengembalikan bola-bola dari Diju dan Jwala. Selisih 1-2 poin antara kedua pasangan berlangsung dari awal set hingga kedudukan 9-8 untuk Songphon/Kunchala. Penampilan taktis Jwala di depan net dan smash-smash kerasnya ternyata mampu mengimbangi bola-bola sulit dari pasangan Thailand.

Beberapa kali Songphon gagal mengembalikan bola dengan benar. Namun bola silang dari Kunchala dan penempatan akurat di bagian belakang lapangan membuat keduanya unggul 11-8 di paruh awal set pertama. Penempatan bola-bola yang sulit dikembalikan ternyata harus diikuti dengan kesalahan sendiri yang juga dilakukan oleh masing-masing pemain khususnya Jwala dan Songphon sehingga kejar mengejar angka kembali terjadi hingga kedudukan 18 sama. Kesempatan emas untuk memimpin ternyata gagal dimanfaatkan dengan baik oleh Jwala karena terburu-buru dan pengembaliannya gagal melewati net. Penempatan bola Songphon di area baseline mengantarkan Thailand pada ‘match point’ 20-18 namun keadaan kembali menegangkan saat Songphon melakukan kesalahan sendiri dan pukulannya gagal melewati net. Beruntung di akhir set pengembalian Diju terlalu melebar, 21-19.

Dominasi Thailand kembali teruji di set kedua. Bahkan kemenangan keduanya akan lebih lancara jika tidak banyak melakukan kesalahan sendiri. Sempat memimpin 4-1 dan 5-2 keduanya mampu terkejar di angka 6 ketika keduanya melakukan beberapa kesalahan dan posisi Jwala di depan net cukup ampuh merepotkan pertahanan duo Thailand. Namun mereka kembali unggul jauh 11-6 saat jeda interval ketika aksi Kunchala di depan net tidak mampu diredam oleh pasangan India. Jwala juga sempat mengajukan protes saat smashnya di bagian baseline dianggap ‘out’ oleh hakim garis.

Unggul jauh 13-8 dan 15-10 dari aksi Kunchala ternyata sempat diimbangi dengan baik oleh Jwala yang siap memblok bola di depan net dan melakukan serangan balik. Bahkan poin kembali setara di titik 15 saat Songphon dan Kunchala kembali melakukan kesalahan di depan net sebaliknya aksi Jwala dan smash-smash Diju semakin intens mengobrak-abrik pertahanan duo Thailand. Keadaan berbalik saat Diju/Jwala mampu unggul 18-16 sebelum akhirnya Kunchala dan Songphon menyamakan kedudukan di angka 18. Bahkan tandem India sempat membuka peluang rubber set ketika mereka menyentuh angka 20-18 terlebih dahulu karena dua kesalahan beruntun dari pengembalian Songphon.

Sindrom ‘20’ yang melanda pasangan India ternyata memudahkan Songphon untuk melancarkan serangan demi serangan. Jwala yang gagal mengembalikan bola akhirnya menyamakan kedua pasangan pada angka 20. Songphon kembali menjadi pahlwana saat mampu membalik keadaan menjadi 21-20 dan akhirnya memastikan tiket final setelah netting yang dilakukan Jwala gagal melampaui net, 22-20.

Namun langkah ganda Thailand untuk membuat sejarah gelar super series pertama mereka di babak final besok (18/1) akan cukup berat karena peraih emas Olimpiade Beijing 2008, Lee Yong Dae/Lee Hyo Jung berhasil membuktikan konsistensi performanya pada turnamen kali ini dengan melaju ke babak final meskipun keduanya bermain rangkap di sektor masing-masing dan mencatatkan hasil yang serupa. Tak ada tanda-tanda kelelahan dari keduanya setelah bermain di nomor sebelumnya. Menantang harapan Hongkong, Yohan Hadikusumo/Chau Hoi Wah yang di laga sebelumnya membua kejutan dengan menumbangkan unggulan ke-3, Robert Blair/Imogen Bankier, duo Lee hanya membutuhkan waktu kurang dari 30 menit untuk menang dua set langsung.

Tertinggal 1-3 di awal set, duet Yohan/Chau mampu menyamakan kedudukan dan berbalik memimpin 6-3 dari beberapa kesalahan sendiri Lee Hyo Jung. Permainan cepat dan penempatan bola yang sulit dijangkau dari ganda Hongkong membuat keduanya kembali unggul 10-7 dan 11-9 saat jeda interval. Tekanan demi tekanan yang dilakukan Korea ternyata mampu dimbangi dengan baik oleh Yohan/Chau hingga kedudukan 14 sama. Beberapa kesalahan sendiri dari Yohan dan Chau karena tertekan oleh serangan duo Lee membuat Korea kembali unggul 18-14. Servis eror dari Hyo Jung dan smash Yong Dae mengubah kedudukan menjadi 19-15. Chau akhirnya menjadi kunci kekalahan Hongkong ketika tidak siap menerima pengembalian dari Korea dan akhirnya melakukan kesalahan sendiri, 21-16.

Pada set kedua dominasi Korea sudah sulit untuk dibendung. Meski sempat mengejar 4-6 dan 5-7 setelah tertinggal 0-5 dan 1-6 di awal set karena beberapa kesalahan dari Lee Hyo Jung, permainan atraktif pasangan Hongkong jauh berbeda dari set pertama. Sebaliknya Hyo Jung berhasil menjadi ‘playmaker’ di depan net meskipun beberapa kali juga sempat melakukan kesalahan sendiri. Memimpin dengan 13-5 dan 15-7, serobotan Hyo Jung dan smash Yong Dae berkali-kali menjadi kunci perolehan poin duo Lee meskipun beberapa diantaranya juga dihasilkan dari permainan tak rapi Yohan/Chau. Meluncur dengan 16-9 dan 17-10, Yong Dae sempat memberikan satu ‘poin gratis’ kepada duet Hongkong namun 4 kesalahan beruntun dari pengembalian Yohan dan Chau akhirnya menutup set ini untuk kemenangan harapan tuan rumah, 21-11.

Tunggal Putri, Final Sesama Eropa

Gelar tunggal putri akhirnya dipastikan akan melayang ke benua Eropa setelah dua utusan terbaiknya berhasil melenggang ke babak final. Sang ratu Eropa, Tine Rasmussen yang menempati unggulan ke-2 tanpa banyak kesulitan berhasil mengatasi wakil Hongkong, Wang Chen (3) dalam pertarungan dua set. Sedangkan Pi Hongyan juga menundukkan utusan Hongkong lainnya setelah melewati pertarungan ketat yang melelahkan selama satu jam.

Sejak awal set pertama, Tine yang pekan lalu menjuarai Malaysia SS langsung berhasil mendahului perolehan angka atas Wang Chen 7-2 dan 9-3. Permainan reli antara kedua pemain ini lebih banyak diakhiri oleh drop shot dan penempatan bola di depan net. Tidak seperti biasanya, permainan Wang Chen yang jauh di bawah performa standarnya memudahkan Tine untuk meraih poin demi poin. Meskipun sempat bangkit dan memberikan perlawanan hingga kedudukan 9-10, banyaknya ‘unforced error’ yang dilakukan oleh pemain ‘awet muda’ berusia 33 tahun ini membuat Tine langsung meraih 10 poin beruntun dan mencapai ‘match poin’ 20-9 sebelum menutup set ini 21-10.

Wang kembali membuka peluang dengan memberikan perlawanan di set kedua. Setelah terjadi kejar mengejar angka dan saling memimpin antara kedua pemain hingga kedudukan 5-5, dominasi Tine kembali tak terbantahkan dengan memimpin 8-5. Wang yang mencoba bermain lebih agresif berhasil mendekati perolehan angka Tine, 7-8 dan 8-9. Namun untuk kesekian kalinya Wang yang gagal mengembalikan bola dengan sempurna melewati net dan melebar dari lapangan pertandingan akhirnya kembali tertinggal jauh 8-12, 9-17 dan 10-19. Meski sempat menambah 1 angka di menit-menit kekalahannya, Tine akhirnya memastikan tiket finalnya dengan kemenangan 21-11.

Suasana duel yang berkebalikan justru terjadi di partai semifinal lainnya antara unggulan teratas, Zhou Mi yang mendapat perlawanan ketat dari mantan pemain China lainnya yang membela Perancis, Pi Hongyan (4). Di set pertama, Zhou sebenarnya sudah memapu mengatur ritme pertandingan dan mampu unggul atas Pi Hongyan. Memimpin dengan 5-2, 7-4 dan 12-8, Zhou selalu berhasil mengatasi perlawanan Pi dan melakukan serangan balik dengan drop shot dan smash kerasnya di area baseline.

Pengembalian bola-bola Pi yang gagal melewati net atau terlalu melebar juga memudahkan perolehan angka untuk Zhou Mi hingga kedudukan 15-11, 17-12 dan 18-13. Namun permainan ulet Pi ternyata justru membaik di poin-poin kritis set ini. Meminimalisir kesalahan sendiri, Pi yang tidak hanya mengandalkan drop shot dan smash tapi juga permainan net silang yang memukau ternyata mampu memperkecil selisih poin menjadi 17-18 dan 18-19. Strategi permainan Pi juga berubah dengan lebih banyak mengajak Zhou bermain di lapangan depan untuk kemudian melakukan penempatan bola di bagian belakang lapangan.

Mental juara yang sempurna tak menciutkan nyali Pi meskipun Zhou mendapatkan ‘match point’ lebih dulu 20-18 dari dorongan bola Pi ke bagian baseline setelah beradu di depan net yang ternyata melebar keluar. Penempatan bola di depan net dan pengembalian Zhou Mi yang tidak teliti sehingga menyebabkan bola keluar membuat kedudukan imbang 20-20. Keadaan berbalik menjadi keunggulan Pi setelah serbotannya di depan net gagal dikembalikan oleh Zhou. Meskipun Zhou sempat memberikan perlawanan dengan smash dan gagal dikembalikan oleh Pi yang menyetarakan kedudukan di angka 21, bola mengambang di atas net yang berhasil diselesaikan dengan sempurna oleh Pi dan drop shot tajam di depan net akhirnya mengakhiri laga menegangkan set pertama, 23-21.

Permainan tak rapi Pi di set kedua ternyata mampu memicu momentum kebangkitan tunggal terbaik dunia bebendera Hongkong tersebut. Bermain lebih agresif dan meminimalisir ‘unforced error’, Zhou langsung memimpin 7-2 dan 11-5 saat jeda interval. Pengamatan Pi yang kurang sempurna di bagian belakang lapangan juga mengalirkan poin demi poin untuk Zhou. Keunggulan pebulutangkis terbaik Hongkong tersebut terus berlanjut 13-6, 15-7 hingga memsuki poin kritis 18-11. Pi yang mengandalkan penempatan bola lob di bagian belakang lapangan sempat membuahkan beberapa angka namun serangan Zhou yang merepotkan Pi membuatnya sulit untuk mengontrol bola dan mendapatkan kesempatan untuk menyerang balik.

Net silang Pi dan pengembalian Zhou yang melebar mengubah kedudukan menjadi 13-18 sebelum Zhou memasuki angka kritis lebih dulu 19-13 dari drop shot di depan net. Dan untuk keduakalinya rasa percaya diri Zhou tiba-tiba pupus saat Pi mengumpulkan 6 angka beruntun dan menyamakan kedudukan 19-19 dimana 4 diantaranya dihasilkan dari eror yang dilakukan oleh Zhou sedangkan sisanya merupkan permainan atraktif Pi dalam menempatkan bola di area kosong depan net. Permainan net silang Pi yang tidak melewati dinding net membuka peluang kedua Zhou 20-19. Penempatan bola lob Pi di bagian belakang lapangan Zhou sempat mendapat ‘bad call’ dari hakim garis yang menyatakan bola masuk. Namun setelah Zhou yang melihat sendiri jatuhnya bola melakukan protes kepada wasit, ‘deuce’ akhirnya dibatalkan dan kemenangan set ini diberikan untuk Zhou Mi.

Di awal set ketiga, kedua pemain kembali terlibat kejar mengejar angka hingga kedudukan 4 sama. Meskipun Pi sempat memimpin 6-4 dan 7-5 namun Zhou berhasil menyamakan kedudukan kembali di angka 7 setelah masing-masing pemain yang mencoba menggali momentum serangan ternyata justru berujung pada kesalahan sendiri. Pi kembali unggul 10-7 dari penampatan bola di bagian depan net dan dua kesalahan Zhou yang menyebabkan bola keluar namun Zhou mampu menyeimbangkan angka di titik 10 ketika smash Pi di bagian sisi lapangan terlalu melebar, smash Zhou di daerah baseline gagal dikembalikan oleh Pi dan servis Zhou yang dikira out di bagian belakang lapangan ternyata mendarat mulus di dalam area baseline.

Pi kembali melaju 14-10 dan 17-11 ketika penempatan bola-bola di sisi lapangan yang kosong membuahkan poin demi poin selain dari pengembalian Zhou yang gagal melewati net. Zhou sempat menambah 1 angka dari pengembalian Pi yang tidak sempurna namun rasa percaya diri dan motivasi Zhou Mi yang menurun drastis akhirnya mengantarkan Pi pada 4 poin terakhir dengan berkali-kali melakukan agresi smashnya dan pengembalian ‘out’ di bagian belakang lapangan oleh Zhou Mi sebelum penempatan bola di area baseline menutup set ini, 21-12. Hasil ini memperpanjang rekor kemenangan Pi atas Zhou yang di 6 pertandingan sebelumnya, Pi hanya mampu memenangi dua diantaranya.

Tunggal Putra, Simon Sakit, Gade Tantang Choong Wei

Suhu udara yang kurang bersahabat ternyata berakibat cukup besar bagi para utusan Indonesia. Selain tidak mampu bertanding maklsimal, penyakit demam juga akhirnya menjadi momok bagi para pemain Indonesia. Hal ini juga dialami langsung oleh Simon yang harus mundur dari pertandingan karena demam tinggi sejak jumat malam yang disertai dengan sakit kepala. Karena tidak ada perubahan kondisi hingga sabtu siang (17/1), kemenangan tanpa bertanding (walkout) akhirnya diberikan oleh Simon untuk lawan tandingnya Peter Gade (3) untuk menantang favorit juara asal negeri jiran, Lee Choong Wei (1).

Lee yang saat ini menduduki peringkat 1 dunia tanpa banyak kesulitan menyudahi perlawanan unggulan ke-7 asal Polandia, Przemyslaw Wacha. Choong Wei yang memimpin 2-3 poin sejak kedudukan 4-2 berhasil disusul oleh Wacha di angka 15 dan berbalik memimpin 16-15 karena bermain rapi tanpa banyak melakukan kesalahan sendiri. Pengalaman akhirnya lebih memilih Choong Wei untuk merebut set pertama setelah memaksa bermain agresif, 21-17. Strategi ini kembali diterapkan Choong Wei di set kedua. Perpaduan antara permainan netting dan serangan smash akhirnya menjadi kunci kejayaan 6-1 dan 10-3 di paruh awal set.

Wacha yang tidak mampu bermain konsisten kali ini juga beberapa kali sempat melakukan kesalahan sendiri. Tak terbendung dengan intensitas serangannya, Choong Wei akhirnya mampu menjaga gap poin selisih angka hingga akhir set 14-7, 16-9 dan 18-11 sebelum menutup set ini 21-12.

Saat saya berkesempatan untuk melakukan wawancara dengan Peter Gade, tunggal terbaik Eropa tersebut berujar, “Saya siap untuk pertandingan besok dan akan melakukan yang terbaik”. Meskipun di laga pekan sebelumnya Gade harus mengakui ketangguhan Choong Wei, tunggal yang menjadi tulang punggung negara Denmark tersebut menyatakan tidak akan terpengaruh oleh catatan hasil pertandingan sebelumnya.

“Mungkin sekitar 1-2 tahun lagi” ungkap Gade saat ditanya perihal pengunduran dirinya dari tim Denmark. Gade mengiyakan bahwa saat ini tunggal kedua Denmark, Joachim Persson masih membutuhkan banyak pengalaman untuk bisa menggantikan posisi dirinya. Dan bagi para penggemar Peter Gade di tanah air, mereka bisa bernafas lega karena mantan kekasih Camilla Marthin tersebut berjanji akan berkunjung ke Jakarta pada tahun ini untuk menjajal kemampuannya di turnamen Indonesia SS.

(FEY, http://www.bulutangkismania.wordpress.com)

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: