Bulutangkismania's Weblog

Juni 14, 2009

Results Semifinal Singapore SS ’09 : Korea Tergusur, GraNi dan KiNdra Obati Kekecewaan Indonesia

Filed under: Turnamen — bulutangkismania @ 9:13 am

Meskipun hanya segelintir para pendukung kubu Indonesia yang memadati Singapore Indoor Stadium untuk menyaksikan secara langsung aksi para pebulutangkis kelas dunia, teriakan khas IN-DO-NE-SIA sayup-sayup masih terdengar menyemangati atlet merah putih yang tengah berjibaku di tengah lapangan meskipun kalah jumlah dari supporter negeri bambu. Penampilan mengecewakan NoLyn di laga pembuka sempat menggurat kekecewaan di hari para pendukungnya namun motivasi kembali bangkit saat melihat dua wakil Indonesia lainnya mampu bermain maksimal dan meloloskan diri ke partai puncak.

Ganda Campuran, Sindrom Angka Kritis Hempaskan NoLyn

Meskipun telah memasuki babak semifinal, kejutan demi kejutan ternyata masih setia mengiri pertandingan para atlet dan kali ini menular kepada sektor ganda campuran. Dua unggulan teratas finalis Olimpiade Beijing 2008 dipaksa menyerah kepada dua pasangan China yang tampil lebih cemerlang. Meskipun mereka tampil di lapangan yang berbeda, namun keduanya sama-sama mencatatkan kegagalan untuk melaju ke babak final.

Tidak ditayangkannya partai pembuka di lapangan satu antara Nova/Lily (1) menghadapi duet China, Xie Zhongbo/Zhang Yawen (6) oleh stasiun televisi nasional sempat membuat para pecinta badminton tanah air merasa kecewa. Apalagi harus menerima kabar buruk di akhir pertandingan tentang kegagalan mereka. Meskipun lebih banyak bermain defensive di set pertama, NoLyn mampu memanfaatkan beberapa keteledoran Xie/Zhang dalam mengembalikan bola. Setelah perseteruan ketat di awal set, NoLyn akhirnya mampu terus memimpin 10-7 dan 11-8 saat jeda interval. Penempatan bola NoLyn yang sulit untuk diantisipasi membuat poin terus mengalir bagi kubu Indonesia meskipun dari beberapa tekanan yang dilancarkan oleh smash-smash keras Xie Zhongbo juga menghasilkan poin demi poin bagi kubu China.

Unggul 15-12, 18-15 dan 19-16 nyaris membuat mimpi NoLyn menjadi sempurna ketika skor berubah ke ‘match point’ 20-18. Namun beberapa ‘unforced error’ beruntun dari Nova di saat-saat yang paling kritis ini seperti smash yang terlalu melebar atau gagal melewati net tak disangka mengalir begitu mudah bagi Xie/Zhang untuk mengoleksi 4 angka beriringan sekaligus menutup set ini 22-20.

Meskipun tekanan Xie/Zhang tidak sedahsyat set pertama dan NoLyn sudah lebih mampu mengembangkan permainan mereka yang sebenarnya. Meskipun senantiasa diserang oleh smash-smash keras XIe/Zhang dan permainan drive-drive cepat, keduanya mampu memanfaatkan penempatan bola yang akurat untuk menekan balik pasangan China dan mendapatkan poin demi poin. Keduanya kembali unggul 6-3, 9-6 dan 11-7 sebelum jeda interval set kedua. Lily yang beberapa kali tidak siap menerima smash dari lawan ternyata mampu dimanfaatkan dengan baik oleh Xie/Zhang untuk menambah perbendahaaran poin keduanya. Kegagalan beruntun dari pasangan Indonesia membuat kubu China akhirnya mampu menyamakan kedudukan di titik 14 dan 15 serta balik memimpin 16-15.

Permainan memukau NoLyn di depan net kembali menjadi kunci kemenangan duo terbaik Indonesia tersebut untuk mendapatkan ‘second winning’ 18-16, 19-17 dan 20-18. Namun keberuntungan rupanya masih belum berpihak kepada kubu Indonesia. Untuk kedua kalinya, sindrom angka kritis persis menjangkiti NoLyn seperti yang terjadi di set pertama. Memanfaatkan ‘unforced error’ dari ganda merah putih yang mengalami tekanan, China akhirnya memastikan tiket babak final dengan merebut 4 poin beruntun, 22-20.

Kejayaan pasangan China ternyata tidak berhenti sampai disana. Di lapangan yang berbeda, duo Korea Lee Yong Dae/Lee Hyo Jung (1) juga tampak kewalahan menghadapi unggulan ke-5, Zheng Bo/Ma Jin. Permainan drive-drive cepat khas ganda campuran yang ditutup oleh smash-smash keras sudah tersaji diantara kedua pasangan sejak babak-babak awal. Gejala kekalahan peraih perak Olimpiade Beijing 2008 ini sudah terlihat sejak awal set pertama saat keduanya berkali-kali gagal menyebrangkan bola di depan net. Duo Lee langsung tertinggal 3-7 dan 6-11 saat jeda interval.

Drop shot tajam Zheng Bo beberapa kali sempat menghasilkan poin bagi China karena gagal dikembalikan dengan sempurna. Lee Yong Dae meskipun mahir dalam mengatur akurasi penempatan bola di tempat tak terjangkau seringkali tidak berhasil menyerobot bola di depan net. Keunggulan Zheng/Ma 15-8 terus mereka pertahankan hingga kedudukan 18-13 ketika net silang dan pengembalian Hyo Jung terlalu melebar. Di sisi lain, Ma Jin juga belum mampu bermain sempurna dan beberapa kali melakukan kesalahan sendiri. Pengembaliannya yang gagal melewati net dan terlalu tanggung berhasil dimanfaatkan pasangan Korea untuk mencuri angka demi angka.

Bola tanggung Zheng Bo yang ditutup oleh smash Hyo Jung mengubah kedudukan menjadi 18-14. Namun 3 poin beruntun dari smash keras Zheng Bo, penempatan bola Ma Jin di depan net setelah kedua pasangan terlibat permainan reli panjang, serta lob serang yang gagal diantisipasi oleh Yong Dae di area baseline akhirnya menutup set pertama 21-14 untuk pasangan China. Tekanan demi tekanan masih terus dilunsurkan oleh tandem China di set kedua. 5 kesalahan beruntun Lee Hyo Jung saat mengembalikan bola dan pengembalian yang terlalu melebar Lee Yong Dae membuat duo Zheng/Ma lagnsung melaju 6-1.

Kesalahan sendiri yang dilakukan oleh Ma Jin dan teknanan yang diberikan oleh Yong Dae membuat kedudukan berubah menjadi 8-3. Reli-reli panjang yang memperlihatkan pertahanan yang sempurna dari kedua pasangan akhirnya diselesaikan dengan penempatan bola yang tak terjangkau atau kesalahan sendiri dari masing-masing pemain. Mencoba untuk terus menekan, Zheng/Ma akhirnya menyentuh interval lebih dulu 11-7. Dari titik ini, China berhasil memepertahankan gap 4 angka untuk terus ‘leading hingga kedudukan 15-11. Bola-bola yang tanggung berhasil dimanfaatkan oleh duo Lee dan strategi bermain pintar dengan penempatan bola di tempat yang kosong. Sementara itu China mengeloksi poin demi poin dari kesalahan sendiri yang dilakukan oleh Yong Dae maupun Hyo Jung.

Memasuki angka kritis 18-13, akurasi pengembalian ZHeng Bo sedikit melemah namun sayangnya tidak mampu dimanfaatkan oleh pasangan Korea karena ‘unforced error’ yang mereka lakukan khususnya oleh Lee Hyo Jung juga terus menguntungkan bagi lawannya. Servis error yang dilakukan oleh Ma Jin serta smash silang dan penempatan bola sempurna dari Hyo Jung sempat memperkecil selisih poin Korea menjadi 16-18. Namun untuk kesekian kalinya, Hyo Jung membuat kesalahan sendiri dengan membuang bola terlalu melebar 16-20. Pengembalian Ma Jin yang tidak sempurna dan servis Hyo Jung yang terlalu tinggi namuan ternyata jatuh tepat di dalam lapangan kosong nyaris mengantarkan duo Lee pada momentum keduanya. Akan tetapi kegagalan net silang Hyo Jung akhirnya memupuskan harapan peraih emas Olimpiade 2008 tersebut 18-21.

Ganda Putri, GraNi Tantang Yawen/Tingting

Setelah kecewa dengan penampilan NoLyn di laga sebelumnya, pendukung Indonesia akhirnya kembali bangkit saat menyaksikan perlawanan Grace/Nitya menghadapi unggulan Denmark, Lena Frier/Kamilla Rytter Juhl (8). Di sepanjang set pertama, dominasi Denmark memang tak terbantahkan dengan terus menekan pasangan Indonesia hingga menjelang akhir set. Agresivitas serangan keduanya nyaris membuayarkan impian final GraNi sampai di titik paling menentukan, GraNi akhirnya mendapatkan keberuntungan dengan ‘lucky winning’.

Penempatan bola yang akurat, permainan di depan net serta momentum yang senantiasa dimanfaatkan dengan baik oleh Lena Frier membuat pasangan Denmark menguasai sepenuhnya jalannya pertandingan set pertama. Memimpin dengan 4-2, 8-6 dan menutup jeda interval 11-9 hanya dalam tempo 7 menit dengan ‘placing’ dan smash mereka sempat membuat public Indonesia ragu apakah GraNi dapat membalikkan keadaan. Sebaliknya, Nitya beberapa kali gagal dalam melakukan smash yang terbentur oleh dinding net. Indonesia sempat memperkecil selisih poin menjadi 13-14 ketika Lena dan Kamilla gagal mengembalikan bola dengan sempurna dan jumping smash Grace sukses menembus pertahanan keduanya.

Namun kesalahan sendiri dari Grace saat pasangan Denmark sudah mati langkah, penempatan bola silang Kamilla dan bol tanggung Nitya yang diselesaikan dengan manis oleh Lena memaku Indonesia pada skor 13-17. Pengembalian Kamilla yang gagal melewati net kembali menambah angka bagi merah putih namun bola tanggung Grace dan pengembalian Nitya yang terlalu melebar mengantarkan Denmark pada angka kritis 19-17. GraNi rupanya tidak mau menyerah begitu saja di titik ini. Semangat keduanya mampu memperkecil gap menjadi 17-19 ketika smash-smash keras dan servis Grace berhasil membobol dan mengecoh pertahanan duo Denmark.

Kemenangan Denmark nyaris terwujud saat serobotan Grace gagal melewati hadangan net, 20-17. Namun dua kesalahan yang dilakukan oleh Juhl dan smash beruntun Grace akhirnya mebuayarkan harapan mereka dan memaksakan ‘deuce’ 20-20. Pengembalin Lenda yang terlalu melabar dan Kamilla yang gagal melewati net akhirnya mengantarkan GraNi pada kemenangan 22-20.

Entah apa yang terjadi pada pasangan Denmark di set kedua. Antiklimaks di penghujung set pertama rupanya membuat keduanya patah semangat dan mengendorkan tempo permainan di set kedua. Agresivitas Lena/Kamilla yang menurun juga ikut dibarengi oleh kurangnya keakuratan pukulan mereka sehingga menguntungkan pasangan Indonesia untuk mndominasi jalannya pertandingan set kedua. Kesalahan beruntun dari Lena di depan net yang di set pertama tampil garang dengan terus menekan membuat Indonesia unggul jauh 8-3 dan 11-4 saat jeda interval. Meskipun harus diakui permainan Nitya juga tidak sempurna dan beberapa kali masih melakukan kesalahan sendiri, penurunan kualitas pasangan Denmark memudahkan ganda Indonesia untuk terus unggul 14-7.

Hal ini tidak hanya terlihat dari pengembalian bola Lena/Kamilla yang selalu gagal namun juga servis Kamilla yang seringkali tidak mampu melewati dinding net. GraNi langsung melaju pada kedudukan kritis 17-11 dan 20-11. Servis Grace yang disalahkan oleh wasit menambah angka bagi pasangan Denmark namun kesalahan sendiri yang dilakukan Lena dalam mengembalikan bola akhirnya memastikan tiket partai puncak untuk merah putih, 21-12.

Pada partai semifinal lainnya, unggulan ke-5, Zhang Yawen/Zhao Tingting mendapatkan perlawanan yang cukup a lot dari tandem nomor dua Korea, Ha Jung Eun/Kim Min Jung (3). Secara kualitas, permainan kedua pasangan ini masih satu level berada di atas perseteruan yang terjadi antara GraNi dan Lena/Kamilla. Ha/Kim tampil sempurna dengan ‘defense’ yang luar biasa dan minim kesalahan sendiri. Reli-reli panjang antara kedua pasangan selalu menghiasi untuk meraih poin demi poin. Ketatnya pertahanan pasangan Korea juga sempat membuat Zhang/Zhao akhirnya melakukan kesalahan sendiri.

Ha/Kim sebenaranya menguasai jalannya pertandingan set pertama. Keduanya unggul 8-3 dan 11-8 dari penempatan bola yang akurat serta petahanan yang luar biasa. Bahkan bola-bola potong keduanya di depan net juga membuat mereka unggul hingga poin kritis 17-12 dan 18-13. Di titik ini sayangnya Ha/Kim mulai kehilangan focus permainan dan justru melakukan kesalahan sendiri. 5 angka beruntun yang dikoleksi Zhang/Zhao akhirnya membuat mereka mampu menyetarakan kedudukan di angka 18. Keadaan berubah menjadi dramatis ketika pasangan China berbalik unggul 20-19 karena pengembalian Min Jung yang gagal melewati net dan smash Zhao Tingting yang dikembalikan melebar oleh Ha Jung Eun. Meski sempat menyamakan kedudukan dan memaksa ‘deuce’ 20-20, Ha/Kim akhirnya menyarah 20-22 ketika dua pengembalian Ha Jung Eun dan Kim Min Jung terlalu melebar ke luar lapangan setelah terlibat permainan reli yang cukup melelahkan.

Degradasi stamina besar-besaran terjadi pada pasangan Korea setelah memasuki paruh akhir set kedua. Meeskpun mereka menguasai pertandingan di paruh awal hingga titik 10-8, Zhang/Zhao akhirnya mengontrol jalannya pertandingan dan balik memimpin 14-11 hingga kedudukan 19-15. Zhao Tingting berhasil menjadi ‘playmaker’ dengan teknan smash-smash kerasnya yang sulit diantisipasi oleh pasangan Korea. Meskipun dengan sisa-sisa tenaga yang ada, Ha/Kim mampu membendung serangan duo China, variasi pukulan silang dan bola-bola serobot Zhao akhirnya mampu mematahkan perlawanan pasangan Korea. Dua kesalahan beruntun Zhang Yawen mengubah kedudukan menjadi 17-19. Namun tak mau menyia-nyiakan keunggulan mereka Zhang Yawen terus mencoba menekan dan akhirnya membuahkan hasil 20-17. Smash silang Ha Jung Eun sempat memperpanjang nafas Korea namun pengembalian melebar dari Min Jung akhirnya menutup set ini 21-18.

Ganda Putra, KiNdra Tampil Sempurna

Kemenangan para srikandi Indonesia yang mengobati kekecewaan atas tumbangnya NoLyn akhirnya dilengkapi dengan sempurna oleh penampilan tandem peringkat satu dunia, Markis/Hendra yang menjegal unggulan ke-4, Lars Paaske/Jonas Rasmussen. Kido yang sempat terganggu dengan cedera lututnya hari ini (15/6) mampu bermain maksimal dan menguasai jalannya pertandingan. Olahan bola Hednra di depan net yang dipadukan dengan smash-smash keras Kido dari area baseline mampu memberikan tekanan yang signifikan bagi kedua pemain ganda veteran Denmark tersebut. Meskipun sempat balik tertekan setelah unggul 8-2 dan nyaris terkejar 8-7, KiNdra kembali meningkatkan tempo serangan dan mencari peluang dengan strategi penempatan bola.

Keduanya langsung unggul jauh 16-7 ketika Lars/Jonas mulai kehabisan akal untuk menembus pertahan KiNdra yang bermain dengan tempo cepat. Banyaknya kesalahan sendiri yang dilakukan oleh Lars/Jonas juga memudahkan pasangan Indonesia untuk terus melaju hingga angka kritis 20-11. Tak terkejar, KiNdra akhirnya menutup set ini dengan kejayaan sempurna 21-12.

Di set kedua, agresivitas pasangan Denmark lebih berkembang dan mulai meningkatkan tempo serangan. Namun keakuratan pengembalian bola yang tidak sempurna membuat pasangan peringkat 4 dunia ini sulit untuk mengungguli perolehan poin KiNdra. Sebaliknya meskipun tidak seagresif di set pertama, serangan KiNdra lebih taktis dan pintar dalam mencari sela kosong di lapangan lawan. Permainan bola keduanya di depan net juga terus membuat mereka unggul dari titik 10-4, 14-8 dan 17-11. Memasuki angka kritis 19-13, KiNdra akhirnya menutup set ini dengan kemenangan 21-16. Di partai puncak, KiNdra akan ditantang oleh ganda fenomenal Eropa yang menjadi satu-satunya wakil Eropa di babak final, Anthony Clark/Nathan Robertson. Keduanya berhasil meredam perlawanan peraih gelar New Zealand International Challenge 2008, Chen Hung Lin/Lin Yu Lang, 21-19, 21-19.

Tunggal Putra, Menanti Keberuntungan Kedua

Dua tahun yang lalu, tunggal Thailand Boonsak Ponsana berhasil mencatatkan sejarah sebagai pemain nonunggulan yang mampu melaju ke babak final dan akhirnya meraih gelar juara di turnamen ini. Bahkan di babak semifinal, peringkat 19 dunia itu mampu menjungkalkan nama besar Lin Dan sebelum akhirnya merampas gelar dari tunggal China lainnya, Chen Yu di laga pamungkas. Tahun ini di turnamen yang sama Boonsak mendapatkan kesempatan kedua untuk mengulang prestasinya dengan lawan yang berbeda.

Meskipun harus berjuang keras rubber set untuk menghentikan laju pemain terbaik Korea, Park Sung Hwan 19-21, 21-18, 21-13, Boonsak akhirnya berhasil mengantongi tiket final dan akan dipertemukan dengan jagoan China, Bao Chunlai. Kesabaran dan permainan strategi Boonsak ketika menghadapi Park akan kembali diuji konsistensinya oleh tunggal ketiga China tersebut. Sedangkan Bao harus berjuang meraih gelar juara karena membutuhkan banyak poin untuk mendongkrak peringkatnya agar masuk sebagai daftar unggulan di Kejuaraan Dunia 2009. Di laga semifinal, Bao memetik kemenangan atas kompatriotnya, Chen Jin (4) 21-19, 21-18.

Tunggal Putri, Perseteruan 2 Singa Senior Di Partai Puncak

Dua pemain beda generasi yang sudah tidak memasuki usia muda dan kaya akan pengalaman akan tersaji di partai final besok (15/6). Namun ibarat seekor singa, kedua pemain senior asal China ini ternyata masih sangat disegani oleh lawan-lawannya karena kualitasnya yang masih belum tergoyahkan. Peraih perak Olimpiade Beijing 2008, Xie Xingfang (8) harus berjuang keras untuk menundukkan adik angkatannya, Jiang Yanjiao 17-21, 21-10, 21-19. Jiang yang berhasil menemukan performa terbaiknya justru gagal di set ketiga ketika memimpin 17-15 justru berbalik tertinggal 18-20 dan sebelum akhirnya menyerah 19-21.

Di laga semifinal lainnya, unggulan teratas Zhou Mi masih belum tergoyahkan saat ditantang oleh peraih mahkota Denmark SS 2008, Wang Lin. Wang sebenarnya menguasai jalannya pertandingan set pertama dan unggul cukup jauh 17-12 setelah sempat tertinggal 3-10 di awal set. Namun berkat pengalamannya, Zhou Mi mampu mebalikkan keadaan 19-17 dan akhirnya menutup set ini 22-20.

Pada set kedua, dominasi Zhou Mi pun tak terbantahkan. Kembali memimpin 6-2, 8-4 dan 14-9, Zhou akhirnya menyentuh match point lebih dulu 20-11. Namun seolah-olah baru terbangun dari mimpinya, Wang Lin tiba-tiba tampil menekan dan meningkatkan tempo serangan dansehingga mendapatkan ‘second winnning’ dengan 7 angka beruntun 18-20. Zhou Mi yang bermain lebih sabar akhirnya mampu menutup set ini 21-18 dan memastikan tiket ke babak final untuk menantang Xie Xingfang (FEY).

http://www.bulutangkismania.wordpress.com

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: