Bulutangkismania's Weblog

Juni 15, 2009

FINAL RESULTS Singapore SS ’09 : Pulang Tanpa Gelar, Tradisi Juara Buyar

Filed under: Turnamen — bulutangkismania @ 8:26 am

Merasa puas atau tidak, Indonesia tahun ini harus pulang tanpa gelar di gelaran Super Series kelima tahun 2009. Dengan hasil ini, Indonesia gagal mempertahankan tradisi gelar juara yang sudah terpelihara sejak tahun 2004 hingga 2008.

Sabetan raket Luvent dan NoLyn di tahun 2004 mampu mengantongi dua gelar bagi tim Indonesia. Setahun setelahnya, giliran Taufik Hidayat dan Candra/Sigit yang menumbang 2 mahkota juara. Berturut-turut selama 3 tahun dari 2006 hingga 2008, ganda campuran selalu berhasil menyelamatkan tradisi gelar yang diraih oleh NoLyn, FlaVi dan akhirnya setahun yang lalu NoLyn kembali berhasil merebut gelar mereka kembali. Meskipun raihan dua gelar runner up di tahun ini tidak lebih baik dari catatan para duta merah putih di 5 tahun sebelumnya, namun paling tidak ada bekal yang dapat di evaluasi oleh para atlet, pelatih dan insan terkait guna tampil lebih maksimal di turnamen berikutnya.

Ganda Putri, Tumbang Dengan Acungan Jempol

Pertarungan antara duo srikandi Indonesia, Grace/Nitya menghadapi unggulan ke-5, Zhang Yawen/Zhao Tingting membuka perseteruan babak final. Reli-reli panjang khas ganda putri akhirnya membuka set ini dengan keunggulan 4-2. Meskipun GraNi memiliki perkembangan pesat dari sisi pertahanan dan variasi dalam megembalikan bola, beberapa kesalahan sendiri yang masih dilakukan oleh tandem kedua Pelatnas ini membuat ganda China berbalik unggul 6-4 dan 10-6. Bola tanggung dari Grace yang diamnfaatkan dengan baik oleh Zhao, pengembalian bola Nitya yang melebar dan olahan bola Zhao Tingting di area baseline mengubah kedudukan menjadi 13-8 untuk Zhang/Zhao.

Bola tanggung Zhao Tingting dan dua kesalahan beruntun dari Zhang Yawen sempat memperkecil selisih poin menjadi 14-11 namun pengembalian Nitya yang melebar, bola tangggung Grace yang ditutup dengan smash Zhao Tingting, serta netting tipis Grace yang tidak melewati net akhirnya kembali membuat Zheng/Gao unggul 18-12. Pengembalian Zhao Tingting yang melebar dan Zhang Yawen yang tidak mampu mengembalikan bola dengan sempurna menambah angka bagi GraNi namun Nitya yang tidak siap menerima smash gagal mengembalikan ‘placing’ Zhao di depan net, 14-19. Jumping smash Grace yang gagal melewati net dan bola silang Zhao Tingting di area kosong akhirnya menutup set ini untuk kubu China 21-14.

Di set kedua, GraNi kembali mampu meladeni permainan reli pasangan China. Pukulan-pukulan sulit keduanya mampu membuat Zhang/Zhao kelimpungan dalam mengejar bola. Angka demi angka yang dikoleksi oleh pasangan China harus diraih melewati permainan reli panjang yang melelahkan walaupun di akhir reli ganda Indonesia akhirnya melakukan kesalahan sendiri. Duet negeri panda kembali unggul 6-2 dan 8-3 ketika ‘placing’ Zhao Tingting dan serobotannya gagal dikembalikan oleh GraNi. Tiga kesalahan sendiri yang dilakukan oleh Nitya yang gagal mengambalikan bola setelah terlibat reli-reli panjang juga makin membuat kejayaan bagi Zhang/Zhao.

GraNi sempat mendapatkan ‘second winning’ 8-7 ketika penempatan bola-bola Grace di area kosong sekitar baseline dan di depan net tidak mampu dibalikkan oleh duo China. Namun selisih poin kembali melebar 14-9 dengan penempatan bola-bola Zhao Tingting di depan net dan variasi bola Nitya yang terlalu melebar. Smash beruntun Nitya, servis Grace yang gagal dan smash Yawen yang gagal melewati net mengubah kedudukan menjadi 15-11. Di titik inilah Zhang/Zhao memaku pasangan merah putih dengan 4 angka beriring yang mengantarkan mereka kepada angka kritis 19-11 yang dihasilkan dari smash silang Nitya yang melebar, ‘placing di depan net Zhao Tingting dan bola potong Zhang Yawen.

Indonesia kembali menambah dua angka ketika Zhao Tingting gagal mengembalikan bola di depan net serta smash Grace yang dikembalikan melebar oleh Zhao namun bola tanggung Nitya yang dipotong oleh Zhao di depan net mengantarkan pasangan tirai bambu pada ‘match point’ 20-13. Permainan netting yang dikembalikan melebar oleh Grace akhirnya memastikan kemenangan Yawen/Tingting 21-13 yang sekaligus merupakan gelar pertama bagi tim China.

Tunggal Putri, Zhou Mi Kukuhkan Tahta 1 Dunia

Partai kedua antara dua singa yang sudah malang melintang di event bulutangkis dunia menyajikan pertarungan ketat di set pertama dan kedua. Setelah terlibat saling mengejar angka dari awal set pertama hingga kedudukan setara di angka 5, Xie akhinya mampu unggul jauh 9-5 ketika drop shot silang dan penempatan Xingfang mampu membuahkan poin demi poin selain karena pengembalian backhand Zhou Mi yang gagal di depan net. Zhou Mia akhirnya mampu memperkecil gap poin 10-12 ketika drop shot silangnya gagal dikembalikan oleh Xingfang dan olahan bola Xie di depan net gagal menghasilkan poin.

Selisih dua angka antara kedua pemain ini berlanjut hingga kedudukan 13-11, 14-12 dan 15-13 dari hasil pukulan smash dan penempatan yang akurat. Gap 1 poin bahkan sempat terjadi hingga skor imbang 17-17 saat Zhou tampil lebih agresif dengan serangannya namun beberapa kali juga melakukan penegmbalian yang teralalu melebar. Tiga angka beruntun yang dikoleksi Zhou dari pengembalian Xingfang yang terlalu melebar saat melakukan ‘placing’ di depan net, penegmbalian Xingfang yang terlalu lemah di depan net, serta smashnya yang gagal melewat net, 20-17. Xingfang nyaris berhasil memaksakan ‘deuce’ ketika bola smash dan serobotan Xingfang hanya mampu dilihat begitu saja oleh Zhou Mi, 19-20. Tak mau menyia-nyiakan kesempatan di atas angin, Zhou akhirnya berinisiatif untuk menutup set ini dengan smash keras dari bola tanggung Xie yang mengambang di atas net, 21-19.

Ketatnya persaingan kedua pemain senior ini kembali tersaji di set kedua. Xingfang akhirnya berhasil mendahului perolehan poin meskipun kemudian mampu di susul oleh Zhou Mi. Selisih 1-2 poin sudah berlangsung dari awal set hingga jeda interval 11-9 dan 12-10 untuk Xie. Reli-reli panajang yang ditutup oleh drop shot tajam atau penempatan bola yang tak terjangkau menjadi senjata andalan kedua pemain ini untuk menghasilkan poin demi poin. Zhou sempat menyamakan kedudukan di titik 12 ketika smash return Xie gagal melewati net dan drop shot silang Zhou gagal dikembalikan oleh Xingfang.

Namun Xie seoleha-olah tak mau melepaskan set ini dan bermain ngotot untuk terus memimpin 14-12 dan 15-13 ketika masing-masing pemain mengoleksi poin dari kesalahan lawannya. Setelah gagal melakukan drop shot di depan net, Xingfang berhasil meluncur 18-14 dari bola potong Xie di depan net serta ‘unforced error’ dari Zhou. Namun Zhou kembali berhasil menyamakan angka di titik 18 dari smash keras Zhou Mi setelah reli-reli panjang dengan memanfaatkan bola tanggung Xingfang. Merebut 3 angka beruntun dari dorongan bola Xie ke area baseline, penempatan bola Zhou yang gagal melampaui net, serta smash Xingfang yang tidak dikembalikan sempurna oleh Zhou, Xingfang akhirnya memkasa rubber set 21-18.

Entah karena faktor stamina yang menurun setelah berjibaku dengan reli-reli panjang di dua set sebelumnya atau justru motivasi Xie yang sudah padam, pemain paling senior tim China tersebut langsung tertinggal 2-7 karena kesalahan sendiri yang gagal mengembalikan bola. Zhou Mi semakin jauh meluncur dan menggandakan skornya menjadi 14-5 ketika smash dan drop shot Xie berkali-kali melebar dari lapangan permainan setelah mendapat tekanan dari smash-smash silang Zhou yang cukup keras. Tiga poin dari smash Zhou dan dua kesalahan Xie yang ragu-ragu dalam mengambalikan bola mengantar Zhou pada angka kritis 17-6.

Bola-bola serobotan Xie dan penempatannya di area baseline sempat memperkecil gap Xingfang menjadi 9-19. Smash silang Xie kembali menambah 1 poin bagi peraih perak Olimpiade Beijing tersebut namun drop shot dan smash silang Zhou Mi akhirnya menutup set ini untuk memastikan gelar sekaligus tahtanya di peringkat satu dunia.

Ganda Putra, KiNdra Buyarkan Tradisi Juara

Setelah tumbangnya NoLyn di laga semifinal kemarin, peringkat teratas ganda putra, Markis/Hendra (1) untuk mempetahankan tradisi gelar juara di Singapore SS yang terus berlanjut dari tahun 2004 hingga 2008. Namun apa yang diharapkan ternyata jauh dari kenyataan yang terjadi di lapangan. Penampilan antiklimaks KiNdra setelah di babak semifinal menang mudah atas duo Denmark ternyata justru tak mampu membendung satu-satunya wakil Eropa yang tersisa, Anthony Clark/Nathan Robertson. Gejala kekalahan KiNdra sebenarnya sudah terlihat sejak awal set pertama ketika Kido yang seharusnya mampu menjadi ‘playmaker’ justru tak tampil dalam performa terbaiknya dan banyak melakukan kesalahan sendiri.

Gagal mengembalikan bola di depan net membuat tandem Indonesia tertinggal 2-5 dan 3-9. Kido tidak hanya gagal dalam melakukan serangan smash dan mengembalikan smash di depan net namun justru saat melakukan servis yang seharusnya menjadi modal utama yang harus dimiliki oleh seorang pemain. Penampilan KiNdra yang tidak ‘in’ dan jauh dari yang diharapkan membuat setiap pukulan yang merka lakukan menjadi serba salah dan selalu mebuahkan poin bagi lawan. Kesempatan ini dimanfaatkan dengan baik oleh Nathan/Anthony untuk terus menekan dan meluncur dengan perolehan angka 12-6 dan 17-9.

Sempat menambah dua angka dari bola tanggung yang diselesaikan dengan baik oleh Kido, adu drive yang ditutup oleh kesalahan sendiri dari Nathan Robertson dan smash Hednra di area baseline mengubah kedudukan menjadi 12-18. Untuk kesekian kalinya, penempatan Nathan di area baseline yang tidak terbendung, smash Nathan yang dibuang keluar oleh Hendra dan backhand Markis yang gagal melampaui net akhirnya menutup set ini dengan mudah untuk duo Inggris, 21-12.

Duo KiNdra tidak hanya kehilangan hubungan yang solid dalam setiap pukulannya namun pertahanan keduanya yang selalu sulit untuk ditembus kali ini justru tak berkutik menghadapi serangan beruntun dari pasangan Inggris. Sebaliknya, Nathan tampil brilian dan tidak menyiakan setiap kesempatan untuk melakukan serangan dan menekan pasangan Indonesia. Berharap akan mendapatkan perubahan dari permainan KiNdra di set kedua ternyata justru mbuahkan harapan kosong. Kekecewaan publik pendukung Indonesia yang tetap setia memberi semangat kepada peraih emas Olimpiade Beijing tersebut akhirnya harus kembali terurai ketika Kindra kembali tertinngal 1-7 dan 2-10 di paruh awal set.

Bukan hanya Kido yang mengalami degradasi permainan, Hendra pun akhirnya ikut tertular dan mulai melakukan banyak kesalahan sendiri. Duet Anthony/Nathan terus meluncur dengan skor 14-5, 17-6 dan 19-7. Bahkan tidak hanya Anthony saja yang berhasil mengontrol pertandingan di set ini, Anthony Clark pun sudah meningkatkan kepercayaan dirinya untuk terus menekan dengan smash dan penempatan bola-bolanya di bagian baseline. Penempatan bola Hendra yang membelah diantara kedua pasangan serta smash beruntun sempat menambah angka pasangan Indonesia 9-19 namun smash beruntun mengantarkan Inggris pada ‘match point’ 20-9. Kesalahan penegembalian Anthony di depan net dan serobotan Hendra di area baseline kembali mengubah kedudukan untuk merah putih namun untuk kesekian kalinya, servis Kido yang gagal melewati net akhirnya menutup set ini dan memastikan gelar perdana duo Inggris 21-11.

Ganda Campuran, Yawen Gagal Manfatkan Momentum

Pertarungan antara sesama wakil China tersaji di partai keempat antara unggulan ke-5, Zheng Bo/Ma Jin menghadapi Xie Zhongbo/Zhang Yawen (6). Harus diakui bahwa Yawen memiliki stamina yang luar biasa setelah bermain cukup memeras tenaga menghadapi duo srikandi Indonesia di laga pembuka namun tetap mampu bermain maksimal di dua set awal menghadapi Zheng/Ma. Dari awal set hingga kedudukan 8-8, kedua pasangan saling kejar mengejar dengan selisih 1 poin. Xie/Zhang akhirnya mampu unggul 12-8 dan 13-9 ketika beberapa penempatan bola keduanya gagal dikembalikan dengan baik oleh Zheng/Ma. Kesalahan sendiri dari Zheng/Ma juga memudahkan Xie/Zhang untuk terus meraih poin demi poin.

Tekanan beruntun Zheng Bo lewat smash-smash kerasnya dan penempatan bola akurat dari Ma Jin di depan net mengubah kedudukan menjadi 18-15 untuk Zheng/Ma di angka-angka kritis. Namun tak mau menyerah begitu saja, Xie/Zhang perlahan berhasil mengejar ketertinggalannya dan menyamakan kedudukan di angka 19. Penempatan bola Yawen di area baseline yang kosong dan smash Xie Zhongbo yang gagal dikembalikan oleh Ma Jin di depan net akhirnya menutup set ini untuk Xie/Zhang 21-19.

Di set kedua, Xie/Zhang kembali menunjukkan kedigjayaan mereka untuk unggul 8-1 dan 10-4 sebelum jeda interval ketika beberapa kali adu reli tidak mampu dengan sempurna dibalikkan oleh Zheng/Ma. Perlahan namun pasti, paska jeda interval Zheng/Ma berhasil memperkecil selisih poin menjadi 9-14 dan 12-15 dan akhirnya tersamakan di titik 15 ketika smash keras Zheng Bo dan serobotan Ma Jin berhasil mematahkan perlawanan Xie/Zhang. Saling memimpin dan selisih 1 poin kembali terjadi hingga skor 19 sama. Dua kesalahan sendiri Xie Zhongbo yang menyebabkan bola terlalu melebar akhirnya memaksakan rubber set untuk keunggulan Zheng/Ma 21-19.

Stamina dan konsentrasi yang menurun dari Xie/Zhang membuat keduanya banyak melakukan kesalahan sendiri di set ke-3. Zheng Bo yang terus meningkat kepercayaan dirinya setelah memenangkan duel kritis di set kedua terus menghujani tekanan bagi keduanya dengan smash-smash keras. Keduanya meluncur dari 7-3 menjadi 15-5 dan 17-6. Dengan sisa-sisa tenaga, Xie/Zhang mencoba untuk bangkit dan menysul 10-17 namun 3 angka beriring yang dikantongi oleh Zheng/Ma akhirnya mengantarkan keduanya pada ‘match point’ 20-10 dan menutup set ini 21-11.

Tungga Putra, Tak Ada Kesempatan Kedua

Keberuntungan ruapanya masih belum berpihak kepada tunggal Thailand, Boonsak Ponsana untuk mengulang raihan prestasi yang pernah dicapinya di turnamen ini dua tahun yang lalu. Ditantang oleh wakil China, Bao Chunlai, Boonsak akhirnya menyerah setelah melewati pertarungan rubber set. Di set pertama, Bao yang menguasai jalannya pertandingan sempat tersusul di angka 14 ketika telah berhasil memimpin 9-4 dan 12-7. Boonsak yang pada awalnya sulit untuk mengantisipasi olahan bola Bao di depan net dan beberapa kali melakukan kesalahan sendiri mampu tampil menekan dengan smash-smash dan drop shot yang ditempatkan di daerah tak terjangkau. Kematangan dan pengalaman Baolah yang akhirnya membuatnya kembali unggul 16-14, 19-16 dan menutup set ini 21-19.

Di set kedua, Bao tampil lebih agresif namun seringkali tidak sabar dalam melayani bola-bola Boonsak. Memanfatkan situasi ini, Boonsak mampu unggul 6-3 dan 11-8 saat jeda interval. Meski sempat terkejar dan tersamakan kedudukannya, Bao kembali tertinggal setelah beberapa kali melakukan kesalahan sendiri sedangkan sebaliknya Boonsak tampil ‘smart’ dalam strategi penempatan bola. Memimpin dengan 17-13 dan 20-14, tunggal terbaik negeri gajah putih tersebut akhirnya berhasil memaksakan rubber set 21-16.

Boonsak kembali berjaya menguasai paruh awal set ketiga dengan tampil menyerang namun tetap menggunakan strategi penempatan bola dan olahan bola di depan net/. Leading dengan 4-2, 7-3 dan 10-6, Boonsak mampu mengontrol jalannya pertandingan di sepanjang awal set ketiga ini. Namun karakter ulet pemain China kembali terjajal setelah jeda interval dimana Bao mampu merebut 9 angka beruntun dan mengubah kedudukan dari tertinggal 6-10 menjadi unggul 15-10. Memontum ini tidak disia-siakan oleh Bao untuk bangkit dan terus mempertahankan keunggulannya. Meskipun kedua pemain tampil maksimal dan minim dalam melakukan ‘unforced error’ Bao yang lebih agresif dan letih tepat dalam melakukan serangan-serangan kejutan melaju dengan skor 16-13 dan 17-14. Tiga angka beruntun yang dikoleksi Bao mengantarkannya pada match point 20-14. Boonsak sempat menambah 1 angka sebelum Bao menyelesaikan set ini lebih dulu 21-15 sekaligus mempersembahkan gelar ketiga bagi tim naga tersebut.

“Paling tidak kita lebih baik dari Malaysia, Denmark, dan Korea yang pulang tanpa gelar” ungkap salah seorang pecinta badminton Indonesia yang ikut memadati Singapore Indoor Stadium saat diminta untuk menanggapi raihan hasil tim Indonesia di turnamen Singapore SS 2009 yang baru saja usai dihelat. Dua gelar runner up dengan catatan yang berbeda berhasil di sumbang oleh dua wakil Indonesia yang bertarung di babak final. Meskipun ungkapan tersebut hanya sekedar pengobat kekecewaan atas penampilan para jagoan mereka namun merah putih harus tetap bangkit untuk menyongsong turnamen Super Series berikutnya yang akan digelar di Jakarta mulai selasa (17/6) ini.
http://www.bulutangkismania.wordpress.com

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: