Bulutangkismania's Weblog

Juni 18, 2009

Results Day 2 Indonesia SS ’09 : Kalah Mental, Langkah Terjungkal

Filed under: Turnamen — bulutangkismania @ 10:03 am

Memasuki hari kedua perhelatan turnamen bulutangkis terakbar di Indonesia, kejutan demi kejutan pun sudah harus dituai oleh beberapa nama pemain unggulan. Sindrom poin kritis pun menjadi isu terhangat yang harus disiagai oleh setiap pemain dengan ketegaran dan ketenangan mental jika ingin meraih hasil maksimal. Tidak hanya Zhou Mi yang baru saja mengantongi gelar Super Series di Singapura pada pekan lalu harus terjungkal di angka kritis, sederet pemain tuan rumah pun harus menelan pil pahit karena karena gagal dalam beradu mental.

Harus diakui bahwa faktor mental mempunyai pengaruh yang sangat signifikan dalam setiap pertandingan. Tidak hanya saat menghadapi poin-poin akhir, menjaga stabilisasi mental dalam semangat dan motivasi bertanding juga harus mampu diwujudkan oleh setiap pemain dari awal hingga akhir pertandingan. Berlaga di kandang sendiri tidak lantas membuat mental para atlet Indonesia menjadi ‘baja’ karena dukungan segenap pengunjung Istora. Salah salah, dukungan dan supporter penonton bisa menjadi boomerang terampuh yang membuat suasana hati semakin kisruh. “Ada positif dan negatifnya, mas” ungkap Sony Dwi Kuncoro saat diminta pendapatnya mengenai dukungan dari publik Istora.

Tumbangnya unggulan pertama asal Hongkong, Zhou Mi dari dara muda 18 tahun asal negeri sakura, Sayaka Sato mengawali kejutan babak pertama turnamen ini. Sato yang baru saja mengawali karirnya sebagai salah satu anggota tim nasional Jepang di awal tahun ini tampil maksimal dengan minim kesalahan sendiri dan agresif dalam menyerang. Zhou Mi yang tidak mampu beradaptasi dengan cepat di lapangan tertinggal 11-21 di set pertama. Sato sempat mengendorkan serangannya di set kedua sebaliknya Zhou Mi sudah berhasil mengatur ritme permainannya dan merebut set ini 21-16. Di set ketiga, kejar mengejar angka yang cukup seru berakhir dititik kritis. Beberapa antisipasi yang salah dari Zhou Mi di zona kritis akhirnya menutup set ini untuk Sato 21-19.

Di lapangan yang berbeda, andalan Indonesia yang menjadi runner up turnamen ini setahun yang lalu, Maria Kristin juga harus mengalami nasib serupa. Banyaknya kesalahan sendiri yang dibuat peraih perunggu Olimpiade Beijing ini menutup set pertama dengan kekalahan 17-21 atas tunggal China, Xie Xingfang. Di set kedua, pola permainan Maria mampu berkembang dan mengimbangi perolehan angka Xie namun menginjak saat angka kritis 19-19, beberapa ‘unforced error’ Maria akhirnya mendatangkan poin demi poin bagi peraih perak Olimpiade Beijing 2008 tersebut. Meski sempat memaksakan ‘deuce’ di angka 20 dan 21, Maria akhirnya tumbang 21-23.

”Set pertama tadi banyak buang poin”, kata Maria. Di set kedua Maria sebenarnya sudah bermain dengan tepat. ”Tapi di poin-poin akhir salah strategi, harusnya melakukan servis pendek, malah diangkat jadinya kita kena serang”, sambungnya dengan nada kecewa. Dari dua kali pertemuannya dengan Xingfang, Maria belum pernah memenangkannya. ”Saya ingin mengalahkannya, mungkin lain kali”, jawab Maria optimis.

Xie Xingfang sendiri mengaku cukup beruntung bisa memenangkan pertandingan. “Cukup ketat, tadi saya tidak terlalu bagus dalam kecepatan, untungnya bisa menang,” jelas Xingfang. Saat ditanya mengenai publik Istora yang mendukung penuh Maria, Xingfang mengaku tidak terpengaruh. ”Saya sudah terbiasa main di sini dengan situasi seperti itu”, paparnya. ”Mungkin dia mendapat tekanan”, tandas Xingfang saat diatanya mengenai penampilan Maria yang menurutnya kali ini banyak melakukan kesalahan sendiri.

Unggulan lainnya yang gagal melenggang ke 16 besar adalah tunggal Perancis, Pi Hongyan (5). Menghadapi tunggal terbaik PB Djarum, Maria Febe, Pi gagal mengulang kesuksesannya setahun yang lalu saat berhasil menundukkan Febe di babak pertama. Hampir dalam tempo 1 jam, Febe memumpuskan harapan Pi 24-22, 6-21, 21-15. Kekalahan ini merupakan kali kedua dalam 2 minggu terakhir dimana Pi harus berkemas pulang lebih awal di laga perdananya. Langkah Febe juga diikuti oleh wakil Pelatnas lainnya, Adriyanti Firdasari yang melibas hijarahan pemain China lainnya, Yao Jie, 21-14, 21-16.

Andalan Djarum lainnya, Maria Elfira yang juga ditantang oleh mantan pemain China, Wang Chen (4) sayangnya gagal mengikuti langkah Febe ke babak kedua setelah takluk 12-21, 15-21. Wang akhirnya menjadi satu-satunya wakil Hongkong yang tersisa di sektor putri setelah rekannya Yip Pui Yin gagal mengatasi wakil Jerman, Juliane Schenk 14-21, 16-21. Dua pemain muda Kim Moon Hi dan Porntip Buranaprasertsuk juga membuak prestasi besar dengan menghentikan laju para pemain senior, Wong Mew Choo dan Xing Aiying. Kim hanya membutuhkan waktu sekitar setengah jam untuk membungkam Mew Choo 21-18, 21-17 sedangkan Porntip menjegal Xing 21-13, 21-16

Di sektor tunggal putra masih belum terjadi kejutan yang berarti meskipun beberapa unggulan mendapat perlawanan yang cukup ketat dari para pesaingnya. Beberapa diantaranya juga harus melewati rubber game sebelum akhirnya memenangkan pertandingan. Simon Santoso (8) yang ditantang oleh jagoan nomor 3 Denmark, Jan O Jorgensen harus berjuang 3 set sebelum memetik kemenangan 16-21, 21-8, 21-19. Beruntung di akhir set ke-3 Simon mampu mengatur mental untuk bermain lebih sabar dan tidak terpicu emosinya. Andre Kurniawan Tedjono yang menantang kekasih dari Xie Xingfang, Lin Dan (1) rupanya harus bernasib sama dengan Maria Kristin yang gagal di poin-poin kritis set kedua. Tertinggal 13-21 di awal set, Andre yang mendapat dukungan penuh dari public Istora tak mampu meredam sindrom poin kritis di set kedua dan kalah menyesakkan 20-22.

Penonton yang sempat getar getir saat menyaksikan Sony Dwi Kuncoro (4) kalah 13-21 di set kedua setelah menang 21-15 di set pertama akhirnya bisa bernafas dengan lega ketiga Sony mampu keluar dari tekanan di set ke-3 dan berbalik unggul untuk merebut set ini 21-18. Pebulutangkis flamboyant, Taufik Hidayat yang sangat ditunggu-tunggu aksinya oleh para penonton akhirnya mampu bermain maksimal dengan memupuskan harapan tunggal Inggris, Andrew Smith 21-10, 21-15.

Pertikaian mental antar pemain semakin terlihat jelas pada partai Muhammad Rijal/Debby Susanto menghadapi runner up All England 2009, Ko Sung Hyun/Ha Jung Eun. Unggul 21-18 di set pertama, Rijal/Debby nyaris mengakhiri set kedua setelah unggul 20-17 terelebih dulu. Sindrom angka kritis untuk yang kesekian kalinya akhirnya mampu memupuskan harapan duo asal Djarum ini 21-23. Degenerasi mental keduanya semakin terlihat di set ketiga ketika mereka tak mampu keluar dari tekanan dan seringkali menjadi sasaran serang dari pasangan Korea. Tidak mampu mempertahankan momentum, Rijal/Debby akhirnya menyerah 21-16.

Flandy Limpele/Anastasia Russkikh yang membuka laga awal babak pertama rupanya masih kalah solid dari pasangan Korea, Yoo Yeon Seong/Kim Min Jung. Sempat menang 21-18 di set kedua, semifinalis turnamen Korea SS 2009 ini akhirnya harus mengakui ketangguhan Yoo/Kim 18-21, 16-21 di dua set berikutnya. Hasil berbeda justru diraih oleh mantan pasangan Flandy, Vita Marissa. Vita yang kali ini menggandeng Hendra Aprida Gunawan menghnetikan laju wakil Malaysia, Mohd Fairuz/Wong Pei Tty 21-19, 21-16. Duo Polandia yang sempat menjadi buah bibir ketika menekuk pasangan China, Xu Chen/Zhao Yunlei kali ini justru gagal mengatasi tandem Korea, Han Sang Hoon/Jang Ye Na dan menyerah 25-23, 18-21, 15-21.

Dua andalan Indonesia yang mewakili Pelatnas, Fran Kurniawan/Pia Zebadiah dan Nova Widhianto/Liliyana Natsir juga mencatat kemenangan atas lawan-lawannya. Fran/Pia menang mudah atas duta Belanda, Ruud Bosch/Paulien Van Dooremalen 21-8, 21-15 sedangkan NoLyn yang sempat mendapat perlawanan ketat di awal set pertama akhirnya mampu memenangkan duel mental 22-20 dan 21-13. Langkah kedua pasangan ini tidak mampu diikuti oleh wakil Pelatnas lainnya, Devin/Lita. Ditantang oleh peringkat 1 Eropa, Thomas Laybourn/Kamilla Rytter Juhl, DevTa akhirnya bertekuk 21-14, 9-21, 10-21.

Kekalahan terbanyak dari kubu Indonesia selain teralami di sektor tunggal putri juga tersaji di sektor ganda putra. Unggulan ke-7, Bona/Ahsan yang sempat bermain taktis di set pertama saat menjamu Anthony/Nathan dengan mencatat kemenangan 21-15, tidak berhasil mempertahankan momentum kemenangan mereka dan kandas 16-21, 10-21 di dua set berikutnya. Kekalahan ini semakin menambah daftar kekalahan mereka atas duet fenomenal asal Inggris tersebut. Mengikuti jejak BoAh adalah duet Edo/Lingga yang gagal mengatasi unggulan ke-5, Fu Haifeng/Cai Yun 14-21, 6-21 serta Wifqi/Afiat yang berhasil ditundukkan oleh kakak beradik Singapura, Hendri/Hendra 14-21, 21-16, 13-21.

Di babak kedua, Hendri/Hendra kembali akan ditantang oleh unggulan teratas, Markis/Hendra yang menghempas Michael Fuchs/Ingo Kindervater 21-10, 21-14. Tandem Pelatnas lainnya, Rian/Yonathan juga berhasil menundukkan utusan Jerman lainnya, Kristof Hopp/Johanes Schoettler 21-17, 21-19.

Selain para pemain Pelatnas, merah putih juga meloloskan tiga wakil lainnya di nomor ini. Runner up turnamen Malaysia SS 2009, Alvent/Hendra kembali membuat gebrakan dengan menyingkirkan andalan Malaysia, Choong tan Fook/Lee Wan Wah (8) setelah sempat tertinggal 16-21 di awal set pertama dan paruh awal set kedua. Namun berkat kegigihan motivasi keduanya, VenDra akhinya mampu bangkit dan merebut dua set berikutnya 21-18, 21-17. Menyusul langkah mereka adalah Luluk/Joko yang melibas semifinalis Singapore Open SS, Chen Hong Ling/Lin Yu Lang 21-11, 21-18 dan Anggun/Rendra yang menekuk duo negeri kincir, Ruud Bosch/Keon Ridder 21-13, 21-15.

Runner up turnamen Singapore SS 2009, Grace/Nitya kembali mendapat kesempatan untuk menantang peringkat tertinggi ganda China, Cheng Shu/Zhao Yunlei setelah berhasil mematahkan perlawanan kompatriotnya, Pia/Debby 21-14, 21-15. Grace mengaku lebih siap dan optimis menantang Cheng/Zhao karena skor pertandingan yang berimbang dari keduanya. Bahkan di pertemuan terakhir pada turnamen Denmark SS 2009, GraNi mampu membuat kejutan dengan menumbangkan keduanya di babak kedua, 21-15, 21-16. Dengan bercermin pada prestasi mereka di turnamen sebelumnya dan mundurnya Shendy/Meli (8) maka GraNi dipastikan akan menjadi tumpuan harapan Indonesia di sektor ini.

Di laga sebelumnya, Indonesia juga sudah melolsokan dua wakilnya ke babak 16 besar. Duet Anneke/Annisa yang minim jam terbang ternyata di luar dugaan mampu menaklukkan jagoan Malaysia, Ng Hui Lin/Woon Khe Wei 21-14, 21-15. Sedangkan Nadya Melati/Natalia Poulokan melumpuhkan jagoan Inggris Jenny/Gabby setelah melewati rubber set 21-13, 18-21, 21-18. Jo Novita yang kembali berduet bersama Rani Mundiasti sepertinya kurang mendapat porsi latihan yang cukup selama di Jakarta setelah sempat hijarh ke Kanada untuk menjinakkan pasangan gado-gado, Imogen Bankier/Donna Kellogg. Hanya dalam tempo kurang dari 30 menit, keduanya menyerah 12-21, 18-21 (FEY).

http://www.bulutangkismania.wordpress.com

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: