Bulutangkismania's Weblog

Juni 22, 2009

FINAL Results Indonesia SS ’09 : Tak Maksimal, China dan Indonesia Terganjal

Filed under: Turnamen — bulutangkismania @ 7:21 pm

Tanpa terasa 6 haripun berlalu sudah sejak hari pertama penyelanggaraan turnamen Djarum Indonesia Open SS 2009. Meskipun penampilan atlet-atlet Indonesia tidak sedahsyat tahun-tahun sebelumnya, kehadiran para atlet kelas dunia dihadapan publik Istora akan menggoreskan kenangan tersendiri di dalam memori para penggemarnya. Dua tahun yang lalu tim Indonesia yang diwakili oleh Pelatnas mampu meloloskan satu wakilnya ke babak final meskipun akhirnya hanya mampu menjadi yang kedua.

Kali ini merah putih yang hanya diwakili oleh pemain professional, Taufik Hidayat juga tak mampu berbuat banyak saat ditantang oleh jagoan Malaysia, Lee Choong Wei (1). Senasib dengan Indonesia adalah tim China yang berhasil menempatkan 4 wakil di 4 nomor yang berbeda. Namun di laga pamungkas hanya Zheng Bo/Ma Jin yang mampu naik podium dan mempersembahkan yang terbaik untuk negaranya.

Ganda Campuran, Zheng/Ma Sang Pembunuh Raksasa

Setelah menghempas NoLyn (1) dan Thomas/Kamilla (4) di laga sebelumnya, duet Zheng Bo/Ma Jin kembali membuktikan konsistensinya saat menantang peraih emas Olimpiade Beijing 2008, Lee Yong Dae/Lee Hyo Jung (2). Meskipun sempat terjadi saling mengejar angka, duo Lee secara umum menguasai jalannya pertandingan di paruh awal set pertama dengan skor 10-7 akibat pengembalian bola Zheng Bo yang terlalu melabar dan banyaknya kesalahan sendiri yang dilakukan Ma Jin khususnya saat mengolah bola di depan net.

Setelah menyakan angka di titik 10, Zheng/Ma mendapatkan momrntum kebangkitan keduanya untuk berbalik unggul 13-10 dengan bola-bola potong dan smash Zheng Bo serta penempatan yang akurat dari Ma Jin. Perjuangan satu demi satu angka yang diraih melalui reli-reli panjang pun akhirnya terjadi di level ini hingga kedudukan imbang 15-15. Dua kesalahan Hyo Jung di depan net dan bola tanggung Yong Dae yang dimanfaatkan dengan baik oleh Ma Jin mengubah skor 18-15. Serangan beruntun dari Zheng Bo kembali membuat duet China meluncur 19-16. Lee Hyo Jung sempat menambah 1 poin dari bola mengambang Ma Jin di atas net namun pengembaliannnya yang tidak sempurna dan gagal melewati net serta penempatan bola Zheng Bo di sudut belakang lapangan akhirnya menutup set ini untuk Zheng/Ma 21-17.

Di set kedua, duet China seperti kehilangan momentum terbaiknya dan tidak fokus dalam permainan. Beberapa kali bola Zheng/Ma gagal melewati net dan jatuh melebar keluar lapangan. Tak menyia-nyiakan kesempatan ini, duo Lee langsung menutup jeda interval set kedua dengan kemenangan telak 11-3. Bola-bola tanggung Zheng Bo dan ‘service fault’ yang acapkali dilakukannya semakin membuat duo tirai bambu kian tertinggal 5-16 dan 7-17. Serobotan Yong Dae yang gagal melewati net setelah sebelumnya mampu memetik angka melalui smash kerasnya mengantarkan ganda Korea pada skor kritis 18-8. Penempatan akurat Yong Dae di tengah lapangan, drop shot Zheng Bo yang gagal melewati dinding net serta adu drive yang ditutup oleh kesalahan Ma Jin memaksa rubber set dengan keunggulan duo Lee 21-8.

Pasangan China akhirnya kembali berhasil pada irama permainan mereka yang sebenarnya di set ketiga. Sebaliknya, duet negeri ginseng justru banyak melakukan kesalahan sendiri khususnya Lee Hyo Jung yang beberapa kali gagal menyebrangkan bola melewati net. Memimpin 5-1 di awal set, Zheng/Ma terus meluncur dan menyentuh jeda interval pertama kali, 11-7. Duo Lee sempat bangkit dan menekan pasangan China sehingga Zheng Bo seringkali tidak sempurna dalam mengembalikan bola. Ma Jin yang juga terkadang kurang cermat saat beradu drive di depan net membuat kedudukan kembali setara di titik 14.

Kesalahan beruntun yang dilakukan Hyo Jung dan Yong Dae membuat ZhengMa ‘leading’ 17-14 namun adu reli drive-drive pendek di depan net dengan dipadu netting bola-bola sulit menguntungkan tandem Korea untuk memperkecil selisih poin menjadi 16-17. Penempatan yang cerdik dari Ma Jin, pukulan ‘backhand’ Hyo Jung yang menyangkut di net serta serobiotan Hyo Jung yang terburu-buru dan akhirnya gagal melewati net memastikan gelar pertama bagi kubu China 21-16.

Saat diwawancarai usai pertandingan, Ma Jin sempat mengeluhkan luka di kaki kirinya yang sudah mulai terasa sejak set pertama dan memburuk di set kedua. “Selain karena faktor Ma Jin, set kedua memang sengaja kami lepas karena kami mengalami penuruan stamina yang luar biasa usai set pertama. Setelah menyimpan tenaga, kami kembali berusaha tampil sempurna untuk merebut set ketiga”, jelas Zheng Bo saat ditanya perihal kekalahan mereka.

“Kunci kemanangan kami sebanarnya ada 3. Yang pertama memang standar kualitas di China yang cukup tinggi untuk bisa terus dipadukan, yang kedua adalah karena kami merasa sangat percaya diri untuk menang dan yang ketiga kami termasuk pasangan baru sehingga banyak lawan yang belum mempelajari kekuatan kami” jawab Zheng Bo panjang lebar. “Kemenangan ini akan menambah kepercayaan diri kami untuk pertandingan selanjutnya. Target kami berikutnya adalah Kejuaraan Dunia” tambahnya kemudian. Saat ditanya mengenai aura Istora yang berbeda dengan turnamen super series lainnya Zheng Bo mengaku sudah mulai terbiasa dengan kondisi tersebut karena sebelumnya saat bersama Gao Ling dirinya juga menghadapi situasi yang sama.

Ma Jin sendiri mengaku tidak ada persiapan khusus kecuali latihan sehari-hari bersama Zheng Bo. Mengenai posisinya yang saat ini harus menggantikan nama besar pemain ganda terbaik China, Gao Ling, Ma Jin pun tidak mau terlalu ambil pusing. “Saya cuma bermain dengan gaya saya sendiri. Saat ini saya masih muda dan tidak mau ada beban dan berpikiran banyak tentang hal tersebut. Hal ini justru akan saya jadikan motivasi untuk kedepannya”, ungkap pemain kelahiran 7 Mei 1988 ini dengan santai.

Tunggal Putri, Bersinarnya Sang Bintang India

Harus diakui bahwa saat ini China mendominasi sektor putri tidak hanya di tunggal namun juga ganda. Kalaupun ada pemain yang mampu mendobrak esksistensi mereka cahayanya tidak akan berpendar lama dan langsung meredup kembali. Tine Rasmussen di usianya yang sudah mendekati kepala tiga merupakan salah satu nama yang sanggup mematahkan hegemoni para pemain China. Untuk kelas Asia Tenggara, nama Wong Mew Choo sempat melejit ketika dirinya berhasil menjuarai turnamen China Open SS 2007 dengan mendepak 3 pemain senior China sekaligus di hadapan publiknya sendiri, Zhu Lin, Zhang Ning dan Xie Xingfang. Namun sayangnya seiring dengan cedera lutut yang dialaminya, prestasinya pun menjadi kian meredup.

Setelah pada tahun lalu Maria Kristin secara mengejutkan mampu meloloskan diri ke babak final dengan menjegal langkah Zhang Ning, tahun ini kejutan rupanya datang dari dara 19 tahun asal India, Saina Nehwal (6). Tunggal peringkat 8 dunia itu hanya membutuhkan waktu kurang dari setahun untuk masuk dalam elit 10 dunia dan namanya mulai mendapat sosrotan publik paska kemenangannya atas Zhu Lin di babak perempatfinal China Masters SS tahun lalu dan Kejuaraan Dunia Junior 2008 dengan menundukkan Sayaka Sato asal Jepang di babak final.

Kehilangan fokus permainan di set pertama dan berakibat banyaknya kesalahan sendiri yang dilakukannya membuat Saina tertinggal jauh 4-9 dan 7-14 di set pertama. Serangan tajam Wang Lin yang gagal dikembalikan oleh Saina membuatnya terus unggul hingga 19-9 sebelum akhirnya menutup set ini dengan mudah 21-12. Hasil ini sempat menciutkan semangat publik Istora yang sejak awal pertandingan memberikan dukungan penuh kepada Saina. Tidak ada yang istimewa dari dara ini di set pertama sehingga kekhawatiran akan nasibnya berujung sama dengan tunggal Indonesia Maria Febe semakin tergambar saat memasuki set kedua.

Setelah mengambil nafas dua menit sembari mendapatkan wejangan dari sang pelatih, para penonton mulai terkesima dengan Saina ketika gadis India ini mampu mengambil setiap bola sulit yang diberikan Wang Lin dengan pengembalian yang sempurna. Bahkan tekanan yang dilakukan oleh Wang Lin acapkali menjadi senajat makan tuan yang akhirnya justru menambah keunggulan bagi Saina. Riuh rendah sorakan penonton sembari meneriakkan nama “IN-DI-A” semakin menambah seru jalannya pertandingan di set kedua. Tertinggal 1-4 di awal set, Saina mampu bangkit dengan permainan netting yang sempurna dan drop shot yang tajam hingga kedudukan 5-5. Adu netting yang akhirnya dikembalikan melebar kebelakang oleh Wang Lin dan smash keras Saina yang cukup keras membuatnya unggul lebih dulu 9-7 dan 11-8 saat jeda interval.

Adu bola-bola pendek di depan net yang ditutup oleh smash Wang Lin dan serobotan Wang Lin yang menempatkan bola jauh kebelakang membuat tunggal China ini kembali menyeimbangkan angka di titik 11. Saina kembali unggul 15-12 ketika penegmbalian Wang Lin setelah beradu netting selalu melebar ke luar lapangan dan smash Saina yang gagal dikembalikannya dengan sempurna. Pengamatan yang tidak cermat dari Wang juga membuat Saina lebih mudah untuk mengumpulkan poin setelah berkali-kali lob belakang dan ‘placing’ Saina selalu dilepas dan dianggap keluar oleh Wang.

Wang Lin kembali mendapatkan meomentum keduanya di titik 16-16 ketika bola-bola Wang Lin yang teralalu menukik gagal dikembalikan oleh Saina di depan net. Bahkan pemain muda China tersebut sempat unggul 17-16 ketika pengembalian Saina terlalu melebar kebelakang. Penempatan drop Shot Saina yang akurat kembali menyamakan skor di angka 17. Tiga poin beriring dari smash Saina dan bola drive Wang Lin yang terlalu melebar mengantarkan Saina pada match point 20-17. Lob Wang Lin ke bagian belakang lapangan setelah berada netting sempat memperpanjang nafas tunggal negeri panda tersebut namun adu drive yang diselesaikan dengan bola potong Wang Lin yang ternyata keluar memaksakan rubber set untuk Saina 21-18.

Kepercayaaan sang ratu Bombay tersebut akhirnya benar-benar bangkit di set ketiga. Setelah tertinggal 2-5 dan 5-7 di awal set Saina mampu membalikkan keadaan menjadi 12-7 ketika penempatan bola sulitnya dan drop shot silangnya sukses menembus partahanan Wang Lin. Saina terus memaksa bermain reli dan akhirnya mampu mampretahankan keunggulannya hingga kedudukan 15-8 dari bola-bola serangnya dan ‘defense’ yang luar biasa ketika harus mengejar bola-bola Wang Lin. Saina akhirnya hanya memberikan 1 angka untuk Wang Lin ketika drop shot Wang Lin berkali-kali menghujam lapangannya. Enam angka beruntun yang dikoleksinya penempatan dan akurasi serangan serta 2 ‘lucky shot’ hasil guliran bola di bibir net memastikan gelar pertama Sania di ajang Super Series, 21-9.

“Saya hampir tidak percaya dengan kemenangan ini. Benar-benar masih sulit membayangkannya”, ungkap Saina berseri. “Target awal saya cuma ronde pertama” akunya malu saat ditanya oleh pers perihal targetnya sebelum berangkat ke Indonesia. “Saya ketemu Petya di ronde pertama dan saat ini penampilannya sangat baik. Beberapa kali dia selalu mampu mengalahkan saya. Apalagi jalan saya ke babak-babak berikutnya tidaklah mudah”, cerita Saina. Mengenai kekalahan telaknya di set pertama, Saina mengaku memang kehilangan fokus pertandingan. “Saya benar-benar belum ‘in’ waktu itu. Pikiran saya terpecah, apalagi melihat suasana lapangan yang luar biasa. Oleh sebab itu saya hanya menganggapnya sebagai ‘warming up’ dan benar-benar mengalami penurunan semangat saat itu”, tambah Saina panjang lebar.

“Kuncinya di kepercayaan diri”, sahut Saina singkat. “Saat ini tidak banyak tunggal putri yang bisa bersaing dengan pemain China. Hanya Tine yang mampu membendung mereka” papar Saina. “Dukungan penonton juga berpengaruh besar terhadap kemenangan saya. Apalagi tadi ada suporter yang khusus membawa bendera India untuk saya” lanjutnya kemudian. “Kemenangan ini akan menjadi motivasi saya di turnamen selanjutnya. Saya akan berusaha tampil yang terbaik khususnya saat Kujuaraan Dunia 2009 yang akan dilangsungkan di negara saya”, tutur Saina bersemangat.

Atik Jauhari yang mendampingi anak didiknya saat ditanya oleh pers mengaku tidak membebani target apapun terhadap Saina.”Saya Cuma minta dia bermain lebih bagus dari Singapore Open minggu kemarin. Eh tidak disangka ternyata malah bisa merebut gelar juara”, jelas Atik. “Saya ingin memasukkan Saina ke peringkat 5 dunia tahun depan, tapi sepertinya target saya akan terepenuhi lebih cepat” tandasnya kemudian. Mengenai tips kemenangan Saina di set kedua setelah kekalahan telak di set pertama, Atik hanya menjawab “Saina memang mengalami kemajuan pesat akhir-akhir ini. Defense, smash, drop shot dan nettingnya berkembang jauh lebih lebik. Set pertama jiwa Saina memang tidak dilapangan, di set kedua saya minta dia untuk main reli dan saya yakin Saina pasti bisa menang klo diajak reli”, jelasnya dengan nada optimis.

Perihal hasil buruk yang dituai oleh srikandi Indonesia, Atik juga ikut berkomentar “Di India kondisinya jauh lebih sulit. Bulutangkis itu belum popular dan hanya untuk kalangan menengah ke atas. Orang tua di India lebih suka anaknya belajar di sekolah daripada turun ke lapangan. Jika mereka yakin dengan peluang bakat anaknya, barulah berani untuk professional di bulutangkis dengan menaggil guru sekolah ke rumah”. “Di sana pelatih seperti dewa ketiga, setelah kedua orang tua. Mereka benar-benar tunduk dan patuh kepada pelatih. Makanya mereka selalu disiplin dalam latihan. Saya rasa disiplin jugalah yang harusnya menjadi kunci bagi atlet Indonesia jika ingin berhasil” tuturnya kemdian.

“Saya sudah 27 tahun mengabdi untuk tim Indonesia. Beberapa waktu yang lalu, PBSI juga pernah meminta saran dari saya untuk kebangkitan pemain Indonesia dan saya selalu memberikan nasihat. Dan jika memang dibutuhkan, saya siap untuk senantiasa memberikan sumbangsih bagi Indonesia” jelas Atik saat ditanya apakah dirinya bersedia untuk menggantikan posisi pelati tunggal putri di Pelatnas.

Ganda Putri, Malaysia Runtuhkan Hegemoni China

Duet peringkat 1 dunia, Wong Pei Tty/Chin Eei Hui kembali menunjukkan konsistensi permainan mereka setelah di babak sebelumnya memetik kemenangan atas dua ganda terkuat dunia, Lee Hyo Jung/Lee Kyung Won dan Cheng Wen Hsing/Chien Yu Chin. Duet China yang menempati unggulan ke-2, Cheng Shu/Zhao Yunlei akhirnya gagal menambah koleksi gelar bagi tim China di turnamen ini. Wong/Chin tampil tak hanya sempurna dalam hal ‘defense’ akan tetapi juga unggul dari sisi serangan dan permanan netting.

Di set pertama, Chin Eei Hui yang kali ini tampil minim ‘unforced error’ mampu unggul 12-6 dan 18-11 dari kesalahan sendiri yang dilakukan oleh Cheng/Zhao.Pertandingan yang merupakan antiklimaks dari tandem terbaik China ini berhasil dimanfaatkan wakil Malaysia untuk memetik kemenangan 21-16 di set pertama. Perolehan poin yang lebih ketat dengan malului reli-reli panjang antara kedua pasangan kembali tersaji di set kedua. Cheng/Zhao yang tak mampu keluar dari tekanan dan banyak melakukan kesalahan sendiri akhirnya kembali tertinggal 7-12 di apruh awal set kedua.

Sempat memperkecil selisih poin menjadi 12-13 dan 13-14 dari bola-bola potong Zhao Yunlei dan beberapa kesalahan sendiri Wong Pei Tty, duo China kembali kedodoran 13-17 dari penempatan bola-bola Chin Eei Hui yang sulit dijangkau. Kesalahan beruntun Wong/Chin di depan net, menambah koleksi poin Cheng/Zhao menjadi 16-17 namun 4 angka beruntun yang diraihWong/Chin dari ‘placing’ dan smash Wong Pei Tty, serta smash Cin Eei Hui yang tidak mampu diantisipasi oleh Cheng Shu akhirnya menutup set ini 21-16 untuk kejayaan sang negeri jiran.

Tunggal Putra, Taufik Gagal Pecahkan Rekor

Ambisi untuk memecahkan rekor 6 kali juara Indonesia Open atas nama Ardy B Wiranata dan Susy Suanti rupanya gagal diwujudkan oleh tunggal asal Pangalengan ini. Di tantang oleh unggulan teratas, Lee Choong Wei, Taufik yang mendapat dukungan dari segenap pengunjung Istora rupanya masih belum mampu meredam keuletan pemain terbaik dunia tersebut.

Di awal set pertama, Taufik masih mampu meladeni serangan dan tekanan Lee dengan menyamakan kedudukan di angka 5. Namun seiring dengan berjalannya waktu, banyaknya bola-bola Taufik yang tak mampu melewati net dan pengembaliannya yang melebar ke luar lapangan mengubah 9-5 dan 11-7 untuk Choong Wei saat jeda interval set pertama. Bola tanggung Taufik setelah adu drive di depan net juga memudahkan Lee untuk menutup set ini. Smash dan lob serangnya mampu membuat Lee unggul 12-9. Delapan poin beruntun yang dibukuan oleh Lee dari pengembalian ‘eror’ Taufik akhirnya memudahkan Lee untuk merebut set ini dengan kemenangan telak 21-9.

Penampilan Taufik di awal set kedua ketika membuahkan poin demi poin kembali memicu semangat para pendukungnya. Unggul 7-1 rupanya tidak mampu dimanfaatkan oleh peraih medali emas Olimpiade tersebut untuk mendapatkan momentum ‘second winning’-nya. Smash dan bola serobotan Lee di depan net akhirnya mampu membuatnya menyamakan kedudukan dia angka 7 dan berbalik unggul 10-8. Taufik kembali menyamakan angka di titik 11 dari permainan nettingnya yang super tipis dan backhand smash yang cukup keras.

Setelah tertinggal 11-13 dan 12-15 dari smash Lee yang dikembalikan ‘out’ oleh Taufik, tunggal merah putih tersebut kembali memperkecil selisih angka menjadi 14 -15 dari beberapa kesalahan sendiri Choong Wei dan smash-smash keras Taufik. 6 angka berturut-turut yang dikumpulkan Lee dari smash silangnya dan pengembalian melebar Taufik akhirnya menyudahi set ini sekaligus memastikan gelar kedua bagi negeri jiran, 21-14.

Lee Choong Wei yang diwawancarai usai pertandingan mengakui bahwa Taufik memiliki kelemahan di depan net pada hari ini. “Saya hanya mencoba untuk fokus di pertandingan, meskipun sempat tertinggal di awal set kedua” paparnya dengan bahasa melayu yang cukup fasih. Mengenai kesempatan karir Taufik di masa yang akan datang, Lee tidak mau berkomentar. “Kita sudah berteman baik sejak lama. Saat ini dominasi China di tunggal putra cukup kuat, mungkin kita berdua diantaranya yang mempunyai kesempatan untuk menandingi mereka” ungkap tunggal terbaik dunia yang sejak bulan depan akan dilatih oleh Hendrawan ini. “Saat ini saya masih dilatih oleh Rashid, ada banyak hal yang bisa saya pelajari dari Hendrawan, salah satunya adalah masalah disiplin” ungkapnya kemudian.

Ganda Putra, Jung/Lee Pupuskan Ambisi Fu/Cai

Duel yang tak kalah serunya adalah pada partai terakhir antara wakil Korea, Jung Jae Sung/Lee Yong Dae (6) yang menjamu unggulan ke-5, Fu Haifeng/Cai Yun. Fu/Cai menjadi harapan terakhir tim China untuk menambah gelar setelah dari 4 wakil yang bertanding di partai puncak, China hanya mampu mengoleksi satu gelar. Permainan reli-reli drive cepat yang disajikan oleh kedua pasangan menjadi tontonan yang cukup seru bagi para pengunjung Istora. Duet Jung/Lee yang lebih mengandalkan kecepatan serangan dan bola-bola pendek, mampu menekan Fu/Cai dan ‘leading’ 14-8. Meskipun sempat memperkecil selisih poin menjadi 14-16 dari penempatan bola akurat Cai Yun, duo China masih sulit untuk mebendung gempuran Jung/Lee dan kembali tertinggal 14-19.

Tidak hanya memiliki pertahanan yang sempurna, pasangan Korea khusunya Yong Dae juga cukup jeli untuk melihat setiap peluang yang ada ketika akan melancarkan serangan. Servis panjang Fu yang sempat menipu ganda Korea akhirnya mengubah kedudukan menjadi 15-19. Adu drive yang ditutup oleh kegagalan Fu di depan net serta net silang Cai Yun yang gagal melewati dinding net setelah berkali-kali menekan Yong Dae namun selalu mampu dikembalikan oleh ‘si anak ajaib’ tersebut akhirnya menyudahi set ini untuk tandem negeri ginseng, 21-15.

Perseteruan di set kedua berlangsung lebih intens dengan selisih 1-3 poin. Fu/Cai yang sudah mampu mengembangkan permainan mereka akhirnya mampu mengimbangi serangan dan tekanan dari pasangan Korea. Tertinggal 1-4, Fu/Cai mampu menyemakan kedudukan di titik 5 dan berbalik unggul 11-9. Smash beruntun pasangan China yang selalu mampu dikembalikan oleh ganda Korea akhirnya menjadi suatu tontongan yang apik ketika Jung/Lee mampu menciptkan momen untuk balik menyerang dan akhirnya menghasilkan poin. Setelah kedua pasangan berbagi angka sama hingga skor 16-16, Jung/Lee lebih dulu menyentuh skor 18-16 dari permainan drive cepat di depan net yang gagal dikembalikan oleh Fu dan penempatan Jung Jae Sung di depan net.

Pengembalian melebar Lee Yong Dae dan Jung Jae Sung kembali memunculkan asa untuk ganda China 18-18. Tiga angka beruntun dari adu netting yang di kembalikan ‘out’ oleh Fu Haifeng, bola tanggung Fu yang di selesaikan sempurna oleh smash Yong Dae dan smash keras Yong Dae kea rah baseline sudut kanan lapangan menutup kesempatan bagi duet China , 18-21. Cai Yun yang merasa kesal dengan hasil ini sempat mematahkan raketnya sebelum bersalaman dengan atlet terkait dan para official.

Usai pertandingan Jae Sung hanya mengakui bahwa kunci kemenangan mereka kali ini adalah permainan bola-bola cepat di depan net. “China mungkin bermain di bawah ‘pressure’ teruatama di set kedua, mereka banyak mealakukan kesalahan sendiri”, urai Jae Sung. Mengenai tingkat kesulitan permainan, Jung/Lee mengaku bahwa pertahanan China lebih sulit ditembus namun untuk tingkat kesulitan maka partai semifinal lah yang lebih sulit. “Tadi di kedua kita sempat mendapat ‘bad call’ dan faktor tesrebut merupakan hal yang paling kritis khususnya bagi Yong Dae. Namun meskipun kehilangan momentum, kita akhirnya encoba untuk fokus kembali”, papar Jung kemudian.

Fu/Cai yang juga sempat ditemui usai pertandingan hanya menjawab pendek perihal kekalahan mereka, “Korea memang tampil lebih baik, kami kalah cepat dari mereka. Tapi kami tetap akan terus mencoba di Kejuaraan Dunia nanti” (FEY).

http://www.bulutangkismania.wordpress.com

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: