Bulutangkismania's Weblog

Juni 28, 2010

Indonesia Open Super Series 2010 : Kali Ketiga Tanpa Gelar Juara

Filed under: Turnamen — bulutangkismania @ 8:24 pm

Para duta merah putih untuk ketiga galinya gagal memetik satu gelarpun sepanjang sejarah perhelatan turnamen Indonesia Open sejak tahun 1982. Setelah di tahun 2007 tim merah putih hanya kebagian satu gelar runner up, tragedi yang sama kembali terjadi pada tahun 2009 ketika Taufik juga gagal meraih podium juara atas jagoan Malaysia, Lee Choong Wei.

Di usianya yang sudah menginjakkan tahun ke-29 turnamen Indonesia Open sudah banyak sejarah yang mampu diukir oleh para pebulutangkis anak negeri di kandang sendiri. Tidak hanya mampu menyabet 1-2 gelar, para pemain Indonesia bahkan menyapu bersih semua gelar di turnamen ini pada tahun 1983, 1996, 1997, dan 2001. Bahkan dua nama pemain tunggal Indonesia, Ardy Wiranata dan Taufik Hidayat mencatatkan sejarah mereka dengan menjadi juara enam kali edisi.

Namun sejak dua tahun terakhir terjadi pergeseran yang cukup signifikan dari peta kekuatan bulutangkis dunia yang dulunya hanya dirajai oleh China, Indonesia, Malaysia, Korea dan Denmark. Para pemain dari negara India, Polandia, Rusia, Taiwan, Thailand, Jepang dan Singapura ternyata sudah mampu mendobrak dominasi dari lima negara tersebut.

Tahun ini merupakan kali ke-3 tim merah putih harus puas dengan hanya menyandang gelar runner up. Dan satu hal yang harus digarisbawahi adalah tidak ada satupun pemain China yang ikut ambil bagian di turnamen ini. Nama besar Taufik Hidayat untuk kedua kalinya menjadi harapan satu-satunya publik Istora di partai puncak namun akhirnya tidak mampu mengimbangi permainan tunggal nomor satu dunia, Lee Choong Wei. Dalam laga berdurasi 37 menit kemarin, Taufik harus menyerah dua set langsung, 21-19, 21-8. Di paruh akhir set pertama, setelah sempat tertinggal 10-15 Taufik sebenarnya mampu mempertipis selisih poin menjadi 15-16 dan akhirnya mendapatkan momentum di angka 18 untuk unggul 19-18 ketika mampu menyajikan permainan bertahan dan balik melakukan serangan atas tunggal Malaysia tersebut. Namun beberapa kesalahan sendiri yang dilakukan oleh Taufik di depan net setelah terlibat reli panjang memaksa Taufik untuk menyerahkan set ini kepada Choong Wei. Stamina Taufik yang menurun drastis di set kedua akhirnya menjadi penentu kemangan Lee Choong Wei untuk merebut gelar ketiganya di turnamen ini.

“Saya mengakui penurunan kondisi fisik di set kedua, tetapi saya tetap berusaha untuk bermain yang terbaik”, papar Taufik saat konferensi pers usai pertandingan. Pada saat latihanpun sebenarnya Taufik sudah mencapai porsi maksimal dan sulit untuk ditambah lagi. Selain itu persiapan disela-sela persiapan Taufik di turnamen ini, dirinya sempat mengalami beberapa hambatan seperti sakit, menunggu kelahiran anaknya dan beberapa permasalahan lain namun peraih emas Olimpiade Athena 2004 ini sama sekali tidak menganggap hal itu menjadi faktor kekalahannya atas Choong Wei. “Dia (Lee) memang bermain lebih bagus, dan saya harus mengakui bahwa penampilannya lebih baik dari saya”, lanjutnya.

Saat ditanya perihal penurunan performa yang sudah dialaminya, Taufiik menyadari hal itu sepenuhnya. “Saya tahu saat ini saya sudah tidak berada di puncak lagi. Masa saya sudah lewat”, jelas Taufik. Taufik paham bahwa dalam olahraga setiap orang pada waktunya akan mengalami penurunan, termasuk dirinya atau bahkan Lee Choong Wei suatu saat nanti. “Namun saya tidak mau mengundurkan diri secara tiba-tiba, seperti orang terjun payung” tandasnya kemudian.

“Saya minta maaf kepada masyarakat Indonesia yang sudah mendukung saya, tapi perjuangan saya sudah maksimal untuk melakukan yang terbaik” pungkas Taufik. Sebelumnya, Taufik juga sempat menggarisbawahi masalah regenerasi dan evaluasi yang seharusnya sudah dilakukan oleh PBSI. Konsistensi permainan Sony yang mampu menjegal Choong Wei di turnamen Singapore Open SS namun kembali harus bertekuk atas jagoan Malaysia tersebut di babak semifinal turnamen ini.

Wakil Indonesia lainnya, Hendra Setiawan yang berpasangan dengan pemain Rusia, Anastasia Russkikh juga belum mampu berbuat banyak saat ditantang oleh tandem Polandia, Robert Mateusiak/Nadiezda Zieba. Setelah kalah tipis 18-21 di set pertama, duo gado-gado ini mampu memberikan perlawanan ketat di set kedua. Meskipun Hendra/Anastasia memiliki tehnik yang memadai namun beberapa permainan tanggung Anastasi di depan net memudahkan duo Polandia untuk memastikan kemenangan mereka di set kedua. Meskipun kedua pemain ini memiliki pertahanan yang cukup baik, namun Hendra seringkali sulit untuk melakukan maneuver karena Anastasia lebih banyak mengangkat bola dan memberikan peluang bagi duet Polandia untuk melakukan serangan. Sempat unggul 20-18 di set kedua, pasangan Indonesia/Rusia yang lebih banyak bermain defensive akhirnya gagal membendung permainan cepat Robert/Nadiezda dan menyerah 20-22.

“Permainan Eropa berbeda dengan Asia dan saya kurang familiar dengan tipe mereka” jawab Hendra saat ditanya perihal kekalahan mereka. “Tipe Eropa biasanya lebih susah, lebih cepat dan bola-bolanya lebih halus sedangkan tipe Asia (Korea, red) lebih mengandalkan bola-bola kencang” ungkap pasangan Markis Kido ini yang mengaku tidak ada masalah bermain rangkap. Sementara itu Anastasia mengaku cukup puas dengan hasil yang mereka raih karena tidak ada prediksi sebelumnya bahwa mereka mampu melaju hingga partai final. “Saya akan lebih banyak latihan dengan cara datang ke Jakarta beberapa bulan sekali” cerita gadis yang sudah beberapa kali berganti pasangan main ini.

Sementara itu duet Polandia merasa bangga dengan gelar pertama yang mereka raih di Indonesia meskipun mereka bermain di bawah tekanan. “Kita bermain dalam situasi yang sangat nerveous” kata Robert saat ditanya perihal protes yang sempat dia layangkan kepada wasit ketika beberapa kali servisnya dianggap fault. Tidak hanya dalam pertandingan mengahadapi Hendra dan Anastasia, Robert/Nadiezda juga telah bertanding mengalahkan ganda Indonesia di dua babak sebelumnya. “Banyak beban dan tekanan karena kita menghadapi pasangan Indonesia sejak babak perempatfinal” sergahnya kemudian. “Tapi beruntung, mereka juga membuat beberapa kesalahan sendiri di angka kritis” lanjutnya sembari meminta maaf kepada pers karena harus mengejar pesawat pulang dalam waktu 2 jam berikutnya. Jadi, kalau terpaksa harus bermain rubber set harus siap-siap ditinggal pesawat dong? (FEY)

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: