Bulutangkismania's Weblog

Agustus 3, 2012

Results Day 6 Badminton Olympics 2012 : Rapor Merah Kedua Bulutangkis Indonesia

Dua puluh tahun yang lalu debut perdana bulutangkis di Olimpiade berhasil diukir manis oleh Susi Susanti dan Alan Budikusuma dengan mengawinkan dua medali emas. Tradisi tersebut terus terjalin rapi hingga 4 tahun yang lalu. Sayangnya tahun ini ekspektasi publik merah putih harus kandas seiring dengan terhentinya  andalan Indonesia, Tontowi/Liliyana (ToLyn-red) di babak semifinal. Beban sebagai satu-satunya wakil merah putih yang tersisa, berimbas pada performa keduanya sehingga harus mengakui ketangguhan duo China, Xu Chen/Ma Jin (2).

 

Sinyal kekalahan ToLyn sebenarnya sudah terlihat sejak memasuki paruh akhir gim pertama. Tidak menampilkan permainan menyerang dan menyulitkan seperti biasanya, ToLyn terlihat berhati-hati dan tampil tidak lepas. Keduanya hanya mengandalkan permainan cepat di depan net serta menunggu momentum untuk menekan dan menyerang. Sempat unggul 17-11 kondisi ToLyn yang tidak stabil membuat Xu/Ma mampu memperkecil selisih poin 17-18 dan akhirnya menyamakan kedudukan di angka 20. ToLyn nyaris kehilangan peluang untuk menutup gim ini saat Xu/Ma berbalik unggul 21-20 namun ketenangan mereka berhasil mengantisipasi kesalahan sendiri yang tidak perlu sehingga mampu menuai kemenangan 23-21.

 

Prediksi pertandingan di gim kedua yang akan berlangsung sama seperti saat ToLyn berhadapan dengan duo Denmark, Thomas/Kamilla ternyata justru berbalik. Tandem China sukses mengubah tempo serta strategi permainan dan dengan penempatan bola-bolanya yang akurat membuat posisi Indonesia semakin tertekan. Meskipun ToLyn beberapa kali berusaha untuk mengimbangi permainan dan perolehan poin Xu/Ma, keduanya gagal mengantisipasi rubber gim dengan kekalahan 18-21.

 

Tidak ada perubahan strategi yang signifikan dati kubu Indonesia untuk membendung permainan agresif ganda China di gim ketiga. Padahal di laga terakhir mereka pada turnamen All England SS Premier 2012 yang lalu saat menghadapi lawan yang sama, ToLyn mampu berpikir taktis dan mencari strategi yang pas sehingga mengubah posisi tertekan berbalik unggul dan akhirnya menang.

 

Beban emas Olimpiade yang memang berbeda prestise dibandingkan dengan turnamen lainnya membuat posisi ToLyn kian tak berdaya sehingga beberapa kali harus pontang-panting mengembalikan penempatan bola tak terduga dari pasangan China. Kesalahan beruntun yang seharusnya tidak perlu dilakukan oleh ToLyn kian memperburuk keadaan dan membuat keduanya semakin tertinggal. Tak mau menyia-nyiakan kesempatan emas ini, Xu/Ma menyudahi perlawanan ToLyn, 21-13.

 

“Pastinya kecewa tapi inilah yang yang namanya permainan, ada yang menang dan ada yang kalah. Kami tidak mau down, karena besok masih ada perebutan medali perunggu,” ungkap Liliyana dengan mata berkaca-kaca.

 

“Set ketiga kami sudah tertekan. Sudah terlalu jauh dan berat untuk mengejar ketertinggalan. Saya pribadi tegang merasa tekanan terlalu besar, memikirkan menang-kalah malah jadi error-error sendiri,” papar Tontowi dengan nada kecewa.

 

Hasil ini memastikan medali emas dan perak sektor campuran Olimpiade London 2012 jatuh ke tangan China  setelah pada pertandingan semifinal yang berbeda, unggulan teratas Zhang Nan/Zhao Yunlei juga mencatat kemenangan atas wakil Denmark, Joachim Fischer/Christinna Pedersen, 17-21, 21-17, 21-19. Peluang terakhir Indonesia untuk merebut medali adalah posisi ketiga dengan menantang Joachim/Christinna di babak play-off.

 

Sejarah buruk terputusnya emas bulutangkis Indonesia di Olimpiade London 2012 ini merupakan rapor merah kedua yang dibukukan oleh para pebulutangkis kita. Sebelumnya, di ajang beregu Piala Thomas-Uber 2012, Indonesia secara mengejutkan juga mengukir sejarah kekalahan dini di laga perempatfinal untuk yang pertamakalinya dan itupun dilakukan oleh para pebulutangkis Jepang yang notabene merupakan ‘anak baru’ di dunia perbulutangkisan.

 

Sinyalemen merosotnya prestasi bulutangkis Indonesia bahkan sudah lebih jauh dari itu. Namun sayangnya sampai saat ini paradigma evaluasi secara menyeluruh yang dilakukan oleh PBSI pada realisasinya masih hanya merupakan suatu wacana saja. Hikmah positif yang dapat kita ambil dari kekalahan ini, semoga ada reformasi yang signifikan dalam elemen PBSI sehingga krisis bulutangkis yang terjadi dapat segera diatasi.

 

AhNa Terhenti

 

Harapan merah putih lainnya di sektor ganda putra, Ahsan/Bona (AhNa-red) sudah lebih dulu terhenti di laga delapan besar pada pertandingan pagi hari tadi. Menghadapi unggulan ke-2, Jung Jae Sung/Lee Yong Dae, AhNa dipaksa menyerah dalam pertarungan 44 menit, 12-21, 16-21.

 

Jung/Lee bermain sangat baik, kami akui mereka lebih bagus. Defense mereka rapat, serangan balik mereka juga bagus,” terang Ahsan soal pertandingannya.

 

Ahsan mengaku sudah menggunakan berbagai cara untuk menembus pertahanan ganda Korea Selatan tersebut yang memang sangat solid. Smash keras Ahsan dan permainan net Bona di area depan belum mampu mematahkan pertahanan Jung/Lee. Bahkan Jung sempat beberapa kali terjatuh menerima hantam dari smash keras Ahsan, namun pemain senior Korea tersebut selalu mampu mengembalikannya dengan baik.

 

“Lee permainan depannya bagus dan antisipasi bolanya cepat. Kami sempat mengincar Jung karena dia banyak melakukan kesalahan sendiri,” papar Bona kemudian.

 

“Tapi ternyata dia sudah tahu diincar dan sudah siap.  Sebenarnya mengincar dia susah juga, tidak bisa mukul sekali mati,” tambah Ahsan.

 

Kemenangan Jung/Lee ini semakin mendekatkan mereka ke babak final untuk meraih medali. Keduanya akan menantang ganda Denmark, Mathias Boe/Carsetn Mogensen. Pasangan nomor satu Eropa tersebut melangkah ke babak final dengan menekuk wakil Taiwan, Fang Chieh Min/Lee Sheng Mu, 21-16, 21-18.

 

Semifinal lainnya akan mempertemukan unggulan teratas, Fu Haifeng/Cai Yun dan tandem Malaysia, Koo Kien Keat/Tan Boon Heong. Fu/Cai meraih kemenangan atas kompatriot mereka, Chai Biao/Guo Zhendong, 21-15, 21-19 sedangkan Koo/Tan menyudahi perjalanan sang ganda muda Thailand, Maneepong Jongjit/Bodin Issara, 21-16, 21-18.

 

Pada sektor putri, seperti yang sudah diprediksi sebelumnya China dan Jepang akhirnya melaju ke babak final. Unggulan ke-2, Tian/Zhao tanpa kesulitas meyudahi perlawanan wakil Rusia, Valeri Sorokina/Nina Vislova, 21-19, 21-6. Sedangkan duet Jepang, Mizuki Fujii/Reika Kakiiwa membutuhkan laga tiga gim untuk menyingkirkan ganda Kanada, Alex Bruce/Michele Li, 21-12, 19-21, 21-13 (FEY).

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: