Bulutangkismania's Weblog

Agustus 4, 2012

Features Day 7 Badminton Olympics 2012 : PBSI Wajib Berbenah

Prestasi bulu tangkis Indonesia di tahun ini benar-benar dalam kondisi kritis. Tidak hanya karena miskin gelar, kegagalan yang tak terduga juga harus dialami oleh merah putih dalam kejuaraan beregu Piala Thomas-Uber 2012. Puncaknya adalah di Olimpiade kali ini, ketika terputusnya tradisi emas bulu tangkis yang sudah terjalin sejak 20 tahun yang lalu. Bahkan untuk sekeping perunggu sekalipun, merah putih harus rela gigit jari dan menjadi penonton dari keberhasilan negara-negara lainnya.

 

Akhir Mei 2012 yang lalu para mantan atlet bulu tangkis dari beberapa generasi yang pernah mengukir prestasi internasional menyampaikan petisi keprihatinan atas kegagalan prestasi Indonesia di ajang piala Thomas dan Uber 2012. Beberapa poin penting dari petisi itu diantaranya mendesak PBSI melakukan pembenahan segi struktural dan kepelatihan. Hasil tanpa medali untuk yang pertama kali di ajang Olimpade kembali membuat PBSI menjadi sorotan media dan publik Indonesia melengkapi kegagalan bulu tangkis di ajang beregu sebelumnya.

 

Ketua Umum PBSI Djoko Santoso kala itu sempat membantah tudingan para mantan atlet bulu tangkis Indonesia yang mengatakan bahwa saat ini cabang olahraga kebanggan merah putih tersebut sedang terpuruk.

 

“Prestasi bulu tangkis Indonesia tidak terpuruk lah. Kalau tidak sesuai harapan, mungkin benar,” kata Djoko saat menyikapi kekalahan tim Thomas dan Uber Indonesia bulan Mei yang lalu.

 

PBSI juga sempat menyebutkan beberapa prestasi yang mereka anggap mampu mengangkat nama bulu tangkis Indonesia, diantaranya emas Sea Games 2009 dan 2011, medali emas Asian Games 2011, kejuaraan dunia junior 2011, juara Osaka International Challenge 2012, serta juara All England SS Premier 2012, Swiss Open Grand Prix 2012 dan India Open SS 2012.

 

PBSI juga mengaku telah melakukan evaluasi dan beberapa langkah perbaikan di jajaran pengurus, atlet, pelatih dan official. Langkah perbaikan yang juga akan dilakukan antara lain, meningkatkan kedisiplinan, militansi atlet, kemampuan taktik, serta memperbaiki koordinasi pelatih dan pemain.

 

Pernyataan PBSI tersebut ditanggapi dengan rasa kecewa oleh Ivana Lie, yang ikut membidani lahirnya petisi para mantan atlet beberapa generasi usai kekalahan yang diderita Indonesia pada ajang beregu Thomas dan Uber Cup 2012 yang lalu.

 

“Turnamen yang kita juarai itu (yang disebut PBSI) jenjang kelasnya di bawah. Sea Games memang berhasil tapi tidak bisa menjadi ukuran buat kita. Ada semacam degradasi kualitas prestasi. Kita bicaranya tingkat Asia, kejuaraan dunia. Harusnya tingkat super series, kejuaraan dunia,” kata Ivana.

 

Kali ini PBSI kembali terpaksa harus menelan ludah. Kegagalan yang diderita oleh bulu tangkis Indonesia akhirnya mencapai titik puncak di ajang Olimpiade London 2012 ini ketika gagal memboyong satu medalipun.

 

Djoko Santoso kembali dintuntut oleh publik terhadap elemen organisasi yang dipimpinnnya. Ia menyatakan bahwa dirinya yang bertanggung jawab atas kegagalan sektor andalan Indonesia tersebut. “Ini kegagalan yang total. Saya yang bertanggung jawab. Saya minta maaf kepada seluruh pecinta bulu tangkis,” katanya, Jumat (03/8/2012).

 

Ia mengatakan, selanjutnya akan segera melakukan evaluasi untuk melakukan pembaruan. “Semua akan kami ubah, pengurus, pelatih, atlet, sistem pembinaan dan rekrutmen,” kata Djoko yang masa jabatannya akan berakhir tahun ini.

 

Sang legenda bulu tangkis, Lim Swie King seperti yang dikutip oleh detiksport juga mengakui ada yang salah dari sistem pembinaan saat ini. Namun hal terpenting menurutnya adalah introspeksi dan langkah ke depan.

 

“Pasti (ada yang salah). Pembinaan atau dari sistem pembinaannya, talent scouting, kepelatihan, ada banyak yang harus dilihat. Yang kita lihat jangan cuma kekalahan dan prestasi secara umum.”

 

“Saya rasa hal-hal itu perlu dilakukan perbaikan, yang penting ke depannya harus introspeksi,” lanjutnya.

 

“Tadinya harapan kita ada pada ganda campuran, yang paling mungkin meraih emas. Tapi kenyataannya tadi kalah. Selama 20 tahun kita menjaga tradisi emas, kegagalan ini menurut saya tetap mengejutkan. Tapi kita tak bisa berhenti sampai di sini, harus memikirkan bagaimana ke depannya,” tuntas Lim.

 

Sementara itu Rudy Hartono menekankan pada urgensinya regenerasi bulutangkis Indonesia. Tidak hanya dari sisi pemain namun juga pada kepengurusan PBSI selaku induk organisasi bulutangkis Indonesia.

 

“Ini kesalahan pembinaan regenerasi. Siklusnya harusnya 5 tahun sekali muncul pengganti, ini baru tepat. Kalau Indonesia sudah lebih 10 tahun tapi tidak ada regenerasi,” kritik Rudy.

 

“Ini semua karena pembinaan secara masal tidak ada, tidak berjenjang, cuma lewat klub. Perlu ada pemasalan di sekolah-sekolah. Itu sarana paling tepat untuk mendidik anak-anak usia dini. Mungkin tidak semua bisa melakukannya, tapi paling tidak kalau ada 30% saja pasti Indonesia tidak kekurangan,” lanjutnya kemudian.

 

Menyikapi soal rengenerasi di tubuh PBSI, Rudy berkomentar, “Saya itu sudah berbakti kepada PSBI sejak berhenti bermain dari tahun 1982 sampai 2008. Jadi saya rasa perlu ada regenerasi.”

 

“Saya berterima kasih untku perhatian pengamat atau siapapun (yang menjagokan dirinya), tapi saya merasa sudah cukup, biarkan ada regenerasi. Harus berani mencoba, kalau tidak mandek. (Ketua umum nanti) Harus yang benar-benar antusias, mau terbuka. Bisa dari mantan atlet, orang sipil pun bagus,” simpulnya (FEY).

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: