Bulutangkismania's Weblog

Januari 21, 2013

Malaysia Open SS 2013 : Hendra Setiawan, “Jangan Biarkan Momentum Ini Terhenti”

2013_Maybank_Malaysia_Open_bannerMeskipun hanya menyisakan pasangan Ahsan/Hendra di laga pamungkas sektor ganda, Indonesia akhirnya berhasil naik podium tertinggi dan memastikan satu gelar di turnamen Maybank Malaysia Open SS 2013. Duo Denmark, Joachim/Christinna (2) menggagalkan ambisi tuan rumah untuk menjadi yang terbaik di sektor campuran sedangkan Bao/Tian (5) yang baru di tandemkan sukses merebut gelar perdana mereka di nomor putri.

 

Paska kemenangan duet Markis Kido/Hendra Setiawan (KiNdra) di turnamen Singapore Open SS 2012 yang lalu, kondisi sektor ganda Indonesia sempat mati suri, terlebih setelah berpisahnya pasangan peraih emas Olimpiade Beijing 2008 tersebut. Hendra yang kemudian dipasangkan dengan Ahsan sempat membuat kejutan dengan menjadi semifinalis Denmark Open SS Premier 2012. Namun di tiga turnamen berkutnya, keduanya tak mampu konsisten dan meraih hasil maksimal.

 

Mencapai prestasi tertinggi selama berkarir bersama, Ahsan/Hendra (ANdra) berhasil melenggang ke partai puncak untuk menantang kampiun French Open SS 2012 dan Korea Open SS Premier 2013, Ko Sung Hyun/Lee Yong Dae. ANdra tampil memukau dengan serangan-serangannya dan pertahanan yang sempurna. Penampilan Ahsan yang jauh lebih baik dan tidak seperti biasanya membuat tandem Korea Selatan mati kutu dan tidak mampu mengembangkan permainan.

 

Sejak awal gim pertama kedua pasangan sudah terlibat saling menyerang secara intens. Pasangan yang tidak siap dan pengembalian yang tak sempurna di eksekusi dengan baik oleh lawan masing-masing. Kejar-mengejar dan saling memimpin dengan selisih 1-2 poin hingga kedudukan 12-12 membuat partai ini berlangsung menarik dan sulit ditebak. Masing-masing mengandalkan bola tanggung dan kesalahan dari sang lawan. Penempatan bola-bola sulit ANdra di sudut lapangan dan pertahanan yang rapi pasangan Indonesia saat di smash maupun diuji dengan drive-drive cepat membuat ganda Korea khususnya Ko Sung Hyun tak berkutik dan justru melakukan banyak kesalahan sendiri.

 

ANdra meluncur jauh dengan 6 poin beruntun yang menjadi momentum poin-poin kritis 18-12. Ko/Lee sempat menambah dua angka dari pengembalian terburu-buru Ahsan di depan net. Bola tinggi Yong Dae yang diselesaikan dengan baik oleh Hendra di sudut tak terjangkau serta serobotan Sung Hyun yang gagal melewati net mengantarkan ANdra pada match poin 20-14. Pengembalian tanggung Ahsan yang di eksekusi dengan baik oleh Yong Dae sempat menambah 1 poin untuk Korea namun netting silang Ko Sung Hyun yang gagal melewati net memastikan kemenangan ANdra di set pertama, 21-15.

 

Smash-smash keras ANdra yang meruntuhkan pertahanan Ko/Lee yang terkenal solid ini kembali membuka gim kedua 3-0. Korea Selatan kemudian menyamakan kedudukan di angka 3 dari beberapa kesalahan sendiri pasangan Indonesia saat mengembalikan bola. Smash-smash keras dan tajam Ahsan yang jauh dari jangkauan Ko/Lee membuat ANdra kembali unggul 8-4. Ketenganan dan kepercayaan diri Ahsan juga terlihat jelas saat beberapa bola sulit Ko/Lee berhasil dikembalikannya secara akrobatik. Ko/Lee menambah satu angka dari pengembalian Ahsan yang melebar ke belakang namun bola-bola tanggung Korea dari permainan drive drive cepat ANdra yang diselesaikan dengan smash dan sambarang silang Ahsan kembali membuat Indonesia unggul 11-5 saat jeda interval.

 

Korea Selatan kembali menambah angka dari drop shot tak terduga Ko Sung Hyun di depan net. Perpaduan Hendra sebagai playmaker di depan net dan Ahsan sebagai pengeksekusi smash membuat ANdra kembali melebarkan jarak 17-6. Beberapa kesalahan sendiri dan bola tanggung ANdra sempat membuka peluang Ko/Lee untuk menambah poin 10-18. Smash keras Ahsan dari servis tinggi Sung Hyun menambah satu angka untuk Indonesa.

 

Tiga poin kembali dikoleksi Ko/Lee dari drop shot tipu di depan net, penempatan Hendra yang gagal melewati net serta pengembalian Ahsan yang melebar, 13-19. Penempatan Hendra di sisi kanan Korea Selatan yang dianggap masuk oleh hakim garis sempat dipertanyakan oleh Ko/Lee namun wasit tetap tidak merubah keputusannya sehingga membuat Indonesia meraih match point, 20-13. Penempatan Ahsan ke area baseline yang dikembalikan oleh Yong Dae gagal melewati net memastikan gelar perdana merah putih untuk ANdra dan untuk Indonesia di tahun 2013, 21-13.

 

“Kunci kemenangan malam ini adalah kami bisa menerapkan pola permainan kami. Dengan lapangan yang banyak angin, pasangan Korea ini juga takut mengangkat bola,” kata Hendra seperti yang ditulis oleh situs PBSI.

 

“Hendra banyak memberi umpan yang enak, saya hanya tinggal melakukan smash saja untuk mematikan bola,” Ahsan menambahkan.

 

Meskipun secara peringkat ANdra berada jauh di bawah Ko/Lee yang saat ini di tahta 6 dunia, namun secara penampilan keduanya tampil lebih baik. Bahkan jika diamati secara detail sejak babak pertama turnamen ini dimulai, ANdra tak banyak kesulitan menundukkan lawan-lawannya dan memetik kemenangan dua gim langsung.

 

“Kami tidak pernah menganggap remeh Ahsan/Hendra walaupun kami diunggulkan, kami juga tahu mereka cukup kuat. Pasangan Indonesia bermain bagus terutama di depan net. Kita sempat unggul di awal-awal tapi kesalahan kita tidak dapat mempertahannya,” papar Lee Yong Dae.

 

Mengenai target selanjutnya, duet yang merasa kian percaya diri ini akan fokus ke turnamen All England SS Premier yang digelar Maret mendatang. “Hasil ini merupakan awal yang baik untuk kami. Lewat kemenangan ini kami makin percaya diri. Selanjutnya kami akan fokus untuk All England dan German Open,” ungkap Hendra yang tahun ini menargetkan tembus 8 besar dunia bersama Ahsan.

 

“Jangan biarkan momentum baik keberhasilan kita berhenti,” lanjut Hendra secara langsung kepada Ahsan.

 

Ahsan sendiri mengaku memiliki kesan yang berbeda saat bermain bersama Hendra dibandingkan dengan pesangan lamanya, Bona Septano. “Saya lebih tenang berpasangan dengan Hendra karena dia lebih senior dan berpengalaman. Bona juga pemain yang bagus, namun saat berpasangan kami tidak bisa mencapai hasil maksimal jadi kami memutuskan berpisah,” tutur Ahsan.

 

Chan/Goh Gagal Ciptakan Sejarah

 

Selangkah menuju sejarah ganda campuran sang tuan rumah, Chan Peng Soon/Goh Liu Ying (1) harus gagal mengatasi perlawanan wakil Denmark, Joachim Fischer/Christinna Pedersen (2). Duet yang melejitkan diri ke papan 3 dunia ini menunjukkan prestasi yang konsisten di beberapa turnamen terakhir. Namun sayangnya saat berhadapan dengan wakil kuat China dan Denmark, keduanya belum menemukan ramuan yang pas dan senantiasa takluk.

 

Gim pertama sepenuhnya di dominasi oleh Joachim/Christinna setelah kedudukan ketat 7-6. Lima poin beruntun yang dikantongi oleh pasangan Denmark menutup interval pertama untuk keunggulan Joachim/Christinna. Dukungan publik Bukit Jalil seperti tidak mampu memotivasi semangat Chan/Goh untuk mengungguli pasangan Denmark. Unggul dalam hal serangan dan penempatan bola, Joachim/Christinna terus meningkatkan ritme permainan mereka hingga skor 16-10. Chan/Goh sempat menambah 3 angka sebelum akhirnya 5 poin beruntun yang dikoleksi Joachim/Christinna menutup gim pertama, 21-13.

 

Setelah saling berjibaku 5-5 di gim kedua, Joachim/Christinna kembali meluncur dan meninggalkan Chan/Goh. Keduanya unggul jauh 17-10. Pasangan Malaysia sempat memperketat selisih poin 18-19 saat tampil perkasa di depan net. Namun kesalahan sendiri Chan/Goh mengubur peluang mereka untuk rubber game, 18-21.

 

“Hasil yang baik bisa masuk ke babak final dan menjadi runner up. Namun tentu saja kami tidak puas. Kami berharap bisa menang,” Chan berkomentar.

 

“Secara peringkat kami memang berada di tiga dunia, tapi kami masih harus belajar banyak dari pemain top dunia lainnya. Kita tidak cukup berpengalaman,” lanjutnya kemudian.

 

Joachim sendiri mengaku  memiliki kesan tersendiri dengan riuhnya para penonton stadium. “Hampir di semua pertandingan, suara penonton sangat bising. Terlalu banyak suara dan kita tidak dapat mendengar apapun. Pelatih menasehati kita untuk tetap tenang tapi kita sama sekali tidak bisa mendengar,” ujar Joachim.

 

“Tahun lalu saya tidak bisa ikut karena cedera. Tapi saya berkata kepada Christinna bahwa tahun depan kita harus kembali kesini dan menang. Dan sekarang, saya disini saat semuanya terwujud,” kenang Joachim.

 

Sementara itu di sektor ganda putri dominasi para srikandi China masih belum terbantahkan. Kolaborasi baru, Bao Yixin/Tian Xin (5) menyelamatkan muka sang negeri tirai bambu dari pulang tanpa gelar di turnamen ini. Dalam pertarungan berdurasi 39 menit, Bao/Tian menyudahi perlawanan duo Jepang, Misaki Matsutomo/Ayaka Takahashi (2), 21-16, 21-14 (FEY).

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: