Bulutangkismania's Weblog

Maret 8, 2013

All England Open SS Premier 2013 : Dominasi Sektor Campuran Indonesia

all england datesIndonesia berhasil menempatkan setengah dari kuota perempatfinal sektor ganda campuran turnamen All England Open SS Premier 2013. Namun sayangnya kesuksesan tersebut tidak menular ke dua nomor ganda lainnya. Duet Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan (SaNdra) dan wakil non pelatnas, Pia Zebadiah/Rizki Amelia (PiRiz) menjadi harapan terakhir untuk meraih gelar.

 

Tiket perempatfinal pertama Indonesia berhasil dikantongi oleh duet kakak beradik, Markis Kido/Pia Zebadiah (MarPi). Setelah sebelumnya membuat kejutan dengan menundukkan peraih perunggu Olimpiade London 2013, Joachim/Christinna (4) kali ini giliran kampiun German Open GP Gold 2013, Shin Baek Choel/Jang Ya Na yang menjadi korban kesolidan permainan MarPi. Keduanya tampil menekan sejak awal gim pertama dan tidak memberikan kesempatan kepada lawan untuk mengembangkan permainan. Unggul 5-1 dan terus meluncur hingga 14-5 dan 19-9, MarPi menyudahi set pertama, 21-11.

 

Set kedua berjalan lebih berimbang dan Shin/Jang berhasil mendapatkan beberapa poin dari serangan dan penampilan berani di depan net. Paska jeda interval 11-10, MarPi kembali memegang kontrol permainan meskipun beberapa kali sempat dilevelkan oleh ganda Korea. Beberapa kesalahan sendiri yang dilakukan oleh Shin/Jang memudahkan MarPi untuk memastikan tiket delapan besar, 21-18.

 

“Saya sudah pernah bertemu dengan Jang di ganda putri, saya tahu kalau permainan depannya tidak terlalu bagus, jadi kami yakin bisa menang,” papar Pia seperti yang dikutip oleh situs PBSI.

 

“Kami sudah menekan lawan sejak awal permainan, jadi mereka tidak berkembang. Shin memiliki serangan yang bagus, jadi kami jarang mengangkat bola,” tambah Kido.

 

Fran Kurniawan/Shendy Puspa (FraNdy) berhasil menyusul kesuksesan MarPi dan melenggang ke delapan besar usai membuat kejutan dengan menggulingkan unggulan asal Malaysia, Chan Peng Soon/Goh Liu Ying (3). Pertahanan FraNdy yang cukup baik serta smash keras Shandy yang beberapa kali gagal dikembalikan oleh Goh. Permainan cantik dan berani Shandy di depan net juga lebih berkembang dibandingkan dengan sebelumnya. Meskipun di gim kedua FraNdy sempat tertinggal namun kekompakan keduanya membuat FraNdy kembali sukses merebut gim ini dan membukukan kemenangan 21-15, 21-17.

 

“Lawan sepertinya tidak cocok dengan bola-bola kami. Kami juga bisa mengatasi pukulan Chan yang panjang-panjang, tidak seperti pemain China yang tajam,” komentar Shendy usai pertandingannya.

 

“Walaupun kalah secara rangking, tapi secara permainan kami tidak kalah. Kemampuan kami imbang,” Fran ikut menambahkan.

 

Sementara itu Chan/Goh sendiri merasa bahwa penampilan mereka kali ini tidak seperti biasanya. Beberapa kali mencoba menembus pertahanan FraNdy namun selalu dapat dimentalkan kembali.

 

“Kami tidak dapet feel nya di permainan hari ini, permainan depan saya juga kurang bagus. Fran/Shendy memiliki serangan cukup baik dan pertahanan mereka juga kuat,” ungkap Goh Liu Ying.

 

Dengan kemenangan ini FraNdy berhak untuk meloloskand diri ke laga peremopatfinal dan menantang unggulan asal China, Zhang Nan/Zhao Yunlei (5). Zhang/Zhao sendiri melenggang usai menghentikan perlawanan duo merah putih lainnya, Praven Jordan/Vita Marissa (PraVi), 21-11, 21-16. Saat ditanya perihal peluang mereka Fran berujar, “Pertemuan sebelumnya kami kalah, tapi kami bisa mengimbangi permainan mereka dan skornya tipis. Saat itu kami terlalu terburu-buru hingga kalah, semoga besok bisa menang.”

 

Dua ganda lainnya yang menyusul MarPi dan FraNdy adalah duet Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir (ToLyn, 2) dan Muhammad Rijal/Debby Susanto (RiBby, 7). ToLyn berhasil menaklukkan ganda Korea Selatan, Kim Ki Jung/Jung Kyung Eun dengan skor telak, 21-5, 21-11 sedangkan RiBby mengalahkan tandem Belanda, Jorritt De Ruiter/Samantha Barning, 21-12, 21-14.

 

“Tadi mainnya cepat dan bisa menang. Mudah-mudahan dengan kemenangan hari ini bisa memudahkan jalan kita untuk besok,” tutur Liliyana usai pertandingan.

 

“All England terasa spesial karena tahun lalu kita juara. Pastinya ingin mempertahankan gelar. Seperti atlet-atlet lain yang juga mengincar gelar ini, rasanya belum lengkap walaupun sudah juara Olimpiade dan Kejurdun,” lanjutnya kemudian.

 

Lawan ToLyn di laga selanjutnya adalah ganda Polandia, Robert Mateusiak/Nadiezda Zieba (8) yang sukses menghempas ganda India, Diju/Jwala Gutta, 21-17, 21-16.

 

“Kami belum pernah bisa ke semifinal di turnamen ini dan besok kami akan bermain maksimal,” Nadiezda yang akrab di panggil Nadia tersebut ikut menambahkan.

 

Saat ditanya peluang mereka menghadapi pasangan Indonesia (ToLyn) di perempatfinal, mereka mengaku cukup sulit namun tetap optimis bisa meraih kemenangan.

 

“Tahun ini sepertinya hanya ada dua turnamen besar yag setiap pemain akan fokus untuk tampil yaitu All England dan Kejuaraan Dunia. Setiap pemain pasti ingin melakukan yang terbaik termasuk saya dan Nadia tapi kami akan fokus dulu ke pertandingan besok. Menghadapi pasangan terbaik Indonesia (ToLyn) tentu tidak mudah tapi kami percaya bisa mengalahkan mereka jika mampu menampilkan yang terbaik dan menikmati pertandingan. Semua hal bisa saja terjadi,” urai Robert panjang lebar.

 

Kesempatan Emas Ahsan/Hendra

 

Setelah pada laga babak pertama banyak dikejutkan dengan kekalahan unggulan teratas sektor tunggal kali ini giliran ganda putra yang harus mengalami nasib serupa. Dua unggulan teratas, Mathias/Carsten (1) dan Koo/Tan (2) masing-masing takluk atas lawan-lawannya. Kekalahan ini sekaligus membuka peluang emas bagi Ahsan/Hendra (SanDra, 8) yang sebelumnya menjadi kampiun di Malaysia.

 

Kejutan di sektor ganda putra diwarnai dengan tumbangnya dua unggulan teratas di laga enam belas besar. Mathias Boe/Carsten Mogensen di luar dugaan harus melewati pertarungan ketat tiga gim menghadapi wakil terakhir China, Liu Xiaolong/Qiu Zihan. Sementara itu Koo Kien Keat/Tan Boon Heong gagal menghadang kolaborasi baru Thailand, Maneepong Jongjit/Nipithon Puangpeapech.

 

Pada gim pertama, kedua pasangan sudah menyajikan permainan cepat dengan serangan-serangan yang keras dan pertahanan yang rapi. Mathias tampil cerdik di depan net sedangkan Liu/Qiu banyak melakukan kesalahan sendiri. Sukses mengontrol permainan membuat pasangan Denmark unggul 21-11.

 

Keadaan berbalik di set kedua saat Mathias/Carsten banyak melakukan kesalahan sendiri sedangkan Liu Xiaolong sukses menjadi playmaker di depan net dan berani melakukan sergapan. Kemenangan Liu/Qiu 21-11 mengantarkan keduanya pada laga rubber game. Di gim ketiga masing-masing pasangan yang sama-smaa unggul dengan serangan tajam dan pertahanan memukau berusaha mencari strategi untuk meraih poin dengan menarik sang playmaker ke area belakang lapangan (Mathias dan Liu). Qiu Zihan menjadi titik lemah pasangan China karena masih kurang rapi di area depan dan beberapa kali melakukan kesalahan sendiri. Mathias/Carsten yang memimpin sebagian besar perolehan poin bahkan nyaris menutup gim ini lebih dulu, 20-18 namun karena kurang tenang menghadapi poin-poin kritis, keadaan justru berbalik dan menguntungkan ganda China. Setelah berkutat saling memimpin match point, keberuntungan ternyata berada pada Liu/Qiu, 27-25.

 

“Set terakhir sangat ketat dan di beberapa reli terakhir mereka tampil bagus sehingga bisa menang,” ujar Carsten usai pertandingan.

 

Saat ditanya apakah dampak kekalahan mereka karena adanya imbas dari kekalahan beruntun ganda Denmark di laga sebelumnya, Mathias berujar, “Tentu saja tidak, ini kan turnamen individual. Kita fokus dengan pertandingan kita sendiri.”

 

Koo/Tan juga harus mengalami nasib serupa seperti Mathias/Carsten saat ditantang ganda Thailand, Maneepong/Nipitphon. Setelah takluk 17-21 di gim pertama, Koo/Tan bahkan sempat unggul 15-9 di gim kedua namun gempuran beruntun yang dilakukan oleh ganda Thailand membuat momentum justu berbalik untuk Maneepong/Nipitphon saat menyamakan angka di level 17 dan akhirnya merebut kemenangan 21-18.

 

“Saya belum pernah melawan mereka dan mereka pasangan baru. Saya tidak mengira bisa kalah dari mereka tapi mereka memang tampil bagus. Saya memang sempat demam dan sudah menyajikan yang terbaik namun mereka bermain lebih baik,” papar Koo Kien Keat.

 

“Kita tidak bisa menampilkan permainan terbaik kita hari ini. Saya tidak tahu kenapa. Kombinasi kita sama sekali tidak jalan. Kita seperti kehilangan kepercayaan diri,” Tan Boon Heong menambahkan.

 

Kekalahan ini sekaligus membuka peluang besar bagi duo merah putih, SanDra untuk meraih hasil yang terbaik. SaNdra sendiri melewati babak kedua menghadapi duet Taiwan, Lee Sheng Mu/Tsai Chia Hsin melalui pertarungan yang ketat di gim pertama sebelum unggul 23-21, 21-16.

 

“Pasangan Taiwan ini cukup bagus juga, mereka memiliki defense yang rapat,” kata Hendra soal lawannya hari ini.

 

“Pukulan mereka juga keras, banyak drive-drive seperti pemain China dan Korea,” Ahsan menambahkan.

 

Langkah SaNdra sayangnya tidak diikuti oleh wakil lainnya, Ricky/Ulinnuha yang menyerah di tangan wakil Malaysia, Mohd Zakry/Mohd Fairuzizuan, 19-21, 15-21.

 

Seperti yang sektor putra, di putri pun Indoesia hanya mampu meloloskan satu wakilnya di pertarungan delapan besar. Duet Pia Zebadiah/Rizki Amelia menjadi satu-satunya srikandi yang tersisa usai kekalahan dialami oleh dua wakil lainnya, Anggia/Greysia dan Anneke/Nitya. Pia/Rizki menaklukkan sang juara dunia junior, Lee So Hee/Shin Seung Chan, 21-12, 21-17 hanya dalam tempo 33 menit. Permainan yang lebih variasi antara smash, drop shot, placing, netting dan bola silang mampu menyulitkan pasangan muda Korea ini.

 

“Mereka sebetulnya pasangan yang bagus, tetapi banyak pukulan yang belum matang. Selain itu mereka juga belum bisa mengatur permainan,” komentar Pia.

 

“Permainan Lee/Shin masih kurang safe, tapi pukulannya keras juga,” Rizki ikut menambahkan.

 

Sebaliknya, permainan Anneke/Nitya (AnNya) yang datar dan monoton saat menghadang unggulan asal Jepang, Miyuki Maeda/Satoko Suetsuna (6) membuat keduanya kelabakan di gim kedua dan ketiga. Sempat unggul 21-17 di set pertama, kurangnya variasi serangan membuat AnNya kesulitan menembus pertahanan Miyuki/Satoko. Dengan pengalamannya, ganda senior Jepang ini senantiasa mampu mengembalikan bola-bola serangan AnNya untuk kemudian balik menekan. Pertahanan ganda Jepang yang sulit ditembus membuat AnNya kesulitan sendiri dan akhirnya menyerah 12-21, 9-21.

 

Pasangan lainnya, Anggia/Greysia (AngGra) juga sempat menampilakan penempatan bola-bola sulit dengan variasi serangan dan smash-smash keras. Namun karena kurang pengalaman, beberapa kali pasangan ini khususnya Anggia melakukan kecerobohan di depan net. Meskipun sempat unggul di paruh awal gim kedua saat menantang unggulan asal China, Ma Jin/Tang Jinhua (5), kesalahan beruntun AngGra dan percepatan tempo yang dilancarkan oleh Ma/Tang membuat para srikandi kembali kedodoran dan akhirnya menyerah 14-21, 15-21.

 

Sementara itu kejutan berhasil diciptakan ganda Malaysia yang lama absen di turnamen internasional karena cedera, Vivian Kah Mun/Woon Khe Wei. Tandem asal Malaysia tersebut mengalahkan unggulan ke-4 asal Korea Selatan, Eom Hye Won/Jang Ye Na, 21-13, 17-21, 21-17 (FI).

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: