Bulutangkismania's Weblog

Maret 10, 2013

All England Open SS Premier 2013 : Liliyana, “Kido Lebih Agresif Tapi Pia Membahayakan”

2013_Yonex_All_England_Open_posterPeluang menyajikan final antara sesama pasangan Indonesia ternyata tak mampu terealisasi usai kekalahan yang diderita oleh pasangan Muhammad Rijal/Debby Susanto (7) di laga empat besar. Sang juara bertahan, Tontowi/Liliyana (ToLyn, 2) justru menjadi satu-satunya tumpuan harapan saat duet AhsanHendra (SaNdra, 8) gagal membendung permainan cepat wakil China.

 

Menghadapi rekan satu negara akan menjadi lebih sulit karena masing-masing pasangan sudah mengetahui kelemahan dan kelebihan sang lawan. Meskipun Tontowi/Liliyana (ToLyn) lebih diunggulkan, perjalanan melewati hadangan Markis/Pia (MarPi) ternyata tidak berjalan mudah. Ketatnya persaingan antara wakil Pelatnas dan non Pelatnas ini sudah terasa sejak awal gim pertama. Kedua pasangan saling mengejar dan memimpin dengan selisih 1-3 poin. Hingga kedudukan imbang 16-16, masih sulit untuk menentukan siapa yang akan merebut gim pertama. ToLyn berusaha untuk meningkatkan tempo serangan namun MarPi sukses mengembangkan permainan menekan dengan penempatan tak terduga dan merusak pertahanan ToLyn. Tiga poin beruntun yang dikoleksi MarPi menjadi titik balik untuk merebut set pertama, 21-18.

 

“Ini adalah pertandingan yang menegangkan, kami banyak tertekan dan panik. Di gim pertama kami tidak bisa mencari celah untuk menyerang balik jadi banyak main bertahan,” kata Liliyana seperti pada situs badmintonindonesia.org.

 

Permainan menekan dan berani dalam mengolah bola membuat MarPi kembali unggul di gim kedua hingga 14-8. Namun kelihaian ToLyn di depan net menciptakan peluang bagi keduanya untuk mengembangkan permainan dan akhirnya menyamakan kedudukan di angka 15. Enam poin beruntun yang dikoleksi ToLyn memberikan kesempatan bagi mereka untuk memperpanjang nafas di set ketiga, 21-15.

 

“Kami mengubah pola strategi di set kedua dan tidak banyak membuat kesalahan seperti pada gim pertama sehingga bisa lebih banyak menyerang,” lanjut Liliyana.

 

ToLyn kembali mendominasi gim ketiga 12-7 hingga 18-12 dengan smash-smash keras dan permainan ciamik di depan net. Namun perseteruan kembali sengit justru di poin-poin kritis ketika ToLyn mulai melakukan beberapa kesalahan sendiri dan menguntungkan MarPi. Momentum kembali diraih MarPi saat sukses memperkecil ketertinggalannya menjadi 18-19. Namun keberuntungan tetap berpihak kepada ToLyn yang tetap mampu bermain tenang dan tidak mengalami sindrom angka kritis. Keduanya sukses mengantongi tiket final untuk mempertahankan gelar tahun lalu, 21-19.

 

“Pada gim ketiga juga sempat ramai, tapi kami tetap percaya diri dan yakin karena kami sudah memimpin. Kido tampil lebih agresif tetapi permainan Pia membahayakan. Kami juga terus fokus di poin-poin kritis dan akhirnya bisa menang,” lanjut Liliyana.

 

“Walaupun bertemu rekan senegara sendiri, tapi rasanya lebih sulit karena kami sudah sering bertemu dan tahu kekurangan dan kelebihan masing-masing,” Tontowi ikut menambahkan.

 

“Untuk pertandingan selanjutnya, kami harus lebih fokus lagi. Semoga kami bisa tampil lebih baik di final besok dan bisa mempertahankan gelar juara,” ucap Liliyana.

 

Sementara itu Kido sendiri mengaku puas dengan performa mereka di turnamen ini meskipun harus tersingkir.

 

“Kami cukup puas dengan hasil di All England tahun ini, kami berhasil melampaui target. Kami sudah maksimal dan memang Tontowi/Liliyana lebih tangguh,” papar Kido usai pertandingan.

 

Langkah ToLyn sayangnya tidak diikuti oleh wakil Indonesia lainnya, Muhammad Rijal/Debby Susanto (RiBby). Unggulan ke-7 yang sebelumnya membuat kejutan dengan menumbangkan unggulan teratas, Xu Chen/Ma Jin kali ini tak mampu mengulang kejayaannya saat ditantang tandem China lainnya, Zhang Nan/Zhao Yunlei (5). Peluang menciptakan final sesama pasangan Indonesia pun praktis gagal karena kekalahan RiBby.

 

RiBby sebenarnya sempat unggul di paruh awal gim pertama hingga kedudukan 13-9. Namun sayangnya ritme tersebut tidak mampu dipertahankan hingga akhir set. Meskipun mampu mengimbangi dan meraih poin di akhir gim pertama dan kedua namun belum cukup mampu menahan laju kemenangan peraih emas Olimpiade London 2012 dan kampiun Kejuaraan Dunia 2011 ini, 21-17, 21-16.

 

“Walau hari ini kalah lagi, tapi penampilan kami ada kemajuan. Biasanya kami selalu tertinggal jauh. Kali ini kami sering dapat celah dan kesempatan untuk menembus mereka, sayang finishing nya kurang baik, kami harus lebih matang lagi,” ucap Rijal.

 

Hendra Setiawan, “Kami Tertekan Dan Selalu Tidak Siap”

 

Momentum emas bagi Hendra Setiawan untuk melengkapi gelarnya di turnamen bergengsi All England Open SS Premier 2013 saat semua unggulan sudah tersingkir ternyata tidak mampu dimanfaatkan dengan baik. Bersama Mohammad Ahsan, duet yang Januari lalu mengantongi gelar Malaysia Open SS 2013 ini justru tampil tertekan ketika menjajal kesolidan wakil China, Liu Xiaolong/Qiu Zihan.

 

Pasangan Ahsan/Hendra (SanDra) yang tertekan sejak awal gim pertama tidak mampu mengembangkan permainan menyerang yang senantiasa menjadi andalan keduanya. Bola-bola cepat yang diperagakan Liu/Qiu di depan net beberapa kali gagal diantisipasi oleh SanDra. Seolah-olah seperti menemui jalan buntu, keduanya tak mampu keluar dari tekanan dan melancarkan variasi serangan. Kesalahan beruntun yang dilakukan SanDra kian memperparah keadaan. Tertinggal jauh 4-11 hingga 9-19, SanDra akhirnya menyerah 12-21.

 

Pada gim kedua SanDra mulai berhasil membuka serangan dan melakukan variasi dalam pukulan. Tempo permainan pun sukses diperlambat oleh mereka sehingga menciptakan momentum untuk terus unggul. Memimpin dengan 11-5 hingga 17-9, SanDra berhasil memaksakan rubber game dengan menutup set ini lebih dulu, 21-13.

 

Peluang untuk memetik kemenangan kembali tersaji di gim ketiga saat SanDra berhasil mempertahankan ritmenya untuk terus unggul hingga 13-7. Persis seperti gim kedua, variasi serangan dan penempatan bola menjadi kunci untuk meraih poin dan meredam permainan cepat Liu/Qiu. Namun permainan depan yang diperagakan pasangan China khususnya Liu Xiaolong dan strategi untuk lebih banyak menurunkan bola membuat ganda Indonesia sulit untuk menyerang.

 

Liu/Qiu akhirnya mendapatkan momentum saat sukses menyamakan kedudukan di angka 15. Karena terkejar, SanDra terlihat mulai panik dan tertekan dan banyak melakukan kesalahan sendiri. Tanpa sadar, keduanyanya pun kembali hanyut dalam permainan cepat ganda China seperti pada gim pertama. Tiga poin beruntun yang dikoleksi Liu/Qiu membuat mereka berbalik unggul 19-16. Pengembalian yang terburu-buru memudahkan pasangan China untuk mengeksekusi bola dan memastikan kemenangan mereka, 21-17.

 

“Kami tertekan dan selalu dalam keadaan tak siap, kami merasa tidak ‘in’ hari ini,” ujar Hendra dengan perasaan kecewa.

 

“Tidak menyangka hasilnya akan seperti ini, tapi lawan memang tampil lebih baik. Saya pribadi sangat kecewa dengan hasil hari ini, kami tidak bermain dengan kemampuan terbaik kami,” timpal Ahsan.

 

Hasil ini membawa Liu/Qiu ke laga pamungkas untuk menantang unggulan ke-4 asal Jepang, Hiroyuki Endo/Kenichi Hayakawa. Duo negeri sakura ini sukses mengakhiri perjalanan pasangan Thailand, Maneepong Jongjit/Nipitphon Puangpuapech yang sebelumnya membuat kejutan dengan menjungkalkan unggulan ke-2, Koo Kien Keat/Tan Boon Heong.

 

Permainan cepat yang menjadi ciri khas wakil Thailand ini efektif diredam oleh pasangan Jepang dengan memperlembat tempo dan meningkatkan variasi serangan tidak hanya di depan net. Sempat tertinggal 12-16 di gim pertama, Hiroyuki/Kenichi mampu bangkit dan berbalik unggul dengan 6 poin beruntun untuk kemudian menutup gim pertama, 22-20.

 

Selain menerapkan strategi yang benar, duet yang menjadi runner up BWF Superseries Finals 2012 yang lalu ini juga meraih keuntungan dari bertubinya kesalahan yang dilakukan Maneepong/Nipitphon khususnya di gim kedua. Unggul 10-3 hingga 20-12, Hiroyuki/Kenichi memastikan tiket All England pertama mereka dan sejarah bagi ganda putra Jepang, 21-15.

 

Sementara itu di sektor putri sang negeri panda berhasil memastikan gelar juara jatuh ke tangan mereka setelah terjadi final antara sesama pasangan China. Unggulan teratas, Wang Xiaoli/Yu Yang berhasil merusak pola permainan bertahan yang dikembangkan oleh jagoan Jepang, Miyuki Maeda/Satoko Suetsuna (6). Bola-bola drop shot dan lob serang membuat ganda Jepang kesulitan dalam pengembalian dan akhirnya menciptakan momentum bagi Wang/Yu untuk menyerang. Masing-masing tampil sigap di depan net saat sang pasangan melakukan serangan. Penempatan Satoko/Miyuki yang kurang tajam memudahkan antisipasi bagi ganda China. Yu Yang juga berhasil meredam permainan net yang coba diperagakan srikandi Jepang. Kunci perolehan poin Satoko/Miyuki adalah saat keduanya mampu melakukan smash dan drive tajam ke arah badan Wang/Yu. Dalam tempo 37 menit, Wang/Yu menyudahi perlawanan keduanya, 21-11, 21-16.

 

Pada perseteruan antara dua pasangan China Ma Jin/Tan Jinhua (5) dan Cheng Shu/Zhao Yunlei, duel akhirnya dimenangkan oleh Cheng/Zhao yang mampu tampil dominan dan membalikkan keadaan setelah sempat tertinggal 2-10 di paruh awal gim pertama. Cheng/Zhao akhirnya membukukan kemenangan 21-18, 21-7 untuk satu tiket ke partai puncak (FEY).

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: