Bulutangkismania's Weblog

Maret 10, 2013

All England Open SS Premier 2013 : Momentum Gantung Raket Versus Pengukir Sejarah

2013_Yonex_All_England_Open_posterDua pemain tunggal beda generasi akhirnya berhasil melenggang ke partai puncak usai melewati hadangan lawan masing-masing dengan motivasi yang luar biasa. Di hadapan para pendukungnya, Tine Baun (7) yang memutuskan untuk pensiun di turnamen ini berhasil memecut performanya dan berjibaku 76 menit. Sementara itu bintang muda Thailand, Ratchanok Intanon (8) tak gentar menghadapi unggulan asal India, Saina Nehwal (2) untuk menyongsong sejarah bagi negaranya.

 

Ratchanok Intanon memang hanya menempati unggulan ke-8 di turnamen ini. Namun performanya pada pertandingan sebelumnya menghadapi tunggal Eropa, Juliane Schenk (4) mengindikasikan bahwa bintang muda berusia 18 tahun tersebut memiliki ambisi besar untuk turnamen ini. Menantang sang ungggulan ke-2 asal India, Saina Nehwal, Intanon memang memiliki catatan bagus di pertemuan terakhir. Dengan kepercayaan diri yang meningkat, Intanon tampil lepas dan mengontrol jalannya pertandingan saat menjajal Saina.

 

Pertahanan yang baik dan sigap mengejar bola kemanapun arahnya membuat Intanon menjadi sulit untuk ditembus. Saina yang mencoba mengembangkan pola menyerang beberapa kali mampu diatahkan oleh Intanon. Saina sempat unggul 10-6 di paruh awal gim pertama, namun pemain asal India tersebut hanya mampu mengimbangi Intanon hingga kedudukan 13-13. Strategi kombinasi tempo cepat dan lambat membuat Saina terlihat tidak sigap untuk mengantisipasinya. Sebaliknya, pergerakan Intanon terlihat luwes dan ringan. 5 Poin beruntun yang dikoleksi Intanon dari pengembalian tak sempurna Saina menutup gim pertama, 21-15.

 

Intanon kembali mendominasi gim kedua meskipun masih dibayang-bayangi oleh Saina hingga kedudukan 14-9. Perlahan Saina mampu memperkecil selisih poinnya di angka-angka kritis 17-18 hingga 19-20 saat Intanon mulai gugup karena nyaris terkejar. Namun kesalahan beruntun yang dilakukan Saina khususnya di depan net kembali menguntungkan Intanon untuk meraih kemenangan 21-19.

 

“Saya senang dengan kemenangan ini. Set pertama saya bermain bagus dan beberapa reli di gim kedua juga sangat menarik. Serangan saya sangat baik, saya memiliki smash yang bagus. Semoga saya bisa bermain bagus untuk Thailand. Saya harus mengucapkan banyak terima kasih untuk pelatih yang membantu saya tampil lebih tenang,” papar Intanon panjang lebar.

 

“Saya pikir Saina cedera karena permainanannya hari ini cukup lambat. Jika dia mampu bermain cepat tentu akan lebih sulit. Saya sempat nervous di akhir gim kedua, saya merasa letih. Saat dia gagal menyamakan kedudukan di angka 18 saya pikir itulah momentum yang tepat,” lanjutnya kemudian.

 

Saat ditanya tentang perasaan bahagianya yang seringkali diucapkan Intanon apakah karena masih berada di turnamen ini dia berujar: “Tidak, ini bukan mimpi yang berubah jadi kenyataan. Mimpi yang menjadi nyata adalah saat saya mampu menang pada pertandingan besok di final.”

 

Pertandingan berkualitas yang tak kalah serunya juga disajikan tunggal Eropa asal Denmark, Tine Baun (7) dan wakil Korea Selatan, Sung Ji Hyun (4). Dalam laga berdurasi 76 menit tersebut terlihat kedua pemain tampil ngotot dan konsistensi hingga gim ketiga. Permainan cepat dan tajam yang tidak hanya menguras stamina namun juga menguji kestabilan mental masing-masing pemain.

 

Tertinggal 11-4 di paruh awal gim pertama, Tine mampu bangkit dan memberikan perlawanan yang membuat Ji Hyun tertekan hingga perlahan memperkecil selisih poin 14-15. Ji Hyun sempat meraih game point 20-15 lebih dulu namun kembali Tine dengan pengalamannya dan dukungan penuh publik Eropa secara daramatis menyamakan kedudukan di angka 20 meskipun JI Hyun sempat dikesalkan dengan keputusan wasit saat kedudukan 20-17. Meksipun masing-masing pemain tampak grogi dan berusaha tampil tidak ceroboh, Tine mampu memperlihatkan intuisi pengembalian yang memukau dan pertahanan yang baik. Motivasi akhirnya mengantarkan Tine berbalik unggul 24-22.

 

“Saya juga tidak mengerti kenapa bisa bangkit sejauh itu. Saya hanya fokus meraih poin demi poin, bukan hasilnya,” tutur Tine perihal kemenangan dramatisnya di set pertama.

 

Beberapa keputusan wasit yang dianggap bias dan mendapatkan protes dari pemain sempat mendapatkan ledekan dari penonton National Indoor Arena. Namun Tine tetap tampil tenang dan memimpin 12-9 saat jeda istirahat. Usai Ji Hyun melevelkan diri di angka 12, kedua pemain saling berjibaku ketat hingga kedudukan 17-17. Tine kembali membukukan keunggulan dengan dua angka beruntun namun Ji Hyun membalas tragedi yang dialaminya di gim pertama dengan mencuri set ini dari Tine, 21-19.

 

Masing-masing pemain mulai menunjukkan gejala kelelahan stamin di gim ketiga dengan beberapa kesalahan sendiri. Permainan di depan net dan smash-smash kerasnya membuat Tine mampu unggul dalam perolehan poin namun kemudian disamakan kembali oleh Ji Hyun dengan memanfaatkan pengembalian tak sempurna Tine. Melakukan pukulan yang tepat pada saat yang tepat dalam waktu sepersekian detik menjadi kunci Tine untuk terus memimpin. Namun Ji Hyun berhasil menempel ketat perolehan poin Tine hingga 14-16 dan 19-19 saat pengembaliannya gagal diantisipasi oleh Tine. Ji Hyun akhirnya harus merelakan tiket finalnya untuk Tine saat mantan ratu bulu tangkis Eropa tersebut meraup dua poin beruntun, 21-19.
“Saat masing-masing berbagi 1 set saya pikir saya memiliki kesempatan untuk memenangkan pertandingan. Tapi seiring dengan berjalannya waktu, saya merasa cukup letih. Pertandingan berlangsung lebih dari satu jam. Saya berpikir bahwa saya harus lebih banyak menyerang daripada bertahan. Pada akhir pertandingan, stamina saya sudah habis,” papar pemain Korea Selatan berperingkat 5 dunia ini.

 

Saat ditanya perihal kekalahannya apakah ada hubungannya dengan keputusan wasit yang banyak di protes oleh pemain, Ji Hyun berujar: “Di gim pertama memang sempat terjadi beberapa ‘line call’ yang tidak saya sukai. Tapi secara keseluruhan mereka membuat keputusan yang adil.”

 

Tine sendiri mengaku menikmati pertandingannya hari ini dan setiap kemenangan ini memberikan kepercayan diri kepadanya untuk tampil lebih baik lagi.

 

“Saya menikmati pertandingan tadi di lapangan seperti pada pertandingan-pertandingan sebelumnya. Perjuangan mental yang berat saat berpikir bahwa pertandingan ini akan menjadi laga terakhir saya. Saya mendapatkan kepercayaan diri di setiap pertandingan di turnamen ini dan mampu bermain reli-reli dengan cukup baik,” komentar Tine.

 

“Saya tidak menyangka bisa ke final. Tahun ini saya umumnya kalah di perempatfinal. Dia tampil bagus, saya bermain dengan gaya sendiri yang saya inginkan. Saya mengambil setiap kesempatan, meskipun sempat membuat kesalahan di beberapa poin,” lanjutnya kemudian.

 

Final Ideal Sektor Putra

 

Sektor tunggal putra merupakan satu-satunya nomor yang ideal mempertandingkan dua unggulan teratas di turnamen ini. Lee Chong Wei (1) melaju dengan menghentikan perlawanan tunggal Thailand, Tanongsak Saensomboonsuk sedangkan Chen Long (2) mengakhiri keperkasaan Jan O Jorgensen dalam laga ketat dua gim berdurasi 54 menit.

 

Menghadapi tunggal kedua Thailand, Tanongsak Saensomboonsuk, Lee Chong Wei (1) sempat kesulitan di gim pertama dan nyaris kalah. Antisipasi cepat Tanongsak dan smash yang kencang beberapa kali mampu menghasilkan poin. Kedua pemain saling berkejaran dalam memperoleh poin. Meskipun sempat mematahkan game point Chong Wei di gim pertama, Tanongsak yang tampil kurang tenang gagal memanfaatkan kesempatan tersebut. Smash dan pengembalian yang melebar membuat Chong Wei menutup set pertama lebih dulu, 22-20.

 

Anti klimaks permainan Tanongsak terjadi di gim kedua. Chong Wei tampil lebih siap dengan pertahanan yang sulit ditembus. Permainan Tanongsak di depan net juga tidak sebaik sebelumnya sehingga memudahkan Chong Wei untuk mengatur bola. Gagal menembus pertahanan Chong Wei membuat Tanongsak frustasi dan akhirnya melakukan kesalahan sendiri. Stamin yang juga terforsir di gim pertama membuatnya sulit mengimbangi Chong Wei. Unggul jauh 10-3 dan 17-6, Lee memastikan tiket finalnya dengan smash menyilang yang jatuh ke lapangan kosong Tanongsak, 21-8.

 

“Set pertama begitu ketat. Dia berjuang melakukan yang terbaik dan saya harus mampu tetap menempelnya. Memang tekanan kepada saya cukup besar tapi saya berusaha untuk menikmatinya saat berada di lapangan,” urai Chong Wei usai pertandingan.

 

Pada laga semifinal lainnya, Chen Long harus berjibaku ketat selama hampir satu jam sebelum akhirnya mampu membungkam jagoan Denmark, Jan O Jorgensen. Jorgensen bahkan memimpin perolehan poin hingga 15-9. Permainan cepat dengan pola menyerang dan penempatan di depan menjadi kunci keberhasilan Jorgensen di gim pertama. Namun beberapa kesalahan sendiri yang dilakukan peringkat 13 dunia ini membuat Chen Long akhirnya mampu menyamakan kedudukan di angka 18 dan berbalik unggul 21-19.

 

Set kedua kembali didominasi oleh Jorgensen hingga jeda interval 11-9. Presaingan sengit dan saling memimpin antara kedua pemain dengan selisih 1-2 poin tersaji hingga kedudukan 19-19. Chen Long meraih match poin lebih dulu namun berhasil dipatahkan oleh Jorgensen dengan pengembalian drop shotnya. Namun dua kesalahan Jorgensen dan sergapan di depan net memastikan tiket laga pamungkas jatuh ke tangan Chen Long, 22-20.

 

“Perasaan yang luar biasa. Saya memiliki keberuntungan yang besar hari ini karena dia seorang pemain yang bagus namun sedang tidak beruntung. Saya banar-benar butuh istirahat untuk bisa tampil sebaik mungkin di pertandingan besok,” ungkap Chen Long.

 

Jorgensen sendiri mengaku kecewa dengan hasil pertandingan ini namun mendapatkan pelajaran berharga dari penampilannya.

 

“Tentu saja saya sangat kecewa saat ini karena mendominasi dalam perolehan poin. Satu-satunya keunggulan dia adalah saat memimpin 20-19 di gim pertama dan kedua. Sungguh tidak beruntung tapi saya banyak mendapatkan pelajaran dari sini. Saya senang dengan penampilan saya di sepanjang turnamen ini meskipun harus kecewa saat ini,” komentar Jorgensen.

 

“Saya pikir arah permainan saya saat ini sudah benar. Saya mampu bermain dengan reli-reli yang bagus dan tentunya ada tekanan tersendiri saat bertading menghadapi pemain seperti dia (Chen Long). Saya mampu memenangkan reli dengan cukup mudah dan membuka peluang dan saat itulah dia mengambilnya. Dia mengambil alih kontrol permainan saat saya membuat keputusan yang salah tapi begitulah cara bermain para pemain top,” lanjut Jorgensen yang berharap dapat membawa semengat juang yang sama pada turnamen Swiss Open GP Gold 2013 pekan depan  (FEY).

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: