Bulutangkismania's Weblog

Mei 26, 2013

Sudirman Cup 2013 : Korea Tantang China Di Laga Pamungkas

Filed under: Turnamen — bulutangkismania @ 8:24 am
Tags: , , , , , , ,

Ulangan logo-piala-sudirman-2013final Sudirman Cup sepuluh tahun yang lalu antara China dan Korea Selatan dipastikan akan terjadi kembali setelah kedua tim memetik kemenangan atas lawannya masing-masing. Korea Selatan lebih dulu mengantongi tiket partai puncak usai menundukkan Thailand sedangkan di sesi kedua giliran China yang menunjukkan dominasinya atas Denmark.

 

Korea Selatan yang menjadi satu-satunya tim Sudirman Cup yang mampu menandingi dominasi China selama 13 kali perhelatan turnamen ini selalu berhasil meloloskan diri ke-4 besar sukses membendung laju tim tangguh lainnya, Thailand, yang juga membuat sejarah untuk pertama kalinya lolos ke semi final. Ko Sung Hyun kembali menjadi pahlawan bagi negaranya usai menyajikan permainan memukau dan memetik dua kemenangan di sektor campuran dan ganda putra.

 

Meskipun baru diduetkan, Ko Sung Hyun/Kim Ha Na yang berperingkat 69 dunia sukses menunjukkan performa meyakinkan dengan menjadi kampiun Kejuaraan Asia serta runner up turnamen India Open SS 2013. Bertemu dengan lawan yang sama seperti saat penyisihan grup, Ko/Kim kali ini mendapatkan perlawanan ketat dari Sudket Prapakamol/Saralee Thoungthongkam setelah sebelumnya menang telak 21-9, 21-10.

 

Unggul dari sisi serangan dan permainan di depan net, Ko/Kim justru beberapa kali tetringgal dalam perolehan poin karena melakukan beberapa kesalahan sendiri. Meskipun senantiasa tetap mampu mengimbangi pasangan Thailand dan beberapa kali balik memimpin dengan selisih 1-3 poin, Ko/Kim nyaris terjegal ketika permainan menekan mereka mampu diantisipasi oleh Sudket/Saralee 16-13. Tekanan beruntun dan penempatan bola tak terduga yang diberikan Ko/Kim di poin-poin kritis berbalik menyulitkan tandem Thailand yang membuat Ko/Kim unggul 17-16 untuk kemudian menutup set ini lebih dulu 21-18.

 

Solidnya pertahanan Ko/Kim terus berlanjut di gim kedua. Meskipun Sudket/Saralee berusaha untuk mempercepat tempo serangan dan balik menekan, duo Korea yang senantiasa mampu mengembalian bola-bola sulit keduanya justru berbalik menjadi bumerang bagi ganda Thailand yang akhirnya melakukan kesalahan sendiri. Menemukan pola terbaik permainannya, Ko/Kim mampu mengontrol jalannya pertandingan di gim kedua setelah sukses memimpin 9-5. Meskipun Sudket/Saralee beberapa kali sempat menyamakan kedudukan, serangan dan serobotan Ko/Kim membuat keduanya gagal mendahului perolehan poin dan akhirnya menyerah 19-21.

 

“Pertandingan tadi tidak mudah. Akan sangat berbeda dibandingkan penyisihan grup (saat Korea menang 5-0) karena ini merupakan babak semi final. Tentu saja lebih sulit,” sahut Ko usai pertandingan.

 

Boonsak Ponsana yang tampil di partai kedua sempat tidak dimainkan oleh Thailand di beberapa laga terakhir usai mengalami kekalahan atas pebulu tangkis Hong Kong, Hu Yun. Namun kali ini Boonsak berhasil menunjukkan dominasinya atas tunggal Korea, Lee Dong Keun. Lee yang tampil gemilang di tiga laga sebelumnya, kali ini jsutru tak mampu berbuat banyak meladeni dominasi Boonsak dalam hal serangan serta penempatan bola-bola tak terduga. Beberapa kali Lee kesulitan mengantisipasi bola-bola Boonsak sehingga mengembalikannya dengan tidak sempurna untuk kemudian diselesaikan dengan baik oleh Boonsak. Banyaknya kesalahan sendiri yang dilakukan oleh tunggal yang sempat menekuk Simon Santoso di turnamen New Zaeland Open 2013 bulan April lalu tersebut memudahkan Boonsak untuk membukukan kemenangan 21-9. 21-12.

 

“Saya mampu menang di beberapa pertandingan terakhir sehingga sebenarnya cukup pecaya diri di laga ini. Tapi Boonsak mampu membaca permainan saya dengan baik dan semua strategi yang saya terapkan tidak berhasil di pertandingan ini,” ujar Lee usai pertandingan.

 

“Bukan karena masalah stamina, saya sama sekali tidak merasa lelah bahkan masih mampu bertanding lagi jika memang harus tapi mungkin karena dia memang lebih berpengalaman dari saya,” lanjutnya kemudian.

 

Sementara itu Boonsak mengaku penempatan bola-bola sulitnya di sudut lapangan dan pukulan yang menipu menjadi kunci kesuksesannya. “Strategi saya hari ini adalah membuatnya lari ke setiap sudut-sudut lapangan dan pada waktu bersamaan menggunakan pukulan tipu yang banyak untuk mengecohnya,” sahut Boonsak.

 

Ko Sung Hyun kembali menambah angka bagi sang negeri ginseng sekaligus membuat mereka unggul 2-1 usai menuai kemenangan bersama Lee Yong Dae. Menghadapi wakil Thailand, Maneepong Jongjit/Nipitphon Puangpuapech, Ko/Lee kembali mengulang kesuksesannya seperti saat laga penyisihan grup. Meskipun ganda Thailand mencoba untuk meredam tekanan yang secara intense diberikan oleh Ko/Lee, rapuhnya pertahanan mereka serta banyaknya kesalahan sendiri yang dilakukan memudahkan Ko/Lee untuk mengontrol penuh jalannya pertandingan dan unggul dalam perolehan poin. Dalam laga berdurasi 34 menit tersebut, Ko/Lee menyudahi perlawanan keduanya, 21-12, 21-11.

 

“Level latihan di Korea sangat intensif dan berkonsekuensi jadi dua pertandingan tadi bukan masalah besar untuk saya,” ujar Ko Sung Hyun tentang kemampuan dan konsistensinya di dua pertandingan beruntun.

 

“Di laga selanjutnya jika kami bertemu China kami akan berusaha semaksimal mungkin karena kepercayaan diri kami kian meningkat karena senantiasa mampu memetik kemenangan di bebarapa laga terakhir,” Lee Yong Dae menambahkan.

 

“Kombinasi saya dan Sung Hyun masih terbilang singkat dibandingkan dengan pasangan sebelumnya, Jung Jae Sung, serta sempat mengalami turun naik. Tapi saya percaya bisa meraih hasil yang sama seperti sebelumnya bersama dengan Ko Sung Hyun,” lanjut Lee kemudian.

 

Sung Ji Hyun melengkapi hasil sempurna Korea Selatan atas Thailand dan memastikan tiket laga pamungkas usai memetik kemenangan dua gim langsung. Menantang Ratchanok Intanon yang satu peringkat lebih baik darinya, Ji Hyun mampu memperpanjang rekor kemenangannya atas Intonon setelah sebelumnya unggul 5-2. Jika dilihat dari 7 pertemuan sebelumnya, Intanon memang harus bekerja keras untuk menang dari Ji Hyun dengan rubber game, dan kali ini kontrol pertandingan mampu dipegang oleh peringkat 6 dunia tersebut sehingga sukses mengungguli Intanon.

 

Pada paruh awal gim pertama hingga kedudukan 11-11, kedua pemain saling bergantian memimpin perolehan poin dengan selisih 1-2 angka. Pertahanan yang memukau dari keduanya membuat mereka senantiasa mampu mengembalikan smash keras menyilang serta penempatan di sudut depan net dari sang lawan. Ji Hyun yang lebih cerdik mampu menempatkan bola ke area belakang dengan lob serang setelah sebelumnya fokus di depan lapangan. Beberapa pengembalian tak sempurna Intanon sempat membuat Ji Hyun unggul 16-12. Tekanan beruntun dari Intanon dari bola-bola setengah yang dikembalikan Sung membuat wakil Thailand tersebut memperkecil selisih angka menjadi 16-17. Pengembalian tak sempurna Intanon di depan net menguntungkan dua angka untuk Ji Hyun. Meskipun sempat menambah satu angka dari smash menyilangnya, Intanon akhirnya harus rela menyerahkan gim ini untuk Ji Hyun, 17-21, saat dua kali pengembaliannya terlalu melebar keluar lapangan.

 

Smash Ji Hyun kearah badan Intanon beberapa kali menjadi angka untuk Korea. Namun bola tanggung Ji Hyun serta pengembalian silang tak terduga Intanon di depan net membuat pertandingan di paruh awal gim kedua kembali berlangsung imbang. Kedua pemain saling berbagi angka hingga kedudukan 13-13. Meskipun sebenarnya Sung sudah mengontrol jalannya pertandingan dengan pukulan-pukulan silangnya, namun beberapa kesalahan sendiri dari kampiun Korea Open SS Premier 2013 ini justru menguntungkan Intanon dalam perolehan poin. Paska memimpin 15-13, Sung justru berbalik mendapatkan keuntungan dari pengembalian tanggung Intanon dari pola permainan cepat yang diterapkan oleh Sung. Smash silang beruntun serta penempatan bola di arae baseline yang jauh dari jangkauan Intanon setelah beradu netting membuat Sung akhirnya memastikan kemenangan 21-14 di set kedua.

 

“Saya sama sekali tidak frustasi di pertandingan tadi. Permainan saya hanya tidak memenuhi standar yang seharusnya sehingga saya kalah,” ungkap Intanon usai pertandingan.

 

Sung Ji Hyun sendiri mengakui sudah mempelajari pola permainan Intanon dari beberapa pertemuan sebelumnya. “Meskipun peringkatnya lebih baik dari saya, kami sudah seringkali bertemu di banyak pertandingan. Saya sudah mempersiapkan kira-kira pola permainan yang akan dia terapkan di pertandingan kali ini,” kata Ji Hyun.

 

Dengan kemenangan 4-1 ini Korea Selatan berhak untuk melenggang ke babak final dan menantang pemenangan antara sang juara bertahan.

 

Denmark Curi Satu Poin

 

Menempatkan tiga wakil peraih emas Olimpiade London 2012 di tiga sektor berbeda, China justru kembali kecolongan di nomor ganda putra. Setelah sebelumnya takluk dari ganda muda Indonesia, Angga Pratama/Rian Agung, kali ini giliran Mathias Boe/Carsten Mogensen yang membungkam Fu Haifeng/Cai Yun hanya dengan dua gim.

 

Tim Denmark sebenarnya berpeluang untuk menyamai prestasi yang di buat Indonesia pada babak sebelumnya atas China. Peringkat yang tak jauh berbeda dengan para pemain China membuat peluang sang negara skandinavia tersebut terbuka di sektor campuran dan ganda putra. Jika skenario ini berjalan mulus maka peluang duo Christinna/Kamilla yang berperingkat 3 dunia di sektor putri juga masih tetap terbuka di partai terakhir.

 

Namun sayangnya rencana tersebut tidak berjalan mulus karena di laga pembuka Joachim Fischer/Christinna Pedersen gagal mengimbangi permainan cepat yang diperagakan oleh duo “Z”, Zhang Nan/Zhao Yunlei.

 

Berbeda dengan penampilan Xu Chen/Ma Jin saat menghadapi Tontowi/Liliyana yang terlihat lambat dan terlalu berhati-hati, duo Z justru tampil lepas dan menekan Joachim/Christinna sejak awal pertandingan. Pada paruh awal gim pertama, pasangan yang lebih siap menurunkan bola dan tampil menekan akhirnya mampu mendominasi perolehan poin. Zhang/Zhao memimpin hingga 8-3 namun beberapa kesalahan sendiri yang mereka lakukan sempat membuat Joachim/Christinna memperkecil selisih poin 7-9. Enam poin beruntun mampu dikoleksi oleh Zhang/Zhao dari kesalahan beruntun yang dilakukan oleh Christinna yang terlihat kurang siap.

 

China terus meluncur hingga 19-9 dari keberhasilan Zhao Yunlei menjadi playmaker dan menyergap bola di depan net. Permainan cepat dan serobotan Denmark di depan net sempat membuahkan hasil di poin-poin kritis. Bahkan Zhang/Zhao beberapa kali terpancing ceroboh dalam mengembalikan bola sehingga menguntungkan Denmark dengan 4 poin beruntun. Beberapa kesalahan sendiri Joachim di depan net seperti bola tanggung dan pengembalian yang tak melewati lapangan lawan menutup gim pertama, 21-15 untuk pasangan China.

 

Christinna Pedersen yang kembali melakukan beberapa kesalahan sendiri di awal gim pertama membuat China memimpin 5-0. Meskipun akhirnya beberapa kali memperoleh kesempatan dari pengembalian tak sempurna duo Z, Joachim/Christinna kembali tertekan saat China mengkolaborasikan permainan menyerang dan agresivitas di depan net. Pertahanan sempurna yang ditunjukkan oleh kedua pasangan berlangsung alot dan seru. Denmark berusaha menakan namun Zhang/Zhao senantiasa mampu mengembalikan dengan baik. Tapi sayangnya justru di poin akhir pasangan China yang membuang bola dan melakukan kesalahan sendiri. Joachim/Christinna mendekat di paruh awal sebelum jeda interval, 8-11.

 

Adu drive yang diakhiri dengan kesalahan sendiri Joachim saat China berusaha mempercepat tempo permainan serta perubahan variasi sudut serangan membuat Zhang/Zhao kembali memimpin signifikan 18-10. Denmark sempat menambah dua angka dari pengembalian terburu-buru Zhao di depan net serta servis panjang Christinna yang gagal diantisipasi Zhang. Namun 3 poin beruntun yang dikoleksi China dari kesalahan Christinna di depan net, penempatan Zhang di area baseline setelah beradu drive, serta smash beruntun Zhang/Zhao mengubur harapan Joachim/Christinna untuk merebut poin pertama, 12-21.

 

Jan O Jorgensen sempat memberikan perlawangan sengit dan menyulitkan Chen Long di sektor tunggal putra. Sempat bermain cepat di awal gim pertama, Jan justru menguntungkan Chen Long karena beberapa kali gagal mengembalikan dengan sempurna. Namun di paruh akhir set pertama, Jorgensen mampu mengubah pola permainannya menjadi reli dan lebih sabar meladeni Chen. Bola-bola taktis di antara permainan reli menjadi senjata Jorgensen di poin-poin kritis sehingga mampu memperkecil selisih poin 16-20 setelah sebelumnya tetringgal jauh 8-9 angka. Namun strategi ini sayangnya terlambat karena Chen Long sudah lebih dulu sukses merebut gim pertama 21-16.

 

Taktik ini kembali jitu meredam permainan Chen Long di set kedua. Bahkan hingga kedudukan 6-6, pertarungan keduanya terlihat lebih berimbang. Pertahanan Jorgensen yang juga menjadi lebih baik membuat Chen Long beberapa kali jsutru melakukan kesalahan sendiri. Sempat tertinggal, Jorgensen kembali memperkecil selisih poin 12-14 saat mampu tenang dan bermain taktis. Saat mencoba meningkatkan tempo, Jorgensen justru kembali tetringgal 13-18 namun ketika mendapatkan kembali ritmenya Jan sukses memperkecil selisih poin 16-18. Adu smash dan pertahanan yang akhirnya dimenangkan Chen Long serta penempatan bola yang smepurna membuang peringkat 2 dunia tersebut kembali sukses menutup gim kedua 21-16.

 

Mathias Boe/Carsten Mogensen sempat memperpanjang nafas Denmark di partai ketiga. Menghadapi lawan yang sama seperti saat final Olimpiade London 2012, tandem peringkat satu dunia ini tampil menekan dengan smash-smash keras mereka sejak awal gim pertama. Sebaliknya, ketajaman dan daya serang Fu/Cai justru berkurang jauh dan keduanya tampak tertekan sehingga tidak mampu mengeluarkan permainan terbaiknya. Beberapa kali smash Fu/Cai mampu diantisipasi oleh pasangan Denmark sehingga ganda China lebih banyak mengandalkan permainan di depan net dan penempatan bola-bola sulit. Kesolidan Mathias/Carsten yang tak mampu ditembus Fu/Cai membuat Denmark merebut gim pertama, 21-16.

 

Meskipun pertandingan tersaji lebih ketat di set kedua, Mathias/Carsten tetap unggul dalam hal konsistensi dengan pola menyerang. Beberapa reli adu drive-drive cepat diakhiri dengan kesalahan sendiri yang dilakukan oleh kedua pasangan juga membuat pertandingan menjadi lebih alot. Kedua pasangan harus melakukan smash beruntun untuk akhirnya mampu memetik poin. Tak tersentuh paska kedudukan 6-6 hingga 20-16, Mathias/Carsten akhirnya mengokohkan dominasi atas Fu/Cai, 21-17.

 

Partai ini juga terlihat kontroversial bagi China yang biasanya mampu menganalisa hasil pertandingan dengan detail. Turunnya Fu/Cai setelah kekalahan atas Anggga/Rian di babak sebelumnya serta catatan yang kurang baik atas Mathias/Carsten di laga sebelumnya, BWF Final Super Series 2012 dipertanyakan oleh beberapa pihak. Padahal, mereka memiliki tandem lainnya yang secara statistik lebih baik di dua pertemuan terakhir, Liu Xialong/Qiu Zihan.

 

“Mereka (Fu/Cai) sudah sering mengalahkan mereka di banyak turnamen besar, termasuk final Olimpiade tahun lalu. Hari ini sepertinya bukan menjadi milik mereka,” Li Yongbo mencoba menjawab rasa penasaran perihal diturunkannya kembali Fu/Cai.

 

Namun meskipun kehilangan satu poin, dominasi China kembali tak terbantahkan di sektor putri. Li Xuerui yang sempat kesulitan di paruh awal gim pertama menghadapi tunggal berperingkat 79 dunia, Line Kjaersfeldt akhirnya berhasil mengontrol jalannya pertandingan setelah mampu mempercepat serangan. Line sempat menyamakan kedudukan hingga 10-10 bahkan memperkecil selisih poin 13-17 saat menggunakan senjata pamungkasnya smash keras menyilang yang tajam dan sulit untuk dikembalikan. Namun minimnya pengalaman dan kematangan Line membuat wakil Denmark tersebut kesulitan mengantisipasi strategi Xuerui paska jeda interval gim pertama.

 

Setelah unggul 21-13 di set pertama, Line yang kembali melakukan banyak kesalahan sendiri seperti pada paruh akhir gim kedua tak mampu berbuat banyak meladeni permainan taktis Xuerui. Teriakan para pendukung yang menyebut namanya di bangku penonton seolah-olah tidak mampu membangkitkan semangat runner Kejuaran Eropa Junior 2013 ini. Mengandalkan senjata pamungkas dan kesalahan sendiri yang dilakukan oleh Xuerui, pemain yang berusia 19 tahun ini akhirnya menyerah 9-21.

 

“China terlalu kuat. Tapi kami selalu percaya bahwa kami mampu mengalahkan China meskipun tidak terjadi hari ini. Denmark dan seluruh negara lainnya harus berusaha lebih keras untuk menghentikan dominasi China,” ungkap kepala pelatih Denmark, Lars Uhre.

 

Dengan hasil ini tim China berhasil melenggang ke laga final Sudirman Cup yang ke-9 kalinya sekaligus berpeluang untuk merebut Piala Sudirman yang ke-5 kalinya secara beruntun (FI).

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: