Bulutangkismania's Weblog

Juni 14, 2013

Indonesia Open SS Premier 2013 : Menanti Sejarah Kedua Sektor Tunggal Putri

Filed under: Turnamen — bulutangkismania @ 7:08 am

Poster Djarum Indonesia Open SS Premier 2013Maria Kristin Yulianti sampai saat ini masih mencatatkan diri dalam rekor terbaik sejarah Superseries tunggal putri bulu tangkis Indonesia sebagai satu-satunya yang mampu meloloskan diri ke partai final. Belaetrix Manuputi berhasil menyamai prestasi Lindaweni dengan melenggang ke babak delapan besar Superseries Premier usai menundukkan wakil Bulgaria.

 

Dalam sejarah perhelatan turnamen Superseries sejak tahun 2007 di sektor tunggal putri, nama Maria Kristin Yulianti masih mencatatkan rekor prestasi terbaik dengan meloloskan diri ke babak final. Dalam beberapa turnamen terakhir, Lindaweni Fanteri dan Aprilia Yuswandari sempat berusaha menyaingi prestasi tersebut dengan masing-masing meloloskan diri ke perempat final All England Open SS Premier 2013 dan semi final India Open SS 2013. Namun sayangnya di turnamen Indonesia Open SS Premier 2013 kali ini, kedua pemain tersebut harus rontok di babak pertama setelah berjibaku tiga gim.

 

Meskipun kehilangan dua pilarnya, srikandi tunggal Indonesia ternyata masih mampu menyelipkan satu peluang saat Belaetrix Manuputi berhasil mencatat dua kemenangan dan melenggang ke delapan besar. Usai membuat kejutan di laga perdana dengan menghempas Sung Ji Hyun (6), 16-21, 21-16, 21-19, Bella kembali menyejajarkan diri dengan prestasi yang ditorehkan Linda dan April ketika sukses membungkam pebulu tangkis Bulgaria, Petya Nedelcheva.

 

Unggul mudah 21-8 di gim pertama dengan bola-bola uniknya di depan net yang beberapa kali gagal diantisipasi oleh Petya, Bella juga berhasil menekan pertahanan Petya dengan smash-smash kerasnya. Meskipun permainan Bella sempat mengendor di gim kedua, peringkat 35 dunia tersebut senantiasa mampu mengendalikan jalannya pertandingan dan akhirnya memastikan kemenangan, 21-15.

 

“Permaian lawan mudah ditebak, saya sudah hafal pukulan-pukulannya.
Misalnya saat di kanan, pasti dia akan memberikan bola-bola silang.
Saya sudah mempelajari permainannya dari video di dan ternyata mainnya
sama persis dengan apa yang saya tonton. Tapi memang saya tidak menyangka akan menang secepat ini,” kata Bella.

 

“Pada pertandingan tadi, saya lebih banyak berpikir karena stamina
saya sudah berkurang. Sejak kemarin memang sudah terasa lelahnya,” sambung Bella saat menjelaskan kendornya serangan di gim kedua.

 

Dengan hasil ini Bella tidak hanya berhasil menyamai prestasi kedua rekannya namun juga berpeluang untuk menjadi lebih baik bahkan menyamai pertasi yang pernah di torehkan oleh prebut medali perunggu Olimpiade Beijing 2008, Maria Kristin Yulianti. Di babak selanjutnya, Bella akan menantang tunggal Hong Kong, Yip Pui Yin yang juga membuat gerbakan di turnamen ini dengan menumbangkan dua pemain yang berperingkat lebih baik di atasnya. Lolos dari hadangan Wang Yihan di babak pertama, Yip berhasil mengantongi kemenangan atas peringkat 9 dunia, Minatsu Mitani, 21-18, 21-18 untuk menggenggam tiket delapan besar.

 

Langkah Bella sayangnya tidak diikuti dengan wakil Indonesia lainnya, Hera Desi yang sempat mendapatkan keuntungan dari mundurnya Han Li dan Ratchanok Intanon (5). Mundurnya Han Li membuat Hera yang semestinya berjibaku dari babak kualifikasi langsung lolos ke babak utama. Mendapatkan keberuntungan kedua atas mundurnya Intanon, Hera masih belum ampu mengimbangi permainan tunggal pertama, Korea Selatan, Bae Yeon Ju. Sempat memaksa rubber game setelah merebut set kedua 21-13  dan kalah 11-21 di gim pertama, Hera harus mengakui keunggulan Yeon Ju 17-21 di laga penentuan.

 

“Hera desi adalah tipikal pemain yang berusaha hingga titik akhir, Ia adalah pemain yang tidak gampang menyerah,” ujar Bae Yon Ju mengomentari permainan Hera Desi.

 

Sedangkan Hera sendiri mengakui bahwa laga perdananya di babak kedua ini membuatnya harus beradaptasi lebih dulu dengan kondisi lapangan. “Awal-awal masih masih nyesuain lapangan, jadi masih ada rasa-rasa takut sehingga saya banyak melakukan kesalahan sendiri,” papar Hera.

 

Schenk, “Publik Istora, Penonton Turnamen Terbaik”

 

Selain kekalahan Wang Yihan (3), Sung Ji Hyun (6) dan mundurnya Ratchanok Intanon (5) karena cedera, unggulan lainnya yang juga angkat koper lebih dini adalah Wang Shixian (7) ketika takluk atas Busanan Ongbumrungpan, 11-21, 21-9, 19-21. Langkah Busanan sayangnya berakhir di tangan Carolina Marin di laga babak kedua setelah menelan kekalahan, 8-21, 16-21. Sebelumnya, Carolina Marin yang pernah menumbangkan dua nama besar Eropa, Tine Baun dan Juliane Schenk ini juga memetik kemenangan mudah atas Adrianti Firdasari, 21-13, 21-8 di babak pertama.

 

Carolina selanjutnya akan menantang sang juara bertahan, Saina Nehwal (2) di babak delapan besar. Tak seperti pertandingan sebelumnya saat Saina harus berjibaku tiga gim untuk menundukkan Lindaweni, perjalanan Saina kali ini relatif lebih mudah saat menyingkirkan Sayaka Takahashi, 21-13, 21-19.

 

“Takahashi adalah pemain yang bagus. Tadi adalah pertandingan yang cukup sengit. Tak mudah untuk bisa menang tadi,” ujar Saina.

 

Saina sendiri mengaku tak memiliki banyak persiapan karena paska dilanda cedera, dirinya harus  beristirahat selama 4-5 pekan. “Meski cedera, saya tak mungkin melewatkan turnamen ini. Seperti yang kalian tahu, saya suka senang bisa bermain di sini,” lanjut Saina.

 

Sementara itu unggulan lainnya, Juliane Schenk (4) harus berjuang tiga gim untuk merampas tiket perempat final dari pemain putri Jepang, Eriko Hirose. Sempat unggul 17-12 di gim kedua, Schenk akhirnya menyerah 19-21 meskipun mampu bangkit dan merebut kemenangan, 21-8, 19-21, 21-14.

 

“Di pertandingan tadi, saya cukup kesulitan saat dia bisa mencuri game kedua. Tapi di game ketiga saya bisa bermain baik,” Schenk.

 

Di babak perempat final Schenk akan menguji atlet muda asal Taiwan, Tai Tzu Ying. Tai berhasil mengalahkan Yui Hashimoto dari Jepang dengan 21-16 dan 21-19.

 

“Untuk pertandingan nanti, saya berharap bisa kembali bermain baik. Banyak faktor yang menetukan apa yang akan terjadi di lapangan, terlebih stamina kita pada saat itu. saya pun berharap besok besok menampilkan permainan terbaik saya,” Schenk.

 

Senada dengan Saina yang punya kesan tersendiri dengan Istora, Schenk pun mengakui bahwa aura Istora memang berbeda dengan turnamen lain yang pernah diikutinya.

 

“Mereka berteriak sepanjang pertandingan, bersorak, bertepuk tangan, salah satu penonton turnamen yang terbaik yang pernah saya rasakan, dan saya sangat bahagia bisa bertanding di hadapan penonton yang seperti ini,” ungkap Schenk (FI).

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: