Bulutangkismania's Weblog

Juni 16, 2013

Indonesia Open SS Premier 2013 : Ahsan, “Tidak Peduli Menang-Kalah, Yang Penting Usaha Terbaik”

Filed under: Turnamen — bulutangkismania @ 10:16 am

DIO-2013_01Kekalahan yang dialami oleh Tontowi/Liliyana dan dua pemain tunggal putra pada pertandingan sebelumnya praktis membuat Ahsan/Hendra (SanDra) menjadi tumpuan harapan mendulang gelar. Beruntung beban ini tidak berpengaruh banyak pada permainan mereka. Meskipun sempat dipaksa rubber dan bersaing ketat di dua gim terakhir, SanDra akhirnya lolos dan melenggang ke partai puncak.

 

Jika melihat jalannya pertandingan antara Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan (SanDra) menghadapi jagoan Rusia, Vladimir Ivanov/Ivan Sozonov, pada gim pertama, tak ada yang menyangka bahwa pertarungan antara kedua pasangan ini akan berlangsung ketat dalam tiga set. Tampil terus menekan dan menyerang di gim pertama membuat SanDra tak memberikan banyak kesempatan bagi Vladimir/Ivan untuk mengembangkan permainan. Hanya dalam tempo 10 menit, SanDra yang unggul hingga 11-6 dan 18-9 tak tersentuh untuk menutup set ini, 21-10.

 

Kualitas sebenarnya dari Vladimir/Ivan baru benar-benar tersaji di gim kedua. Sebagai penumbang unggulan teratas, Mathias Boe/Carsten Mogensen, pasangan Rusia tak hanya unggul dalam sergapan drive-drive cepat di depan net namun dengan postur jangkung masing-masing lebih dari 180cm membuat keduanya juga garang dalam melakukan bloking dan smash-smash tajam. Vladimir/Ivan pun mendominasi jalannya pertandingan dan perolehan poin meskipun senantiasa mampu diimbangi oleh SanDra dengan banyak menurunkan bola dan variasi sudut serangan. Sempat menyamakan kedudukan di angka 19 dengan serangan-serangan cepat setelah sebelumnya tertinggal 4 angka, beberapa pengembalian tak sempurna pasangan Indonesia memastikan kemenangan tandem Rusia, 22-20.

 

Set ketiga kembali berlangsung ketat  hingga kedudukan 11-9 saat jeda interval. Tak hanya menekan di area depan, SanDra pun berusaha untuk menempatkan bola-bola sulit dalam tempo cepat ke area belakang yang tak tersentuh. Keduanya kembali memegang kendali permainan hingga kedudukan 17-14. Pada titik ini Ahsan sempat mendapat pertolongan dokter karena kelingking kanannya mengalami luka akibat tergesek dengan karpet lapangan saat mengambil bola.

 

Namun untungnya kejadian ini tak berpengaruh bagi pasangan Indonesia. Mendekati poin-poin kritis, justru Vladimir/Ivan yang terlihat tegang dan banyak melakukan kesalahan sendiri. Penempatan bola akurat dan tak terduga SanDra juga kian membuat mereka unggul  dengan 4 poin beruntun, 21-14.

 

“Gim kedua kami justru balik tertekan, mereka mampu mengubah pola permainan dan performa merek sudah in. Sayangnya kami belum siap. Beruntung di gim pertama dan ketiga, kami lebih siap dan berhasil menekan mereka terlebih dahulu, jadi permainan mereka tidak berkembang,” ujar Hendra.

 

“Syukur Alhamdulillah bisa masuk final. Sebenarnya tadi kita main tegang karena kami jadi tumpuan buat ke final, ditambah dengan dukungan penonton,” Ahsan menambahkan.

 

“Besok siap saja siapapun lawannya. Kami sudah pernah bertemu. Mau menang atau kalah besok tidak masalah,” papar Hendra.

 

“Bebannya pasti ada, tapi kami tidak peduli besok menang atau kalah, yang pasti kami akan lakukan yg terbaik dulu. Mereka juga pasti mati-matian untuk mengalahkan kita,” Ahsan ikut menimpali pernyataan Hendra.

 

Sedangkan menurut ganda Rusia, permainan mereka tidak terlalu baik. Mereka pun mengakui tidak terlalu menyukai tipe permainan orang Asia. “Ahsan/Hendra bermain baik kali ini, kami kesulitan untuk keluar dari tekanan, terlebih lagi kami cukup tegang harus bertanding di hadapan ribuan penonton seperti ini. Saya sempat tegang, penontonnya luar biasa, kami berharap bisa kembali lagi tahun depan,” ujar Ivan.

 

Meskipun unggul atas Rusia dan lolos ke babak final, perjuangan SanDra dituntut untuk lebih baik lagi pasalnya mereka akan menantang unggulan ke-2 asal Korea Selatan, Ko Sung Hyun/Lee Yong Dae. Artinya SanDra harus mampu menampilkan performa yang sama seperti saat menjadi kampiun Malaysia Open SS 2013 dengan menundukkan Ko/Lee.

 

Ko/Lee sendiri berhasil meraih tiket laga pamungkas usai menghentikan perlawanan kompatriot mereka, Yoo Yeon Seong/Shin Baek Choel (8). Ko/Lee yang mendominasi sejak awal pertandingan munutup gim pertama dengan angka meyakinkan, 21-13. Yoo/Shin sempat memberikan perlawanan yang lebih baik di set kedua, namun konsistensi peraih gelar Korea Open SS Premier 2013 ini masih terlalu sulit untuk dibendung sehingga Ko/Lee kembali memetik kemenangan, 21-16.

 

“Karena lawan sesama Korea, kami main tidak terlalu ngotot. Tapi, kami tetap menampilkan yang terbaik,” tutur Lee Yong Dae.

 

Apabila di babak sebelumnya banyak para penonton putri yang histeris dan mendukung permainan mereka, situasi akan berbeda saat mereka menghadapi SanDra. Terlebih SanDra merupakan wakil terakhir Indonesia di babak final.

 

“Tidak ada strategi khusus. Kami hanya mempersiapkan diri untuk menampilkan yang terbaik,” ungkap Lee.

 

“Kami sadar besok mereka akan mendapatkan dukungan penuh dari penonton. Kami akan berusaha untuk menghadapi tekanan penonton,” pungkasnya kemudian.

 

Wang/Yu Menuju Hattrick

 

Pada tahun 2007 yang lalu bersama dengan Du Jing, Yu Yang sempat menjadi kampiun di edisi perdana Indonesia Open Superseries. Tiga tahun berselang, Yu Yang berkolaborasi dengan Wang Xiaoli kembali naik podium pada edisi 2011. Pada periode berikutnya Wang/Yu terus menjaga konsistensi sebagai yang terbaik dan kali ini peringkat nomor satu dunia tersebut kian dekat dengan prestasi Hattrick yang hanya mampu dibukukan oleh dua pemain non Indonesia.

 

Tidak banyak nama pemain asing yang mampu membukukan tiga kali kemenangan beruntun di turnamen ini. Aura Istora yang terkenal ‘angker’ untuk para pemain non Indonesia membuat beberapa pebulu tangkis hanya mampu mengoleksi maksimal dua gelar beruntun atau berselang dengan pemain lainnya. Zheng Bo pernah menjadi kampiun tahun 2007 dan 2008 bersama Gao Ling. Setahun setelahnya, bersama Ma Jin, Zheng Bo kembali mencatatkan prestasi yang sama. Sementara itu di sektor tunggal Lee Chong Wei menorehkan prestasi tersebut pada edisi 2009-2011 secara beruntun.

 

Kali ini rekor serupa juga berpeluang untuk ditorehkan oleh Wang Xiaoli/Yu Yang sebagai unggulan teratas turnamen ini. Lolos dari hadangan rekan senegaranya, Ma Jin/Tang Jinhua (4), duo Wang/Yu memetik kemenangan dua gim langsung, 21-18, 21-16 dalam tempo 41 menit. Keduanya akan menjajal unggulan ke-8, Bao Yixin/Cheng Shu yang berhasil menundukkan andalan China lainnya, Tian Qing/Zhao Yunlei (5), 21-17, 22-20 (FI).

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: