Bulutangkismania's Weblog

Agustus 9, 2013

BWF World Championships 2013 : Lindaweni, “Saya Kalah Cepat Jadi Banyak Error”

Filed under: Turnamen — bulutangkismania @ 11:37 am

2013_World_Championship_posterKekalahan yang dialami oleh Lindaweni Fanetri (9) atas unggulan teratas asal China memastikan tertutupnya peluang sektor putri Indonesia untuk melangkah lebih jauh. Di dua babak sebelumnya, Indonesia sudah kehilangan tiga wakil lainnya, Adrianti Firdasari, Aprilia Yuswandari dan Bellaetrix Manuputi yang secara beruntun harus menelan kekalahan dua gim langsung.

 

Tidak seperti pada turnamen-turnamen sebelumnya dimana para srikandi Indonesia mampu menunjukkan perlawanan ketat bahkan membuat kejutan atas unggulan, kali ini performa pemain putri justru berada di bawah yang terbaiknya. Harapan terakhir di babak ketiga, Lindaweni Fanetri gagal mengimbangi permainan cepat dan agresif unggulan teratas, Li Xuerui. Xuerui bahkan mampu menuntaskan perlawanan Linda hanya dalam tempo 30 menit.

 

Banyaknya kesalahan sendiri yang dilakukan Linda dan permainan efektif Xuerui di depan net membuat peraih emas Olimpiade London 2012 tersebut langsung unggul jauh 9-3. Meskipun Linda mampu memperkecil selisih angka dengan merebut 4 poin beruntun, variasi bola-bola Xuerui kembali mematahkan perlawanan Linda sehingga kembali memimpin 19-9. Linda yang tak mampu berbuat banyak akhirnya menyerah 10-21 di gim pertama.

 

Berharap ada terobosan baru dari strategi permainan Linda di gim kedua, tunggal peringkat 11 dunia tersebut kembali terperangkap dalam pola permainan Xuerui dan gagal meladeni serangan-serangan tajam andalan sang tuan rumah tersebut. Linda hanya mampu membendung Xuerui di titik 5-5. Selebihnya, Xuerui mengontrol penuh jalannya pertandingan dengan penempatan bola akurat dan penampilan cemerlang di area depan. Unggul 12-6 hingga 17-9, Xuerui yang mendapatkan dukungan penuh dari para penonton tanpa kesulitan menyudahi permainan Linda, 12-21.

 

“Saya kalah di kecepatan, dia bermain cepat sekali. Hal ini membuat pukulan saya banyak error nya. Bola-bolanya sangat tajam dan berbahaya, ini yang membuat saya kesulitan di pertadingan tadi,” ujar Linda seperti yang dikutip situs PBSI.

 

Sementara itu sang pelatih, Liang Chiu Sia mengungkapkan bahwa Linda kurang tahan meladeni variasi bola yang dilancarkan Xuerui. Kualitas sang peringkat satu dunia ini mendapatkan catatan penting dari Liang.

 

“Menurut saya, Linda ketahanannya masih kurang, sebaliknya lawannya bermain sangat safe dan tidak mudah mati-mati sendiri. Li juga mengatur bola, ada pukulan-pukulan lob dan chop, tidak langsung melancarkan smash. Para pemain-pemain China memang mutu permainannya bagus sekali, pukulannya sangat menyulitkan,” ungkapnya.

 

Berbeda dari Linda, pemain India yang kerap dikalahkan olehnya, PV Sindhu (10) justru mampu menunjukkan permainan solid dan membuat kejutan terbesar sektor putri saat menjamu unggulan ke-2, Wang Yihan. Pertandingan antara kedua pemain ini berlangsung ketat dan saling mengejar sejak awal gim pertama. Penempatan bola-bola Sindhu yang lebih matang dan beberapa kali tak mampu diantisipasi oleh Yihan membuat tunggal ke-2 India ini bebrapa kali mampu memimpin perolehan angka. Termasuk saat poin-poin kritis 16-16, Sindhu menunjukkan kegigihannya dan terus mengambil inisiatif untuk menekan dan menyerang lebih dulu. Keuletannya membuahkan kemenangan 21-18 di set pertama.

 

Kepercayaan diri Sindhu yang kian meningkat membuat permainannya kian berkembang di gim kedua. Tak hanya unggul di area depan dan dengan akurasi penempatan yang efektif, Sindhu juga mampu menekan dengan serangan-serangannya ke sisi tak terjangkau Yihan. Peringkat 12 dunia tersebut sempat unggul jauh 13-7 dan terus memimpin hingga match point 20-17. Meskipun konsentrasinya sempat terganggu dan membuat Yihan berbalik unggul 21-20, pemain berusia 18 tahun ini akhirnya berhasil tampil lebih tenang untuk merebut tiga poin beruntun 23-21.

 

“Ini kali kedua saya menghadapi dia dan saya bisa membalas kekalahan sebelumnya. Banyak reli-reli dan pertandingan ini melelahkan tapi saya sangat senang. Faktor utamanya adalah reli-reli panjang dan pukulan saya cukup baik hari ini,” Sindhu mencoba mengungkapkan kegembiraannya.

 

“Tentu saja China masih memiliki banyak pemain top tapi saya dan Saina sudah pernah berhasil mengalahkan mereka. Saya sangat senang. Tahun lalu saya berhasil mengalahkan Xuerui, dan kemudian Shixian dan sekarang saya mampu menundukkan Yihan,” lanjut Sindhu.

 

“Saya tidak setuju bahwa semua pemain tinggi itu kuat walaupun memang ada pemain tinggi yang bagus juga.  Saya pikir setiap pemain sejajar dan setiap pemain yang mampu bertanding 100% di lapangan itulah yang akan menang,” saat Sindhu mengomentari apakah tinggi badannya berpengaruh terhadap hasil pertandingan ini.

 

Sementara itu Yiha sendiri mengakui bahwa permainan Sindhu mengalami kemajuan. “Saya menghadapi dia di Piala Sudirman dan dia mampu memaksa saya bermain rubber. Dia bermain sangat bagus hari ini meskipun saya juga tak bermain buruk. Saya sempat berpeluang di gim kedua namun tidak mampu memanfaatkan momentum yang ada,” papar Yihan.

 

“Secara umum dia memiliki kecepatan, tinggi, dan jangkauan sehingga mampu meng-cover lapangan dengan cepat. Saat saya berpikir sudah memojokkan dia dalam posisi defensif, dia selalu mampu mengembalikan bola dengan baik,” lanjut peringkat 2 dunia ini.

 

“Hari ini saya memang memiliki masalah stamina. Kemarin saya menghadapi bukan lawan pemain top (Bella, red). Saya memenangkan pertandingan dengan mudah dan tidak menjajal seluruh potensi dan mood tubuh saya. Hari ini pertandingan sangat cepat sehingga saya seperti kehabisan stamina,” pungkas Yihan.

 

Selain Sindhu, India juga masih menyimpan amunisinya di sektor tunggal putri melalui unggulan ke-3, Saina Nehwal. Meskipun harus melewati laga tiga gim menghadapi andalan Thailand, Porntip Buranaprasertsuk, Saina mampu menunjukkan kematangannya dengan memetik kemenangan 18-21, 21-16, 21-14.

 

Selain Yihan, unggulan lainnya yang ikut tumbang adalah andalan Korea Selatan, Sung Ji Hyun (5). Menghadapi pemain muda Spanyol yang sedang berada pada performa terbaiknya, Carolina Marin, Sung yang memimpin sejak awal gim ketiga setelah menang 21-13 dan kalah 13-21 di dua set sebelumnya gagal mempertahankan konsistensinya justru pada saat-saat kritis. Unggul 20-17, Sung justru terjungkal saat Marin mampu mengantongi 5 angka beruntun yang sekaligus membalikkan keadaan 22-20.

 

Hasil yang diraih oleh Marin ini mengikuti tren positif pemain Spanyol tersebut pada laga sebelumnya. Menghadapi pemain muda Thailand, Busanan Ongbumrungpan (14), Marin membukukan kemenangan setelah berjibaku tiga gim, 21-12, 17-21, 21-14.

 

Rexy, “Fighting Spirit Bella Kurang”

 

Meredupnya performa para pemain putri Indonesia sebenarnya sudah terjadi pada tiga laga sebelumnya. Adrianti Firdasari yang sempat berambisi menebus kekalahannya atas Carolina Marin, justru harus kembali kecolongan dalam laga dua gim. Hasil yang kurang memuaskan juga diukir oleh April dan Bella saat menghadapi wakil putri dari Asia Timur.

 

Adrianti Firdasari sempat bertekad untuk membalaskan kekalahannya atas Carolina Marin pada ajang Indonesia Open SS Premier 2013 yang lalu. Namun sayangnya ambisi ini tak mampu terelisasi karena pemain yang paling senior di Pelatnas ini harus kembali menelan kekalahan dua gim, 15-21, 11-21. Kekalahan Firda ini mendapatkan catatan tersendiri dari sang pelatih, Liang Chiu Sia.

 

“Evaluasi pertemuan sebelumnya tentu sudah dilakukan, Firda juga sudah melakukan persiapan melawan Marin, dia sudah tahu permainan lawannya itu seperti apa. Akan tetapi, setiap pemain itu bisa saja mengubah permainannya di lapangan,” ujar Liang.

 

Menyusul kekalahan Firda adalah harapan lainnya, Aprilia Yuswandari. Pemain berusia 23 tahun tersebut tak mampu menghadang laju pemain Jepang, Kaori Imbabeppu. Sempat mengimbangi permainan Kaori di gim pertama, April bahkan mampu unggul 18-16 di angka-angka kritis. Namun sayangnya April tak mampu menuntaskan hingga titik akhir dan 5 angka beruntun yang dikoleksi Kaori menutup peluangnya 18-21. Antiklimaks permainan April pada set kedua membuat Kaori tak menemui banyak kesulitan untuk memastikan kemenangannya 21-10.

 

“April mainnya terlalu polos, lawan sudah tahu bola-bola pengembaliannya mau kemana, sudah bisa diantisipasi. April juga kurang sabar, apalagi lawannya pemain Jepang yang terkenal ulet. Tadi banyak serangan April yang tidak tembus, tapi April malah nafsu mau mematikan bola, jadinya malah mati sendiri,” jelas sang pelatih, Liang Chiu Sia.

 

“Tadi Aprilia juga tidak bisa menikmati pertandingan, dia terlalu ingin buru-buru mematikan bola. Variasi pukulan dan ketahanannya juga kurang,” tambahnya kemudian.

 

Sementara itu Bellaetrix Manuputi mencatat hasil selangkah lebih baik dibandingkan kedua rekannya. Usai menundukkan pemain Denmark, Sandra Maria Jensen 21-6, 21-19 di babak 64 besar, Bella yang menantang unggulan ke-2, Wang Yihan tak mampu berbuat banyak dan menyerah dua gim dalam tempo setengah jam. Tak hanya kalah dalam strategi, Bella juga beberapa kali melakukan kesalahan sendiri yang kerap menguntungkan Yihan. Mental bertanding Bella yang ‘tidak seperti biasanya’ ini mendapatkan perhatian khusu dari Manajer Tim Indonesia, Rexy Mainaky.

 

“Permanan Bella hari ini sangat jelek. Bella perlu tingkatkan fighting spirit nya,” komentar Rexy (FEY).

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: