Bulutangkismania's Weblog

Agustus 10, 2013

BWF World Championships 2013 : Lagi, Bertumpu Pada Tontowi/Liliyana-Ahsan/Hendra

Filed under: Turnamen — bulutangkismania @ 11:43 am

2013_World_Championship_posterDua ujung tombak Indonesia di sektor ganda, Tontowi/Liliyana (3) dan Ahsan/Hendra (6) kembali menjadi harapan terakhir untuk meraih gelar di turnamen ini paska kekalahan yang dialami oleh tiga wakil lainnya. Pia/Rizki (9) dan Rijal/Debby (6) tak mampu mengembangkan permainan terbaik mereka dan takluk dua gim sedangkan Angga/Ryan (10) sempat menyajikan perlawanan tiga gim sebelum akhirnya menyerah.

 

Setelah pada laga sebelumnya duet Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir (ToLyn, 3) melewati laga melelahkan tiga gim, kali ini keduanya kembali harus melewati pertarungan yang jauh lebih mendebarkan. Menantang ganda Jepang, Kenichi Hayakawa/Misaki Matsutomo, ToLyn memang tampil digjaya dan langsung unggul 12-1 di gim pertama. Tak membutuhkan waktu lama, tandem Indonesia menyudahi perlawanan duo Jepang, 21-10.

 

Perubahan strategi dan kecepatan permainan Kenichi/Misaki di gim kedua ternyata ampuh membendung serangan ToLyn. Pasangan Jepang langsung unggul 5-1 dan terus memimpin hingga 11-4. Meskipun ToLyn mencoba untuk bermain taktis di depan net, pancingan serangan dam penempatan bola-bola sulit ganda Jepang membuat ToLyn tak mampu berkembang dan banyak mengembalikan bola dengan tanggung. Kenichi/Misaki terus meluncur dan tak tersentuh sehingga memastikan rubber game 21-17.

 

Beruntung di gim ketiga ToLyn kembali tampil menekan dan unggul dalam perolehan poin. Paska memimpin 11-8 saat jeda interval, kesolidan dan komunikasi ToLyn sempat membaik dan merebut 3 angka beruntun. Dengan memanfaatkan kesalahan sendiri yang dilakukan oleh pasangan Jepang dan permainan memukau Liliyana di depan net, ToLyn terus memimpin hingga 19-11 dan 20-14. Namun di titik ini kondisi yang tidak menguntungkan kembali dialami pasangan Indonesia saat Tontowi melakukan beberapa kesalahan sendiri dengan mengembalikan bola terlalu ke belakang. Hasilnya, Jepang mampu mengoleksi 5 angka beruntun dan nyaris membalikkan keadaan. Beruntung sambaran cepat Liliyana akhirnya mampu menutup gim ketiga dan memastikan tiket semi final untuk Indonesia, 21-19.

 

“Karena menang mudah di game pertama, kami tak siap dengan perubahan permainan. Memang disayangkan, seharusnya kami bisa menyimpan tenaga tetapi malah dipaksa main tiga gim. Kami tak mau memikirkan pertandingan hari ini, kami mau konsentrasi untuk pertandingan besok,” kata  Liliyana seperti yang ditulis situs PBSI.

 

“Lawan kami sebetulnya tidak berbahaya, tapi kami, khususnya saya, hari ini underperformed. Saya banyak membuat kesalahan-kesalahan sendiri dan terlalu banyak spekulasi,” Tontowi menambahkan.

 

“Tontowi/Liliyana lengah di gim kedua. Dengan sistem reli, mereka seharusnya lebih fokus dan waspada. Selain itu pertahanan mereka juga kurang rapat, semoga besok bisa tampil lebih baik lagi,” komentar Ricky Subagja tentang pertandingan ToLyn.

 

Hasil ini mempertemukan ToLyn dengan unggulan ke-2 tuan rumah Zhang Nan/Zhao Yunlei. Meskipun duo Z sempat kesulitan dan bermain ketat di gim kedua saat menghadapi wakil Korea Selatan, Yoo Yeon Seong/Jang Ye Na (11), dukungan penuh dari para penonton serta mental bertanding yang baik mampu membuat mereka menyamakan kedudukan dan membalikkan keadaan 22-20 setelah sebelumnya pada set pertama menang mudah 21-12.

 

Langkah ToLyn sayangnya tidak diikuti oleh wakil lainnya, Muhammad Rijal/Debby Susanto (RiDeb, 6). Setelah sebelumnya RiDeb mampu tampil perkasa menghadapi ganda Taiwan, kali ini keduanya justru bermain di bawah performa terbaiknya. Menghadapi ganda Korea Selatan yang mengalami reunifikasi paska meraih gelar Korea Open GP Gold 2013, Shin Baek Choel/Eom Hye Won. Kurang dari 40 menit, RiDeb harus menelan kekalahan 9-21, 15-21. Sebagai seorang pemain putri, Eom memang memiliki kelebihan di depan net sementara itu pasangan Indonesia lebih sering tertekan dan beberapa kali melakukan kesalahan sendiri. Lawan Shin/Eom di empat besar adalah unggulan teratas, Xu Chen/Ma Jin. Xu/Ma tampil meyakinkan saat menundukkan ganda Polandia, Robert Mateusiak/Nadiezda Zieba (8) dengan skor telak, 21-4, 21-4.

 

Ahsan, “Permainan Mereka Sudah Kami Pelajari”

 

Selain sektor campuran, Indonesia juga berhasil meloloskan satu wakil lainnya di sektor ganda putra. Ahsan/Hendra (6) yang menghadapi sang penakluk unggulan teratas Lee Tseng Mu/Tsai Chia Hsin asal Taiwan sempat bermain ketat di gim kedua sebelum akhirnya memetik kemenangan. Sementara itu wakil terakhir di nomor putri, Pia/Rizki (9) tak mampu berbuat banyak saat meladeni wakil Korea Selatan.

 

Duet Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan (SanDra) yang menghadapi kuda hitam asal Taiwan, Lee/Tsai berhasil membendung permainan cepat keduanya sejak awal gim pertama. Kesalahan sendiri yang banyak dilakukan pasangan Taiwan di gim pertama saat mencoba mengembalikan bola-bola tak terduga SanDra membuat wakil Indonesia terus memimpin dari 8-4, 12-5 hingga 20-12. Kesolidan tandem Indonesia tak menemui banyak kesulitan untuk menyudahi perlawanan keduanya 21-14.

 

Set kedua ternyata berlangsung lebih seru dan ketat. Indonesia memang memimpin dalam perolehan poin namun Lee/Tsai mampu terus menguntit perolehan angka SanDra hingga kedudukan kritis 18-19. Tak hanya tampil berani dengan serangan dan permainan cepat didepan net, pasangan Taiwan juga mencoba untuk meningkatkan tempo permainan dan beberapa kali mampu menyulitkan ganda Indonesia. Namun beruntung konsentrasi dan konsistensi SanDra tak berkurang di titik-titik akhir sehingga mampu kembali membukukan kemanangan 21-18.

 

“Permainan mereka sudah kami pelajari. Mereka tipe pemain yang suka dengan permainan cepat dan pukulan-pukulan keras, ini yang kami antisipasi. Menang mudah di game pertama, kami sadar kalau di game kedua akan lebih ramai,” papar Ahsan.

 

“Kami benar-benar siap untuk pertandingan ini. Kami tak mau kendor dan konsentrasi terus selama di lapangan tadi. Apalagi lawan kemarin membuat kejutan dengan mengalahkan  unggulan pertama, pasti rasa percaya diri mereka meningkat, kami lebih waspada lagi,” Hendra menambahkan.

 

Sementara itu sang pelatih, Herry IP mengaku SanDra berhasil tampil percaya diri dan tidak memberikan banyak kesempatan kepada lawannya untuk mengembangkan permainan. “Pada gim pertama, Ahsan/Hendra memegang ritme permainan, terutama di depan net, jadi lawan tidak berkembang. Di gim kedua, pasangan Taiwan mengubah pola main dan beri perlawanan. Tapi hal ini sudah diantisipasi oleh Ahsan/Hendra, mereka sudah siap,” ujar Herry.

 

Pernyataan ini juga disetujui oleh Tsai Chia Hsin, “Ahsan/Hendra memegang kendali permainan, kami tak dapat berbuat banyak karena dikontrol terus oleh mereka. Tenaga kami juga terkuras setelah kemarin bermain tiga game melawan Ko/Lee.”

 

Kemenangan ini akan mempertemukan SanDra dengan rival lama mereka, Fu Haifeng/Cai Yun (8). Fu/Cai yang sudah mengalami 2 kekalahan pada pertemuan sebelumnya atas SanDra berhasil melenggang ke semi final usai menundukkan wakil Jepang, Hiroyuki Endo/Kenichi Hayakawa (4), 21-13, 22-20.

 

Soal peluangya menghadapi SanDra, Fu berujar, “Kami sudah pernah kalah dari mereka dua kali. Hal ini akan menjadi positif karena kami akan main lepas,  tanpa beban, dan nothing to lose. Kami hanya berusaha untuk tampil yang terbaik.”

 

Hal senada juga di ungkap oleh Cai Yun yang merasa akrab dengan permainan Hendra Setiawan. “Lawan kami selanjutnya keduanya merupakan pemain top khususnya Hendra Setiawan yang tidak hanya kampiun Juara Dunia tapi juga Olimpiade. Tentu saja kami familiar dengan permainannya dan begitupun dia. Tapi setiap pertandingan tentu saja berbeda dan hasilnya akan tergantung pada performa kami di lapangan besok. Kami akan berusaha yang terbaik,” papar Cai Yun.

 

Sang pelatih, Herry IP sendiri mengungkapkan bahwa bermain di kandang lawan akan menjadi keberuntungan tersendiri bagi SanDra. “Peluang tetap terbuka buat Ahsan/Hendra. Besok sudah semi final, penentuan ke final, jadi harus siap lawan siapapun, termasuk Fu/Cai. Hal yang menjadi keuntungan adalah, pertama, bermain di kandang sendiri tentunya akan ada pressure buat mereka. Kedua, usia mereka tidak muda lagi. Tetapi, namanya pertandingan besar seperti ini, apapun bisa terjadi, kami akan antisipasi,” kata Herry.

 

Hasil yang diraih SanDra sayangnya tidak diikuti oleh wakil lainnya, Angga Pratama/Ryan Agung (AngRy). Unggulan ke-10 ini sempat memberikan perlawanan di gim kedua setelah takluk di set pertama saat menghadapi duet Denmark, Mathias Boe/Carsten Mogensen (3). Unggul 21-11 di gim kedua setelah tertinggal 13-21 di set sebelumnya, AngRy sayangnya tak mampu mempertahankan ritme mereka di gim ketiga. Terlambat start sejak awal gim, membuat AngRy senantiasa tertinggal dalam perolehan poin dan akhirnya menyerah 17-21. Lawan Mathias/Carsten di babak selanjutnya adalah Kim Ki Jung/Kim Sa Rang asal Korea Selatan yang membuat kejutan terbesar kedua di turnamen ini. Hanya dalam tempo 42 menit, keduanya menjungkalkan unggulan ke-2, Koo Kien Keat/Tan Boon Heong, 21-15, 21-16.

 

Sementara itu di sektor putri Indonesia harus kehilangan duet terakhirnya, Pia Zebadiah/Rizki Amelia (PiRiz). Unggulan ke-9 ini tak mampu mengembangkan permainan terbaik mereka saat ditantang ganda nomor satu Korea Selatan, Eom Hye Won/Jang Ye Na (8). Eom yang tampil cemerlang di depan net beberapa kali mampu menyulitkan permainan PiRiz. Pasangan Indonesia pun akhirnya menyerah 20-22, 15-21.

 

“Pia/Rizki sebetulnya punya kans besar untuk menang, tidak seharusnya kalah. Tapi inilah pertandingan, ada yang menang dan kalah. Mereka punya kesempatan di game pertama, tetapi defense Pia/Rizki kurang rapat. Hari ini mainnya sudah benar, tapi masih kurang sabar dan sering melakukan kesalahan sendiri,” Joko Riyadi yang menjadi pelatih PiRiz membeberkan komentarnya.

 

“Yang paling menyulitkan adalah dari pertandingan hari ini adalah Eom yang permainan depannya cepat. Kami juga tidak tampil maksimal, permainan terbaik kami tidak keluar,” sahut Rizki.

 

“Eom hari ini bisa mengatur permainan, saya perhatikan dari kemarin dia selalu tampil bagus. Kami memang sudah memenuhi target awal masuk delapan besar, tetapi kami merasa sangat tidak puas dengan permainan hari ini,” Pia menimpali.

 

Dengan kemenangan ini, Eom/Jang berhak untuk meraih tiket semi final dan menantang unggulan asal China, Tian Qing/Zhao Yunlei (5). Tian/Zhao meraih kemenangan atas kompatriot mereka, Ma Jin/Tang Jinhua (2), 21-17, 21-17.

 

Peluang China untuk mempertemukan sesama pemainnya di babak final juga masih terbuka. Unggulan teratas, Wang Xiaoli/Yu Yang belum menemui kesulitan berarti dan berhasil memastikan diri ke empat besar setelah menghempas ganda Korea Selatan lainnya, Jung Kyung Eun/Kim Ha Na (11), 21-11, 21-19. Keduanya akan menantang kolaborasi terbaik Eropa asal Denmark, Christinna Pedersen/Kamilla Rytter Juhl (4). Duo yang memiliki smash keras dan penempatan bola-bola tak terduga ampuh menyulitkan Bao Yixin/Zhong Qianxin untuk kemudian meraih kemenangan 21-17, 13-21, 21-18 dalam laga lebih dari satu jam (FEY).

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: