Bulutangkismania's Weblog

Agustus 10, 2013

BWF World Championships 2013 : Sejarah Finalis Termuda, India Atau Thailand?

Filed under: Turnamen — bulutangkismania @ 11:40 am

2013_World_Championship_posterPusarla Venkata Sindhu kembali menjadi sorotan di ajang BWF World Championships 2013 paska berhasil melibas dua dari tiga top pemain China yang bertarung di turnamen ini. Disisi yang berbeda kematangan Ratchanok Intanon di usianya yang setara telah berhasil mengantongi sejarah mahkota Superseries pemain putri termuda. Satu diantara dua pemain ini akan membuat rekor finalis Kejuaraan Dunia termuda sepanjang sejarah.

 

Tren kekuatan bulu tangkis dunia saat ini khususnya di sektor tunggal putri memang sudah berubah. Khususnya untuk negara-negara yang tidak memiliki kekuatan merata seperti India, Thailand, Jepang dan Taiwan bahkan Spanyol, fokus mereka lebih kepada pemain-pemain muda berusia di bawah 20 tahun. Skenario tersebut ternyata berjalan efektif. Seiring dengan berjalannya waktu negara-negara ‘kuda hitam’ ini berhasil menjadi pengancam terbesar adidaya bulu tangkis dunia yang sudah lebih dulu mencetak sejarah.

 

India sekarang boleh berbangga karena Saina Nehwal tidak lagi berjuang sendiri di sektor putri. Meskipun belum sematang dan sekonsisten pendahulunya, PV Sindhu saat ini berhasil menjadi satu dari beberapa pemain yang menjadi momok bagi srikandi-srikandi China. Usai menggulingkan Wang Yihan (2) du gim langsung di babak sebelumnya, kali ini giliran Wang Shixian (7) yang menjadi saksi konsistensi permainan tunggal 18 tahun tersebut.

 

Perjuangan seorang Sindhu untuk menjadi atlet besar seperti sekarang memang tidak mudah. Terinspirasi dari kemenangan sang legenda Pullela Gopichand di turnamen All England 2001, Sindhu akhirnya memutuskan untuk melanjutkan karirnya di Gophichand Academy. Setiap hari, dia harus melewati perjalanan sekitar 56 km untuk berlatih dari tempatnya tinggal namun tidak pernah melewati satu sesipun. Di tahun 2009, namanya mulai berkibar saat menjadi semifinalis Kejuaraan Asia Junior dan setahun setelahnya dia menjadi perempatfinalis Kejuaraan Dunia Junior saat usianya belum genap 16 tahun.

 

Unggul dari sisi serangan dan akurasi penempatan bola membuat Sindhu tak memberikan banyak peluang bagi Shixian untuk mengembangkan permainannya. Sejak awal gim pertama hingga pertandingan ini berakhir, Shixian hanya mampu memimpin perolehan poin atas Sindhu pada kedudukan 2-1 di set kedua. Selebihnya, kontrol permainan dipegang penuh oleh pemain yang berasal dari keluarga atlet bola voli ini. Hanya dalam tempo 55 menit, Sindhu menyudahi perlawanan Shixian, 21-18, 21-17. Kemenangan ini tak hanya memastikan Sindhu meraih medali perunggu World Badminton Championships 2013 untuk pertama kalinya namun juga masih berpeluang untuk melangkah lebih jauh ke babak final.

 

“Sindhu bermain sangat baik beberapa waktu terakhir. Tidak semerta-merta dia mampu menumbangkan para pemain China. Saya bersama pelatih sudah melakukan analisa sebelumnya untuk persiapan,” komentar Wang Shixian.

 

“Dia memiliki lengan dan kaki yang panjang dan tidak mudah untuk itu tapi saya juga tidak bermain cukup sabar hari ini. Saya tertinggal di sepanjang permainan dan tidak mampu tampil sabar,” lanjutnya kemudian.

 

Sementara itu Sindhu sendiri merasa bersukur untuk kemenangannya serta orang tua yang mendukungnya meskipun memilih jalur karir olah raga yang berbeda.

 

“Saya sangat berterima kasih kepada orang tua saya. Kedua orang tua saya merupakan atlet bola voli profesional dan meskipun saya memilih bulu tangkis, mereka tetap mendukung saya. Setiap hari mereka mengantar saya ke akademi yang berjarak sekitar 56 km selama 4,5 tahun terakhir. Bermain dengan para senior merupakan suatu pengalaman berharga dan bukan merupakan beban. Jika saya kalah maka saya dapat berlatih lebih giat namun jika saya menang, akan menjadi kebaikan untuk saya. Saya tampil lepas dan bebas dengan gaya sendiri,” ujar Sindhu.

 

Sang penantang Sindhu di babak semifinal juga tak kalah memiliki catatan hebat. Dengan usia yang relatif sama, Ratchanok Intanon memang memiliki kematangan lebih dalam hal pengalaman dan prestasi. Usai mencatatkan diri sebagai juara Superseries termuda di turnamen India Open SS 2013 yang lalu, kali ini Inthanon kembali diambang sejarah sebagai finalis termuda BWF World Championships.

 

Perjuangan Intanon untuk melangkah ke empat besar juga jauh lebih berat dibandingkan Sindhu. Sang peringkat 3 dunia ini harus berjibaku lebih dari 75 menit sebelum akhirnya memetik kemenangan atas pemain muda Spanyol, Carolina Marin. Unggul 21-18 di set pertama, Intanon kecolongan di bebrapa poin terakhir gim kedua saat tak mampu berkonsentrasi dan melakukan kesalahan sendiri sehingga menguntungkan Marin dengan 5 poin beruntun. Wakil Eropa tersebut akhirnya memaksakan rubber 22-20.

 

Stamina Marin yang terkuras setelah bermain agresif di dua gim sebelumnya membuatnya banyak melakukan kesalahan sendiri pada paruh akhir gim ketiga. Intanon akhirnya kembali memegang kendali permainan dan memastikan tiket semi finalnya 21-15.

 

Meskipun kehilangan dua amunisi terbaiknya, sang tuan rumah masih menyisakan sang unggulan teratas untuk membuka peluang di sektor putri. Li Xuerui sempat kesulitan meladeni permainan wakil Taiwan, Tai Tzu Ying (6) dan tertinggal di awal-awal gim pertama. Namun kematangan mental dan kualitas permainan peraih emas Olimpiade London 2012 tersebut teruji saat poin-poin kritis ketika berhasil mengantongi kemenangan 27-25. Antiklimaks permainan Tzu Ying di gim kedua membuat Xuerui tak menemui banyak kendala untuk merebut kemenangan 21-13.

 

Bae Yeon Ju (13) juga membukukan hasil signifikan di turnamen ini. Memanfaatkan kondisi Saina Nehwal yang tidak prima , Yeon Ju berhasil mematahkan perlawanan Saina yang sudah lebih dulu unggul 17-11 di gim pertama. Perlahan namun pasti tunggal kedua Korea Selatan tersebut berhasil mengejar dan akhirnya menyamakan kedudukan di angka 19 untuk kemudian memetik kemenangan 23-21 setelah melakukan beberapa kesalahan sendiri. Paska kedudukan 5-5 di gim kedua menjadi mental bertanding Saina mulai memudar dan tertinggal dalam perolehan poin. Paska jeda interval 6-11, akurasi penempatan tak terduga Yeon Ju dan kekuatan pukulannya kian membuat Saina tertinggal dan kemudian menyerah 9-21.

 

“Awal pertandingan saya merasa terlalu bersemangat dan tubuh saya terasa berat. Pukulan saya tidak mengarah sesuai dengan yang saya inginkan. Namun selanjutnya pukulan saya mulai terarah dan kepercayaan diri saya meningkat,” tutur pemain berusia 22 tahun ini.

 

“Sempat ada masalah angin di lapangan tapi itu Cuma masalah waktu untuk beradaptasi dan tahu ke arah mana dan kekuatan angin berhembus. Saya harus bisa mengatur pukulan-pukulan saya,” lanjutnya kemudian (FI).

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: