Bulutangkismania's Weblog

Agustus 11, 2013

BWF World Championships 2013 : Final Ke-Empat Liliyana Natsir

Filed under: Turnamen — bulutangkismania @ 11:13 am

2013_World_Championship_posterSempat diwarnai dengan tiga insiden saat menantang unggulan ke-2 asal China, Zhang Nan/Zhao Yunlei, duet Tontowi/Liliyana (3) akhirnya berhasil memastikan diri ke laga pamungkas untuk menantang unggulan teratas. Sementara itu di sektor putri kejutan terbesar di bukukan duo Korea Selatan, Eom Hye Won/Jang Ye Na sekaligus menggagalkan final antara sesama pemain China.

 

Dibandingkan dengan turnamen besar lainnya, World Championships ternyata memiliki keterikatan dengan Liliyana Natsir khususnya saat memasuki tahun-tahun ganjil. Berawal dengan menjadi juara pada edisi 2005, ternyata mampu berlanjut di tahun 2007. Bersama pasangan yang sama, Nova Widianto, Liliyana kembali naik podium pada tahun 2009 meskipun kala itu hanya mampu meraih medali perak setelah kalah dari Thomas/Kamilla asal Denmark. Ritual final 2 tahunan ini sempat terputus pada tahun 2011 saat menggandeng pasangan barunya, Tontowi Ahmad dan harus puas dengan medali perunggu. Saat itu ToLyn dihentikan oleh ganda fenomenal Inggirs, Chris Adcock/Imogen Bankier.

 

Kali ini Liliyana kembali berhasil melanjutkan tradisi finalis tersebut usai menaklukkan peraih emas Olimpiade London 2012, Zhang Nan/Zhao Yunlei (2). Meskipun sempat diwarnai dengan tiga insiden pada babak ketiga, penampilan konsisten dari ToLyn akhirnya berhasil mengantarkan mereka ke laga pamungkas.

 

ToLyn sebenarnya sudah mampu beradaptasi dan tampil percaya diri pada awal gim pertama. Keduanya langsung unggul 6-3 dan terus memimpin hingga jeda interval 11-6 dengan permainan menekan dan terus menyerang. Kesolidan mereka mulai retak paska kedudukan 15-13 saat duo Z mampu bangkit dan berbalik mendesak. Mental bertanding yang kurang sigap seperti saat nyaris menggagalkan mereka di babak sebelumnya kembali menjadi momok bagi ToLyn ketika Zhang/Zhao mampu menyamakan kedudukan. Kesalahan demi kesalahan yang tidak perlu secara dramatis membuat permainan ganda China kian berkembang dan akhirnya meraup 8 angka beruntun. Zhang/Zhao mengunci angka ToLyn, 21-15.

 

“Saat itu sebetulnya kami sudah unggul di game pertama, tetapi kami banyak melakukan kesalahan-kesalahan sendiri, jadi lawan bisa mengembangkan permainan,” ungkap Liliyana seperti ditulis situs PBSI.

 

Beruntung ToLyn mampu bangkit di gim kedua dengan membalas 8 angka yang sama sehingga berbalik unggul 11-8 saat jeda interval. Permainan keduanya menjadi lebih agresif di depan net maupun dalam hal serangan. Meskipun sempat nyaris terkejar 19-18 setelah sebelumnya unggul jauh 17-11, ToLyn mampu tampil lebih tenang dan memaksa Zhang/Zhao untuk melakukan kesalahan sendiri. ToLyn sukses memaksa tandem China untuk bermain rubber, 21-18,

 

“Dari awal kami sudah memimpin, kami tak mau terulang lagi kejadian di game pertama. Kami pun fokus satu demi satu poin. Akhirnya kami bisa menang dan di game ketiga pastinya akan lebih percaya diri,” terang Liliyana.

 

Gim ketiga sempat diwarnai beberapa insiden saat kedudukan 6-7 untuk ToLyn. Serobotan Tontowi atas netting silang yang dilakukan Zhao Yunlei dan melewati net langsung diprotes oleh pasangan China namun kemudian dianulir oleh wasit. Indonesia kembali meraih ‘keuntungan’ kedua saat pengembalian Tontowi ke area baseline belekang yang melebar dianggap masuk oleh hakim garis. Wasit kembali tidak mengindahkan protes yang dilancarkan oleh Zhang/Zhao. Zhang bahkan mencoba melakukan klarifikasi kepada sang pelatih yang memang berada tidak jauh dari jatuhnya bola. Namun kembali wasit tidak menganulir kejadian tersebut dan tetap memberikan poin bagi ToLyn.

 

Paska kejadian ini Zhang Nan khususnya terlihat down dan kesal sehingga saat ToLyn kembali mendapatkan poin dari permainan menekan ke arah pertahan ganda China, mencoba untuk mengulur waktu dan menenangkan diri dengan mengganti baju. Ijin inipun tidak diberikan oleh wasit sehingga dengan cueknya Zhang tetap mengganti baju dilapangan yang akhirnya dihadiahi kartu kuning oleh wasit.

 

Memanfaatkan kondisi duo Z yang di bawah tekanan, ToLyn kembali berusaha untuk mengendalikan pertandingan dengan menyerang dan menyudutkan keduanya hingga 11-7. Paska jeda interval permainan Zhang/Zhao kembali stabil dan berbalik mampu menekan ToLyn. Beruntung pasangan Indonesia mampu tampil lepas dan menunjukkan pertahanan terbaiknya sebagai pasangan papan atas dunia. Tidak hanya berhasil mengembalikan bolo-bola serang dan permainan ganda China di depan net, ToLyn juga mampu membalikkan posisi defensif menjadi agresif saat sukses mengubah arah dan sudut pengembalian bola. Keduanya terus meluncur dengan 14-7 dan 20-11 sehingga tanpa kesulitan menyudahi perlawanan Zhang/Zhao 21-13.

 

“Tontowi/Liliyana sebetulnya sudah bermain dengan benar, tapi sayang ada kesalahan-kesalahan tidak perlu di game pertama. Kedua pasangan ini bermain cukup bagus, Tontowi/Liliyana juga tidak bermain dalam tekanan,” Nova Widianto yang saat ini menjadi asisten pelatih ganda campuran mencoba membeberkan opininya.

 

Kemenangan ToLyn akan mempertemukan mereka dengan unggulan teratas, Xu Chen/Ma Jin yang berhasil menuai kemenangan meyakinkan atas duet Korea Selatan, Shin Baek Choel/Eom Hye Won. Dengan permainan menekan dan pertahanan yang rapat, Xu/Ma berhasil menjungkalkan Shin/Eom, 21-15, 21-17. Dari catatan kemenangan pertemuannya yang kesepuluh atas ganda teratas China ini, ToLyn memang tertinggal 3-6 namun pada laga terakhir di turnamen beregu Sudirman Cup 2013, ToLyn mampu memetik kemenangan usai berjibaku tiga gim.

 

Nova sendiri memiliki catatan atas penantang ToLyn ini. “Lawan besok memang biasanya agak merepotkan Tontowi/Liliyana. Peluang masih 50:50, kami tidak terpengaruh dengan posisi Xu/Ma sebagai tuan rumah. Tipe permainan Xu/Ma berbeda dengan Zhang/Zhao. Walaupun tekniknya tak sebagus Zhang/Zhao, tapi Xu/Ma lebih kuat dan lebih keras pukulannya, serta pertahanannya lebih rapat. Mudah-mudahan Tontowi/Liliyana bisa mempersembahkan gelar,” kata Nova.

 

Eom/Jang Gagalkan Final Sesama China

 

Duet Korea Selatan Eom Hye Won/Jang Ye Na (8) berhasil menggagalkan ambisi sektor putri China untuk menyajikan final antara sesama pemain tuan rumah. Tradisi yang pernah dilakukan oleh para pendahulunya seperti Hyo Jung/Kyung Won dan Jung Eun/Min Jung saat dominasi China masih terlihat jelas ini mampu dipertahankan Eom/Jang dengan mendepak Tian/Zhao (5) dua gim langsung.

 

Menghadapi ganda nomor tiga China, Tian Qing/Zhao Yunlei yang kembali diduetkan hanya untuk melakoni turnamen ini, ganda nomor satu Korea Selatan, Eom Hye Won/Jang Ye Na mampu tampil menekan dengan penempatan bola-bola sulit dan olahan bola di depan net. Eom kembali menjadi playmaker yang sukses menggempur pertahanan peraih emas Olimpiade London 2012 tersebut. Meskipun ganda China sempat mencoba mengejar dengan mempercepat tempo di poin-poin kritis gim pertama, Eom/Jang lebih dulu sukses menamatkan pertandingan 21-16, 21-19.

 

“Kami sangat senang bisa menang tapi perjuangan masih belum berakhir. Kami tetap harus berusaha terus yang terbaik dan mempertahankan ritme ini,” ungkap Jang Ye Na.

 

“Kami sadar pasangan China memiliki kelebihan dalam kecepatan sehingga kami harus mampu beradaptasi dengan hal tersebut. Mereka sempat mendekat di beberapa poin-poin akhir dan kami merasa tertekan namun pelatih menasehati kami untuk melakukan variasi serangan sehingga mengacaukan pola mereka. Kami sama sekali tidak menyangka bisa ke final. Kami hanya fokus satu demi satu pertandingan, berusaha yang terbaik, dan percaya satu sama lain dan saat menang kami kembali melakukan hal yang sama pada pertandingan selanjutnya,” ujar Jang panjang lebar.

 

Sementara itu Tian Qing berkomentar bahwa tandem Korea mampu memanfaatkan kondisi lapangan yang berangin. Selain itu, mereka beberapa kali juga kehilangan kesabaran saat bermain reli.

 

“Hari ini lawan kami berhasil mengontrol area baseline khususnya saat berada di lapangan yang berlawanan angin, kami sangat sulit mengontrol pukulan. Mereka menerapkan strategi tertentu dankita tidak siap dengan taktik sendiri. Kadang-kadang bahkan kita kehilangan kesabaran. Sempat ditegur pelatih untuk lebih sabar di tengah gim kedua sehingga mampu menyamakan kedudukan tapi kemudian kita kehilangan konsentrasi lagi,” urai Tian Qing.

 

Zhao Yunlei sendiri merasa faktor stamina berpengaruh besar terhadap kekalahan ini. “Alasan utama kekalahan ini karena kurangnya stamina. Saya bermain di dua nomor setiap hari dan saat selesai hari sudah menjelang malam. Saya bahkan tidak mampu tidur dengan baik beberapa hari terakhir. Situasi ini berpengaruh terhadap performa saya hari ini,” Zhao menambahkan.

 

“Tapi tentu saja di sisi lain karena ada kelemahan kami. Pasangan Korea ini tidak terlalu sulit. Mereka bermain reli dan penempatan bola tapi kami juga sebenarnya mampu mengimbangi itu. Untuk bermain menghadapi mereka anda butuh stamina. Kami beberapa kali sempat mencoba mempercepat tempo tapi tidak mampu konsisten karena kehabisan energi,” lanjut Zhao.

 

Meskipun ganda Korea berhasil menggagalkan ambisi final antara sesama pemain China, sang tuan rumah masih menyimpan amunisi pamungkasnya yaitu sang unggulan teratas, Wang Xiaoli/Yu Yang. Wang/YU melenggang dengan menghentikan perlawanan ganda nomor satu Eropa, Christinna Pedersen/Kamilla Rytter Juhl (4). Kejelian Wang/Yu melihat peluang atas ganda Denmark yang seringkali miskoordinasi mengantisipasi pengembalian di tengah-tengah keduanya. Beberapa kesalahan sendiri yang dilakukan Christinna/Kamilla saat kedudukan 13-19 sempat memancing emosi Kamilla yang membuatnya berteriak sedikit keras dalam bahasa Denmark. Namun wasit yang mengaku paham bahasa Denmark tidak menganulir perbuatan tersebut sehingga memberikan kartu kuning untuk Kamilla. Meskipun sempat berdebat dengan Christinna, keputusan wasit ternyata tidak berubah.

 

Ganda Denmark terkenal dengan tekanannya berupa smash-smash keras serta penempatan silang tak terduga ternyata juga memiliki pertahanan yang baik. Beberapa kali smash Wang/Yu mampu dimentalkan oleh Christinna/Kamilla. Bahkan beberapa kali duet Denmark mampu membalikkan keadaan dari posisi bertahan menjadi balik menyerang saat berhasil menempatkan bola dengan sempurna.

 

Usai tertinggal di gim kedua karena bermain dengan tempo lambat dan banyak melakukan kesalahan sendiri khususnya Wang Xiaoli, ganda China berhasil menemukan ritme terbaik mereka saat Yu Yang mampu lebih agresif di depan. Christinna/Kamilla coba meng-counter serangan demi serangan pasangan China namun seiring dengan berlalunya poin di gim ketiga, konsistensi mereka kian berkurang dan justru banyak berbuat salah sendiri yang dimungkinakan karena faktor stamina memudahkan duo China untuk terus memimpin.  Skor akhir untuk kemenangan Wang/Yu, 21-14, 14-21, 21-15 (FI).

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: