Bulutangkismania's Weblog

September 22, 2013

Japan Open SS 2013 : Putri Jepang, Merangkak Dari Kualifikasi Menuju Prestasi Tertinggi

Filed under: Turnamen — bulutangkismania @ 7:42 am

yonex-open-japan-2013Dua pemain yang sama-sama berjibaku dari babak kualifikasi di luar dugaan justru mampu menorehkan prestasi tertinggi. Terlebih jika dua pemain tuan rumah ini berhasil menciptakan dua sejarah sekaligus, final Superseries antara sesama pemain Jepang dan untuk pertama kalinya memastikan mahkota Japan Open bagi negaranya sejak perdana di gelar pada tahun 1984.

 

Bercermin pada performa puluhan tahun ke belakang, Indonesia sebenarnya sudah lebih dulu mengorbitkan nama Mia Audina di usianya yang kala itu masih 14 tahun. Tren tersebut ternyata saat ini justru mampu diadopsi oleh negara-negara lain yang sebelumnya tidak memiliki sejarah powerhouse bulu tangkis. Setelah beberapa event sebelumnya kita diperlihatkan dengan aksi memukau pemain belasan tahun seperti Ratchanok Intanon, Carolina Marin, PV Sindhu, dan Tai Tzu Ying, kali ini giliran Jepang yang berhasil mengorbitkan debut perdana pemain berusia 16 tahun, Akana Yamaguchi.

 

Meskipun dari turnamen junior nama Akane sudah lama terdengar usai menjadi runner up sektor tunggal putri BWF World Junior Championship 2012, namun prestasinya di jenjang senior tidak begitu banyak. Tahun lalu, Akane sudah langsung terhenti langkahnya di babak pertama oleh kompatriot yang juga menundukkannya di partai final Kejuaraan Dunia Junior 2012, Nozomi Okuhara. Hasil terbaik yang diraih Akane justru pada tahun 2013 saat menjadi runner up Osaka International Challenge 2013 dan New Zealand Open GP 2013 bulan April yang lalu.

 

Kali ini hanya beberapa bulan berselang Akane berhasil menunjukkan kemajuan performanya meskipun masih belum bisa dijadikan barometer untuk menyandingkannya dengan pemain Thailand, Ratchanok Intanon. Merangkak dari babak kualifikasi, Akane berhasil melewati rintangan terberat pertamanya yaitu PV Sindhu (8) di babak kedua. Pada laga semi final hari ini, Akane kembali membuktikan konsistensinya saat menghadapi mantan pemain junior asal Taiwan, Tai Tzu Ying (6).

 

Permaianan menekan smash-smash keras menyilang dan agresif di depan net membuat Tzu Ying berhasil mendominasi perolehan poin di awal-awal gim pertama hingga kedudukan 19-13. Namun berbekal semangat dan kekuatan fisiknya, Akane yang tampil ulet di luar dugaan mampu menyamakan kedudukan di angka 20 dan berbalik ungggul 22-21. Meskipun Tzu Ying sempat membukukan dua kali kesempatan game point, ketenangan dan permainan taktis Akane akhirnya berhasil mengunci Tzu Ying 26-24.

 

Kepercayaan diri dan ritme Akane kian meningkat di gim kedua setelah memimpin 10-5. Bola-bola serangan yang makin variatif dan sulit dijangkau sukses mendikte permaian Tzu Ying sehingga beberapa kali gagal diantisipasi oleh peringkat 8 dunia tersebut. Meskipun secara ranking berada jauh di bawah Tzu Ying yaitu 145 dunia, Akane sama sekali tak sulut memperlihatkan kemampuan kemampuan terbaiknya. Pemain yang unggul dengan smash silang kerasnya yang tak hanya di area depan namun juga baseline serta penempatan bola di depan net terus berusaha menggempur Tzu Ying hingga kedudukan 18-9. Meskipun Tzu Ying sempat memperkecil selisih angka menjadi 13-19 dengan tampil lebih menekan, selisih poin yang terlalu jauh memaksa Tai akhirnya menyerah 14-21.

 

“Saya sebelumnya sempat berpikir akan kalah saat jeda interval gim pertama. Tapi kemudian saya saya sadar harus berusaha lebih keras dan tetap mempertahankan reli demi reli. Saat mampu menyamakan kedudukan di angka 20 saya semakin percaya bahwa saya mampu memenangi ini,” papar Akane.

 

Saat kedudukan 23-22 di gim pertama, wasit sempat meralat keputusan hakim garis yang menyatakan bola keluar. Hal tersebut tentu merugikan Tzu Ying yang seharusnya mampu menang di gim pertama. Tzu Ying sempat mengajukan protes bahkan menunjuk TV layar lebar yang menayangkan hasil reply pertandingannya.

 

“Keputusan wasit sangat mempengaruhi saya. Selanjutnya saya kehilangan konsentrasi dan bermain buruk. Saya ingin segera mengakhiri gim kedua karena sedang dalam kondisi cedera,” Tai mengemukakan kekesalannya.

 

Sementara itu Akane bercerita lebih panjang tentang pencapaiannya. “Beberapa tahun belakangan saya diberi kesempatan untuk bergabung di tim nasional dan latihan disana begitu keras. Tapi saya juga mendapatkan banyak peluang bermain di level internasional. Tentu saja hal ini sangat membantu meningkatkan kemampuan saya,” tutur Akane.

 

“Meskipun sempat menang di ganda campuran Kejuaraan Asia Junior tapi saya kalah di babak final turnamen Japan Junior National karena kurang cukup sabar bermain reli. Saya berusaha keras untuk lebih sabar dan saya pikir hari ini saya berhasil,” lanjutnya sembari tersenyum.

 

Saat ditanya peluang sebagai pemain putri Jepang pertama yang berhasil mengantongi mahkota Superseries, Akan berujar sembari tersenyum, “Saya sama sekali tidak mau memikirkan hal tersebut sebagai suatu yang serius. Tolong diingat, saya ini hanya gadis yang baru akan tamat SMA.”

 

Jepang akhirnya membuat rekor menyemai prestasi yang biasanya menjadi langganan China, All Japanese Final di turnamen yang belum pernah sekalipun di koleksi oleh para pemain Jepang sejak tahun 1984 saat pertama kali di gelar setelah pada semi final lainnya Shizuka Uchida yang juga mendapatkan tiket prakualifikasi ke babak utama berhasil membuat kejutan atas tunggal nomor 2 China. Sejarah ini juga kian terasa spesial mengingat Akane bukan merupakan tulung punggung Jepang saat ini di saat usianya yang baru 16 tahun.

 

Meskipun tak semuda Akane, Shizuka Uchida yang saat ini berusia 24 tahun sebelumnya sudah membuktikan diri sebagai kuda hitam usai memetik kemenangan atas kompatriotnya, Minatsu Mitani (7). Bahkan di babak pertama, Shizuka di luar dugaan mampu mengatasi runner up China Masters SS 2013, Porntip Buranaprasertsuk. Kali ini giliran Wang Yihan yang harus menelan pil pahit tersingkir dari turnamen ini padahal Yihan merupakan satu-satunya wakil tunggal putri China yang tersisa.

 

Unggul dalam penempatan bola dan permainan menekan dengan smash-smash da antisipasi bola cepatnya, Shizuka berhasil melaju 9-3 hingga 16-10. Meskipun Yihan mencoba untuk memperkecil selisih angka 16-19 dengan lebih banyak mengontrol bola di depan net, agresivitas Shizuka yang tak mampu diantisipasi Yihan membuat Shizuka akhirnya sukses menutup gim pertama, 21-17.

 

Penempatan bola disudut-sudut lapangan dan smash keras menyilang kembali menjadi senjata Shizuka di gim kedua. Tunggal peringkat 40 dunia tersebut berhasil melesat 12-1 di paruh awal set kedua. Meskipun Yihan sempat membukukan 8 angka beruntun, Shizuka yang kembali mempercepat tempo berhasil terus memimpin hingga 20-12 dan memastikan tiket final Superseries perdananya 21-14.

 

“Saya tidak memiliki persiapan yang banyak sehingga hari ini tampil buruk. Hari ini unforced error saya juga terlalu banyak, anda tidak bisa berharap menang jika tampil seperti ini,” ungkap Yihan tentang pertandingannya.

 

Shizuka sendiri yang tampil brilian beberapa kali mampu memaksa Yihan mengembalikan bola di area baseline untuk kemudian mengubah intensitas pukulan dengan penempatan tipis di depan net.

 

“Faktor terlemah saya adalah stamina yang menurun drastis sehingga kecepatan saya berkurang menjelang akhir pertandingan,” kata Shizuka.

 

“Selama 2-3 tahun ini saya berjuang keras meningkatkan tehnik dan stamina saya sehingga bisa tampil bagus hari ini. Sempat menjalani cedera yang saya dapatkan sejak SMA tapi terima masih kepada program training sehingga saya sekarang lebih sehat dan siap kembali bersaing di level internasional,” lanjutnya panjang lebar.

 

Mengenai Akane Yamaguchi, rekan senegaranya yang akan dihadapi Shizuka, dia memiliki catatan sendiri, “Saya kalah dua gim langsung di turnamen Osaka International Challenge bulan April lalu jadi saya harus bisa mengingat kesalahan-kesalahan yang pernah saya lakukan agar tidak mengulanginya lagi,” pungkasnya kemudian (FI).

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: