Bulutangkismania's Weblog

Oktober 20, 2013

Denmark Open SS Premier 2013 : Kurang Greget, Ahsan/Hendra Lewati Masa Kritis

Filed under: Turnamen — bulutangkismania @ 9:40 am

yonex-denmark-open-20131Menyambung menurunya performa Ahsan/Hendra seperti pada turnamen Japan Open SS 2013 yang lalu, duo peringkat 2 dunia ini akhirnya berhasil melewati masa kritis yang coba dibeberkan oleh pasangan Jepang, Hiroyuki/Kenichi (3). Sementara itu di sektor putri duet Bao/Tang sukses menjaga peluang China yang dibebankan kepada mereka paska mundurnya Wang/Yu (1).

 

Paska menjadi kampiun BWF World Championships 2013 yang lalu, duet nomor satu Indonesia, Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan (2) sampai dengan saat ini masih belum terlihat kembali tampil dengan performa terbaiknya. Ciri khas Ahsan/Hendra yang biasanya agresif menekan di depan net, smash-smash keras beruntun, atraktif dengan loncatan jumping smash serta cover lapangan yang baik tak tersaji secara jelas saat mereka menghadapi duo Jepang, Hiroyuki Endo/Kenichi Hayakawa (3).

 

Sebaliknya, justru Hiroyuki/Kenichi lah yang tampil garang dan terus berusahan menekan dengan permainan cepatnya. Beruntung, kualitas individu Ahsan/Hendra masih dapat membendung keduanya dan akurasi duet sang negeri sakura di beberapa pukulan masih kurang konsisten khsusunya di titik-titik kritis.

 

Tercatat lebih dari enam kali Hendra melakukan kesalahan mendasar saat melakukan servis. Begitupun Ahsan saat mencoba untuk melakukan servis panjang. Namun secara tehnik, Ahsan/Hendra yang memang lebih baik membuat mereka senantiasa mampu mengimbangi perolehan poin atas Hiroyuki/Kenichi setelah beberapa kali tertinggal. Usai menyamakan kedudukan di angka 9, Ahsan/Hendra kembali terlibat duel bola-bola cepat di depan net. Meskipun akhirnya mampu memenangkan reli dengan permainan cepatnya maupun penempatan bola-bola sulit, kesalahan sendiri ataupun pengembalian tanggung yang dilakukan oleh Ahsan/Hendra membuat duo Jepang kembali sukses menyamakan kedudukan dan keadaan seperti ini hampir terjadi di sepanjang pertandingan.

 

Seperti dalam keadaan tertekan, Ahsan/Hendra banyak melakukan kesalahan mendasar meskipun kemudian mampu ditebus dengan kematangan permainan mereka. Olahan bola di depan net tak banyak terjadi, keduanya lebih mengandalkan pada permainan taktis reli-reli pengembalian refleks dan penempatan cerdik bola-bola tak terduga. Meskipun begitu, strategi ini tidak sepenuhnya salah mengingat tandem Jepang beberapa kali sukses menempatkan bola-bola panjang ke area baseline saat Ahsan/Hendra mencoba fokus dengan drive-drive cepat di depan net. Setelah melewati laga menegangkan beberapa kali game point dengan kondisi kritis, Ahsan/Hendra akhirnya merebut kemenangan mereka 27-25, 23-21.

 

Penampilan Ahsan/Hendra yang ‘tidak biasa’ ini juga diakui oleh sang pelatih, Herry Iman Piengardi. “Ahsan/Hendra tidak pada kondisi top performance mereka, sehingga tidak bisa bermain maksimal. Kualitas serangan mereka tidak seperti biasanya, kali ini lebih pelan dan kurang keras,” tutur Herry seperti yang ditulis situs PBSI.

 

“Ahsan/Hendra lebih banyak bermain dengan mengutamakan penempatan bola dulu, baru serang balik. Bukannya langsung menyerang seperti biasanya,” sambung Herry.

 

Hendra sendiri juga merasa kurang menikmati pertandingan. Namun berjanji untuk tampil maksimal di babak final dengan lepas dan tanpa beban.

 

“Kami mainnya kurang enak selama di turnamen ini, semoga saja besok di final bisa tampil lebih baik. Pokoknya siap bermain habis-habisan lah. Siapapun lawan kami, yang penting kami bisa bermain lepas dan tanpa beban,” ujar Hendra.

 

Sang penantang Ahsan/Hendra adalah musuh bebuyutan asal Korea Selatan dengan kolaborasi baru, Lee Yong Dae/Yoo Yeon Seong (8). Lee/Yoo behasil mengubur harapan sang tuan rumah untuk kembali mengulangi momentum final BWF World Championships 2013 yang lalu. Mathias Boe/Carsten Mogensen (2) sebenarnya sudah mengawali pertandingan dengan sangat baik ketika terus menekan dan dominan hingga kedudukan 11-5. Bola-bola uni Mathias Boe saat servis maupun di sela-sela adu drive beberapa kali menyulitkan pasangan Korea. Tandem Denmark terus berusaha menjaga ritme mereka hingga 17-14. Namun sayangnya di angka krusial justru melakukan beberapa kesalahan yang tidak seharusnya sehingga menguntungkan Lee/Yoo untuk kemudian mengembangkan permainan mereka. Usai menyamakan kedudukan di titik 17, Lee/Yoo berbalik unggul 20-18.

 

Di skor ini sempat terjadi chaos saat wasit mengatakan fault dan mengganggu konsentrasi Mathias Boe di depan net. Wasit melihat net bergerak saat Boe mencoba melakukan netting dan mengira raket Boe menyentuh net namun baru berucap fault justru saat bola dikembalikan oleh Lee. Gagal menyebrangkan bola, Mathias/Boe harus rela memberikan kemenangan gim pertama menjadi milik Korea, 21-18. Boe yang merasa dirugikan oleh wasit sempat bersitegang dan beradu mulut menyatakan protes karena ucapan tersebut memecah fokus pengembaliannya. Sang pelatih, Morten Frost Hansen akhirnya harus turun tangan untuk melerai dan menenangkan Boe.

 

Peristiwa yang dialami Boe sempat berimbas pada tim Denmark di gim kedua. Antiklimaks permainan dan banyaknya kesalahan sendiri yang dilakukan Mathias/Carsten membuat duo Korea kembali berada di atas angin dan unggul jauh 11-4. Tak mampu berbuat banyak dan mengembangkan permainan mereka, ganda Denmark akhirnya menyerah 13-21 dan memupus peluang mereka ke babak final.

 

“Kami memulai pertandingan dengan sangat baik namun kemudian membuat beberapa kesalahan sendiri yang membuat pasangan Korea bangkit dan lebih percaya diri,” ujar Boe usai pertandingan.

 

“Kami tampil buruk hari ini. Sangat buruk. Kami tidak bermain untuk kalah dan peringkat 3 rasanya tidak setimpal terlebih untuk saya, saat berada di kota tempat tingga saya sendiri,” imbuh Carsten dengan nada kecewa.

 

Christinna/Kamilla Pertahanankan Hegemoni Eropa

 

Duet ganda putri sang tuan rumah, Christinna/Kamilla akhirnya menjadi satu-satunya wakil Eropa yang tersisa di babak final turnamen Denmark Open SS Premier 2013. Meskipun harus melewati laga tiga gim selama hampir satu jam, Christinna/Kamilla berhasil melewati ujian duo Jepang, Reika/Miyuki.

 

Smash-smash keras serta potongan bola-bola depan masih menjadi senjata pamungkas Chriistinna Pedersen/Kamilla Rytter Juhl (2) untuk unggul dalam reli-reli yang coba disajikan oleh duo Jepang, Reika Kakiiwa/Miyuki Maeda. Membuka gim pertama dengan 4-0, pasnagan Denmark terus meluncur dan tak tersentuh hingga menutup gim pertama 21-17.

 

Banyakanya kesalahan sendiri Christinna/Kamilla membuat mereka tertinggal dan kalah telak di gim kedua, 7-21. Namun dengan motivasi dan semangat yang juga terus disuntikkan oleh para pendukungnya, tandem Denmark berhasil bangkit di gim ketiga paska tertinggal 4-6. Kembali konsisten pada ritme seperti di gim pertama, 11 poin beruntun yang diraih Christinna/Kamilla menjadi momentum emas mereka untuk memastikan kemenangan 21-8.

 

Selanjutnya, duo Denmark akan ditantang pasangan muda China Bao Yixin/Tang Jinhua yang pekan lalu menjadi kampiun Dutch Open GP Gold 2013.  Bao/Tang yang mendapatkan kemenangan tanpa tanding atas seniornya, Wang Xiaoli/Yu Yang (1) berhasil melanjutkan tanggung jawab sektor ganda putri China dengan menghempas unggulan ke-3, Misaki Matsutomo/Ayaka Takahashi. Setelah berjuang selama 70 menit, Bao/Tang akhirnya meraih tiket final mereka, 19-21, 21-15, 21-15 (FI).

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: