Bulutangkismania's Weblog

Desember 12, 2013

BWF World Superseries Finals 2013 : Kalah Tiga Gim, TontowiLiliyana Wajib Kerja Keras Di Grup ‘Neraka’

Filed under: Turnamen — bulutangkismania @ 9:27 am

2013 SS FinalsKejutan besar sudah langsung terjadi di hari pertama turnamen BWF World Superseries 2013 sektor ganda campuran. Unggulan teratas grup B, Tontowi/Liliyana yang berpeluang memetik kemenangan atas tandem Thailand, Sudket/Saralee setelah memimpin jauh 19-13 di set kedua justru harus menelan pil pahit kekalahan dalam laga tiga gim.

 

Faktor non teknis seperti mental dan konsistensi untuk terus fokus selama pertandingan kembali menjadi kunci penyebab kekalahan yang dialami oleh peringkat 2 dunia asal Indonesia, Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir di laga pembuka mereka pada turnamen BWF World Superseries Finals 2013 yang berhadiah total USD 500,000,- ini.

 

Menghadapi wakil sang gajah putih, Sudket Prapakamol/Saralee Thoungthongkam yang juga menaklukkan mereka di turnamen yang sama tahun lalu, pertandingan ‘dejavu’ ini berjalan dengan hasil di luar dugaan karena kemenangan sebenaranya sudah berada di depan mata Tontowi/Liliyana.

 

Unggul dan mendominasi di permainan depan serta langsung tampil menekan sejak awal gim pertama, duet Indonesia tak memberikan banyak peluang bagi sang lawan untuk mengembangkan permainan. Usai jeda interval dan memimpin 11-4, ritme yang sama terus dipertahankan oleh Tontowi/Liliyana hingga poin kritis 17-8. Tak mendapatkan banyak perlawanan alot dari Sudket/Sarale, sang garuda dengan mudah menutup gim pertama, 21-9.

 

Pertandingan berlangsung lebih berwarna di gim kedua. Sudket/Saralee beberapa kali sempat mengimbangi permainan depan Tontowi/Liliyana dan dengan kematangan mereka sebagai pasangan veteran, olahan bola tak terduga dan antisipasi pengembalian yang jeli di sudut-sudut kosong lapangan lawan membuat kedudukan kedua pasangan imbang di angka 9.

 

Enam poin beruntun yang dikoleksi oleh Tontowi/Liliyana menjadi momentum awal Indonesia untuk terus memimpin hingga kedudukan kritis 19-13. Namun di titik ini, konsistensi mental untuk tetap menekan dan konsentrasi pada pertandingan justru pudar dimiliki oleh Tontowi/Liliyana. Bermula dari kesalahan beruntun Liliyana di depan net, ritme pasangan Indonesia pun akhirnya benar-benar rusak ketika Tontowi juga ikut tertekan ketika sang lawan mulai berhasil mendekati perolehan angka wakil merah putih.

 

Tujuh poin secara berturut-turut yang dipetik oleh Sudket/Saralee membuat mereka mampu membalikkan keadaan 20-19. Meskipun Tontowi/Liliyana sempat tiga kali menunda game point pasangan Thailand, beberapa kesalahan sendiri ‘sindrom poin kritis’ yang dilakukan dan membuat posisi mereka tertekan hanya mampu menunda kemenangan dari wakil Thailand. Dua kali gagal menyebrangkan bola di depan net memastikan gim ini menjadi milik Sudket/Saralee, 26-24.

 

Efek domino kekalahan tak terduga di gim kedua membuat Tontowi/Liliyana tak mampu keluar dari tekanan di set ketiga. Paska tertinggal 10-11, peluang lebih banyak dimiliki oleh Sudket/Saralee untuk terus mendominasi dan mengontrol permainan. Meskipun tandem Indonesia sempat bangkit dan kembali unggul di permainan depan maupun smash-smash keras, faktor mental di titik 16-16 kembali menjadi antiklimaks yang dialami oleh wakil merah putih.

 

Lima poin yang berhasil dibukukan oleh Sudket/Saralee dari kesalahan sendiri pasangan Indonesia maupun pengembalian yang tanggung memastikan kemenangan wakil Thailand tersebut di laga perdana mereka di grup B. Meskipun secara performa hasil ini di luar perkiraan namun jika dilihat dari rekor pertemuan sebelumnya, kesulitan yang dialami Tontowi/Liliyana menghadapi senior Thailand ini juga terjadi pada final Indonesia Open SS Premier 2012 serta babak pertama BWF World Superseries Finals 2012. Sehingga akan sangat wajar apabila lengah dalam beberapa poin beruntun maka Tontowi/Liliyana harus kehilangan peluangnya meskipun sudah dalam posisi di ambang kemenangan.

 

“Mereka pemain senior, kalaupun kita unggul jauh belum tentu kita bisa menang, apalagi kalau unggulnya tidak jauh. Kalau di pertandingan tadi, dari saya sendiri, tadi di gim kedua saya membuat dua kesalahan beruntun, dan dari sana konsentrasi saya pecah. Saya merasa kesulitan untuk bisa kembali berkonsentrasi,” kata Liliyana.

 

“Di gim kedua saya malah lengah, dan di gim ketiga saya tidak bisa mengembalikan performa,” Tontowi menambahkan.

 

“Untuk besok, saya harus lebih siap lagi, jangan sampai lengah,” lanjut Tontowi.

 

Dengan kekalahan ini, langkah Tontowi/Liliyana dalam turnamen yang menggunakan babak penyisihan sistem round robin akan semakin berat karena dua lawan berikutnya secara peringkat lebih baik dibandingkan Sudket/Saralee. Berikutnya, di grup ‘neraka’ yang mempertemukan 3 pasangan peringkat 2-4 dunia, Tontowi/Liliyana akan menjajal duo asal China, Xu Chen/Ma Jin serta ganda nomor satu Eropa, Joachim Fischer/Christinna Pedersen.

 

Joachim/Christinna sendiri akhirnya sukses menapaki peringkat teratas sementara grup B setelah memetik kemenangan atas peringkat 4 dunia yang harus mengundurkan diri dan absen di dua Superseries terakhir, Xu Chen/Ma Jin karena cedera. Duel yang lebih banyak didominasi bola-bola pendek dan unik serta variasi serangan di depan net ini berhasil dikunci oleh andalan Denmark dua gim langsung, 21-11, 22-20.

 

Pada grup yang berbeda, nasib serupa juga dialami oleh wakil Indonesia lainnya, Markis Kido/Pia Zebadiah. Menantang unggulan teratas grup A yang saat ini kokoh di peringkat 1 dunia, Zhang Nan/Zhao Yunlei, Markis/Pia takluk dua gim langsung, 9-21, 8-21. Zhang/Zhao seolah-olah sudah mampu membaca strategi Markis/Pia serta mampu ‘memaksa’ mereka untuk lebih banyak mengangkat bola di area permainan depan.

 

“Di lapangan tadi memang susah melawan mereka. Dari segi permainan pun kami kalah, mereka berhasil menekan kami hampir di sepanjang pertandingan, ingin main bagus lawan mereka pun susah,” papar Markis.

 

“Di lapangan tadi, memang mereka berusaha terus untuk menurunkan bola, dan itu sangat sulit untuk diatasi,” Pia menimpali.

 

Kekalahan ini menyisakan dua pertandingan lainnya bagi Markis/Pia yaitu Chris Adcock/Gabrielle White asal Inggris dan tandem andalan tuan rumah, Chan Peng Soon/Goh Liu Ying. Chris/Gabby sendiri harus menelan kekalahan di laga awal mereka pada turnamen ini saat menjajal Chan/Goh melalui pertandingan rubber game, 21-16, 14-21, 19-21.

 

“Kami pernah satu kali mengalahkan mereka, tetapi memang akhir-akhir ini setelah menikah mereka sepertinya sedang on fire. Mereka mengalahkan beberapa pemain dunia termasuk Tontowi/Liliyana, dan rasa percaya diri mereka juga mungkin meningkat. Tapi besok kami akan coba lagi, karena kami masih memiliki kesempatan meskipun kalah di pertandingan tadi,” komentar Markis tentang peluang mereka (FI).

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: