Bulutangkismania’s Weblog

June 22, 2009

FINAL Results Indonesia SS ’09 : Tak Maksimal, China dan Indonesia Terganjal

Filed under: Turnamen — bulutangkismania @ 7:21 pm

Tanpa terasa 6 haripun berlalu sudah sejak hari pertama penyelanggaraan turnamen Djarum Indonesia Open SS 2009. Meskipun penampilan atlet-atlet Indonesia tidak sedahsyat tahun-tahun sebelumnya, kehadiran para atlet kelas dunia dihadapan publik Istora akan menggoreskan kenangan tersendiri di dalam memori para penggemarnya. Dua tahun yang lalu tim Indonesia yang diwakili oleh Pelatnas mampu meloloskan satu wakilnya ke babak final meskipun akhirnya hanya mampu menjadi yang kedua.

Kali ini merah putih yang hanya diwakili oleh pemain professional, Taufik Hidayat juga tak mampu berbuat banyak saat ditantang oleh jagoan Malaysia, Lee Choong Wei (1). Senasib dengan Indonesia adalah tim China yang berhasil menempatkan 4 wakil di 4 nomor yang berbeda. Namun di laga pamungkas hanya Zheng Bo/Ma Jin yang mampu naik podium dan mempersembahkan yang terbaik untuk negaranya.

Ganda Campuran, Zheng/Ma Sang Pembunuh Raksasa

Setelah menghempas NoLyn (1) dan Thomas/Kamilla (4) di laga sebelumnya, duet Zheng Bo/Ma Jin kembali membuktikan konsistensinya saat menantang peraih emas Olimpiade Beijing 2008, Lee Yong Dae/Lee Hyo Jung (2). Meskipun sempat terjadi saling mengejar angka, duo Lee secara umum menguasai jalannya pertandingan di paruh awal set pertama dengan skor 10-7 akibat pengembalian bola Zheng Bo yang terlalu melabar dan banyaknya kesalahan sendiri yang dilakukan Ma Jin khususnya saat mengolah bola di depan net.

Setelah menyakan angka di titik 10, Zheng/Ma mendapatkan momrntum kebangkitan keduanya untuk berbalik unggul 13-10 dengan bola-bola potong dan smash Zheng Bo serta penempatan yang akurat dari Ma Jin. Perjuangan satu demi satu angka yang diraih melalui reli-reli panjang pun akhirnya terjadi di level ini hingga kedudukan imbang 15-15. Dua kesalahan Hyo Jung di depan net dan bola tanggung Yong Dae yang dimanfaatkan dengan baik oleh Ma Jin mengubah skor 18-15. Serangan beruntun dari Zheng Bo kembali membuat duet China meluncur 19-16. Lee Hyo Jung sempat menambah 1 poin dari bola mengambang Ma Jin di atas net namun pengembaliannnya yang tidak sempurna dan gagal melewati net serta penempatan bola Zheng Bo di sudut belakang lapangan akhirnya menutup set ini untuk Zheng/Ma 21-17.

Di set kedua, duet China seperti kehilangan momentum terbaiknya dan tidak fokus dalam permainan. Beberapa kali bola Zheng/Ma gagal melewati net dan jatuh melebar keluar lapangan. Tak menyia-nyiakan kesempatan ini, duo Lee langsung menutup jeda interval set kedua dengan kemenangan telak 11-3. Bola-bola tanggung Zheng Bo dan ‘service fault’ yang acapkali dilakukannya semakin membuat duo tirai bambu kian tertinggal 5-16 dan 7-17. Serobotan Yong Dae yang gagal melewati net setelah sebelumnya mampu memetik angka melalui smash kerasnya mengantarkan ganda Korea pada skor kritis 18-8. Penempatan akurat Yong Dae di tengah lapangan, drop shot Zheng Bo yang gagal melewati dinding net serta adu drive yang ditutup oleh kesalahan Ma Jin memaksa rubber set dengan keunggulan duo Lee 21-8.

Pasangan China akhirnya kembali berhasil pada irama permainan mereka yang sebenarnya di set ketiga. Sebaliknya, duet negeri ginseng justru banyak melakukan kesalahan sendiri khususnya Lee Hyo Jung yang beberapa kali gagal menyebrangkan bola melewati net. Memimpin 5-1 di awal set, Zheng/Ma terus meluncur dan menyentuh jeda interval pertama kali, 11-7. Duo Lee sempat bangkit dan menekan pasangan China sehingga Zheng Bo seringkali tidak sempurna dalam mengembalikan bola. Ma Jin yang juga terkadang kurang cermat saat beradu drive di depan net membuat kedudukan kembali setara di titik 14.

Kesalahan beruntun yang dilakukan Hyo Jung dan Yong Dae membuat ZhengMa ‘leading’ 17-14 namun adu reli drive-drive pendek di depan net dengan dipadu netting bola-bola sulit menguntungkan tandem Korea untuk memperkecil selisih poin menjadi 16-17. Penempatan yang cerdik dari Ma Jin, pukulan ‘backhand’ Hyo Jung yang menyangkut di net serta serobiotan Hyo Jung yang terburu-buru dan akhirnya gagal melewati net memastikan gelar pertama bagi kubu China 21-16.

Saat diwawancarai usai pertandingan, Ma Jin sempat mengeluhkan luka di kaki kirinya yang sudah mulai terasa sejak set pertama dan memburuk di set kedua. “Selain karena faktor Ma Jin, set kedua memang sengaja kami lepas karena kami mengalami penuruan stamina yang luar biasa usai set pertama. Setelah menyimpan tenaga, kami kembali berusaha tampil sempurna untuk merebut set ketiga”, jelas Zheng Bo saat ditanya perihal kekalahan mereka.

“Kunci kemanangan kami sebanarnya ada 3. Yang pertama memang standar kualitas di China yang cukup tinggi untuk bisa terus dipadukan, yang kedua adalah karena kami merasa sangat percaya diri untuk menang dan yang ketiga kami termasuk pasangan baru sehingga banyak lawan yang belum mempelajari kekuatan kami” jawab Zheng Bo panjang lebar. “Kemenangan ini akan menambah kepercayaan diri kami untuk pertandingan selanjutnya. Target kami berikutnya adalah Kejuaraan Dunia” tambahnya kemudian. Saat ditanya mengenai aura Istora yang berbeda dengan turnamen super series lainnya Zheng Bo mengaku sudah mulai terbiasa dengan kondisi tersebut karena sebelumnya saat bersama Gao Ling dirinya juga menghadapi situasi yang sama.

Ma Jin sendiri mengaku tidak ada persiapan khusus kecuali latihan sehari-hari bersama Zheng Bo. Mengenai posisinya yang saat ini harus menggantikan nama besar pemain ganda terbaik China, Gao Ling, Ma Jin pun tidak mau terlalu ambil pusing. “Saya cuma bermain dengan gaya saya sendiri. Saat ini saya masih muda dan tidak mau ada beban dan berpikiran banyak tentang hal tersebut. Hal ini justru akan saya jadikan motivasi untuk kedepannya”, ungkap pemain kelahiran 7 Mei 1988 ini dengan santai.

Tunggal Putri, Bersinarnya Sang Bintang India

Harus diakui bahwa saat ini China mendominasi sektor putri tidak hanya di tunggal namun juga ganda. Kalaupun ada pemain yang mampu mendobrak esksistensi mereka cahayanya tidak akan berpendar lama dan langsung meredup kembali. Tine Rasmussen di usianya yang sudah mendekati kepala tiga merupakan salah satu nama yang sanggup mematahkan hegemoni para pemain China. Untuk kelas Asia Tenggara, nama Wong Mew Choo sempat melejit ketika dirinya berhasil menjuarai turnamen China Open SS 2007 dengan mendepak 3 pemain senior China sekaligus di hadapan publiknya sendiri, Zhu Lin, Zhang Ning dan Xie Xingfang. Namun sayangnya seiring dengan cedera lutut yang dialaminya, prestasinya pun menjadi kian meredup.

Setelah pada tahun lalu Maria Kristin secara mengejutkan mampu meloloskan diri ke babak final dengan menjegal langkah Zhang Ning, tahun ini kejutan rupanya datang dari dara 19 tahun asal India, Saina Nehwal (6). Tunggal peringkat 8 dunia itu hanya membutuhkan waktu kurang dari setahun untuk masuk dalam elit 10 dunia dan namanya mulai mendapat sosrotan publik paska kemenangannya atas Zhu Lin di babak perempatfinal China Masters SS tahun lalu dan Kejuaraan Dunia Junior 2008 dengan menundukkan Sayaka Sato asal Jepang di babak final.

Kehilangan fokus permainan di set pertama dan berakibat banyaknya kesalahan sendiri yang dilakukannya membuat Saina tertinggal jauh 4-9 dan 7-14 di set pertama. Serangan tajam Wang Lin yang gagal dikembalikan oleh Saina membuatnya terus unggul hingga 19-9 sebelum akhirnya menutup set ini dengan mudah 21-12. Hasil ini sempat menciutkan semangat publik Istora yang sejak awal pertandingan memberikan dukungan penuh kepada Saina. Tidak ada yang istimewa dari dara ini di set pertama sehingga kekhawatiran akan nasibnya berujung sama dengan tunggal Indonesia Maria Febe semakin tergambar saat memasuki set kedua.

Setelah mengambil nafas dua menit sembari mendapatkan wejangan dari sang pelatih, para penonton mulai terkesima dengan Saina ketika gadis India ini mampu mengambil setiap bola sulit yang diberikan Wang Lin dengan pengembalian yang sempurna. Bahkan tekanan yang dilakukan oleh Wang Lin acapkali menjadi senajat makan tuan yang akhirnya justru menambah keunggulan bagi Saina. Riuh rendah sorakan penonton sembari meneriakkan nama “IN-DI-A” semakin menambah seru jalannya pertandingan di set kedua. Tertinggal 1-4 di awal set, Saina mampu bangkit dengan permainan netting yang sempurna dan drop shot yang tajam hingga kedudukan 5-5. Adu netting yang akhirnya dikembalikan melebar kebelakang oleh Wang Lin dan smash keras Saina yang cukup keras membuatnya unggul lebih dulu 9-7 dan 11-8 saat jeda interval.

Adu bola-bola pendek di depan net yang ditutup oleh smash Wang Lin dan serobotan Wang Lin yang menempatkan bola jauh kebelakang membuat tunggal China ini kembali menyeimbangkan angka di titik 11. Saina kembali unggul 15-12 ketika penegmbalian Wang Lin setelah beradu netting selalu melebar ke luar lapangan dan smash Saina yang gagal dikembalikannya dengan sempurna. Pengamatan yang tidak cermat dari Wang juga membuat Saina lebih mudah untuk mengumpulkan poin setelah berkali-kali lob belakang dan ‘placing’ Saina selalu dilepas dan dianggap keluar oleh Wang.

Wang Lin kembali mendapatkan meomentum keduanya di titik 16-16 ketika bola-bola Wang Lin yang teralalu menukik gagal dikembalikan oleh Saina di depan net. Bahkan pemain muda China tersebut sempat unggul 17-16 ketika pengembalian Saina terlalu melebar kebelakang. Penempatan drop Shot Saina yang akurat kembali menyamakan skor di angka 17. Tiga poin beriring dari smash Saina dan bola drive Wang Lin yang terlalu melebar mengantarkan Saina pada match point 20-17. Lob Wang Lin ke bagian belakang lapangan setelah berada netting sempat memperpanjang nafas tunggal negeri panda tersebut namun adu drive yang diselesaikan dengan bola potong Wang Lin yang ternyata keluar memaksakan rubber set untuk Saina 21-18.

Kepercayaaan sang ratu Bombay tersebut akhirnya benar-benar bangkit di set ketiga. Setelah tertinggal 2-5 dan 5-7 di awal set Saina mampu membalikkan keadaan menjadi 12-7 ketika penempatan bola sulitnya dan drop shot silangnya sukses menembus partahanan Wang Lin. Saina terus memaksa bermain reli dan akhirnya mampu mampretahankan keunggulannya hingga kedudukan 15-8 dari bola-bola serangnya dan ‘defense’ yang luar biasa ketika harus mengejar bola-bola Wang Lin. Saina akhirnya hanya memberikan 1 angka untuk Wang Lin ketika drop shot Wang Lin berkali-kali menghujam lapangannya. Enam angka beruntun yang dikoleksinya penempatan dan akurasi serangan serta 2 ‘lucky shot’ hasil guliran bola di bibir net memastikan gelar pertama Sania di ajang Super Series, 21-9.

“Saya hampir tidak percaya dengan kemenangan ini. Benar-benar masih sulit membayangkannya”, ungkap Saina berseri. “Target awal saya cuma ronde pertama” akunya malu saat ditanya oleh pers perihal targetnya sebelum berangkat ke Indonesia. “Saya ketemu Petya di ronde pertama dan saat ini penampilannya sangat baik. Beberapa kali dia selalu mampu mengalahkan saya. Apalagi jalan saya ke babak-babak berikutnya tidaklah mudah”, cerita Saina. Mengenai kekalahan telaknya di set pertama, Saina mengaku memang kehilangan fokus pertandingan. “Saya benar-benar belum ‘in’ waktu itu. Pikiran saya terpecah, apalagi melihat suasana lapangan yang luar biasa. Oleh sebab itu saya hanya menganggapnya sebagai ‘warming up’ dan benar-benar mengalami penurunan semangat saat itu”, tambah Saina panjang lebar.

“Kuncinya di kepercayaan diri”, sahut Saina singkat. “Saat ini tidak banyak tunggal putri yang bisa bersaing dengan pemain China. Hanya Tine yang mampu membendung mereka” papar Saina. “Dukungan penonton juga berpengaruh besar terhadap kemenangan saya. Apalagi tadi ada suporter yang khusus membawa bendera India untuk saya” lanjutnya kemudian. “Kemenangan ini akan menjadi motivasi saya di turnamen selanjutnya. Saya akan berusaha tampil yang terbaik khususnya saat Kujuaraan Dunia 2009 yang akan dilangsungkan di negara saya”, tutur Saina bersemangat.

Atik Jauhari yang mendampingi anak didiknya saat ditanya oleh pers mengaku tidak membebani target apapun terhadap Saina.”Saya Cuma minta dia bermain lebih bagus dari Singapore Open minggu kemarin. Eh tidak disangka ternyata malah bisa merebut gelar juara”, jelas Atik. “Saya ingin memasukkan Saina ke peringkat 5 dunia tahun depan, tapi sepertinya target saya akan terepenuhi lebih cepat” tandasnya kemudian. Mengenai tips kemenangan Saina di set kedua setelah kekalahan telak di set pertama, Atik hanya menjawab “Saina memang mengalami kemajuan pesat akhir-akhir ini. Defense, smash, drop shot dan nettingnya berkembang jauh lebih lebik. Set pertama jiwa Saina memang tidak dilapangan, di set kedua saya minta dia untuk main reli dan saya yakin Saina pasti bisa menang klo diajak reli”, jelasnya dengan nada optimis.

Perihal hasil buruk yang dituai oleh srikandi Indonesia, Atik juga ikut berkomentar “Di India kondisinya jauh lebih sulit. Bulutangkis itu belum popular dan hanya untuk kalangan menengah ke atas. Orang tua di India lebih suka anaknya belajar di sekolah daripada turun ke lapangan. Jika mereka yakin dengan peluang bakat anaknya, barulah berani untuk professional di bulutangkis dengan menaggil guru sekolah ke rumah”. “Di sana pelatih seperti dewa ketiga, setelah kedua orang tua. Mereka benar-benar tunduk dan patuh kepada pelatih. Makanya mereka selalu disiplin dalam latihan. Saya rasa disiplin jugalah yang harusnya menjadi kunci bagi atlet Indonesia jika ingin berhasil” tuturnya kemdian.

“Saya sudah 27 tahun mengabdi untuk tim Indonesia. Beberapa waktu yang lalu, PBSI juga pernah meminta saran dari saya untuk kebangkitan pemain Indonesia dan saya selalu memberikan nasihat. Dan jika memang dibutuhkan, saya siap untuk senantiasa memberikan sumbangsih bagi Indonesia” jelas Atik saat ditanya apakah dirinya bersedia untuk menggantikan posisi pelati tunggal putri di Pelatnas.

Ganda Putri, Malaysia Runtuhkan Hegemoni China

Duet peringkat 1 dunia, Wong Pei Tty/Chin Eei Hui kembali menunjukkan konsistensi permainan mereka setelah di babak sebelumnya memetik kemenangan atas dua ganda terkuat dunia, Lee Hyo Jung/Lee Kyung Won dan Cheng Wen Hsing/Chien Yu Chin. Duet China yang menempati unggulan ke-2, Cheng Shu/Zhao Yunlei akhirnya gagal menambah koleksi gelar bagi tim China di turnamen ini. Wong/Chin tampil tak hanya sempurna dalam hal ‘defense’ akan tetapi juga unggul dari sisi serangan dan permanan netting.

Di set pertama, Chin Eei Hui yang kali ini tampil minim ‘unforced error’ mampu unggul 12-6 dan 18-11 dari kesalahan sendiri yang dilakukan oleh Cheng/Zhao.Pertandingan yang merupakan antiklimaks dari tandem terbaik China ini berhasil dimanfaatkan wakil Malaysia untuk memetik kemenangan 21-16 di set pertama. Perolehan poin yang lebih ketat dengan malului reli-reli panjang antara kedua pasangan kembali tersaji di set kedua. Cheng/Zhao yang tak mampu keluar dari tekanan dan banyak melakukan kesalahan sendiri akhirnya kembali tertinggal 7-12 di apruh awal set kedua.

Sempat memperkecil selisih poin menjadi 12-13 dan 13-14 dari bola-bola potong Zhao Yunlei dan beberapa kesalahan sendiri Wong Pei Tty, duo China kembali kedodoran 13-17 dari penempatan bola-bola Chin Eei Hui yang sulit dijangkau. Kesalahan beruntun Wong/Chin di depan net, menambah koleksi poin Cheng/Zhao menjadi 16-17 namun 4 angka beruntun yang diraihWong/Chin dari ‘placing’ dan smash Wong Pei Tty, serta smash Cin Eei Hui yang tidak mampu diantisipasi oleh Cheng Shu akhirnya menutup set ini 21-16 untuk kejayaan sang negeri jiran.

Tunggal Putra, Taufik Gagal Pecahkan Rekor

Ambisi untuk memecahkan rekor 6 kali juara Indonesia Open atas nama Ardy B Wiranata dan Susy Suanti rupanya gagal diwujudkan oleh tunggal asal Pangalengan ini. Di tantang oleh unggulan teratas, Lee Choong Wei, Taufik yang mendapat dukungan dari segenap pengunjung Istora rupanya masih belum mampu meredam keuletan pemain terbaik dunia tersebut.

Di awal set pertama, Taufik masih mampu meladeni serangan dan tekanan Lee dengan menyamakan kedudukan di angka 5. Namun seiring dengan berjalannya waktu, banyaknya bola-bola Taufik yang tak mampu melewati net dan pengembaliannya yang melebar ke luar lapangan mengubah 9-5 dan 11-7 untuk Choong Wei saat jeda interval set pertama. Bola tanggung Taufik setelah adu drive di depan net juga memudahkan Lee untuk menutup set ini. Smash dan lob serangnya mampu membuat Lee unggul 12-9. Delapan poin beruntun yang dibukuan oleh Lee dari pengembalian ‘eror’ Taufik akhirnya memudahkan Lee untuk merebut set ini dengan kemenangan telak 21-9.

Penampilan Taufik di awal set kedua ketika membuahkan poin demi poin kembali memicu semangat para pendukungnya. Unggul 7-1 rupanya tidak mampu dimanfaatkan oleh peraih medali emas Olimpiade tersebut untuk mendapatkan momentum ‘second winning’-nya. Smash dan bola serobotan Lee di depan net akhirnya mampu membuatnya menyamakan kedudukan dia angka 7 dan berbalik unggul 10-8. Taufik kembali menyamakan angka di titik 11 dari permainan nettingnya yang super tipis dan backhand smash yang cukup keras.

Setelah tertinggal 11-13 dan 12-15 dari smash Lee yang dikembalikan ‘out’ oleh Taufik, tunggal merah putih tersebut kembali memperkecil selisih angka menjadi 14 -15 dari beberapa kesalahan sendiri Choong Wei dan smash-smash keras Taufik. 6 angka berturut-turut yang dikumpulkan Lee dari smash silangnya dan pengembalian melebar Taufik akhirnya menyudahi set ini sekaligus memastikan gelar kedua bagi negeri jiran, 21-14.

Lee Choong Wei yang diwawancarai usai pertandingan mengakui bahwa Taufik memiliki kelemahan di depan net pada hari ini. “Saya hanya mencoba untuk fokus di pertandingan, meskipun sempat tertinggal di awal set kedua” paparnya dengan bahasa melayu yang cukup fasih. Mengenai kesempatan karir Taufik di masa yang akan datang, Lee tidak mau berkomentar. “Kita sudah berteman baik sejak lama. Saat ini dominasi China di tunggal putra cukup kuat, mungkin kita berdua diantaranya yang mempunyai kesempatan untuk menandingi mereka” ungkap tunggal terbaik dunia yang sejak bulan depan akan dilatih oleh Hendrawan ini. “Saat ini saya masih dilatih oleh Rashid, ada banyak hal yang bisa saya pelajari dari Hendrawan, salah satunya adalah masalah disiplin” ungkapnya kemudian.

Ganda Putra, Jung/Lee Pupuskan Ambisi Fu/Cai

Duel yang tak kalah serunya adalah pada partai terakhir antara wakil Korea, Jung Jae Sung/Lee Yong Dae (6) yang menjamu unggulan ke-5, Fu Haifeng/Cai Yun. Fu/Cai menjadi harapan terakhir tim China untuk menambah gelar setelah dari 4 wakil yang bertanding di partai puncak, China hanya mampu mengoleksi satu gelar. Permainan reli-reli drive cepat yang disajikan oleh kedua pasangan menjadi tontonan yang cukup seru bagi para pengunjung Istora. Duet Jung/Lee yang lebih mengandalkan kecepatan serangan dan bola-bola pendek, mampu menekan Fu/Cai dan ‘leading’ 14-8. Meskipun sempat memperkecil selisih poin menjadi 14-16 dari penempatan bola akurat Cai Yun, duo China masih sulit untuk mebendung gempuran Jung/Lee dan kembali tertinggal 14-19.

Tidak hanya memiliki pertahanan yang sempurna, pasangan Korea khusunya Yong Dae juga cukup jeli untuk melihat setiap peluang yang ada ketika akan melancarkan serangan. Servis panjang Fu yang sempat menipu ganda Korea akhirnya mengubah kedudukan menjadi 15-19. Adu drive yang ditutup oleh kegagalan Fu di depan net serta net silang Cai Yun yang gagal melewati dinding net setelah berkali-kali menekan Yong Dae namun selalu mampu dikembalikan oleh ‘si anak ajaib’ tersebut akhirnya menyudahi set ini untuk tandem negeri ginseng, 21-15.

Perseteruan di set kedua berlangsung lebih intens dengan selisih 1-3 poin. Fu/Cai yang sudah mampu mengembangkan permainan mereka akhirnya mampu mengimbangi serangan dan tekanan dari pasangan Korea. Tertinggal 1-4, Fu/Cai mampu menyemakan kedudukan di titik 5 dan berbalik unggul 11-9. Smash beruntun pasangan China yang selalu mampu dikembalikan oleh ganda Korea akhirnya menjadi suatu tontongan yang apik ketika Jung/Lee mampu menciptkan momen untuk balik menyerang dan akhirnya menghasilkan poin. Setelah kedua pasangan berbagi angka sama hingga skor 16-16, Jung/Lee lebih dulu menyentuh skor 18-16 dari permainan drive cepat di depan net yang gagal dikembalikan oleh Fu dan penempatan Jung Jae Sung di depan net.

Pengembalian melebar Lee Yong Dae dan Jung Jae Sung kembali memunculkan asa untuk ganda China 18-18. Tiga angka beruntun dari adu netting yang di kembalikan ‘out’ oleh Fu Haifeng, bola tanggung Fu yang di selesaikan sempurna oleh smash Yong Dae dan smash keras Yong Dae kea rah baseline sudut kanan lapangan menutup kesempatan bagi duet China , 18-21. Cai Yun yang merasa kesal dengan hasil ini sempat mematahkan raketnya sebelum bersalaman dengan atlet terkait dan para official.

Usai pertandingan Jae Sung hanya mengakui bahwa kunci kemenangan mereka kali ini adalah permainan bola-bola cepat di depan net. “China mungkin bermain di bawah ‘pressure’ teruatama di set kedua, mereka banyak mealakukan kesalahan sendiri”, urai Jae Sung. Mengenai tingkat kesulitan permainan, Jung/Lee mengaku bahwa pertahanan China lebih sulit ditembus namun untuk tingkat kesulitan maka partai semifinal lah yang lebih sulit. “Tadi di kedua kita sempat mendapat ‘bad call’ dan faktor tesrebut merupakan hal yang paling kritis khususnya bagi Yong Dae. Namun meskipun kehilangan momentum, kita akhirnya encoba untuk fokus kembali”, papar Jung kemudian.

Fu/Cai yang juga sempat ditemui usai pertandingan hanya menjawab pendek perihal kekalahan mereka, “Korea memang tampil lebih baik, kami kalah cepat dari mereka. Tapi kami tetap akan terus mencoba di Kejuaraan Dunia nanti” (FEY).

www.bulutangkismania.wordpress.com

Results Semifinal Indonesia SS ’09 : Pil Pahit Kedua, Gelar Ke-7 atau Tragedi 2007

Filed under: Turnamen — bulutangkismania @ 6:48 am

Setelah hanya memetik gelar di turnamen pembuka tahun, Malaysia SS pada Januari silam, harus diakui bahwa nama-nama pebulutangkis marah putih pun mulai tenggelam seiring dengan meroketnya prestasi negara-negara pesaingnya seperti China, Korea, Malaysia, dan Denmark. Meskipun 1-2 wakil mampu melaju hingga ke babak final dan tak jarang mambuat kejutan, inkonsistensi masih menjadi masalah paling krusial untuk meraih mahkota di laga pamungkas.

Setahun yang lalu tanpa kehadiran beberapa wakil terbaik Asia seperti Lin Dan, Xie Xingfang, ataupun Jung Jae Sung/Lee Yong Dae dan duo Lee, kubu tuan rumah berpesta dengan raihan 2 gelar dan juara dan 1 runner up. Tahun ini hasil bertolak belakang justru harus dituai oleh para duta tuan rumah yang gagal meloloskan wakilnya ke babak final.

Sejak pertama kali turnamen ini digelar pada tahun 1982, rapor terburuk yang pernah diukir oleh para duta bangsa adalah tanpa gelar di semua nomor dan hanya meloloskan 1 wakil di partai puncak pada tahun 2007. Pil pahit kedua harus dialami oleh tuan rumah ketika satu-satunya harapan di nomor ganda, Markis/Hendra kembali bertekuk kepada Korea, Jung Jae Sung/Lee Yong Dae.

Di laga sebelumnya, juara 6 kali Indonesia Open SS, Taufik Hidayat akhirnya menjadi satu-satunya wakil Indonesia yang akan berjibaku di partai puncak setelh menyingkirkan juara bertahan, Sony Dwi Kuncoro yang merupakan wakil terakhir Pelatnas di turnamen ini. Akankah Taufik mampu menyelamatkan muka Indonesia sekaligus mengulang prestasinya di tahun 2003 ketika menjadi satu-satunya wakil yang berjaya serta memecahkan rekor 7 kali juara di turnamen ini atau justru tragedi serupa di tahun 2007 yang akan menghiasi wajah Istora? Jawabannya hanya akan terurai pada partai final nanti.

Ganda Campuran, Eropa Gigit Jari

Dua wakil Eropa yang tersisa di laga semifinal turnamen Indonesia Open SS 2009 akhirnya harus terdegradasi dari babak final setelah masing-masing gagal memetik kemenangan atas para pesaingnya. Duet Joachim Fischer/Christina Pedersen akhirnya harus mengakui ketangguhan ungulan ke-2, Lee Yong Dae/Lee Hyo Jung dalam laga dua set langsung 21-13, 21-13. Beberapa ‘unforced error’ yang dilakukan oleh Joachim mempermudah langkah ganda Korea untuk memetik kemenangan. Dukungan dari publik Istora pun tetap setia memberi semangat pada wakil Korea yang akhirnya memenangkan pertandingan ini.

Pada partai semifinal lainnya, harapan Denmark juga tak berbuah manis ketika Thomas Laybourn/Kamilla Rytter Juhl (4) gagal meredam solidnya permainan Zheng Bo/Ma Jin (5) setelah melewati tiga game yang melelahkan. Di set pertama, kedua pasangan langsung terlibat kejar mengejar poin dengan selisih 1-3 angka. Zheng/Ma mampu menguasai jalannya paruh awal set pertama dan memimpin perolehan poin hingga kedudukan 10-6 dan 13-11. Penempatan bola yang akurat dari Thomas/Kamilla serta banyaknya kesalahan sendiri yang dilakukan oleh Ma Jin membuat Denmark mampu menyetarakan kedudukan dan berbalik memimpin 15-13.

Thomas Laybourn yang beberapa kali mengembalikan bola tidak sempurna menjadi kunci perolehan poin pasangan China meskipun beberapa kali duo tirai bambu masih sempat melakukan kesalahan sendiri. Setelah bersitegang hingga kedudukan 18-18, dua kesalahan beruntun dari Ma Jin dari pengembalian yang terlalu melebar akhirnya menutup set ini 21-18 untuk keunggulan Denmark.

Duet Denmark yang cukup solid kembali menguasai jalnnya pertandingan di paruh awal set kedua. Thomas/Kamilla dengan memanfaatkan ‘placing’ Ma Jin yang tidak akurat dan serangan-serangan Zheng Bo yang banyak menyangkut di net. Penematan bola-bola sulit Thomas serta smash-smash Juhl yang cukup tajam sempat membuat pasangan China kedodoran. Pengalaman Zheng Bo sebagai salah satu pemain ganda senior China akhirnya mampu membuat Zheng/Ma memutarbalikkan keadaan dan berbalik menyerang dengan mengubah kedudukan 12-9. Adu drive antara kedua pasangan ini akhirnya lebih banyak dimenangkan oleh duet China karena ‘balcoking’ yang sempurna dari Ma Jin di depan net. Bola potong dari Ma Jin di depan net serta smash keras Zheng Bo yang cukup tajam terus membuat pasangan China meluncur 15-12, 17-15 dan 19-16 sebelum akhirnya memaksakan rubber set 21-17.

Melorotnya mental dan fokus permaianan duo Denmark di set ketiga terlihat jelas khususnya Thomas Laynourn yang seringkali melakukan ‘unforced error’. Thomas yang seharusnya mampu menekan dengan smash-smash dan penempatan bolanya beberapa kali justru gagal mengantisipasi bola. Kondisi ini membuat pasangan Denmark tertinggal jauh 2-7 dan 3-11 saat jeda interval. Dominasi yang tak terbendung dari Zheng/Ma akhirnya membuat keduanya terus melaju 16-8 dan 19-9 serta menyudahi set ini dengan kemenangan 21-11.

Tunggal Putra, Selangkah Menuju Rekor Juara

Riuh rendah penonton semakin membahana ketika dua wakil Indonesia Taufik Hidayat (5) dan Sony Dwi Kuncoro memasuki arena pertandingan untuk memperebutkan tiket ke laga pamungkas. Dukungan bagi pebulutangkis flamboyan, Taufik Hidayat rupanya tak hanya datang dari mayoritas publik Istora yang sudah lama menantikan ‘peak performance’ dari pahlawan Indonesia di ajang Olimpiade Athena 2004 ini namun juga kalangan selebritis seperi Agnes Monica dan VJ Daniel berikut aksosoris ‘merah putih’ yang mereka kenakan bersama teman-temannya. Duduk bergerombol dengan penampilan unik di area VIP membuat Agnes langsung diburu oleh publik Istora untuk sekedar bertanda tangan atau mengambil foto bersama.

Duel gengsi antara pemain pelatnas dan professional ini ternyata berjalan tidak semenarik yang dibayangkan. Memburuknya performa Sony sejak partai-partai awal membuat Taufik dengan relative mudah mampu mengatasi tekanan yang diberikan oleh tunggal terbaik Indonesia tersebut. Penonton yang di babak sebelumnya mendukung penuh Sony kali ini justru lebih banyak diarahkan untuk Taufik. Smash silang dari Taufik masih menjaadi senjata andalannya untuk meraih poin demi poin selain karena faktor ‘unforced error’ yang dilakukan oleh Sony.

Setelah sempat tertinggal 4-7 dan 7-9, Taufik akhirnya mampu membalikkan keadaan dan berbalik unggul 14-10, 18-14 ketika smash-smash dan penempatan bola di area belakang lapangan gagal dikembalikan oleh Sony. Penempatan cemerlang Sony di depan net serta dua pengembalian Taufik yang melebar memperkecil selisih angka menjadi 17-18, namun serobotan Taufik dari bola tanggung Sony di depan net serta dua smash Taufik kea rah badan Sony menutup set ini untuk si ‘bad boy’ 21-17.

Meskipun Sony lebih unggul dari sisi intensitas serangan, banyaknya kesalahan tunggal terbaik Pelatnas ini terutama saat mengembalikan bola di depan net menjadi momentum bagi Taufik untuk mengoleksi poin demi poin di set kedua. Memanfaatkan keunggulan 9-5, Taufik akhirnya tak terbendung dan terus melaju hingga 17-10 dan 20-12 sebelum mengakhiri set ini 21-14.

Dengan hasil ini Taufik berhak untuk menantang unggulan teratas, Lee Choong Wei yang mencatat kemanangan atas jagoan China, Chen Jin (6) setelah melewati pertarungan ketat di set kedua, 21-15, 22-20 dalam laga 46 menit. Saat ditemui dalam konferensi pers usai kemenangannya, Choong Wei mengaku sering bertemu Taufik di tempatnya sendiri (Malaysia, red) tapi kali ini di Indonesia merupakan tempat yang paling tepat untuk menguji mentalnya.”Peluang saya masih 50:50, besok saya akan fokus ke pertandingan”, ungkap Lee.

Saat ditanya mengenai perkembangan permainan Taufik pada turnamen kali ini Lee mengaku saat ini Taufik sedang berada pada performa terbaiknya. Saat bertemu terakhir di turnamen All England SS dan Swiss SS bulan Maret silam, Choong Wei mengaku ada perbedaan yang signifikan dari seorang Taufik Hidayat. “Serangan Taufik saat ini lebih hebat. Kelemahan Taufik saat ini adalah dalam hal kecepatan. Namun di turnamen ini Taufik bermain bagus, mungkin karena persiapan yang lebih matang setelah Swiss”, lanjut Lee.

Perihal kekalahan Lin Dan atas Chen Jin di laga sebelumnya Choong Wei tidak menganggapnya sebagai suatu keberuntungan. “Mungkin ini salah satu strategi China juga dalam hal poin dan ranking, saya tidak tahu juga” papar Lee.

Ganda Putra, Pil Pahit Kedua

Setelah harus menelan pil pahit dengan kekalahan favorit juara. Nova/Liliy di laga semifinal, Indonesia kembali harus mengalami kekecewaan ketika favorit juara lainnya, Markis/Hendra juga ikut mengalami nasib serupa saat ditantang oleh wakil Korea, Jung Jae Sung/Lee Yong Dae (6). Pada awal set pertama, KiNdra mampu unggul 5-1 dan 8-4 karena tekanan beruntun yang dilancarkan oleh pasangan Indonesia. Beberapa kesalahan beruntun dari KiNdra yang gagal menyebrangkan bola di depan net membuat tandem peraih emas Olimpiade Beijing 2008 ini terkejar di titik 8 dan berbalik tertinggal 10-17 dan 11-19 karena smash Yong Dae dan penempatan cemerlang dari Jung Jae Sung.

KiNdra sempat nyaris menyamakan kedudukan setelah mendapatkan ‘keajaiban’ dari dukungan publik Istoran dengan mengubah skor menjadi 16-19 dan 19-20 dari kesalahan beruntun pengembalian Jung/Lee dan tekanan yang dilancarkan melalui smash-smash keras Kido dan penempatan bola Hendra di depan net. Dewi fortuna sayangnya belum berpihak kepada kubu Indonesia ketika satu pengembalian Hendra gagal melewati net dan membuahkan poin terakhir bagi pasangan negeri ginseng, 21-19.

Di set kedua KiNdra rupanya masih belum mampu keluar dari tekanan dengan tertinggal 4-8 dan 8-13. Smash-smash beruntun dengan memanfaatkan kondisi tertekannya KiNdra serta kesalahan yang semakin sering dilakukan oleh Hendra ketika mengembalikan bola di depan net dan Kido saat menghujamkan smash-smash kerasnya semakin memudahkan Jung/Lee untuk mengoleksi kemenangan hingga kedudukan 18-13. KiNdra sempat memperkecil selisih poin menjadi 17-19 ketika adu drive yang ditutup oleh Kido tidak mampu dikembalikan oleh Jung/Lee.

Akurasi penempatan bola yang sempurna dari Hendra serta pengembalian melebar Yong Dae sempat membangkitkan kembali semangat publik Istora. Teriakan IN-DO-NE-SIA kembali membahana namun untuk kedua kalinya keberuntungan rupanya masih enggan menaungi merah putih ketika smash Hendra yang dianggap keluar oleh hakim garis dan pengembalian Kido yang membentur dinding net memastikan tiket final untuk Jung/Lee, 21-17.

Dengan hasil ini, Lee Yong Dae mempunyai kesempatan emas untuk menyandingkan dua gelar di nomor campuran dan ganda putra bersama pasangan yang berbeda. “Saya akan fokus di campuran dulu, setelah itu baru mempersiapkan partai gandanya” jelas Yong Dae saat diwawancarai usai pertandingan didampingi oleh penerjemahnya. Menanggapi hasil pertandingan tadi, Jung menilai bahwa sebenarnya pasangan Indonesia tidak memiliki kelemahan kecuali dari ‘mind set’ mereka sendiri dan persiapan yang mungkin kurang. Jung sendiri saat ini masih menjalani wajib militer dan cukup bangga bisa kembali ke bulutangkis meskipun pada pekan sebelumnya mereka tampil buruk di Singapura dan kalah di babak awal.

“Kita sudah perenah beberapa kali bertemu dengan mereka sebelumnya dan paling tidak mengetahui pola permainan mereka jadi kami mencoba untuk bermain lepas dan percaya diri saja untuk yang terbaik meskipun ditengah pendukung pasangan Indonesia”, ungkap Jae Sung. Menurut Lee, apresiasi berlebihan dari para penonton masih dianggapnya wajar dan akan disikapi positif sebagai acuan untuk bisa menjadi lebih baik. Hasil ini memnepatkan Jung/Lee dan wakil China, Fu Haifeng/Cai Yun di laga pamungkas untuk memperebutkan mahkota juara. Fu/Cai yang mendapat dukungan penuh dari penonton, berhasil unggul 21-11, 21-15 setelah di set pertama menyerah 18-21.

Tunggal Putri, Unjuk Gigi Para Pemain Muda

Partai final akan menjadi ajang unjuk kebolehan para pemain muda Wang Lin (3) dan Saina Nehwal (6) yang berhasil menyingkirkan dua pemain yang lebih pengalaman. Wang Lin mampu mengeksekusi seniornya Xie Xingfang (8) yang tampil dibawah performa terbaiknya. Kesalahan sendiri yang seringkali dilakukan oleh Xie memupuskan peraih juara Indonesia Open tahun 2003 dan 2004 itu 19-21, 13-21.

Pada partai semifinal lainnya, Saina Nehwal (6) berhasil menggagalkan final sesama pemain China setelah tampil memukau menghadapi unggulan ke-7, Lu Lan melalui pertarungan ketat dua set langsung. Di awal set pertama, Lu Lan yang banyak melakukan kesalahan sendiri selalu tertinggal dari Saina meskipun selalu mampu akhirnya menyamakan kedudukan. Sempat tertinggal 3-7, Lu Lan akhirnya mampu menyamakan kedudukan 11-11 setelah jeda interval set pertama. Di titik ini, kedua pemain saling menysusul perolehan angka dengan selisih poin 1-2 hingga kedudukan akhir 23-23. Dua pengembalian Saina yang di smash keluar oleh Lu Lan menutup set ini 25-23 untuk keunggulan tunggal India tersebut.

Lu Lan sebenarnya sudah menguasai jalannya pertandingan set kedua dengan memimpin 6-0, 8-3 dan 13-9. Di titik inilah Saina kembali mendapatkan ‘second winning’nya dan membalikkan keadaan menjadi 15-13. Tertinggal 15-18 dan 17-19, Lu Lan kembali menyamakan angka di titik 19 namun untuk kesekian kalinya ‘unforced error’ dari tunggal peringkat 9 dunia ini yang mengembalikan bola terlalu melebar menyudahi set ini untuk kemenangan Saina 21-19. Final super series pertamanya ini disambut haru oleh Saina yang memenangi Kejuaraan Dunia Junior atas Sayaka Sato pada tahun 2008 yang lalu. Pelatih Indonesia yang saat ini membawa nama India, Atik Dajauhari mengaku puas atas prestasi anak didiknya tersebut. “Saya baru 6 bulan di India dan perekmbangan Saina memang luar biasa” tutunya saat mengomentari kemenangan Saina.

Ganda Putri, Partai Klimaks Dua Unggulan Teratas

Dua unggulan teratas, Wong Pei TTy/Chin Eei Hui (1) dan Cheng Shu/Zhao Yunlei (2) sama-msa berhasil mendapatkan tiket ke partai final dan akan saling berhadapan untuk memperebutkan podium juara. Meskipun mendapat tantangan mental dari warga Istora saat menghadapi unggulan ke-3, Chien Yu Chin/Cheng When Hsing, utusan Malaysia tersebut mampu tampil taktis dan unggul dua set langsung 21-17, 21-17. Sementara itu, Cheng/Zhao yang menjamu wakil Korea, Ha Jung Eun/Kim Min Jung (4) di laga pamungkas babak semifinal tanpa banyak kesulitan meraih kemenangan 21-13, 21-13 hanya dalam waktu 33 menit (FEY).

www.bulutangkismania.wordpress.com

June 20, 2009

Results Quarterfinal Indonesia SS ’09 : NoLyn Tersingkir, 3 Wakil Semifinalis

Filed under: Turnamen — bulutangkismania @ 10:13 am

Tim tuan rumah akhirnya hanya meloloskan 3 wakilnya ke babak semifinal turnamen Indonesia Open SS 2009. Harapan publik Istora sempat pupus saat menyaksikan penampilan favorit juara Nova/Liliyana yang tidak mampu meladeni permainan duo China. Namun kabar gembira tersaji di sektor putra. Sony DK dan Taufik Hidayat akhirnya berhasil menyusul KiNdra ke 4 besar dan memastikan gelar runner up untuk negeri tercinta.

Ganda Putra, KiNdra Tantang Junge/Lee

Jalan terjal kembali akan dihadapi oleh duet peraih emas Olimpiade Beijing 2008, Markis/Hendra di babak semifinal setelah pada tadi sore keduanya berhasil menundukkan kompatriotnya, Alvent/Hendra AG melewati pertarungan dua set 21-19, 21-11. KiNdra sempat tertekan dari serangan-serangan yang dibeberkan oleh duet VenDra di set pertama. Penempatan bola-bola sulit serta pertahanan yang cukup baik dari duet professional tersebut membuat KinDra beberapa kali justru melakukan kesalahan sendiri. Namun berkat motivasi semangat dari para penonton, keduanya mampu bangkit di poin kritis set pertama dan akhirnya memenangkan game ini. Di set kedua, VeNdra justru mengendorkan tempo permainan sebaliknya KiNdra mampu balik menekan dan menghasilkan poin demi poin.

Di lapangan yang berbeda, meskipun harus berjibaku mental menghadapi sorakan public Istora, unggulan ke-3 Koo Kien Keat/Tan Boon Heong juga meloloskan diri ke babak semifinal setelah berhasil memupuskan harapan Indonesia lainnya, Luluk Hadiyanto/Joko Riyadi yang sehari sebelumnya mampu bermain cemerlang atas duo Inggris, Nathan/Anthony, tandem terbaik Malaysia tersebut harus melewati pertarungan rubber set 21-11, 17-21, 21-11 dalam waktu 47 menit. Banyaknya kesalahan sendiri yang dilakukan oleh LuJo di set ke-3 saat mengantisipasi bola-bola drive di depan net memudahkan Koo/Tan untuk merebut set ketiga.

Semifinalis lainnya juga ditempati oleh ganda terkuat dari Korea dan China. Jung Jae Sung/Lee Yong Dae yang menempati unggulan ke-6 tanpa banyak kesulitan mematahkan perlawanan wakil negeri jiran, Mohd Fairuz/Mohd Zakry 21-10, 21-15 sedangkan Fu Haifeng/Cai Yun (5) juga masih terlalu tangguh untuk duo Amerika, Tony Gunawan/Howard Bach. Dalam waktu kurang dari 30 menit, Fu/Cai mampu mengukir kemenangan 21-14, 21-14.

Ganda Campuran, NoLyn Tersingkir

Penampilan yang mengecewakan dari duet peringkat 2 dunia, Nova/Lily kembali terurai di babak 8 besar turnamen Indonesia Open SS ketika dipertemukan dengan duo peringkat 7 dunia, Zheng Bo/Ma Jin (5). Serangan beruntun dari Zheng Bo serta ‘blocking’ yang sempurna dari Ma Jin di depan net dipadu dengan kesempurnaannya dalam melakukan bola-bola ‘placing’ yang tidak terjangkau. Pertahanan yang sempurna dari Zheng/Ma juga beberapa kali sulit ditembus oleh NoLyn sehingga membuat keduanya justru pad akhirnya melakukan kesalahan sendiri. Meski reli-reli panjang dari keduanya seringkali terlihat Zheng/Ma akhirnya mampu memetik kemenangan 21-17, 21-18 yang sekaligus menambah daftar kegagalan NoLyn atas pasangan China setelah pada pekan sebelumnya mereka juga bertekuk kepada Xie Zhongbo/Zhang Yawen di semifinal Singapore SS 2009.

Langkah Zheng/Ma sayangnya gagal diikuti oleh rekan satu timnya, Xie Zhongbo/Zhang Yawen (6). Setelah hanya puas menjadi runner up turnamen Singapore SS 2009, Xie/Zhang kali ini tidak mampu melayani kesolidan permainan unggulan Denmark, Thomas Laybourn/Kamilla Rytter Juhl. Olahan bola Juhl di depan net berharmoni dengan smash-smash keras Thomas Laybourn mampu menghantam duet peraih mahkota Indonesia SS 2006 ini 21-11, 21-16, Sebaliknya, Xie/Zhang tidak hanya memiliki pertahanan yang rapuh, smash-smash dan pengembalian Xie Zhongbo seringkali gagal menyebrangi net dan menghasilkan ‘unforced error’ yang justru menguntungkan bagi kubu Denmark.

Selain meloloskan Thomas/Kamilla ke-4 besar, Denmark juga masih memungkinkan untuk menggelar All Danish Final jika pasangan Joachim/Christinna (7) mampu membuat kejutan dengan menggulingkan peringkat 1 dunia, Lee Yong Dae/Lee Hyo Jung di laga semifinal hari ini. Joachim/Christinna yang mendapat dukungan penuh dari publik Istora sempat kedodoran di akhir set pertama, 20-22. Namun di dua set berikutnya, peraih mahkota turnamen Denmark Open SS 2008 tersebut akhirnya mampu menuai kemenangan atas Han Sang Hoon/Jang Ye Na 21-17, 21-16. Sebagai apresiasi bagi para pendukungnya, Joachim sempat melempar raket, kaos dan jam tangannya untuk deperbutkan secara gratis. Sedangkan pada pertandingan lainnya, duo Lee juga tanpa mengeluarkan banyak keringat akhirnya mencatat kemenangan dari pasangan gado-gado, Robert Blair/Imogen Bankier 21-12, 21-18.

Tunggal Putra, Duel Taufik Paling Emosional

Selain KiNdra yang melaju ke semifinal, merah putih juga memastikan dua arjunanya ke babak semifinal dan keduanya akan saling berseteru untuk memperebutkan satu tiket final. Meskipun tidak tampil dalam performa terbaiknya, Sony akhirnya mampu melangkahi wakil Hongkong tersisa, Chan Yan Kit melalui rubber set 18-21, 21-17, 21-10. Di set pertama Sony yang tidak memiliki pertahanan sempurna beberapa kali gagal mengembalikan bola serang dari Chan. Meskipun perseteruan keduanya berlangsung ketat di dua set awal, beberapa kesalahan sendiri yang dilakukan oleh Sony memudahkan Chan untuk mengeleksi poin demi poin.

Pertandingan yang paling emosional adalah antara dua sahabat lama sekaligus musuh bebuyutan di lapangan, Taufik Hidayat (5) dan tunggal terbaik Eropa, Peter Gade (2). Ketatnya persaingan antara pemain senior ini membuktikan kualitas mereka sebagai bagian dari para atlet papan atas kelas dunia dari awal set pertama hingga set ketiga. Angka demi angkapun tidak diperoleh dengan mudah dan diraih ketat poin demi poin oleh kedua tunggal yang sempat menduduki peringkat satu dunia ini. Memanfatkan bola tanggung dan kesalahan sendiri dari lawan setelah adu reli yang cukup panjang mengisyaratkan tingginya kualitas permainan dari keduanya.

Susul menyusul perolehan poin dan selisih 1-2 angka tersaji dari awal set pertama hingga kedudukan 16-14 untuk Indonesia. Taufik akhirnya mampu memperjauh kepemimpinannya hingga skor 17-14 dan 18-15 dari penempatan bola yang akurat di area yang kosong. Namun Gade tidak hanya berhenti dan menyarah begitu saja. Smsh-smash kerasnya yang sulit diantisipasi oleh Taufik mampu memperkecil selisih poin menjadi 18-19. Di titik genting ini mental juara Taufik tak menyia-nyiakan bola tanggung Gade di atas net, 20-19. Smash keras Taufik dari pengembalian tanggung Gade menyudahi set ini untuk keunggulan peringkat 6 dunia tersebut 21-19.

Kesalahan beruntun yang dilakukan oleh Taufik di depan net menyebabkan dirinya langsung tertinggal 5-11 di paruh awal set kedua. Perlahan Gade semakin jauh meninggalkan Taufik 17-8 ketika bola-bola pengembalian Taufik di bagian belakang lapangan Gade seringkali tidak cermat dan melebar. Tak terkejar, Gade dengan mudah menyelesaikan set ini 21-8

Kejar mengejar angka yang cukup intens kembali tersaji di set ketiga. Meski Taufik sempat unggul 11—7 saat jeda interval dari bebrapa kesalahan Gade di depan net, angka kedua pemain ini kembali berimbang di titik 11 ketika ketika pengembalian dan penempatan bola Taufik di bagian baseline beberapa kali melebar jauh. Dari titik ini susul menyusul poin dari kesalahan sendiri yang dilakukan oleh lawan hingga memasuki skor kritis 18-18 semakin membuat emosional public Istora kian memuncah. Angka satu demi satu yang dikumpulkan oleh masing-masing pemain selalu diakhiri dengan deraian tepuk tangan atau umpatan tanda kekesalan.

Taufik unggul 20-18 dari penempatan bola Taufik di area baseline dan adu netting yang diantisipasi dengan pengembalian ‘out’ Peter Gade. Dua ‘unforced error’ Taufik saat menempatkan bola di area belakang lapangan nyaris membuyarkan impian peraih emas Olimpiade Athena 2004 tersebut. Potongan bola Gade yang terlalu bernafsu dan akhirnya menyangkut di net serta adu bola-bola drive dan netting yang dilembalikan melebar oleh Peter memastikan langkah Taufik ke 4 besar, 22-20.

Dengan hasil ini Taufik berhak untuk menantang Sony dan memperebutkan satu tiket ke partai puncak. Saat ditemui dalamn konferensi pers usai melaksanakan pertandingan Taufik mengaku bahwa partai 72 menit yang baru saja dijalaninya merupakan pertandingan terbaik yang dialaminya kembali selama karir badminton-nya yang sempat meredup di beberapa tahun terakhir. “Pertandingan tadi seharusnya tersaji di partai final” ungkap Taufik. “Kalau boleh memilih sebenarnya saya tidak mau bertemu dengan Peter dan kalaupun bertemu seharusnya di partai paling akhir soalnya tadi lihat sendiri diantara kita kalau udah ketemu pasti ga ada yang mau mengalah”, tambahnya kemudian.

Pertarungan Taufik-Peter menang selalu berjalan alot dalam rubber set game. Pertemuan terakhir mereka di perempatfinal All England 2009 juga harus dilaluinya dengan 3 set. “Set ke-2 tadi sempat grogi, pengen mengakhiri cepet-cepat” jawab Taufik saat ditanya perihal kekalahan telaknya di set kedua. Menganai penampilannya di Istora kali ini untuk memperjuangkan gelar ke-7 nya Taufik mengaku sangat senang bisa bermain di Indonesia. “Senang bisa main di Istora, keluarga saya dan istri saya juga bisa nonton”, jawabnya. Menyikapi suasana public Istora yang sangat berbeda dari turnamen lainnya, Taufik menanggapi positif bahwa pengaruh penonton bisa memberikan semangat kepada dirinya seperti di saat-sata kritis tadi.

Perihal pertemuannya dengan Sonny, Taufik tidak mau sesumbar yakin akan kemenangannya. “Saya sudah 6 bulan tidak bertemu dan main bersama, jadi sulit untuk memprediksi kekuatan masing-masing”, jelasnya. “Kalau ketemu teman sendiri sewaktu masih di Pelatnas, kadang 10% kekuatan kita terasa berkurang. Mereka sudah tau kekuatan dan kelemahan saya” papar Taufik. “Makanya kalau ketemu Sony atau Simon, kadang saya menang tapi kadang saya juga dikalahkan mereka” lanjutnya kemudian. “Ya lihat besok sajalah, yang penting kan sudah dipastikan satu wakil Indonesia ke final, entah saya atau Sony” tandas Taufik seraya tersenyum.

Di partai semifinal lainnya, jagoan Malaysia Lee Choong Wei (1) akan dijamu oleh wakil China, Chen Jin (6). Choong Wei melumpuhkan perlawanan Park Sung Hwan 21-9, 21-13 sedangkan Chen Jin di luar dugaaan mampu menghempas kompatriotnya, Lin Dan (3) 18-21, 21-17, 21-4.

Tunggal Putri, Menunggu Kejutan Saina

Bintang bersinar India, Saina Nehwal (6) kembali memancarkan di tahun keduanya dalam turnamen Indonesia SS. Saina menjadi satu-satunya wakil non China di babak semifinal yang mampu menggagalkan aksi All Chinese Final. Setelah melewati pertarungan melelahkan, pemain muda India tersebut akhirnya mampu melibas wakil negeri ginseng, Hwang Hye Youn, 21-7, 13-21, 21-15. Namun untuk bisa melaju ke partai puncak, Saina harus mampu menyingkirkan andalan China, Lu Lan (7) untuk bertemu pemenang antara Xie Xingfang (8) dan Wang Lin (3).

Lu Lan sendiri melanggang setelah berjuang ketat menundukkan rekan senegaranya, Wang Yihan (2), 21-10, 11-21, 22-20. Sementara itu Xingfang sempat dibuat ketar ketir ketika meladeni tunggal Jepang Sayaka Sato. Setelah sempat tertinggal di awal set, Xie beruntung akhirnya menyamakan kedudukan dan meraih kemenangan 22-20. Di set kedua, Xie menguasai jalannya pertandingan dan unggul telak 21-13. Pada partai pamungkas, Wang Lin (3) juga masih menang level dari satu-satunya wakil merah putih yang tersisa, Maria Febe. Pertarungan yang diaharapkan akan berlangsung ketat setelah menyaksikan kemenangan telak Febe atas Aditi Mutatkar di babak sebelumnya ternyata justru berlangsung tak menarik dengan banyaknya kesalahan sendiri yang dilakukan oleh wakil klub Djarum tersebut saat mengembalikan bola-bola di depan net. Hal ini meudahkan Wang Lin untuk membukukan kemenangan 21-11, 21-10.

Ganda Putri, All Asian Affair

Kesuksesan Lee Hyo Jung bersama Lee Yong Dae di nomor campuran sayangnya tidak mampu diikuti oleh pariah perak Olimpade Beijing 2008 tersebut di sektor ganda putri. Ditantang oleh unggulan teratas asal Malaysia, Wong Pei Tty/Chin Eei Hui, duo Lee akhirnya menyerah dalam perseteruan 3 set, 21-14, 9-21, 21-18. Rapuhnya pertahanan dari duo Korea ini dan banyaknya kesalahan sendiri yang mereka lakukan di set ketiga memudahkan langkah Wong/Chin untuk merebut tiket semifinal. Namun meskipun duo Lee tersandung langkahnya di 8 besar, kubu Korea masih bisa menggantungkan harapan mereka pasa duet Ha Jung Eun/Kim Min Jung (4) harus berjuang keras melalui reli-reli panjang menyudahi perlawanan duet ‘coba-coba’ Bulgaria-Rusia, Petya Nedelcheva-Anastasia Russkikh 21-19, 21-19. Kurangnya konsistensi dari duo Petya/Anastasia ketika mereka berhasil unggul di poin-poin akhir membuat Ha/Kim mampu mengejar ketrtinggalannya dan akhirnya memetik kemenangan.

Wakil negeri jiran Wong/Chin akan ditantang oleh unggulan ke-3, Chin Yu Chin/Cheng Wen Hsing yang mengubur impian pasangan satu timnya, Chang Hsin Yun/Chou Chia Chi 21-11, 19-21, 21-11 sedangkan Ha/Kim harus bermain maksimal untuk merampas tiket dari unggulan ke-2, Cheng Shu/Zhao Yunlei yang menang 3 set atas senior mereka, Zhang Yawen/Zhao Tingting, 21-17, 10-21, 21-13 (FEY).

www.bulutangkismania.wordpress.com

June 19, 2009

Results Day 3 Indonesia SS ’09 : Loloskan 7 Quarterfinalis

Filed under: Turnamen — bulutangkismania @ 8:45 am

Tim tuan rumah akhirnya berhasil meloloskan 7 wakilnya ke babak 8 besar turnamen Indonesia Open 2009 setelah di babak perdelapan final hari ini beberapa pemain merah putih mampu menciptakan kejutan tak terduga. Namun runner up turnamen ini setahun yang lalu, Simon Santoso (8) harus tersisih lebih awal saat di tantang oleh jagoan Korea, Park Sung Hwan.

Pertandingan hari ketiga turnamen Indonesia SS 2009 sudah mulai dibanjiri oleh penonton. Beberapa diantarabya bahkan harus rela mengantri dari pagi namun tidak beruntung mendapatkan tiket masuk. Tunggal pelatnas, Adriyanti Firdasari mengawali pertarungan di lapangan 2 menghadapi andalan China, Wang Lin. Meladeni permainan taktis Wang Lin tentunya bukanlah hal yang mudah bagi Firda. Beberapa kali Firda tampak berjibaku di lapangan untuk mengantisipasi bola-bola dari tunggal China tersebut. Dalam tempo 17 menit, Firda akhirnya menyerah 13-21.

Namun rupanya selama pertandingan Firda tak mampu bermain maksimal akibat cedera engkel kaki kanan yang dialaminya saat menghadapi tunggal Belanda, Yao Jie di babak pertama kemarin. Akibat tetap ngotot menantang Wang Lin, cedera yang dialami oleh Firda akhirnya kambuh lagi. Setelah menjalani perawatan darurat di pinggir lapangan, pelatih Marleve Mainaky akhirnya member isyarat kepada wasit untuk tidak melanjutkan pertandingan sehingga Wang Lin dinyatakan lolos ke babak perempatfinal.

“Saya sebenarnya sudah pakai obat penahan rasa sakit. Cuma setelah set pertama saya sudah tak tahan lagi. Agak kecewa juga dengan keadaan ini. Tapi yang lebih mengecewakan saya karena cedera ini saya alami di saat pertandingan”, papar tunggal putri kedua Indonesia tersebut. “Beruntung cederanya tidak serius. Dokter hanya meminta saya untuk istirahat 1-2 minggu. Saya yakin kalau tidak cedera akan ramai pertandingan tadi” sambungnya setelah menjalani perawatan yang lebih intensif di ruan medis. Ini bukan merupakan cedera pertama yang dialami oleh Firda. Sebelumnya, Firda juga pernah mengalami masalah pada lutut kanannya.

Selain Wang Lin, China juga berhasil mendominasi sektor tunggal putri dengan meloloskan 3 wakil lainnya. Unggulan ke-8, Xie Xingfang tanpa banyak kesulitan menyingkirkan wakil Belanda, Rachel Van Cutsen 21-6, 21-15 sedangkan Wang Yihan (2) menjungkalkan dara muda Thailand, Porntip Buranaprasertsuk, 21-16, 21-5. Duel antara pemain China yang diharapkan akan berjalan seru ternyata berlangsung tidak seperti yang diharapkan. Unggulan ke-7, Lu Lan yang mengalami nasib buruk di turnamen Singapore SS pekan lalu, kali ini mampu bernafas lega saat berhasil menundukkan sang juara bertahan, Zhu Lin, 21-13, 21-11.

Empat tempat lainnya juga diisi oleh para pemain berdarah Asia. Saina Nehwal (6) harus berjuang keras 18-21, 21-7, 21-19 untuk menyingkirkan Juliane Schenk yang sedangan berada dalam performa terbaiknya. Maria Febe akhirnya menjadi satu-satunya tumpuan Indonesia di sektor ini setelah membukukan kemanangan telak atas lawannya, Aditi Mutatkar, 21-8, 21-5. Kekalahan Wang Chen (4) atas Hwang Hye Youn akhirnya memupuskan harapan kejutan dari pemain naturalisasi China untuk berjaya yang kedua kalinya. Sempat memaksa rubber set 21-14 setelah tertinggal 19-21, Wang Chen akhirnya harus mengakui ketangguhan Hye Youn 14-21 di partai pamungkas. Duel antara dua pemain kualifikasi Sayako Sato dan Kim Moon Hi akhirnya dimenangkan oleh tunggal negeri sakura 21-15, 21-18.

Keberuntungan para pemain Indonesia sedikit lebih baik di sektor tunggal putra. Meskipun Simon Santoso (8) gagal mengulang prestasinya setahun yang lalu setelah ditundukkan tunggal terbaik Korea, Park Sung Hwan 16-21, 17-21, Indonesia masih memiliki harapan untuk meraih gelar dari Sony Dwi Kuncoro (4) dan Taufik Hidayat (5). Sony mampu bermain lebih tenang saat menyingkirkan Wong Choong Hann 8-21, 12-21 sedangkan Taufik harus berjibaku 3 set untuk mengimbangi permainan ulet wakil Thailand, Boonsak Ponsana. “Saya bermain lebih senang hari ini disbanding kemarin. Kini saya agak fokus, jadi saya bisa bermain lebih sabar dan tenang”, kata Sonny.

Unggul 21-17 di set pertama, Boonsak mampu bangkit dan meladeni perolehan angka Taufik di paruh akhir set ketiga hingga skor kritis 19 sama. Di titik ini Boonsak mendapatkan ‘second winning’ dengan kemenangan 21-19. Permainan reli-reli panjang Boonsak ruapanya justru menghabiskan stamina peraih gelar Singapore SS 2007 itu di set ke-3. Setelah tertinggal jauh 6-11 dan 8-13, Boonsak semakin sulit untuk mengejar Taufik dan akhirnya menyerah 10-21.

Peter Gade yang menuai kemenangan atas tunggal fenomenal Vietnam, Nguyen Tien Minh 13-21, 21-19, 21-14 akhirnya menjadi satu-satunya wakil Denmark di sektor ini setelah sebelumnya unggulan ke-7, Joachim Persson gagal melumpuhkan perlawanan bintang Hongkong, Chan Yan Kit 22-24, 13-21.

Di nomor berpasangan merah putih hanya menyisakan wakil di sektor ganda putra dan campuran. Dua ganda Indonesia yang ditantang oleh para utusan China juga harus memetik kekalahan atas lawan-lawannya. Kolaborasi Fran Kurniawan/Pia Zebadiah gagal meredam permainan Xie Zhongbo/Zhang Yawen (6) dan menyerah 16-21, 15-21. Sedangkan Vita Marissa yang baru saja menggandeng Hendra AG juga tak dapat berbuat banyak ketika dijamu oleh juara Singapore SS 2009, Zheng Bo/Ma Jin (5). Hendra/Vita dipaksa bertekuk dua set langsung 16-21, 12-21.

“Kami baru berpasangan selama sebulan terakhir. Kami belum padu dan masih banyak yang harus dibenahi”, kata AG dalam jumpa pers seusai pertandingan. “Pasangan China ini kelasnya sudah seperti senior kami, Nova/Liliyana”, sambungnya kemudian.

Nova Widhianto/Liliyana Natsir sebagai favorit teratas akhirnya menjadi satu-staunya tumpuan public Istora setelah keduanya memetik kemenangan atas duet Korea, Yoo Yeon Seong/Kim Min Jung, 21-17, 21-17. Namun untuk meraih tiket semifinal bukanlah hal yang mudah bagi peraih juara dunia 2005 dan 2007 ini. Zheng Bo/Ma Jin yang pekan lalu menghentikan duet Lee Hyo Jung/Lee Yong Dae di partai semifinal Singapore Open SS akan menjadi jalan terjal mereka berikutnya.

Kejutan terbesar di nomor ini adalah tumbangnya unggulan ke-8, Sudket/Saralee atas pasangan gado-gado Inggris-Skotlandia, Robert Blair/Imogen Bankier. Setelah bersitegang selama hampir 1 jam, Robert/Imogen akhirnya unggul 21-19, 11-21, 21-11. Selain itu dua tunggal Eropa yang juga ikut melaju ke 8 besar adalah dua pasangan Denmark, Thomas Laybourn/Kamilla Rytter Juhl (4) dan Joachim Fischer/Christinna Pedersen (7). Keduanya melibas dua wakil Asia, Mohd Razif/Woon Khe Wei 21-13, 21-19 dan Ko Sung Hyun/Ha Jung Eun 21-13, 21-16.

Nasib baik rupanya masih menaungi kubu merah putih di sektor ganda putra. Nomor yang selalu menjadi kebanggaan Indonesia ini berhasil meloloskan 3 wakilnya ke babak perempatfinal. Duet Markis Kido/Hendra Setiawan yang sempat dibuat ketar ketir saat menghadapi hijarahan Indonesia yang berbendera Singapura, Hendri Kurniawan/Hendra Wijaya akhirnya melaju ke babak selanjurnya setelah mendapatkan ‘keajaiban’ di set ketiga. Menang telak 21-11 di set pertama ternyata tidak lantas memuluskan jalan KiNdra di set kedua. Duo Hendri/Hendra yang menekan KiNdra sejak awal set kedua membuat pasangan Indonesia tak mampu bangkit dari tekanan dan banyak melakukan kesalahan sendiri. Pertahanan yang sempurna dari pasangan Singapura membuatnya terus ‘leading’ dari awal hingga akhir set, 21-18.

Kekalahan KiNdra seolah-olah suedah berada di depan mata dan ketegangan terlihat jelas di wajah keduanya ketika mereka kembali tertinggal jauh 4-11 saat jeda interval, 6-14 dan mendekati angka kritis 10-15. Namun justru di titik inilah KiNdra mendapatkan kesempatan kedua untuk berbalik menang dan mengalahkan pasangan kakak beradik tersebut. Berkat dukungan dari segenap pengunjung Istora, perlahan KiNdra mampu bangkit dan balik menekan Hendri/Hendra meskipun tandem negeri singa tersebut memiliki pertahanan yang luar biasa. Perlahan namun pasti, KiNdra mengumpulkan poin demi poin dari bola-bola serang dan kesalahan sendiri pasangan Singapura hingga kedudukan 16-18. Hendri/Hendra yang tersusul dalam perolehan poin justru akhirnya banyak melakukan ‘unforced error’ dari bola ‘out’ atau menyangkut di net dan harus mengalami kekalahan menyesakkan setelah KiNdra mengoleksi 5 poin beruntun dengan menutup set ini, 21-18.

“Di set kedua lawan sudah menemukan irama permainanya dan saya banyak mati sendiri,” kata Hendra usai pertandingan. “Saat mereka bermain baik, kami malah tidak siap”, lanjutnya kemudian. Sementara Kido mengaku sempat terpikir akan kalah dalam laga itu. “Pola pertahanan saya sangat jelek sehingga kerap menjadi sasaran serangan lawan”, jelas Kido. “Beruntung kami bisa mengejar karena dukungan penonton tentunya,” lanjutnya.“Dukungan penonton mampu menjaga semangat saya dan itu terlihat dari smash-smash saya,” tambahnya.

Langkah KiNdra juga diikuti oleh dua wakil non Pelatnas, Luluk/Joko dan Alvent/Hendra. Luluk/Joko di luar dugaan mampu menghempas juara Singapore Open SS 2009, Anthony Clark/Nathan Robertson 21-16, 24-22. Sedangkan VeNdra harus berjibaku 3 set untuk meredam ketangguhan Hwang Ji Man/Shin Baek Cheol 20-22, 21-17, 21-11. Luluk/Joko sendiri merasa terkejut dengan raihan prestasi keduanya. Selain harus mengurusi keperluan sendiri, karena tidak memiliki manajer, pasangan ini juga tak banyak melakukan persiapan. “Kami sebenarnya agak terkejut karena berhasil lolos karena kami hanya persiapan satu bulan dan itu sebenarnya sangat kurang,” jelas Joko. Bahkan beberapa waktu yang lalu, keduanya telat untuk mendaftarkan diri ke turnaman Philipina Open. “Karena semuanya sendiri, kami jadi telat daftar kesana”, tandas Joko kemudian.

Dua ganda Indonesia lainnya, Anggun/Rendra dan Rian/Yonathan sayangnya gagal mengikuti langkah senior mereka ke babak selanjutnya. ARen yang sempat menyajikan perlawanan sengit di set kedua akhirnya harus mengakui kesolidan duo Amerika, Tony Gunawan/Howard Bach, 8-21, 22-20, 15-21 sedangkan RiYo masih sulit untuk mengimbangi permainan taktis peraih perak Olimpiade Beijing 2008, Fu Haifeng/Cai Yun (5) dan harus menyerah 14-21, 11-21.

Wakil tirai bambu lainnya, Guo Zhendong/Xu Chen juga sempat memberikan perlawanan sengit kepada unggulan ke-3 asal Malaysia, Koo Kien Ket/Tan Boon Heong. Sempat unggul 21-16 di set pertama, keduanya gagal meredam bola-bola serag Koo/Tan dan tertinggal 14-21 di set kedua. Meskipun Koo/Tan mampu menguasai jalannya pertandingan di set ketiga, tandem terbaik negeri jiran tersebut harus berjuang maksimal karena beberapa kali perolehan angka mereka berhasil di susul oleh Guo/Xu. Setelah sempat tersamakan di titik 19 dan 20, Koo/Tan akhirnya mmapu menyudahi set ini lebih dulu 22-20.

Sektor yang paling kontras dengan hasil di tahun sebelumnya adalah ganda putri. Tahun 2008, Vita/Lily mampu mepersembahkan gelar untuk Indonesia namun pada kali ini, tidak ada satu pasang pemainpun yang lolos mampu meloloskan diri ke babak delapan besar. Andalan merah putih yang menuai kejutan pekan sebelumnya di turnamen Singapore Open SS, Grace/Nitya, kali ini harus puas tersingkir lebih awal. Sempat memukau dengan menekan tandem China, Cheng Shu/Zhao Yunlei di set pertama 23-21, permainan keduanya tak lagi berkembang di dua set berikutnya. Meski reli-reli panjang sempat terjadi, GraNi akhirnya harus mengakui kegigihan unggulan kedua tersebut 11-21, 8-21.

Hasil kurang memuaskan juga diraih pasangan non pelatnas, Nadya Melati/Natalia Poulokan. Ditantang oleh ‘ganda coba-coba’ Petya Nedelcheva/Anastasia Russkikh, NaNa harus tumbang dua set langsung 17-21, 20-22. Ikut gugur bersama mereka adalah duet Anneke/Annisa yang dikalahkan unggulan ke-3, Chien Yu Chin/Cheng Wen Hsing 12-21, 18-21 setelah sempat unggul di pertengahan set kedua.

Selain Cheng/Zhao, negeri panda juga menempatkan unggulan ke-6, Zhang Yawen/Zhao Tingting ke babak 8 besar. Selaras dengan China, Korea juga masih bisa menggantungkan harapan mereka pada Ha Jung Eun/Kim Min Jung dan Lee Kyung Won/Lee Hyo Jung (7). Ha/Kim mencatat kemenangan atas duet Jerman-Kanada, Nicole Grether/Charmaine Reid 21-19, 21-9 sedangkan duo Lee harus bertarung rubber set untuk menekuk Pan Pan/Tian Qing 21-19, 16-21, 21-16 (FEY).

www.bulutangkismania.wordpress.com

June 18, 2009

Results Day 2 Indonesia SS ’09 : Kalah Mental, Langkah Terjungkal

Filed under: Turnamen — bulutangkismania @ 10:03 am

Memasuki hari kedua perhelatan turnamen bulutangkis terakbar di Indonesia, kejutan demi kejutan pun sudah harus dituai oleh beberapa nama pemain unggulan. Sindrom poin kritis pun menjadi isu terhangat yang harus disiagai oleh setiap pemain dengan ketegaran dan ketenangan mental jika ingin meraih hasil maksimal. Tidak hanya Zhou Mi yang baru saja mengantongi gelar Super Series di Singapura pada pekan lalu harus terjungkal di angka kritis, sederet pemain tuan rumah pun harus menelan pil pahit karena karena gagal dalam beradu mental.

Harus diakui bahwa faktor mental mempunyai pengaruh yang sangat signifikan dalam setiap pertandingan. Tidak hanya saat menghadapi poin-poin akhir, menjaga stabilisasi mental dalam semangat dan motivasi bertanding juga harus mampu diwujudkan oleh setiap pemain dari awal hingga akhir pertandingan. Berlaga di kandang sendiri tidak lantas membuat mental para atlet Indonesia menjadi ‘baja’ karena dukungan segenap pengunjung Istora. Salah salah, dukungan dan supporter penonton bisa menjadi boomerang terampuh yang membuat suasana hati semakin kisruh. “Ada positif dan negatifnya, mas” ungkap Sony Dwi Kuncoro saat diminta pendapatnya mengenai dukungan dari publik Istora.

Tumbangnya unggulan pertama asal Hongkong, Zhou Mi dari dara muda 18 tahun asal negeri sakura, Sayaka Sato mengawali kejutan babak pertama turnamen ini. Sato yang baru saja mengawali karirnya sebagai salah satu anggota tim nasional Jepang di awal tahun ini tampil maksimal dengan minim kesalahan sendiri dan agresif dalam menyerang. Zhou Mi yang tidak mampu beradaptasi dengan cepat di lapangan tertinggal 11-21 di set pertama. Sato sempat mengendorkan serangannya di set kedua sebaliknya Zhou Mi sudah berhasil mengatur ritme permainannya dan merebut set ini 21-16. Di set ketiga, kejar mengejar angka yang cukup seru berakhir dititik kritis. Beberapa antisipasi yang salah dari Zhou Mi di zona kritis akhirnya menutup set ini untuk Sato 21-19.

Di lapangan yang berbeda, andalan Indonesia yang menjadi runner up turnamen ini setahun yang lalu, Maria Kristin juga harus mengalami nasib serupa. Banyaknya kesalahan sendiri yang dibuat peraih perunggu Olimpiade Beijing ini menutup set pertama dengan kekalahan 17-21 atas tunggal China, Xie Xingfang. Di set kedua, pola permainan Maria mampu berkembang dan mengimbangi perolehan angka Xie namun menginjak saat angka kritis 19-19, beberapa ‘unforced error’ Maria akhirnya mendatangkan poin demi poin bagi peraih perak Olimpiade Beijing 2008 tersebut. Meski sempat memaksakan ‘deuce’ di angka 20 dan 21, Maria akhirnya tumbang 21-23.

”Set pertama tadi banyak buang poin”, kata Maria. Di set kedua Maria sebenarnya sudah bermain dengan tepat. ”Tapi di poin-poin akhir salah strategi, harusnya melakukan servis pendek, malah diangkat jadinya kita kena serang”, sambungnya dengan nada kecewa. Dari dua kali pertemuannya dengan Xingfang, Maria belum pernah memenangkannya. ”Saya ingin mengalahkannya, mungkin lain kali”, jawab Maria optimis.

Xie Xingfang sendiri mengaku cukup beruntung bisa memenangkan pertandingan. “Cukup ketat, tadi saya tidak terlalu bagus dalam kecepatan, untungnya bisa menang,” jelas Xingfang. Saat ditanya mengenai publik Istora yang mendukung penuh Maria, Xingfang mengaku tidak terpengaruh. ”Saya sudah terbiasa main di sini dengan situasi seperti itu”, paparnya. ”Mungkin dia mendapat tekanan”, tandas Xingfang saat diatanya mengenai penampilan Maria yang menurutnya kali ini banyak melakukan kesalahan sendiri.

Unggulan lainnya yang gagal melenggang ke 16 besar adalah tunggal Perancis, Pi Hongyan (5). Menghadapi tunggal terbaik PB Djarum, Maria Febe, Pi gagal mengulang kesuksesannya setahun yang lalu saat berhasil menundukkan Febe di babak pertama. Hampir dalam tempo 1 jam, Febe memumpuskan harapan Pi 24-22, 6-21, 21-15. Kekalahan ini merupakan kali kedua dalam 2 minggu terakhir dimana Pi harus berkemas pulang lebih awal di laga perdananya. Langkah Febe juga diikuti oleh wakil Pelatnas lainnya, Adriyanti Firdasari yang melibas hijarahan pemain China lainnya, Yao Jie, 21-14, 21-16.

Andalan Djarum lainnya, Maria Elfira yang juga ditantang oleh mantan pemain China, Wang Chen (4) sayangnya gagal mengikuti langkah Febe ke babak kedua setelah takluk 12-21, 15-21. Wang akhirnya menjadi satu-satunya wakil Hongkong yang tersisa di sektor putri setelah rekannya Yip Pui Yin gagal mengatasi wakil Jerman, Juliane Schenk 14-21, 16-21. Dua pemain muda Kim Moon Hi dan Porntip Buranaprasertsuk juga membuak prestasi besar dengan menghentikan laju para pemain senior, Wong Mew Choo dan Xing Aiying. Kim hanya membutuhkan waktu sekitar setengah jam untuk membungkam Mew Choo 21-18, 21-17 sedangkan Porntip menjegal Xing 21-13, 21-16

Di sektor tunggal putra masih belum terjadi kejutan yang berarti meskipun beberapa unggulan mendapat perlawanan yang cukup ketat dari para pesaingnya. Beberapa diantaranya juga harus melewati rubber game sebelum akhirnya memenangkan pertandingan. Simon Santoso (8) yang ditantang oleh jagoan nomor 3 Denmark, Jan O Jorgensen harus berjuang 3 set sebelum memetik kemenangan 16-21, 21-8, 21-19. Beruntung di akhir set ke-3 Simon mampu mengatur mental untuk bermain lebih sabar dan tidak terpicu emosinya. Andre Kurniawan Tedjono yang menantang kekasih dari Xie Xingfang, Lin Dan (1) rupanya harus bernasib sama dengan Maria Kristin yang gagal di poin-poin kritis set kedua. Tertinggal 13-21 di awal set, Andre yang mendapat dukungan penuh dari public Istora tak mampu meredam sindrom poin kritis di set kedua dan kalah menyesakkan 20-22.

Penonton yang sempat getar getir saat menyaksikan Sony Dwi Kuncoro (4) kalah 13-21 di set kedua setelah menang 21-15 di set pertama akhirnya bisa bernafas dengan lega ketiga Sony mampu keluar dari tekanan di set ke-3 dan berbalik unggul untuk merebut set ini 21-18. Pebulutangkis flamboyant, Taufik Hidayat yang sangat ditunggu-tunggu aksinya oleh para penonton akhirnya mampu bermain maksimal dengan memupuskan harapan tunggal Inggris, Andrew Smith 21-10, 21-15.

Pertikaian mental antar pemain semakin terlihat jelas pada partai Muhammad Rijal/Debby Susanto menghadapi runner up All England 2009, Ko Sung Hyun/Ha Jung Eun. Unggul 21-18 di set pertama, Rijal/Debby nyaris mengakhiri set kedua setelah unggul 20-17 terelebih dulu. Sindrom angka kritis untuk yang kesekian kalinya akhirnya mampu memupuskan harapan duo asal Djarum ini 21-23. Degenerasi mental keduanya semakin terlihat di set ketiga ketika mereka tak mampu keluar dari tekanan dan seringkali menjadi sasaran serang dari pasangan Korea. Tidak mampu mempertahankan momentum, Rijal/Debby akhirnya menyerah 21-16.

Flandy Limpele/Anastasia Russkikh yang membuka laga awal babak pertama rupanya masih kalah solid dari pasangan Korea, Yoo Yeon Seong/Kim Min Jung. Sempat menang 21-18 di set kedua, semifinalis turnamen Korea SS 2009 ini akhirnya harus mengakui ketangguhan Yoo/Kim 18-21, 16-21 di dua set berikutnya. Hasil berbeda justru diraih oleh mantan pasangan Flandy, Vita Marissa. Vita yang kali ini menggandeng Hendra Aprida Gunawan menghnetikan laju wakil Malaysia, Mohd Fairuz/Wong Pei Tty 21-19, 21-16. Duo Polandia yang sempat menjadi buah bibir ketika menekuk pasangan China, Xu Chen/Zhao Yunlei kali ini justru gagal mengatasi tandem Korea, Han Sang Hoon/Jang Ye Na dan menyerah 25-23, 18-21, 15-21.

Dua andalan Indonesia yang mewakili Pelatnas, Fran Kurniawan/Pia Zebadiah dan Nova Widhianto/Liliyana Natsir juga mencatat kemenangan atas lawan-lawannya. Fran/Pia menang mudah atas duta Belanda, Ruud Bosch/Paulien Van Dooremalen 21-8, 21-15 sedangkan NoLyn yang sempat mendapat perlawanan ketat di awal set pertama akhirnya mampu memenangkan duel mental 22-20 dan 21-13. Langkah kedua pasangan ini tidak mampu diikuti oleh wakil Pelatnas lainnya, Devin/Lita. Ditantang oleh peringkat 1 Eropa, Thomas Laybourn/Kamilla Rytter Juhl, DevTa akhirnya bertekuk 21-14, 9-21, 10-21.

Kekalahan terbanyak dari kubu Indonesia selain teralami di sektor tunggal putri juga tersaji di sektor ganda putra. Unggulan ke-7, Bona/Ahsan yang sempat bermain taktis di set pertama saat menjamu Anthony/Nathan dengan mencatat kemenangan 21-15, tidak berhasil mempertahankan momentum kemenangan mereka dan kandas 16-21, 10-21 di dua set berikutnya. Kekalahan ini semakin menambah daftar kekalahan mereka atas duet fenomenal asal Inggris tersebut. Mengikuti jejak BoAh adalah duet Edo/Lingga yang gagal mengatasi unggulan ke-5, Fu Haifeng/Cai Yun 14-21, 6-21 serta Wifqi/Afiat yang berhasil ditundukkan oleh kakak beradik Singapura, Hendri/Hendra 14-21, 21-16, 13-21.

Di babak kedua, Hendri/Hendra kembali akan ditantang oleh unggulan teratas, Markis/Hendra yang menghempas Michael Fuchs/Ingo Kindervater 21-10, 21-14. Tandem Pelatnas lainnya, Rian/Yonathan juga berhasil menundukkan utusan Jerman lainnya, Kristof Hopp/Johanes Schoettler 21-17, 21-19.

Selain para pemain Pelatnas, merah putih juga meloloskan tiga wakil lainnya di nomor ini. Runner up turnamen Malaysia SS 2009, Alvent/Hendra kembali membuat gebrakan dengan menyingkirkan andalan Malaysia, Choong tan Fook/Lee Wan Wah (8) setelah sempat tertinggal 16-21 di awal set pertama dan paruh awal set kedua. Namun berkat kegigihan motivasi keduanya, VenDra akhinya mampu bangkit dan merebut dua set berikutnya 21-18, 21-17. Menyusul langkah mereka adalah Luluk/Joko yang melibas semifinalis Singapore Open SS, Chen Hong Ling/Lin Yu Lang 21-11, 21-18 dan Anggun/Rendra yang menekuk duo negeri kincir, Ruud Bosch/Keon Ridder 21-13, 21-15.

Runner up turnamen Singapore SS 2009, Grace/Nitya kembali mendapat kesempatan untuk menantang peringkat tertinggi ganda China, Cheng Shu/Zhao Yunlei setelah berhasil mematahkan perlawanan kompatriotnya, Pia/Debby 21-14, 21-15. Grace mengaku lebih siap dan optimis menantang Cheng/Zhao karena skor pertandingan yang berimbang dari keduanya. Bahkan di pertemuan terakhir pada turnamen Denmark SS 2009, GraNi mampu membuat kejutan dengan menumbangkan keduanya di babak kedua, 21-15, 21-16. Dengan bercermin pada prestasi mereka di turnamen sebelumnya dan mundurnya Shendy/Meli (8) maka GraNi dipastikan akan menjadi tumpuan harapan Indonesia di sektor ini.

Di laga sebelumnya, Indonesia juga sudah melolsokan dua wakilnya ke babak 16 besar. Duet Anneke/Annisa yang minim jam terbang ternyata di luar dugaan mampu menaklukkan jagoan Malaysia, Ng Hui Lin/Woon Khe Wei 21-14, 21-15. Sedangkan Nadya Melati/Natalia Poulokan melumpuhkan jagoan Inggris Jenny/Gabby setelah melewati rubber set 21-13, 18-21, 21-18. Jo Novita yang kembali berduet bersama Rani Mundiasti sepertinya kurang mendapat porsi latihan yang cukup selama di Jakarta setelah sempat hijarh ke Kanada untuk menjinakkan pasangan gado-gado, Imogen Bankier/Donna Kellogg. Hanya dalam tempo kurang dari 30 menit, keduanya menyerah 12-21, 18-21 (FEY).

www.bulutangkismania.wordpress.com

June 17, 2009

Results Day 1 Indonesia SS ’09 : Ganda Berjaya, Tunggal Kalah Mental

Filed under: Turnamen — bulutangkismania @ 6:50 am

Ketatnya aroma persaingan turnamen Djarum Indonesia Open SS 2009 sudah mulai dirasakan oleh para pemain khususnya wakil dari sang tuan rumah. Peningkatan kualitas itu teruji setelah pada pergelaran hari pertama kemarin (16/6) para pejuang Indonesia yang tahun lalu dengan mudah mendapatkan ‘free ticket’ ke babak utama kali ini harus berjibaku di babak kualifikasi. Minimnya pengalaman bertanding membuat sebagian besar diantaranya harus berkemas lebih awal.

Menutup laga di hari perdana turnamen yang mengambil tema ‘Jadilah Saksi Kedahsyatannya’ ini Indonesia sudah harus kehilangan sebagian besar wakilnya di babak kualifikasi. Minimnya jam terbang para pemain level dua Pelanas dan mantan pemain Pelatnas ini tidak hanya membuat peringkat dan mental mereka melorot tapi juga harus rela untuk merangkak dari babak kualifikasi. Fransiska Ratnasari yang kali ini berada di bawah bendera Djarum, tahun lalu menyajikan laga terbaiknya saat menantang Pia Zebadiah kali ini harus mengakui keunggulan tunggal Jepang Sayaka Sato setelah bermain melelahkan selama 49 menit. Sempat trtinggal 16-21 di set pertama, Nana mampu bangkit dan memaksakan rubber set 21-18. Sayangnya di detik-detik terakhir greget untuk menang tiba-tiba menciut dan kalah menyesakkan 19-21.

Aprilia Yuswandari pun ikut menjadi ‘korban’ dari apiknya permainan Sayaka. Setelah mengalahkan pemain Tangkas, Melicia Kurniawan 15-21, 14-21 di pertandingan pembuka, April harus takluk 10-21, 21-17, 12-21 di tangan Sayaka. Unggulan kualifikasi lainnya, Kim Moon Hi (3) juga harus memeras keringat lebih banyak untuk melibas bintang Singapura Zhang Beiwen 21-15, 18-21, 21-12 dan pemain muda Pelatnas Linda Weni Fanetri 15-21, 21-13, 21-16. Satu-satunya srikandi Indonesia yang tersisa adalah Rizky Amelia Pradipta yang diluar dugaan mampu menjungkalkan pemain berpengalaman asal Malaysia, Anita Raj Kaur 19-21, 21-18, 21-15. Di laga babak 32 besar, kematangan Amel akan ditantang oleh tunggal nomor 3 Belanda, Rachel Van Cutsen.

Hasil yang tak jauh berbeda juga diaraih oleh sederet pemain tunggal putra. Tommy Sugiarto yang tahun lalu melenggang mudah ke babak utama, kali ini harus kalah dua set dari tunggal utama Ceko, Petr Koukal 19-21, 13-21. Nasib serupa juga dialami oleh Yunus Alamsyah dan Hayom Rumbaka yang harus rontok di laga awal mereka. Alam yang pada tahun lalu di bawah asuhan Hendrawan mampu tampil memukau hingga babak kedua, kali ini harus kalah kelas dari tunggal Kanada, Andrew Dabeka 11-21, 21-16, 14-21. Sedangkan Hayom tak mampu membendung agresifnya permainan tunggal nomor 4 Denmark, Hans Kristian Vittinghus di menit-menit akhir set ketiga. Setelah kalah 16-21 di set pertama, Hayom mampu memaksakan rubber set dan unggul 21-15 di set kedua. Di game penentua, Hayom justru harus tertinggal 19-21.

Kejutan terbesar di sektor tunggal adalah tumbangnya bintang India, Anup Sridhar (4) atas pemain masa depan Thailand, Tanongsak Saensomboonsuk 21-23, 21-12, 11-21. Padahal pada minggu yang lalu, Anup mampu melaju hingga 8 besar dengan membuat ‘big surprise’ sat menghempas jagoan Denmark, Peter Gade (2) dalam laga 3 set.

Bergugurannya wakil Indonesia di sektor tunggal untungnya tidak diikuti oleh nomor ganda. Tantowi/Richi yang menempati unggulan ke-3 kualifikasi mencatat kemenangan atas ganda berpengalaman Taiwan, Lin Yu Lang/Chang Hsin Yun 21-16, 21-14. Sayangnya di laga kedua mereka harus dikalahkan oleh kompatriotnya, Fran Kurniawan/Pia Zebadiah 11-21, 17-21. Menyusul langkah Fran/Pia adalah kolaborasi Muhammad Rijal/Debby Susanto yang memetik dua kemenangan atas wakil Korea, Kim Ki Jung/Kim Mi Young 21-11, 21-13 dan ganda Amerika, Howard Bach/Mona Santoso 17-21, 21-18, 21-12.

Duet fenomenal Malaysia, Mohd Fairuz/Wong Pei Tty kembali mencatat kemajuan pesat atas kolabrasi keduanya. Setelah menundukkan pasangan gado-gado Adrian Liu/Jo Novita, 21-10, 21-7 keduanya berhasil membungkam tandem berpengalaman asal Taiwan, Lee Sheng Mu/Chien Yu Chin melalui pertarungan mendebarkan 21-12, 12-21, 24-22.

Indonesia juga berhasil melosokan satu wakilnya di sektor ganda putra ke papan 32 besar. Setelah lepas dari Pelantas, Rendra Wijaya berhasil menggandeng Anggun Nugroho dan mencetak kemenangan di dua laga perdana mereka. Ditantang oleh wakil Belanda Eric Pang/Dicky Palyama, keduanya menang mudah 21-11, 21-16. Namun saat menghadapi wakil Austria, Jurgen Koch/Peter Zauner, Anggun/Rendra harus berjuang maksimal 17-21, 21-12, 21-19 untuk melosokan diri ke babak utama.

Langkah ARen sayangnya tidak mampu diikuti oleh duo Indonesia lainnya, Indra Viki/Ricky Widianto. Duo kolaborasi yang terbentuk setelah Indra tidak lagi diberi kesempatan untuk menguni Pelatnas sedangkan Ricky yang selama ini membela Singapura terbentur oleh masalah kewarganegaraan. Menghadapi satu-satunya wakil ganda putra Korea yang mampu bertahan hingga babak 16 besar Singapura Open SS ’09, keduanya menyerah 12-21, 19-21. Hasil serupa juga diraih oleh pasangan Indonesia-Kanada Gideon Markus/Adrian Liu yang ditundukkan oleh pemain nomor campuran India, Diju Valiyaveetil yang kali ini menyanding Tim Dettmann asal Jerman 15-21, 18-21.

Tony Gunawan yang bertarung di bawah bendera Amerika rupanya tidak main-main dengan niatnya untuk membangkitkan kembali kejayaan badminton di negeri Paman Sam tersebut. Bersama partner lamanya yang berdarah Vietnam, Howard Bach, keduanya membukukan diri ke babak utama setelah berhasil mengencewakan quarterfinalis Singapore Open SS 2009, Gan Teik Chai/Tan Bin Shen (4), 21-19, 21-15. Di laga sebelumnya, Tony/Howard juga membuat prestasi besar dengan mengandaskan jagoan Thailand, Sudket Prapakamol/Songphon Anugritayawon 24-26, 21-18, 21-17.

www.bulutangkismania.wordpress.com

June 15, 2009

FINAL RESULTS Singapore SS ’09 : Pulang Tanpa Gelar, Tradisi Juara Buyar

Filed under: Turnamen — bulutangkismania @ 8:26 am

Merasa puas atau tidak, Indonesia tahun ini harus pulang tanpa gelar di gelaran Super Series kelima tahun 2009. Dengan hasil ini, Indonesia gagal mempertahankan tradisi gelar juara yang sudah terpelihara sejak tahun 2004 hingga 2008.

Sabetan raket Luvent dan NoLyn di tahun 2004 mampu mengantongi dua gelar bagi tim Indonesia. Setahun setelahnya, giliran Taufik Hidayat dan Candra/Sigit yang menumbang 2 mahkota juara. Berturut-turut selama 3 tahun dari 2006 hingga 2008, ganda campuran selalu berhasil menyelamatkan tradisi gelar yang diraih oleh NoLyn, FlaVi dan akhirnya setahun yang lalu NoLyn kembali berhasil merebut gelar mereka kembali. Meskipun raihan dua gelar runner up di tahun ini tidak lebih baik dari catatan para duta merah putih di 5 tahun sebelumnya, namun paling tidak ada bekal yang dapat di evaluasi oleh para atlet, pelatih dan insan terkait guna tampil lebih maksimal di turnamen berikutnya.

Ganda Putri, Tumbang Dengan Acungan Jempol

Pertarungan antara duo srikandi Indonesia, Grace/Nitya menghadapi unggulan ke-5, Zhang Yawen/Zhao Tingting membuka perseteruan babak final. Reli-reli panjang khas ganda putri akhirnya membuka set ini dengan keunggulan 4-2. Meskipun GraNi memiliki perkembangan pesat dari sisi pertahanan dan variasi dalam megembalikan bola, beberapa kesalahan sendiri yang masih dilakukan oleh tandem kedua Pelatnas ini membuat ganda China berbalik unggul 6-4 dan 10-6. Bola tanggung dari Grace yang diamnfaatkan dengan baik oleh Zhao, pengembalian bola Nitya yang melebar dan olahan bola Zhao Tingting di area baseline mengubah kedudukan menjadi 13-8 untuk Zhang/Zhao.

Bola tanggung Zhao Tingting dan dua kesalahan beruntun dari Zhang Yawen sempat memperkecil selisih poin menjadi 14-11 namun pengembalian Nitya yang melebar, bola tangggung Grace yang ditutup dengan smash Zhao Tingting, serta netting tipis Grace yang tidak melewati net akhirnya kembali membuat Zheng/Gao unggul 18-12. Pengembalian Zhao Tingting yang melebar dan Zhang Yawen yang tidak mampu mengembalikan bola dengan sempurna menambah angka bagi GraNi namun Nitya yang tidak siap menerima smash gagal mengembalikan ‘placing’ Zhao di depan net, 14-19. Jumping smash Grace yang gagal melewati net dan bola silang Zhao Tingting di area kosong akhirnya menutup set ini untuk kubu China 21-14.

Di set kedua, GraNi kembali mampu meladeni permainan reli pasangan China. Pukulan-pukulan sulit keduanya mampu membuat Zhang/Zhao kelimpungan dalam mengejar bola. Angka demi angka yang dikoleksi oleh pasangan China harus diraih melewati permainan reli panjang yang melelahkan walaupun di akhir reli ganda Indonesia akhirnya melakukan kesalahan sendiri. Duet negeri panda kembali unggul 6-2 dan 8-3 ketika ‘placing’ Zhao Tingting dan serobotannya gagal dikembalikan oleh GraNi. Tiga kesalahan sendiri yang dilakukan oleh Nitya yang gagal mengambalikan bola setelah terlibat reli-reli panjang juga makin membuat kejayaan bagi Zhang/Zhao.

GraNi sempat mendapatkan ‘second winning’ 8-7 ketika penempatan bola-bola Grace di area kosong sekitar baseline dan di depan net tidak mampu dibalikkan oleh duo China. Namun selisih poin kembali melebar 14-9 dengan penempatan bola-bola Zhao Tingting di depan net dan variasi bola Nitya yang terlalu melebar. Smash beruntun Nitya, servis Grace yang gagal dan smash Yawen yang gagal melewati net mengubah kedudukan menjadi 15-11. Di titik inilah Zhang/Zhao memaku pasangan merah putih dengan 4 angka beriring yang mengantarkan mereka kepada angka kritis 19-11 yang dihasilkan dari smash silang Nitya yang melebar, ‘placing di depan net Zhao Tingting dan bola potong Zhang Yawen.

Indonesia kembali menambah dua angka ketika Zhao Tingting gagal mengembalikan bola di depan net serta smash Grace yang dikembalikan melebar oleh Zhao namun bola tanggung Nitya yang dipotong oleh Zhao di depan net mengantarkan pasangan tirai bambu pada ‘match point’ 20-13. Permainan netting yang dikembalikan melebar oleh Grace akhirnya memastikan kemenangan Yawen/Tingting 21-13 yang sekaligus merupakan gelar pertama bagi tim China.

Tunggal Putri, Zhou Mi Kukuhkan Tahta 1 Dunia

Partai kedua antara dua singa yang sudah malang melintang di event bulutangkis dunia menyajikan pertarungan ketat di set pertama dan kedua. Setelah terlibat saling mengejar angka dari awal set pertama hingga kedudukan setara di angka 5, Xie akhinya mampu unggul jauh 9-5 ketika drop shot silang dan penempatan Xingfang mampu membuahkan poin demi poin selain karena pengembalian backhand Zhou Mi yang gagal di depan net. Zhou Mia akhirnya mampu memperkecil gap poin 10-12 ketika drop shot silangnya gagal dikembalikan oleh Xingfang dan olahan bola Xie di depan net gagal menghasilkan poin.

Selisih dua angka antara kedua pemain ini berlanjut hingga kedudukan 13-11, 14-12 dan 15-13 dari hasil pukulan smash dan penempatan yang akurat. Gap 1 poin bahkan sempat terjadi hingga skor imbang 17-17 saat Zhou tampil lebih agresif dengan serangannya namun beberapa kali juga melakukan penegmbalian yang teralalu melebar. Tiga angka beruntun yang dikoleksi Zhou dari pengembalian Xingfang yang terlalu melebar saat melakukan ‘placing’ di depan net, penegmbalian Xingfang yang terlalu lemah di depan net, serta smashnya yang gagal melewat net, 20-17. Xingfang nyaris berhasil memaksakan ‘deuce’ ketika bola smash dan serobotan Xingfang hanya mampu dilihat begitu saja oleh Zhou Mi, 19-20. Tak mau menyia-nyiakan kesempatan di atas angin, Zhou akhirnya berinisiatif untuk menutup set ini dengan smash keras dari bola tanggung Xie yang mengambang di atas net, 21-19.

Ketatnya persaingan kedua pemain senior ini kembali tersaji di set kedua. Xingfang akhirnya berhasil mendahului perolehan poin meskipun kemudian mampu di susul oleh Zhou Mi. Selisih 1-2 poin sudah berlangsung dari awal set hingga jeda interval 11-9 dan 12-10 untuk Xie. Reli-reli panajang yang ditutup oleh drop shot tajam atau penempatan bola yang tak terjangkau menjadi senjata andalan kedua pemain ini untuk menghasilkan poin demi poin. Zhou sempat menyamakan kedudukan di titik 12 ketika smash return Xie gagal melewati net dan drop shot silang Zhou gagal dikembalikan oleh Xingfang.

Namun Xie seoleha-olah tak mau melepaskan set ini dan bermain ngotot untuk terus memimpin 14-12 dan 15-13 ketika masing-masing pemain mengoleksi poin dari kesalahan lawannya. Setelah gagal melakukan drop shot di depan net, Xingfang berhasil meluncur 18-14 dari bola potong Xie di depan net serta ‘unforced error’ dari Zhou. Namun Zhou kembali berhasil menyamakan angka di titik 18 dari smash keras Zhou Mi setelah reli-reli panjang dengan memanfaatkan bola tanggung Xingfang. Merebut 3 angka beruntun dari dorongan bola Xie ke area baseline, penempatan bola Zhou yang gagal melampaui net, serta smash Xingfang yang tidak dikembalikan sempurna oleh Zhou, Xingfang akhirnya memkasa rubber set 21-18.

Entah karena faktor stamina yang menurun setelah berjibaku dengan reli-reli panjang di dua set sebelumnya atau justru motivasi Xie yang sudah padam, pemain paling senior tim China tersebut langsung tertinggal 2-7 karena kesalahan sendiri yang gagal mengembalikan bola. Zhou Mi semakin jauh meluncur dan menggandakan skornya menjadi 14-5 ketika smash dan drop shot Xie berkali-kali melebar dari lapangan permainan setelah mendapat tekanan dari smash-smash silang Zhou yang cukup keras. Tiga poin dari smash Zhou dan dua kesalahan Xie yang ragu-ragu dalam mengambalikan bola mengantar Zhou pada angka kritis 17-6.

Bola-bola serobotan Xie dan penempatannya di area baseline sempat memperkecil gap Xingfang menjadi 9-19. Smash silang Xie kembali menambah 1 poin bagi peraih perak Olimpiade Beijing tersebut namun drop shot dan smash silang Zhou Mi akhirnya menutup set ini untuk memastikan gelar sekaligus tahtanya di peringkat satu dunia.

Ganda Putra, KiNdra Buyarkan Tradisi Juara

Setelah tumbangnya NoLyn di laga semifinal kemarin, peringkat teratas ganda putra, Markis/Hendra (1) untuk mempetahankan tradisi gelar juara di Singapore SS yang terus berlanjut dari tahun 2004 hingga 2008. Namun apa yang diharapkan ternyata jauh dari kenyataan yang terjadi di lapangan. Penampilan antiklimaks KiNdra setelah di babak semifinal menang mudah atas duo Denmark ternyata justru tak mampu membendung satu-satunya wakil Eropa yang tersisa, Anthony Clark/Nathan Robertson. Gejala kekalahan KiNdra sebenarnya sudah terlihat sejak awal set pertama ketika Kido yang seharusnya mampu menjadi ‘playmaker’ justru tak tampil dalam performa terbaiknya dan banyak melakukan kesalahan sendiri.

Gagal mengembalikan bola di depan net membuat tandem Indonesia tertinggal 2-5 dan 3-9. Kido tidak hanya gagal dalam melakukan serangan smash dan mengembalikan smash di depan net namun justru saat melakukan servis yang seharusnya menjadi modal utama yang harus dimiliki oleh seorang pemain. Penampilan KiNdra yang tidak ‘in’ dan jauh dari yang diharapkan membuat setiap pukulan yang merka lakukan menjadi serba salah dan selalu mebuahkan poin bagi lawan. Kesempatan ini dimanfaatkan dengan baik oleh Nathan/Anthony untuk terus menekan dan meluncur dengan perolehan angka 12-6 dan 17-9.

Sempat menambah dua angka dari bola tanggung yang diselesaikan dengan baik oleh Kido, adu drive yang ditutup oleh kesalahan sendiri dari Nathan Robertson dan smash Hednra di area baseline mengubah kedudukan menjadi 12-18. Untuk kesekian kalinya, penempatan Nathan di area baseline yang tidak terbendung, smash Nathan yang dibuang keluar oleh Hendra dan backhand Markis yang gagal melampaui net akhirnya menutup set ini dengan mudah untuk duo Inggris, 21-12.

Duo KiNdra tidak hanya kehilangan hubungan yang solid dalam setiap pukulannya namun pertahanan keduanya yang selalu sulit untuk ditembus kali ini justru tak berkutik menghadapi serangan beruntun dari pasangan Inggris. Sebaliknya, Nathan tampil brilian dan tidak menyiakan setiap kesempatan untuk melakukan serangan dan menekan pasangan Indonesia. Berharap akan mendapatkan perubahan dari permainan KiNdra di set kedua ternyata justru mbuahkan harapan kosong. Kekecewaan publik pendukung Indonesia yang tetap setia memberi semangat kepada peraih emas Olimpiade Beijing tersebut akhirnya harus kembali terurai ketika Kindra kembali tertinngal 1-7 dan 2-10 di paruh awal set.

Bukan hanya Kido yang mengalami degradasi permainan, Hendra pun akhirnya ikut tertular dan mulai melakukan banyak kesalahan sendiri. Duet Anthony/Nathan terus meluncur dengan skor 14-5, 17-6 dan 19-7. Bahkan tidak hanya Anthony saja yang berhasil mengontrol pertandingan di set ini, Anthony Clark pun sudah meningkatkan kepercayaan dirinya untuk terus menekan dengan smash dan penempatan bola-bolanya di bagian baseline. Penempatan bola Hendra yang membelah diantara kedua pasangan serta smash beruntun sempat menambah angka pasangan Indonesia 9-19 namun smash beruntun mengantarkan Inggris pada ‘match point’ 20-9. Kesalahan penegembalian Anthony di depan net dan serobotan Hendra di area baseline kembali mengubah kedudukan untuk merah putih namun untuk kesekian kalinya, servis Kido yang gagal melewati net akhirnya menutup set ini dan memastikan gelar perdana duo Inggris 21-11.

Ganda Campuran, Yawen Gagal Manfatkan Momentum

Pertarungan antara sesama wakil China tersaji di partai keempat antara unggulan ke-5, Zheng Bo/Ma Jin menghadapi Xie Zhongbo/Zhang Yawen (6). Harus diakui bahwa Yawen memiliki stamina yang luar biasa setelah bermain cukup memeras tenaga menghadapi duo srikandi Indonesia di laga pembuka namun tetap mampu bermain maksimal di dua set awal menghadapi Zheng/Ma. Dari awal set hingga kedudukan 8-8, kedua pasangan saling kejar mengejar dengan selisih 1 poin. Xie/Zhang akhirnya mampu unggul 12-8 dan 13-9 ketika beberapa penempatan bola keduanya gagal dikembalikan dengan baik oleh Zheng/Ma. Kesalahan sendiri dari Zheng/Ma juga memudahkan Xie/Zhang untuk terus meraih poin demi poin.

Tekanan beruntun Zheng Bo lewat smash-smash kerasnya dan penempatan bola akurat dari Ma Jin di depan net mengubah kedudukan menjadi 18-15 untuk Zheng/Ma di angka-angka kritis. Namun tak mau menyerah begitu saja, Xie/Zhang perlahan berhasil mengejar ketertinggalannya dan menyamakan kedudukan di angka 19. Penempatan bola Yawen di area baseline yang kosong dan smash Xie Zhongbo yang gagal dikembalikan oleh Ma Jin di depan net akhirnya menutup set ini untuk Xie/Zhang 21-19.

Di set kedua, Xie/Zhang kembali menunjukkan kedigjayaan mereka untuk unggul 8-1 dan 10-4 sebelum jeda interval ketika beberapa kali adu reli tidak mampu dengan sempurna dibalikkan oleh Zheng/Ma. Perlahan namun pasti, paska jeda interval Zheng/Ma berhasil memperkecil selisih poin menjadi 9-14 dan 12-15 dan akhirnya tersamakan di titik 15 ketika smash keras Zheng Bo dan serobotan Ma Jin berhasil mematahkan perlawanan Xie/Zhang. Saling memimpin dan selisih 1 poin kembali terjadi hingga skor 19 sama. Dua kesalahan sendiri Xie Zhongbo yang menyebabkan bola terlalu melebar akhirnya memaksakan rubber set untuk keunggulan Zheng/Ma 21-19.

Stamina dan konsentrasi yang menurun dari Xie/Zhang membuat keduanya banyak melakukan kesalahan sendiri di set ke-3. Zheng Bo yang terus meningkat kepercayaan dirinya setelah memenangkan duel kritis di set kedua terus menghujani tekanan bagi keduanya dengan smash-smash keras. Keduanya meluncur dari 7-3 menjadi 15-5 dan 17-6. Dengan sisa-sisa tenaga, Xie/Zhang mencoba untuk bangkit dan menysul 10-17 namun 3 angka beriring yang dikantongi oleh Zheng/Ma akhirnya mengantarkan keduanya pada ‘match point’ 20-10 dan menutup set ini 21-11.

Tungga Putra, Tak Ada Kesempatan Kedua

Keberuntungan ruapanya masih belum berpihak kepada tunggal Thailand, Boonsak Ponsana untuk mengulang raihan prestasi yang pernah dicapinya di turnamen ini dua tahun yang lalu. Ditantang oleh wakil China, Bao Chunlai, Boonsak akhirnya menyerah setelah melewati pertarungan rubber set. Di set pertama, Bao yang menguasai jalannya pertandingan sempat tersusul di angka 14 ketika telah berhasil memimpin 9-4 dan 12-7. Boonsak yang pada awalnya sulit untuk mengantisipasi olahan bola Bao di depan net dan beberapa kali melakukan kesalahan sendiri mampu tampil menekan dengan smash-smash dan drop shot yang ditempatkan di daerah tak terjangkau. Kematangan dan pengalaman Baolah yang akhirnya membuatnya kembali unggul 16-14, 19-16 dan menutup set ini 21-19.

Di set kedua, Bao tampil lebih agresif namun seringkali tidak sabar dalam melayani bola-bola Boonsak. Memanfatkan situasi ini, Boonsak mampu unggul 6-3 dan 11-8 saat jeda interval. Meski sempat terkejar dan tersamakan kedudukannya, Bao kembali tertinggal setelah beberapa kali melakukan kesalahan sendiri sedangkan sebaliknya Boonsak tampil ‘smart’ dalam strategi penempatan bola. Memimpin dengan 17-13 dan 20-14, tunggal terbaik negeri gajah putih tersebut akhirnya berhasil memaksakan rubber set 21-16.

Boonsak kembali berjaya menguasai paruh awal set ketiga dengan tampil menyerang namun tetap menggunakan strategi penempatan bola dan olahan bola di depan net/. Leading dengan 4-2, 7-3 dan 10-6, Boonsak mampu mengontrol jalannya pertandingan di sepanjang awal set ketiga ini. Namun karakter ulet pemain China kembali terjajal setelah jeda interval dimana Bao mampu merebut 9 angka beruntun dan mengubah kedudukan dari tertinggal 6-10 menjadi unggul 15-10. Memontum ini tidak disia-siakan oleh Bao untuk bangkit dan terus mempertahankan keunggulannya. Meskipun kedua pemain tampil maksimal dan minim dalam melakukan ‘unforced error’ Bao yang lebih agresif dan letih tepat dalam melakukan serangan-serangan kejutan melaju dengan skor 16-13 dan 17-14. Tiga angka beruntun yang dikoleksi Bao mengantarkannya pada match point 20-14. Boonsak sempat menambah 1 angka sebelum Bao menyelesaikan set ini lebih dulu 21-15 sekaligus mempersembahkan gelar ketiga bagi tim naga tersebut.

“Paling tidak kita lebih baik dari Malaysia, Denmark, dan Korea yang pulang tanpa gelar” ungkap salah seorang pecinta badminton Indonesia yang ikut memadati Singapore Indoor Stadium saat diminta untuk menanggapi raihan hasil tim Indonesia di turnamen Singapore SS 2009 yang baru saja usai dihelat. Dua gelar runner up dengan catatan yang berbeda berhasil di sumbang oleh dua wakil Indonesia yang bertarung di babak final. Meskipun ungkapan tersebut hanya sekedar pengobat kekecewaan atas penampilan para jagoan mereka namun merah putih harus tetap bangkit untuk menyongsong turnamen Super Series berikutnya yang akan digelar di Jakarta mulai selasa (17/6) ini.
www.bulutangkismania.wordpress.com

June 14, 2009

Results Semifinal Singapore SS ’09 : Korea Tergusur, GraNi dan KiNdra Obati Kekecewaan Indonesia

Filed under: Turnamen — bulutangkismania @ 9:13 am

Meskipun hanya segelintir para pendukung kubu Indonesia yang memadati Singapore Indoor Stadium untuk menyaksikan secara langsung aksi para pebulutangkis kelas dunia, teriakan khas IN-DO-NE-SIA sayup-sayup masih terdengar menyemangati atlet merah putih yang tengah berjibaku di tengah lapangan meskipun kalah jumlah dari supporter negeri bambu. Penampilan mengecewakan NoLyn di laga pembuka sempat menggurat kekecewaan di hari para pendukungnya namun motivasi kembali bangkit saat melihat dua wakil Indonesia lainnya mampu bermain maksimal dan meloloskan diri ke partai puncak.

Ganda Campuran, Sindrom Angka Kritis Hempaskan NoLyn

Meskipun telah memasuki babak semifinal, kejutan demi kejutan ternyata masih setia mengiri pertandingan para atlet dan kali ini menular kepada sektor ganda campuran. Dua unggulan teratas finalis Olimpiade Beijing 2008 dipaksa menyerah kepada dua pasangan China yang tampil lebih cemerlang. Meskipun mereka tampil di lapangan yang berbeda, namun keduanya sama-sama mencatatkan kegagalan untuk melaju ke babak final.

Tidak ditayangkannya partai pembuka di lapangan satu antara Nova/Lily (1) menghadapi duet China, Xie Zhongbo/Zhang Yawen (6) oleh stasiun televisi nasional sempat membuat para pecinta badminton tanah air merasa kecewa. Apalagi harus menerima kabar buruk di akhir pertandingan tentang kegagalan mereka. Meskipun lebih banyak bermain defensive di set pertama, NoLyn mampu memanfaatkan beberapa keteledoran Xie/Zhang dalam mengembalikan bola. Setelah perseteruan ketat di awal set, NoLyn akhirnya mampu terus memimpin 10-7 dan 11-8 saat jeda interval. Penempatan bola NoLyn yang sulit untuk diantisipasi membuat poin terus mengalir bagi kubu Indonesia meskipun dari beberapa tekanan yang dilancarkan oleh smash-smash keras Xie Zhongbo juga menghasilkan poin demi poin bagi kubu China.

Unggul 15-12, 18-15 dan 19-16 nyaris membuat mimpi NoLyn menjadi sempurna ketika skor berubah ke ‘match point’ 20-18. Namun beberapa ‘unforced error’ beruntun dari Nova di saat-saat yang paling kritis ini seperti smash yang terlalu melebar atau gagal melewati net tak disangka mengalir begitu mudah bagi Xie/Zhang untuk mengoleksi 4 angka beriringan sekaligus menutup set ini 22-20.

Meskipun tekanan Xie/Zhang tidak sedahsyat set pertama dan NoLyn sudah lebih mampu mengembangkan permainan mereka yang sebenarnya. Meskipun senantiasa diserang oleh smash-smash keras XIe/Zhang dan permainan drive-drive cepat, keduanya mampu memanfaatkan penempatan bola yang akurat untuk menekan balik pasangan China dan mendapatkan poin demi poin. Keduanya kembali unggul 6-3, 9-6 dan 11-7 sebelum jeda interval set kedua. Lily yang beberapa kali tidak siap menerima smash dari lawan ternyata mampu dimanfaatkan dengan baik oleh Xie/Zhang untuk menambah perbendahaaran poin keduanya. Kegagalan beruntun dari pasangan Indonesia membuat kubu China akhirnya mampu menyamakan kedudukan di titik 14 dan 15 serta balik memimpin 16-15.

Permainan memukau NoLyn di depan net kembali menjadi kunci kemenangan duo terbaik Indonesia tersebut untuk mendapatkan ‘second winning’ 18-16, 19-17 dan 20-18. Namun keberuntungan rupanya masih belum berpihak kepada kubu Indonesia. Untuk kedua kalinya, sindrom angka kritis persis menjangkiti NoLyn seperti yang terjadi di set pertama. Memanfaatkan ‘unforced error’ dari ganda merah putih yang mengalami tekanan, China akhirnya memastikan tiket babak final dengan merebut 4 poin beruntun, 22-20.

Kejayaan pasangan China ternyata tidak berhenti sampai disana. Di lapangan yang berbeda, duo Korea Lee Yong Dae/Lee Hyo Jung (1) juga tampak kewalahan menghadapi unggulan ke-5, Zheng Bo/Ma Jin. Permainan drive-drive cepat khas ganda campuran yang ditutup oleh smash-smash keras sudah tersaji diantara kedua pasangan sejak babak-babak awal. Gejala kekalahan peraih perak Olimpiade Beijing 2008 ini sudah terlihat sejak awal set pertama saat keduanya berkali-kali gagal menyebrangkan bola di depan net. Duo Lee langsung tertinggal 3-7 dan 6-11 saat jeda interval.

Drop shot tajam Zheng Bo beberapa kali sempat menghasilkan poin bagi China karena gagal dikembalikan dengan sempurna. Lee Yong Dae meskipun mahir dalam mengatur akurasi penempatan bola di tempat tak terjangkau seringkali tidak berhasil menyerobot bola di depan net. Keunggulan Zheng/Ma 15-8 terus mereka pertahankan hingga kedudukan 18-13 ketika net silang dan pengembalian Hyo Jung terlalu melebar. Di sisi lain, Ma Jin juga belum mampu bermain sempurna dan beberapa kali melakukan kesalahan sendiri. Pengembaliannya yang gagal melewati net dan terlalu tanggung berhasil dimanfaatkan pasangan Korea untuk mencuri angka demi angka.

Bola tanggung Zheng Bo yang ditutup oleh smash Hyo Jung mengubah kedudukan menjadi 18-14. Namun 3 poin beruntun dari smash keras Zheng Bo, penempatan bola Ma Jin di depan net setelah kedua pasangan terlibat permainan reli panjang, serta lob serang yang gagal diantisipasi oleh Yong Dae di area baseline akhirnya menutup set pertama 21-14 untuk pasangan China. Tekanan demi tekanan masih terus dilunsurkan oleh tandem China di set kedua. 5 kesalahan beruntun Lee Hyo Jung saat mengembalikan bola dan pengembalian yang terlalu melebar Lee Yong Dae membuat duo Zheng/Ma lagnsung melaju 6-1.

Kesalahan sendiri yang dilakukan oleh Ma Jin dan teknanan yang diberikan oleh Yong Dae membuat kedudukan berubah menjadi 8-3. Reli-reli panjang yang memperlihatkan pertahanan yang sempurna dari kedua pasangan akhirnya diselesaikan dengan penempatan bola yang tak terjangkau atau kesalahan sendiri dari masing-masing pemain. Mencoba untuk terus menekan, Zheng/Ma akhirnya menyentuh interval lebih dulu 11-7. Dari titik ini, China berhasil memepertahankan gap 4 angka untuk terus ‘leading hingga kedudukan 15-11. Bola-bola yang tanggung berhasil dimanfaatkan oleh duo Lee dan strategi bermain pintar dengan penempatan bola di tempat yang kosong. Sementara itu China mengeloksi poin demi poin dari kesalahan sendiri yang dilakukan oleh Yong Dae maupun Hyo Jung.

Memasuki angka kritis 18-13, akurasi pengembalian ZHeng Bo sedikit melemah namun sayangnya tidak mampu dimanfaatkan oleh pasangan Korea karena ‘unforced error’ yang mereka lakukan khususnya oleh Lee Hyo Jung juga terus menguntungkan bagi lawannya. Servis error yang dilakukan oleh Ma Jin serta smash silang dan penempatan bola sempurna dari Hyo Jung sempat memperkecil selisih poin Korea menjadi 16-18. Namun untuk kesekian kalinya, Hyo Jung membuat kesalahan sendiri dengan membuang bola terlalu melebar 16-20. Pengembalian Ma Jin yang tidak sempurna dan servis Hyo Jung yang terlalu tinggi namuan ternyata jatuh tepat di dalam lapangan kosong nyaris mengantarkan duo Lee pada momentum keduanya. Akan tetapi kegagalan net silang Hyo Jung akhirnya memupuskan harapan peraih emas Olimpiade 2008 tersebut 18-21.

Ganda Putri, GraNi Tantang Yawen/Tingting

Setelah kecewa dengan penampilan NoLyn di laga sebelumnya, pendukung Indonesia akhirnya kembali bangkit saat menyaksikan perlawanan Grace/Nitya menghadapi unggulan Denmark, Lena Frier/Kamilla Rytter Juhl (8). Di sepanjang set pertama, dominasi Denmark memang tak terbantahkan dengan terus menekan pasangan Indonesia hingga menjelang akhir set. Agresivitas serangan keduanya nyaris membuayarkan impian final GraNi sampai di titik paling menentukan, GraNi akhirnya mendapatkan keberuntungan dengan ‘lucky winning’.

Penempatan bola yang akurat, permainan di depan net serta momentum yang senantiasa dimanfaatkan dengan baik oleh Lena Frier membuat pasangan Denmark menguasai sepenuhnya jalannya pertandingan set pertama. Memimpin dengan 4-2, 8-6 dan menutup jeda interval 11-9 hanya dalam tempo 7 menit dengan ‘placing’ dan smash mereka sempat membuat public Indonesia ragu apakah GraNi dapat membalikkan keadaan. Sebaliknya, Nitya beberapa kali gagal dalam melakukan smash yang terbentur oleh dinding net. Indonesia sempat memperkecil selisih poin menjadi 13-14 ketika Lena dan Kamilla gagal mengembalikan bola dengan sempurna dan jumping smash Grace sukses menembus pertahanan keduanya.

Namun kesalahan sendiri dari Grace saat pasangan Denmark sudah mati langkah, penempatan bola silang Kamilla dan bol tanggung Nitya yang diselesaikan dengan manis oleh Lena memaku Indonesia pada skor 13-17. Pengembalian Kamilla yang gagal melewati net kembali menambah angka bagi merah putih namun bola tanggung Grace dan pengembalian Nitya yang terlalu melebar mengantarkan Denmark pada angka kritis 19-17. GraNi rupanya tidak mau menyerah begitu saja di titik ini. Semangat keduanya mampu memperkecil gap menjadi 17-19 ketika smash-smash keras dan servis Grace berhasil membobol dan mengecoh pertahanan duo Denmark.

Kemenangan Denmark nyaris terwujud saat serobotan Grace gagal melewati hadangan net, 20-17. Namun dua kesalahan yang dilakukan oleh Juhl dan smash beruntun Grace akhirnya mebuayarkan harapan mereka dan memaksakan ‘deuce’ 20-20. Pengembalin Lenda yang terlalu melabar dan Kamilla yang gagal melewati net akhirnya mengantarkan GraNi pada kemenangan 22-20.

Entah apa yang terjadi pada pasangan Denmark di set kedua. Antiklimaks di penghujung set pertama rupanya membuat keduanya patah semangat dan mengendorkan tempo permainan di set kedua. Agresivitas Lena/Kamilla yang menurun juga ikut dibarengi oleh kurangnya keakuratan pukulan mereka sehingga menguntungkan pasangan Indonesia untuk mndominasi jalannya pertandingan set kedua. Kesalahan beruntun dari Lena di depan net yang di set pertama tampil garang dengan terus menekan membuat Indonesia unggul jauh 8-3 dan 11-4 saat jeda interval. Meskipun harus diakui permainan Nitya juga tidak sempurna dan beberapa kali masih melakukan kesalahan sendiri, penurunan kualitas pasangan Denmark memudahkan ganda Indonesia untuk terus unggul 14-7.

Hal ini tidak hanya terlihat dari pengembalian bola Lena/Kamilla yang selalu gagal namun juga servis Kamilla yang seringkali tidak mampu melewati dinding net. GraNi langsung melaju pada kedudukan kritis 17-11 dan 20-11. Servis Grace yang disalahkan oleh wasit menambah angka bagi pasangan Denmark namun kesalahan sendiri yang dilakukan Lena dalam mengembalikan bola akhirnya memastikan tiket partai puncak untuk merah putih, 21-12.

Pada partai semifinal lainnya, unggulan ke-5, Zhang Yawen/Zhao Tingting mendapatkan perlawanan yang cukup a lot dari tandem nomor dua Korea, Ha Jung Eun/Kim Min Jung (3). Secara kualitas, permainan kedua pasangan ini masih satu level berada di atas perseteruan yang terjadi antara GraNi dan Lena/Kamilla. Ha/Kim tampil sempurna dengan ‘defense’ yang luar biasa dan minim kesalahan sendiri. Reli-reli panjang antara kedua pasangan selalu menghiasi untuk meraih poin demi poin. Ketatnya pertahanan pasangan Korea juga sempat membuat Zhang/Zhao akhirnya melakukan kesalahan sendiri.

Ha/Kim sebenaranya menguasai jalannya pertandingan set pertama. Keduanya unggul 8-3 dan 11-8 dari penempatan bola yang akurat serta petahanan yang luar biasa. Bahkan bola-bola potong keduanya di depan net juga membuat mereka unggul hingga poin kritis 17-12 dan 18-13. Di titik ini sayangnya Ha/Kim mulai kehilangan focus permainan dan justru melakukan kesalahan sendiri. 5 angka beruntun yang dikoleksi Zhang/Zhao akhirnya membuat mereka mampu menyetarakan kedudukan di angka 18. Keadaan berubah menjadi dramatis ketika pasangan China berbalik unggul 20-19 karena pengembalian Min Jung yang gagal melewati net dan smash Zhao Tingting yang dikembalikan melebar oleh Ha Jung Eun. Meski sempat menyamakan kedudukan dan memaksa ‘deuce’ 20-20, Ha/Kim akhirnya menyarah 20-22 ketika dua pengembalian Ha Jung Eun dan Kim Min Jung terlalu melebar ke luar lapangan setelah terlibat permainan reli yang cukup melelahkan.

Degradasi stamina besar-besaran terjadi pada pasangan Korea setelah memasuki paruh akhir set kedua. Meeskpun mereka menguasai pertandingan di paruh awal hingga titik 10-8, Zhang/Zhao akhirnya mengontrol jalannya pertandingan dan balik memimpin 14-11 hingga kedudukan 19-15. Zhao Tingting berhasil menjadi ‘playmaker’ dengan teknan smash-smash kerasnya yang sulit diantisipasi oleh pasangan Korea. Meskipun dengan sisa-sisa tenaga yang ada, Ha/Kim mampu membendung serangan duo China, variasi pukulan silang dan bola-bola serobot Zhao akhirnya mampu mematahkan perlawanan pasangan Korea. Dua kesalahan beruntun Zhang Yawen mengubah kedudukan menjadi 17-19. Namun tak mau menyia-nyiakan keunggulan mereka Zhang Yawen terus mencoba menekan dan akhirnya membuahkan hasil 20-17. Smash silang Ha Jung Eun sempat memperpanjang nafas Korea namun pengembalian melebar dari Min Jung akhirnya menutup set ini 21-18.

Ganda Putra, KiNdra Tampil Sempurna

Kemenangan para srikandi Indonesia yang mengobati kekecewaan atas tumbangnya NoLyn akhirnya dilengkapi dengan sempurna oleh penampilan tandem peringkat satu dunia, Markis/Hendra yang menjegal unggulan ke-4, Lars Paaske/Jonas Rasmussen. Kido yang sempat terganggu dengan cedera lututnya hari ini (15/6) mampu bermain maksimal dan menguasai jalannya pertandingan. Olahan bola Hednra di depan net yang dipadukan dengan smash-smash keras Kido dari area baseline mampu memberikan tekanan yang signifikan bagi kedua pemain ganda veteran Denmark tersebut. Meskipun sempat balik tertekan setelah unggul 8-2 dan nyaris terkejar 8-7, KiNdra kembali meningkatkan tempo serangan dan mencari peluang dengan strategi penempatan bola.

Keduanya langsung unggul jauh 16-7 ketika Lars/Jonas mulai kehabisan akal untuk menembus pertahan KiNdra yang bermain dengan tempo cepat. Banyaknya kesalahan sendiri yang dilakukan oleh Lars/Jonas juga memudahkan pasangan Indonesia untuk terus melaju hingga angka kritis 20-11. Tak terkejar, KiNdra akhirnya menutup set ini dengan kejayaan sempurna 21-12.

Di set kedua, agresivitas pasangan Denmark lebih berkembang dan mulai meningkatkan tempo serangan. Namun keakuratan pengembalian bola yang tidak sempurna membuat pasangan peringkat 4 dunia ini sulit untuk mengungguli perolehan poin KiNdra. Sebaliknya meskipun tidak seagresif di set pertama, serangan KiNdra lebih taktis dan pintar dalam mencari sela kosong di lapangan lawan. Permainan bola keduanya di depan net juga terus membuat mereka unggul dari titik 10-4, 14-8 dan 17-11. Memasuki angka kritis 19-13, KiNdra akhirnya menutup set ini dengan kemenangan 21-16. Di partai puncak, KiNdra akan ditantang oleh ganda fenomenal Eropa yang menjadi satu-satunya wakil Eropa di babak final, Anthony Clark/Nathan Robertson. Keduanya berhasil meredam perlawanan peraih gelar New Zealand International Challenge 2008, Chen Hung Lin/Lin Yu Lang, 21-19, 21-19.

Tunggal Putra, Menanti Keberuntungan Kedua

Dua tahun yang lalu, tunggal Thailand Boonsak Ponsana berhasil mencatatkan sejarah sebagai pemain nonunggulan yang mampu melaju ke babak final dan akhirnya meraih gelar juara di turnamen ini. Bahkan di babak semifinal, peringkat 19 dunia itu mampu menjungkalkan nama besar Lin Dan sebelum akhirnya merampas gelar dari tunggal China lainnya, Chen Yu di laga pamungkas. Tahun ini di turnamen yang sama Boonsak mendapatkan kesempatan kedua untuk mengulang prestasinya dengan lawan yang berbeda.

Meskipun harus berjuang keras rubber set untuk menghentikan laju pemain terbaik Korea, Park Sung Hwan 19-21, 21-18, 21-13, Boonsak akhirnya berhasil mengantongi tiket final dan akan dipertemukan dengan jagoan China, Bao Chunlai. Kesabaran dan permainan strategi Boonsak ketika menghadapi Park akan kembali diuji konsistensinya oleh tunggal ketiga China tersebut. Sedangkan Bao harus berjuang meraih gelar juara karena membutuhkan banyak poin untuk mendongkrak peringkatnya agar masuk sebagai daftar unggulan di Kejuaraan Dunia 2009. Di laga semifinal, Bao memetik kemenangan atas kompatriotnya, Chen Jin (4) 21-19, 21-18.

Tunggal Putri, Perseteruan 2 Singa Senior Di Partai Puncak

Dua pemain beda generasi yang sudah tidak memasuki usia muda dan kaya akan pengalaman akan tersaji di partai final besok (15/6). Namun ibarat seekor singa, kedua pemain senior asal China ini ternyata masih sangat disegani oleh lawan-lawannya karena kualitasnya yang masih belum tergoyahkan. Peraih perak Olimpiade Beijing 2008, Xie Xingfang (8) harus berjuang keras untuk menundukkan adik angkatannya, Jiang Yanjiao 17-21, 21-10, 21-19. Jiang yang berhasil menemukan performa terbaiknya justru gagal di set ketiga ketika memimpin 17-15 justru berbalik tertinggal 18-20 dan sebelum akhirnya menyerah 19-21.

Di laga semifinal lainnya, unggulan teratas Zhou Mi masih belum tergoyahkan saat ditantang oleh peraih mahkota Denmark SS 2008, Wang Lin. Wang sebenarnya menguasai jalannya pertandingan set pertama dan unggul cukup jauh 17-12 setelah sempat tertinggal 3-10 di awal set. Namun berkat pengalamannya, Zhou Mi mampu mebalikkan keadaan 19-17 dan akhirnya menutup set ini 22-20.

Pada set kedua, dominasi Zhou Mi pun tak terbantahkan. Kembali memimpin 6-2, 8-4 dan 14-9, Zhou akhirnya menyentuh match point lebih dulu 20-11. Namun seolah-olah baru terbangun dari mimpinya, Wang Lin tiba-tiba tampil menekan dan meningkatkan tempo serangan dansehingga mendapatkan ‘second winnning’ dengan 7 angka beruntun 18-20. Zhou Mi yang bermain lebih sabar akhirnya mampu menutup set ini 21-18 dan memastikan tiket ke babak final untuk menantang Xie Xingfang (FEY).

www.bulutangkismania.wordpress.com

June 13, 2009

Results Quarterfinal Singapore SS ’09 : Malaysia Tak Bersisa, Indonesia Harapkan Gelar Ganda

Filed under: Turnamen — bulutangkismania @ 7:23 am

Kejutan demi kejutan masih menghiasai gelaran hari keempat turnamen Singapore Super Series yang telah memasuki babak perempatfinal. Seolah tak mau ketinggalan dengan sektor tunggal, kali ini para unggulan yang menjadi korban bertumbangan justru datang dari sektor ganda putra dan putri. Malaysia menjadi salah satu negara yang kurang beruntung di turnamen ini karena gagal menempatkan satupun wakilnya ke babak semifinal. Padahal negeri jiran tersebut hadir dengan formasi terbaik serta dukungan dari pemain peringkat atas dunia seperti Lee Choong Wei, Wong Pei Tty/Chin Eei Hui dan Koo Kien Keat/Tan Boon Heong.

Duel ganda putri antara sesama wakil China membuka babak perempatfinal di Singapore Indoor Stadium sore tadi (13/6). Peringkat dua dunia, Cheng Shu/Zhao Yunlei ditantang oleh senior mereka, Zhang Yawen/Zhao Tingting yang menempati unggulan ke-5. Perseteruan yang diramalkan akan berlangsung ketat ternyata berjalan mudah untuk Zhang/Zhao selama kurang lebih setengah jam dengan membukukan kemenangan 21-15, 21-13. Di babak semifinal, duo China ini akan dipertemukan dengan unggulan ke-3 asal Korea, Ha Jung Eun/Kim Min Jung yang harus berjibaku 3 set untuk menekuk ganda muda Jepang, Mizuki Fujii/Reika Kakiiwa 21-13, 14-21, 21-17.

Kejutan terbesar yang juga merupakan ‘match of the day’ di hari ini justru dipersembahkan oleh duet Indonesia peringkat 20 dunia, Greysia Polii/Nitya Krishinda. Menantang unggulan teratas yang sekaligus menempati tahta 1 dunia, Wong Pei Tty/Chin Eei Hui, duo Indonesia yang sempat bermain grogi di awal set akhirnya mampu tampil maksimal di dua set berikutnya. Wong/Chin yang menguasai jalannya pertandingan di set pertama, memimpin dari titik 6-0 hingga 10-5. GraNi sempat memperkecil selisih poin keduanya ketika mampu mengembangkan penempatan bola dan beberapa kesalahan sendiri dari tandem Malaysia, 9-11. Namun setelah mendapat masukan dari sang pelatih, Wong/Chin kembali mempertegas gaya bermain mereka dan tampil menekan, 18-11 dan 20-14. GraNi sempat menambah 3 angka sebelum Wong/Chin menutup set ini lebih dulu 21-17.

Permainan GraNi yang lebih rileks di set kedua ternyata ampuh mematahkan serangan-serangan yang dilancarkan oleh duo negeri jiran. Memimpin 11-7 saat jeda interval dari bola-bola serang dan penempatan yang akurat, GraNi terus berjaya 15-8 dan 19-13 ketika Chin Eei Hui yang menjadi kunci kelemahan pasangan Malaysia beberapa kali melakukan kesalahan sendiri. Sempat mencoba bangkit di saat kedudukan kritis 16-20, Wong/Chin akhirnya harus rela menyerahkan set ini 16-21.

Awal set ketiga kembali berhasil dikontrol oleh permainan solid ganda Malaysia dengan smash-smash serangnya. Memimpin 7-4 dan 9-6, keduanya terus mendahului perolehan poin pasangan Indonesia hingga kedudukan 12-10. Di titik inilah GraNi mendapatkan momentum kemenangan mereka dengan memanfaatkan kejelian dalam penempatan bola dan kecerobohan yang acapkali dilakukan Chin Eei Hui. Indonesia akhirnya membalikkan keadaan 14-12 dan 17-14.

Permaianan GraNi yang juga memukau di depan net membuat keduanya terus unggul 18-15, 19-16 dan 20-17. Wong/Chin sempat menambah 2 poin dan nyaris memaksakan ‘deuce’ ketika GraNi sedikit terburu untuk segera menyelesaikan set ini. Namun beruntung pasangan Indonesia menyelesaikan set ini lebih dulu 21-19. Lawan GraNi di empat besar adalah peringkat 9 dunia asal Denmark, Kamilla Rytter Juhl/Lena Frier Kristainsen. Keduanya tampil meyakinkan saat membungkam duo China, Pan Pan/Tian Qing, 22-20, 21-10. Sungguh suatu penampilan yang inkonsistensi yang ditampilkan oleh ganda peringkat ‘bawah’ China ini, Pan Pan/Tian Qing, setelah sehari sebelumnya mampu menjungkalkan peraih perak Olimpiade, Lee Hyo Jung/Lee Kyung Won.

Zhang Yawen akhirnya membuka peluang untuk menyandirkan gelar di sektor campuran bersama Xie Zhaongbo setelah mereka tampil maksimal saat melewati hadangan unggulan Denmark, Thomas Laybourn/Kamilla Ritter Juhl (3). Unggul 21-19 di set pertama setelah tertinggal 7-11 dan 10-14, Xie/Zhang berhasil memanfaatkan beberapa kesalahan dari pengembalian bola Thomas/Kamilla. Namun memasuki paruh akhir set kedua, tandem Denmark kembali bangkit dan memaksa rubber set dengan kemenangan 21-17. Strategi permainan kedua pasangan yang berubah total di set ketiga akhirnya kembali di dominasi oleh duo China yang lebih optimal dalam menempatkan bola dan netting yang sempurna. Memimpin jauh 9-3, 12-6 dan 16-8, Xie/Zhang akhirnya tak terkejar dan mengakhiri set ini 21-16.

Denga hasil ini, keduanya berhak untuk menantang sang juara bertahan sekaligus unggulan teratas, Nova/Lily yang lebih dulu mengantongi tiket empat besar setelah menjinakkan dua bintang bersinar asal Polandia, Robert Mateusiak/Nadiezda Kostiuczyk, 21-17, 21-8. Semifinal lainnya akan mempertemukan unggulan ke-2, peraih emas Olimpiade Beijing 2008, Lee Yong Dae/Lee Hyo Jung dan duet China lainnya, Zheng Bo/Ma Jin (5). Duo Lee harus berjuang ekstra ketat 3 set untuk menyingkirkan duet Thailand, Sudket Prapakamol/Saralee Thoungthongkam (8).

Set pertama berhasil dikuasai oleh pasangan Thailand meskipun hanya memimpin 1-3 poin. Dengan ketatnya persaingan di set ini, dimana masing-masing pasangan mengandalkan penempatan bola-bola sulit yang diselesaikan dengan sergapan smash akhirnya diselesaikan dengan baik oleh Sudket/Saralee, 23-21. Meskipun baku hantam di set kedua tidak seagresif perolehan poin di set pertama, namun kedua pasangan tetap tampil ngotot di atas lapangan. Unggul 10-8 menjalang interval set kedua, duo Lee terus berjaya dan memimpin perolehan poin hingga kedudukan 17-14 dan 20-16.

Berada di atas angin ternyata membuat pasangan Korea sedikit lengah dan memberikan kesempatan kepada Sudket/Saralee untuk mengembangkan permainan mereka. Hasilnya adalah 4 poin beruntun berhasil dikoleksi oleh pasangan Thailand dan memaksa ‘deuce’ 20-20. Titik yang seharusnya mampu menjadi kulminasi bagi Sudket/Saralee untuk menghempas duo Lee sayangnya tidak mampu dimanfaatkan dengan sempurna untuk memetik dua angka kemenangan. Setelah kedua pasangan kembali terlibat reli-reli seru, duo Lee akhirnya mendapatkan keberuntungan untuk menutup set ini lebih dulu 22-20 sekaligus memaksakan rubber set.

Set ktiga akhirnya menjadi antiklimaks dari perjuangan pasangan Thailand. Kegagalan di set kedua setelah tampil ngotot ternyata berimbas cukup besar terhadap permainan mereka di laga pamungkas. Sudket/Saralee yang mulai keteteran dalam beradu netting di barisan depan berkali-kali salah dalam mengantisipasi bola. Tertinggal jauh 2-8, 6-15 dan 18-8, keduanya akhirnya harus rela menyerahkan tiket semifinal kepada tandem negeri ginseng dan menuai kekalahan 10-21. Sementara itu harapan China lainnya, Zheng Bo/Ma Jin (5) tanpa perlu banyak menyeka keringat akhirnya mengakhiri petualangan ganda nomor dua Denmark, Joachim Fischer/Christinna Pedersen (4), 21-17, 21-14. Setelah tampil ngotot menghadapi DevTa di laga sebelumnya, kali ini Joachim/Christinna tak dapat berbuat banyak untuk mengembangkan permainan mereka.

Rontoknya para unggulan juga menghiasi nomor ganda putra. Unggulan ke-2, Mathias Boe/Carsten Mogensen rupanya masih belum menemukan momentum terbaik mereka saat ditantang peraih juara New Zealand Inetrenational Challenge 2008, Chen Hung Ling/Lin Yu Lang. Keduanya mampu tampil solid dan memetik kemenangan 21-17 di set pertama. Namun memasuki awal set kedua, Boe/Nuller tampil tak rapid an banyak melakukan kesalahan sendiri. Tertinggal 0-7, keduanya sempat memperkecil selisih piin 10-11 saat jeda interval. Namun usai mendapat arahan sang pelatih, duo Taiwan kembali meluncur 14-10 dan 16-11 hingga titik kritis 20-15 dan akhirnya memaksakan rubber set 21-17.

Game ketigapun tak jauh berbeda dengan set sebelumnya. Permainan agresif Chen/Lin ditambah ‘unforced error’ dari Boe/Nuller kembali membuat keduanya berada di atas angin 11-3 sat jeda interval. Duet Taiwan terus memimpin 14-9, 16-11 hingga memasuki angka kritis 19-13. Tandem terbaik Denmark tersebut akhirnya baru menyadari kesalahan strategi permainan mereka dan mencoba untuk meningkatkan tempo serangan namun di saat yang terlambat. Meskipun sempat memperkecil selisih poin menjadi 19-20, ganda Taiwan berhasil untuk menutup set ini lebih dulu 21-19. Hasil ini akan membawa mereka ke semifinal untuk menantang jagoan Inggris, Nathan Robertson/Anthony Clark. Ganda fenomenal Eropa ini berhasil menghentikan laju kolaborasi baru negeri panda, Xu Chen/Guo Zhendong, 21-17, 21-18.

Indonesia juga masih berpeluang meraih gelar di nomor ini lewat sabetan raket peringkat satu dunia, Markis Kido/Hendra Setiawan (1). Meskipun kondisi Kido belum pulih sepenuhnya, ganda peraih emas Kejuaraan Dunia 2007 ini akhirnya mampu menundukkan satu-satunya wakil tuan rumah yang tersisa, Hendri Kurniawan/Hendra Wijaya melalui pertarungan rubber set. Meskipun KiNdra mampu memimpin di paruh akhir set pertama dengan keunggulan 19-16 dan 20-17, sindrom poin kritis dan kepiawaian dua kakak adik asal Indonesia ini berhasil memaksakan ‘deuce’ dan mebalikkan keadaan 22-20.

Konsistensi dan pengalaman KiNdra akhirnya benar-benar teruji di sepanjang set kedua dan pada paruh akhir set ketiga. Menguasai jalannya pertandingan dan perolehan poin, mereka akhirnya merebut dua game terakhir, 21-17, 21-18 sekaligus memastikan tempat di semifinal. Seteru KiNdra di 4 besar adalah ganda Denmark, Lars Paaske/Jonas Rasmussen (4). Meskipun Jonas mengaku sedang tidak dalam kondisi terbainya karena sakit yang sempat membuat mereka harus mengundurkan diri, veteran peraih emas Kejuaraan Dunia 2003 ini akhirnya memutuskan untuk tetap memaksakan permainan dan memetik kemenangan atas wakil Malaysia, Gan Teik Chai/Tan Bin Shen, 21-15, 21-17.

Satu-satunya kehilangan terbesar yang harus dialami oleh merah putih di babak perempatfinal yang juga merupakan kejutan terbesar di sektor tunggal putra adalah gagalnya Sony mempertahankan keunggulannya atas pebulutangkis terbaik Korea, Park Sung Hwan seperti yang sempat dilakukannya pada semifinal Sudirman Cup bulan Mei yang lalu. Sony yang kali ini diungggulkan di posisi ketiga, sebenarnya sudah menguasai jalannya pertandingan set pertama. Unggul 10-6, 14-10 dan 16-13 dengan smash silang dan drop shot tajam andalannya, Sony justru mengendorkan serangannya di akhir set dan berbalik tertinggal 17-19. Meskipun sempat menyetarakan kedudukan di angka 19, permainan ‘lambat’ Sony akhirnya memudahkan Park untuk mengakhiri set ini 21-19.

Paska jeda interval set kedua, Sony semakin sulit untuk bisa memandingi permainan Park. Selisih poin yang cukup jauh, 10-16, 12-18 dan 14-19 dari penempatan bola-bola sulit tunggal Korea, Sony akhirnya harus memupuskan impiannya untuk melaju ke semifinal dan menelan kekalahan 15-21. Tunggal Thailand, Boonsak Ponsana yang menekuk Simon Santoso di laga sebelumnya akhirnya berhasil melumpuhkan sang kuda hitam, Anup Sridhar hanya dalam waktu 27 menit, 21-11, 21-8. Penmapilan Anup yang jauh dari performa terbaiknya seperti pada babak sebelumnya saat menghempas Peter Gade (2), memudahkan Boonsak untuk mengambil set ini tanpa harus menyeka keringat lebih banyak.

Sementara itu China memastikan 1 tempat di final setelah terjadi pertemuan dua tunggal negeri tirai bamboo tersebut, Chen Jin (4) dan Bao Chunlai. Chen harus berjibaku 3 set untuk mengeliminir tunggal nomor 3 Denmark, Jan O Jorgensen, 15-21, 21-17, 21-18 sedangkan Bao Chunlai yang seyogyanya di prediksi akan mendapat tantangan hebat dari si penakluk Lee Choong Wei, Nguyen Tien Minh, ternyata di luar dugaan bermain jauh di bawah performa terbaiknya. Antiklimaks permainan Nguyen di laga perempatfinal memudahkan Bao Chunlai untuk menaklukkannya, 21-16, 21-13.

Pesta para pemain China juga terjadi di sektor tunggal putri. Tiga dari empat kursi yang tersedia di babak semifinal akan ditempati oleh anak asuhan Li Yongbo tersebut. Duel antara sesama pemain China tersaji di lapangan 3 antara peraih 3 gelar beruntun di tur Eropa sesi pertama 2009, Wang Yihan (2) dan pemain angkatan atas yang rawan dengan rawan dilanda cedera, Jiang Yanjiao. Sang senior akhirnya memupuskan harapan Yihan lewat pertarungan dua set langsung, 21-17, 21-11. China akhirnya memastikan satu tempat di final setelah unggulan ke-8 Xie Xingfang ikut memetik kemenangan atas jagoan Thailand, Salakjit Ponsana, 21-17, 21-9. Di babak selanjutnya kedua pemain China beda generasi ini akan saling unjuk gigi untuk memperebutkan tiket ke parta puncak.

All China Final juga masih memungkinkan terjadi ketika Wang Lin (3) meloloskan diri ke babak semifinal dengan menekuk bintang India, Saina Nehwal (6). Meskipun harus berjibaku 3 set selama kurang lebih 1 jam, peraih gelar turnamen Denmark SS 2008 tersebut akhirnya mampu melumpuhkan Nehwal, 19-21, 21-19, 21-14. Saina yang sempat mendominasi jalannya pertandingan set pertama justru kedodoran di set kedua dan paruh akhir set ketiga.

Namun untuk bisa mewujudkan partai sesama China, Wang Lin harus mampu mengulang prestasinya di final Denmark Open 2008 dengan menundukkan unggulan teratas asal Hongkong, Zhou Mi yang baru saja mendapatkan kesempatan untuk membela negara barunya di dalam turnamen multievent pada tahun 2009 ini. Zhou Mi sendiri mendapatkan tiket 4 besar setelah berhasil melumpuhkan andalan Belanda, Judith Meulendijks, 23-21, 21-17. Judith yang mampu tampil ngotot di set pertama, harus mengkui kepiawaian Zhou Mi untuk mengusai jalannya pertandingan di set kedua (FEY).

www.bulutangkismania.wordpress.com

June 12, 2009

Results Day 3 Singapore SS ’09 : Kuburan Masal Para Unggulan, 4 Wakil Di 8 Besar

Filed under: Turnamen — bulutangkismania @ 8:49 am

Memasuki hari kedua turnamen Singapore Open Super Series, stadium indoor masih menjadi saksi bisu dari berjatuhannya satu demi satu para unggulan yang difavoritkan meraih gelar dalam turnamen ini. Setelah tunggal putri dihentakkan di babak pertama, kali ini giliran sektor tunggal putra yang mengalami banjir kejutan dengan bertumbangannya dominasi para pebulutangkis papan atas dari pemain kuda hitam yang tidak diunggulkan sebelumnya.

Di sesi pertandingan pagi hari yang dibuka oleh perseteruan di nomor campuran, 7 dari 8 tempat yang disediakan untuk para unggulan berhasil diisi dengan sempurna oleh masing-masing pasangan. Tandem Polandia, Robert/Nadiezda yang berhasil memukau penonton dengan aksi mereka di laga sebelumnya saat membekap unggulan ke-7 asal China, Xu Chen/Zhao Yunlei hari ini kembali memetik kemenangan atas duet Malaysia, Koo Kien Keat/Ng Hui Lin 21-17, 21-18 (foto 1). Untuk bisa melaju ke semifinal, keduanya butuh keajaiban kedua guna menghentikan laju unggulan pertama, Nova/Lily di laga perempatfinal jumat sore (12/6).

NoLyn yang sedang berada dalam ‘peak performance’ terbaiknya kali ini tampil lebih siap untuk mempertahankan gelar keduanya setahun yang lalu setelah menghentikan duo Inggris yang acapkali menjadi batu sandungan mereka, Anthony Clark/Donna Kellogg, 21-18, 21-11. Langkah NoLyn ke quarterfinal sayangnya tidak diikuti oleh tandem Indonesia lainnya, Devin/Lita (foto 2) yang gagal mengulang kesuksesan permainan keduanya di semifinal Taipei Open GP Gold 2008. Menghadapi lawan yang sama, Joachim Fischer/Cristinna Pedersen (4), DevTa sempat mengajukan perlawanan sengit di set kedua 21-17 setelah tertinggal 9-21 di set pertama. Namun di set ketiga yang seharusnya dapat menjadi kunci kemenangan, keduanya justru mengendorkan serangan dan menyerah 10-21. Pertandingan ini mengingatkan kita pada kejuaraan beregu Sudirman Cup bulan Mei yang lalu saat DevTa juga nyaris memetik kemenangan atas Zheng Bo/Ma Jin. Namun di akhir set pertama dan ketiga, keduanya justru bermain kurang sempurna untuk menutup set dengan lebih baik.

Para pemain tunggal putri China masih mendominasi dan belum terpatahkan oleh lawan-lawannya. Wang Lin yang tanpa kesulitan melibas tunggal terbaik Korea, Hwang Hye Youn 21-10, 21-10 akan ditantang oleh dara India, Saina Nehwal (6) yang memupuskan harapan satu-satunya wakil merah putih di sektor ini, Adrianti Firdasari, 21-18, 17-21, 21-17. Permainan memukau Firda di depan net dan dalam melakukan bola-bola serang seharusnya mampu menjadi kunci kemenangannya di set kedua dan ketiga. Namun setelah jeda interval set ketiga, pertahanan Firda mulai goyah dan beberapa kali melakukan kesalahan sendiri sehingga membuahkan poin demi poin bagi Saina.

Langkah Wang Lin akhirnya diikuti oleh sang senior Xie Xingfang (8) yang menekuk tunggal negeri sakura, Ai Goto 21-19, 21-14. Penjamu Xingfang di perempatfinal adalah pemain putrid terbaik Thailand, Salakjit Ponsana yang sudah lebih dulu menenteng tiket 8 besar saat menundukkan Rachel Van Cutsen 21-6, 20-22, 21-13. Perseteruan antara dua pemain China beda generasi, Jiang Yanjiao dan Wang Yihan (2) akan memastikan satu tempat di semifinal bagi negeri panda tersebut. Jiang menjinakkan wakil Bulgaria, Petya Nedelcheva 23-21, 21-17 sedangkan Yihan memupuskan harapan wakil tuan rumah, Xing Aiying, 21-16, 8-21, 21-7.

Satu-satunya perseteruan yan tidak melibatkan para pemain China adalah pool teratas antara Zhou Mi (1) dan Judith Meulendijks. Zhou mengalahkan tunggal nomor 2 Jerman, Juliane Schenk 21-14, 21-17 sedangkan Judith diluar dugaan tanpa banyak kesulitan menutup keberuntungan ‘si dara ajaib’, Fu Mingtian 21-18, 21-13. Kedua pemain memiliki tipe permainan yang hampir sama dengan lebih mengandalkan bola-bola akurat di depan net dan minim dalam melakukan kesalahan sendiri. Kelebihan Judith yang akhirnya mampu memetik kemenangan atas Fu karena lebih piawai dengan mengkolaborasi alternative pukulan dengan smash-smash yang sulit terjangkau.

Setelah di babak pertama sector tunggal putri mengalami banyak kejutan, kali ini giliran para pebulutangkis unggulan tunggal putra yang mengalami nasib naas saat ditantang para pemain ‘kuda hitam’ yang tidak diunggulkan. Simon Santoso (6) akhirnya menjadi korban pertama dari permainan apik tunggal negeri gajah, Boonsak Ponsana. Bermain ragu-ragu dengan banyak melakukan kesalahan sendiri sejak paruh akhir set pertama dan sepanjang set kedua, Simon harus terjembab dengan kekalahan telak 11-21, 7-21 hanya dalam tempo kurang dari 30 menit.

Beruntung tunggal Indonesia lainnya, Sony Dwi Kuncoro (3) mampu mempertahankan ritme permainan terbaiknya dengan menjegal pemain terbaik Taiwan, Hsieh Yu Hsing, 21-15, 21-15. Duel klasik antara Sony dan musuh bebuyutannya, Park Sung Hwan akan kembali terulang di babak perempatfinal setelah Park juga sama-sama mencatat kemenangan atas tunggal Jepang, Kenichi Tago 21-16, 21-12. Perempatfinal lainnya akan mempertemukan wakil China, Chen Jin (4) dan tunggal ketiga Denmark, Jan O Jorgensen. Chen Jin menyudahi perlawanan tunggal Inggris Rajiv Ouseph 21-19, 21-16 sedangkan Jorgensen harus menyeka keringat lebih banyak untuk menundukkan Eric Pang 18-21, 21-18, 21-15.

Kejutan terbesar di hari ketiga ini yang juga menjadi ‘match of the day’ sepanjang perhelatan turnamen ini adalah perseteruan antara unggulan teratas, Lee Choong Wei menghadapi kuda hitam Vietnam, Nguyen Tien Minh.Pertarungan melelehkan antara keduanya memakan waktu lebih dari 1 jam dalam rubber set yang sangat mendebarkan. Lee Choong Wei awalnya dapat menguasai jalannya pertandingan di set pertama. Unggul jauh 9-3, permainan alot Nguyen akhirnya mampu menyamakan kedudukan di angka 14. Bahkan Nguyen sempat berbalik memimpin 18-14 dan 20-18. Berkat pengalamannya, Choong Wei mampu memaksa ‘deuce’ di angka 20 dan 21 serta menyamakan kedudukan di angka 22 setelah tertinggal 21-22. Meskipun serangan smash-smash tajam lebih banyak dikalukan oleh Choong Wei, permainan Nguyen di depan net yang sempurna akhirnya menutup set ini 24-22.

Pertarungan ketat dengan selisih 1-2 poin dan saling bergantian untuk mendahului kembali tersaji di set kedua. Kedua pemain kali ini bermain lebih agresif dan saling melancarkan serangan. Nguyen kembali unggul 19-17 dan 20-18 di titik kritis namun gagal menyelesaikan set ini dengan baik sebelum akhirnya Lee berinisiatif menutup set ini lebih dulu 22-20. Setelah jeda interval set ketiga, tunggal peringkat satu dunia asal Malaysia tersebut sempat berada di atas angin dan unggul jauh 14-9 dan 16-12. Namun kepiawannya dalam memberikan bola-bola tak terduga di depan net membuat Nguyen kembali menyamakan kedudukan di angka 18 dan berbalik memimpin 20-18. Lee sempat menambah 1 angka kembali namun tak mau mengulang kesalahan seperti di set kedua, Nguyen akhirnya menutup set ini dan memastikan tiket ke-8 besar, 21-19.

Kejutan kedua juga berhasil di ukir oleh bintang India, Anup Sridhar yang sempat berpijar di tahun 2007. Seperti tertular semangat baru dari pertandingan Nguyen dan Choong Wei, Anup yang sempat absen dan meredup di era tahun 2008 berhasil membungkam unggulan ke-2 asal Denmark, Peter Gade 21-19, 16-21, 21-13. Sejak awal set pertama, kedua pemain sangat jarang melakukan serangan smash-smash keras dan hanya mengandalkan permainan di depan net dan penempatan bola-bola sulit. Anup yang menguasai jalannya pertandingan set pertama sempat demam panggung kala Gade berhasil menyamakan kedudukan 15-15 setelah tertinggal jauh 6-12. Namun Anup berhasil mendapatkan momentum keduanya dan berbalik memimpin 20-17 sebelum akhirnya menutup set ini.

Perubahan strategi yang dilancarkan Gade sempat membuat Anup kagok dan berkali-kali gagal dalam mengantisipasi bola. Kolaborasi serangan dan penempatan bola Gade akhirnya membuatnya unggul di set kedua. Memasuki set ke-3, kedua pemain sama-sama tampil ngotot dan saling berebut poin. Gade yang mampu memimpin sejak awal set tiba-tiba mengendorkan serangannya setelah jeda interval 10-11. Gade sempat tertinggal 11-13 sebelum akhirnya kembali menyamakan kedudukan di angka 13. Namun entah apa yang terjadi pada kondisi fisik tunggal terbaik Eropa ini, sehingga Anup dengan mudah mengeruk 8 poin beruntun dan menyelesaikan set ketiga lebih dulu 21-13.

Permainan yang juga memeras cukup banyak energi namun sangat jarang terjadi akhirnya membuka perseteruan di nomor ganda putra. Wakil Indonesia, Rian/Yonathan yang menantang unggulan ke-4, Lars/Jonas berjibaku mati-matian di set pertama hingga kedudukan 30-28. Namun sayangnya ketatnya persaingan kedua pasangan ini tidak lagi terlihat di dua set berikutnya. Mengontrol penuh dengan serangan-serangan mereka, Lars/Jonas akhirnya menang mudah di set kedua 21-12. Di set penentuan, RiYo kembali berhasil menyajikan permainan atraktif dan memukau dengan smash dan ‘placing’ yang tak terduga. Kedunya unggul jauh 16-12 namun kelengahan dan beberapa ‘unforced error’ membuat duo Denmark mampu mengoleksi 7 poin beruntun dan berbalik memimpin 19-16. Di titik inilah antiklimaks dari pasangan Indonesia yang akhirnya dipaksa bertekuk 17-21.

Satu-satunya yang menjadi penyelamat Indonesia di nomor ini adalah tandem peringkat satu dunia, Markis/Hendra. Meskipun kondisi cedera Kido sempat membuat kondisi permainan keduanya tidak stabil namun berkat kegigihan semangat dan motivasi, KiNdra mampu meungguli duet Jerman, Kristof Hopp/Johannes Johannes Schoettler. Sempat teringgal 21-19 di set kedua setelah menang 21-16 di set pertama, KiNdra akhirnya unggul telak 21-9 sekaligus memastikan tiket mereka ke perempatfinal. Di babak perempatfinal, keduanya akan mendapat tantangan berat dari satu-satunya wakil tuan rumah yang masih bertahan di quarterfinal. Hendri Kurniawan/Hendra Wijaya. Duet kakak beradik asal Indonesia ini kembali menjungkalkan tandem veteran Malaysia, Chan Chong Ming/Chew Choon Eng 21-19, 21-16 setelah di laga perdana juga berhasil mengandaskan veteran Malaysia lainnya, Choong Tan Fook/Lee Wan Wah (8).

Malaysia akhirnya hanya menyisakan Gan Teik Chai/Tan Bin Shen yang memetik kemenangan atas ganda terkuat Taiwan, Fang Chieh Min/Lee Sheng Mu 21-16, 21-15 setelah peringkat tiga dunia, Koo Kien Keat/Tan Boon Heong (3) di luar dugaan gagal menjinakkan tandem fenomenal Inggris, Nathan Robertson/Anthony Clark. Unggul 21-13 di set pertama, Koo/Tan justru akhirnya terjembab di paruh akhir set kedua dan ketiga. Meskipun dari sisi kualitas serangan tandem terbaik Malaysia tersebut lebih diunggulkan namun dari segi variasi pukulan dan penempatan bola di depan net, Nathan/Anthony tampak lebih menguasai dan jalannya pertandingan di dua set terakhir dan mencetak kemenangan 21-19, 21-14.

Kubu merah putih juga masih menggantungkan harapan terakhir di nomor ganda putri lewat sandingan Greysia Polii/Nitya Kreshinda. Meskipun di laga perempatfinal, keduanya akan mendapat tantang terberat dari unggulan teratas, Wong Pei Tty/Chin Eei Hui namun di pertandingan 16 besar, GraNi mampu tampil lepas dan tanpa beban saat menantang jagoan tuan rumah, Yao Lei/Shinta Mulia Sari. Kematangan dari permianan dan kesolidan tandem no. 2 Indonesia ini membuat mereka mampu menguasai jalannya pertandingan dan meraih kejayaaan 21-12, 21-17.

Kejutan terbesar di nomor ganda putri justru dating dari peraih perak Olimpiade Beijing 2008, Lee Kyung Won/Lee Hyo Jung (4). Menghadapi tantangan dari ganda ‘paling bawah’ China, Pan Pan Tian Qing, keduanya harus menyerah 18-21, 14-21. Kubu China juga masih menguasai nomor ini dengan meloloskan 2 pasangan lainnya, Cheng Shu/Zhao Yunlei (2) dan Zhang Yawen/Zhao Tingting (5) ke babak 8 besar (FEY).

www.bulutangkismania.wordpress.com

Next Page »

Blog at WordPress.com.